Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 : Bingung
Revan menggeleng pelan sambil menahan senyum. "Kalau sudah selesai, saya mau mandi."
Queen yang masih berdiri di dekat pintu langsung tersadar. "Oh iya."
"Hm."
"Tadi saya ganggu ya?"
"Sedikit."
Wajah Queen langsung memerah lagi. "Maaf."
Revan mengangguk kecil. "Diterima."
Queen menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa setelah berbicara jujur tadi, perasaannya sedikit lebih lega. "Kalau gitu saya keluar dulu."
"Iya."
Queen berbalik hendak pergi. Namun tepat sebelum keluar, langkahnya terhenti. "Mas."
Revan menoleh.
"Makasih."
Tatapan Revan melembut. "Untuk apa?"
Queen terdiam sesaat. "Karena udah sabar."
Beberapa detik tidak ada jawaban. Lalu Revan tersenyum tipis.b"Saya juga masih belajar."
Deg.
Kalimat sederhana itu membuat dada Queen kembali terasa hangat. Perlahan ia mengangguk lalu keluar dari kamar.
Klik.
Pintu tertutup.
Malam itu, Queen tidak langsung masuk ke kamarnya. Ia duduk di sofa ruang keluarga sambil memeluk bantal. Pikirannya kacau, satu minggu terakhir ia selalu menganggap Revan baik-baik saja.
Selalu tenang, selalu bisa menerima apa pun. Namun ternyata tidak, Pria itu juga bisa terluka. Dan yang membuatnya semakin tidak nyaman adalah kenyataan bahwa penyebabnya adalah dirinya sendiri.
"Astaga..." gumam Queen pelan.
Ponselnya yang berada di meja kembali menyala.
Nathan, satu pesan baru.
Nathan: "Maaf kalau tadi bikin kamu nggak nyaman."
Queen menatap layar itu cukup lama.
Dulu, kalau Nathan menghubunginya, ia pasti langsung membalas. Namun sekarang rasanya berbeda. Karena kini ada seseorang yang menunggunya pulang setiap hari.
Seseorang yang memastikan ia sarapan, yang diam-diam memperhatikan jadwal kuliahnya, dan seseorang yang bahkan rela tidur sendiri dan memberikan ruang karena tahu ia belum siap.
Perlahan Queen mengunci layar ponselnya. Ia tidak membalas pesan itu.
Keesokan paginya...
Queen turun ke lantai bawah sedikit lebih awal dari biasanya. Dan seperti biasa, Revan sudah berada di meja makan. Dengan laptop terbuka dan kopi hitam di sampingnya. Sangat khas Revan.
"Selamat pagi."
Revan mengangkat kepala.
Sejujurnya ia sedikit terkejut karena biasanya Queen selalu turun dalam keadaan setengah mengantuk.
"Pagi."
Queen duduk di kursinya.
Beberapa detik suasana hening.
Lalu Revan mendorong sepiring roti ke arahnya. "Makan."
Queen mendengus kecil. "Kebiasaan banget sih."
"Makan."
Queen memutar mata, namun kali ini ia mengambil rotinya tanpa protes panjang.
Revan memperhatikannya sekilas. "Ada kelas sampai sore?"
Queen mengangguk. "Iya."
"Saya juga."
"Hm."
Queen menggigit roti yang ada di tangannya. Namun sejak tadi ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Revan yang sedang mengetik sesuatu di laptop akhirnya melirik sekilas. "Ada apa?"
Queen langsung tersentak. "Hah? Nggak ada."
Revan mengangkat sebelah alis.
Ekspresi itu membuat Queen mendengus pelan. "Mas."
"Hm?"
"Nanti sepulang kuliah... saya mau pergi dulu sama teman."
Jari Revan berhenti di atas keyboard. "Teman?"
Queen mengangguk. "Iya."
"Siapa?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa membuat Queen langsung defensif. "Emangnya Mas harus tahu ya?"
Revan menatapnya tenang. "Iya."
Queen berkedip. "Loh?"
"Saya suami kamu."
DEG.
Kalimat itu membuat Queen sedikit gugup. Namun entah kenapa mulutnya bergerak lebih cepat daripada otaknya.
"Iya sih."
"Lalu?"
"Tapi suami yang dipaksa."
Begitu kalimat itu keluar, Queen langsung membeku. Wajahnya perlahan memucat. Karena baru semalam ia merasa bersalah setelah melihat Revan terluka. Baru semalam ia berjanji dalam hati untuk lebih berhati-hati. Dan sekarang? Ia mengulanginya lagi.
Perlahan Queen mengangkat kepala.
Revan masih duduk di tempatnya. Masih tenang dan di diam, namun kali ini diamnya berbeda. Tatapannya turun ke cangkir kopi di depannya. Beberapa detik berlalu. Lalu Revan menutup laptopnya perlahan.
Klik
Suara kecil itu justru membuat jantung Queen semakin berdebar.
"Mas..."
Tidak ada jawaban.
"Mas, saya nggak bermaksud..."
"Saya tahu." Jawabannya cepat. Revan menghela napas pelan lalu berdiri dari kursinya. "Saya tahu kamu tidak bermaksud menyakiti saya."
"Mas..."
"Tapi mungkin memang itu yang kamu rasakan."
Queen langsung menggeleng. "Bukan begitu."
Revan tersenyum tipis. "Queen."
"Hm..."
"Sampai sekarang saya tidak pernah mempermasalahkan kamar kita terpisah."
Queen menunduk.
"Saya juga tidak pernah mempermasalahkan kalau kamu belum siap." Suara Revan tetap tenang. "Saya tidak pernah memaksa kamu menjadi istri seperti yang orang lain harapkan."
Queen menggenggam ujung bajunya erat.
"Tapi setiap kali kamu mengatakan pernikahan ini dipaksa..." Revan berhenti sesaat. "Rasanya seperti semua yang saya lakukan tidak ada artinya."
DEG.
Queen langsung terdiam. Karena kali ini Revan mengatakannya secara terang-terangan. Pria itu terluka, dan penyebabnya adalah kata-katanya sendiri.
Ruangan kembali hening. Queen bahkan tidak berani mengangkat kepala.
Sampai akhirnya suara Revan terdengar lagi. "Kamu mau pergi sama siapa?"
Queen menggigit bibirnya. "Anggi."
Revan mengangguk pelan. "Oke."
"Loh?"
"Saya hanya ingin tahu kamu pergi dengan siapa."
Queen perlahan mengangkat kepala. "Kok cuma gitu?"
Revan tersenyum tipis. Karena kali ini senyumnya terlihat lelah. "Kalau bukan Anggi pun saya tidak akan melarang kamu pergi."
Queen membeku.
"Tapi saya tetap ingin tahu."
"Kenapa?"
Revan menatapnya beberapa detik. Lalu menjawab dengan jujur. "Karena saya suami kamu dan saya mengkhawatirkan kamu."
DEG.
Queen tidak bisa berkata apa-apa. Karena kalimat itu terdengar sederhana. Namun jauh lebih menusuk daripada kemarahan.
Revan mengambil tas kerjanya. "Kita berangkat?"
Queen masih duduk diam.
"Queen."
"Hm?"
"Kelas kamu mulai tiga puluh menit lagi."
Biasanya Queen akan langsung membalas atau mengeluh. Namun kali ini tidak, ia hanya mengangguk pelan. Karena sepanjang perjalanan menuju kampus nanti, satu kalimat akan terus terngiang di kepalanya.
Rasanya seperti semua yang saya lakukan tidak ada artinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Queen mulai bertanya pada dirinya sendiri. Berapa kali lagi ia akan menyakiti pria yang selalu berusaha memahaminya itu?
Di kampus...
Queen berjalan memasuki area fakultas dengan langkah yang jauh lebih pelan dari biasanya. Sepanjang perjalanan tadi, suasana mobil terasa cukup hening. Revan tetap bersikap seperti biasa. Tidak marah, tidak mengabaikannya, dan justru itulah yang membuat Queen semakin merasa bersalah.
Begitu sampai di depan gedung, Revan hanya berkata singkat. "Jangan lupa makan siang."
Queen mengangguk pelan. "Lalu?"
"Hati-hati."
Setelah itu Revan langsung berjalan menuju gedung dosen. Dan sekarang, Queen duduk di bangku taman fakultas sambil mengeluarkan buku dari dalam tas. Tak lama kemudian seseorang datang dari belakang.
BRUK!
Anggi langsung menjatuhkan dirinya di samping Queen.
"Pagi, Pengantin Baru."
Queen mendesah. "Pagi."
Anggi menyipitkan mata.n"Loh kok lemes?"
"Nggak apa-apa."
"Halah."
Queen mengabaikannya dan mulai membuka bukunya.
Namun Anggi jelas tidak berniat membiarkannya tenang. "Queen."
"Hm?"
Anggi menyenggol lengannya. "Udah unboxing belum?"
Queen langsung tersedak. "Anggi!"
Beberapa mahasiswa yang lewat langsung menoleh.
Anggi malah tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha!"
Queen buru-buru mencubit lengan sahabatnya. "Sakit, Queen!"
"Gila lo!"
"Habis penasaran!"
Queen memukul bahunya pelan. "Sial lo."
Anggi menyeringai. "Jadi gimana?"
Queen mendelik. "Gue aja pisah kamar sama Pak Revan."
"Hah!"
Kali ini Anggi yang berteriak. Beberapa mahasiswa kembali menoleh.
Queen langsung panik. "Eh! Jangan teriak gitu!"
"Hah?!" Anggi menutup mulutnya sendiri. "Lo beneran pisah kamar?"
Queen mengangguk santai sambil mengeluarkan buku dari tasnya. "Iya."
"Serius?"
"Iya."
"Selama seminggu?"
"Iya."
Anggi terlihat seperti baru saja mendengar berita paling mengejutkan abad ini. "Astaga."
Queen memutar mata. "Lebay."
"Bukan lebay!" Anggi menatapnya tidak percaya. "Itu suami lo, Queen!"
"Iya terus?"
"Terus lo suruh tidur sendiri?"
Queen mendengus. "Gue belum siap."
Anggi langsung memegang dahinya. "Kasihan Pak Revan."
Queen kembali mencubit lengannya.
Anggi meringis. "Oke oke."
Beberapa saat kemudian mereka kembali diam. Namun Anggi tiba-tiba teringat sesuatu.
"Queen."
"Hm?"
"Nathan gimana?"
Pertanyaan itu membuat Queen langsung menghela napas panjang. "Nah itu."
"Kenapa?"
Queen menopang dagunya. "Gue bingung."
Anggi langsung menoleh. "Bingung apa?"
"Nathan ngajak gue jalan."
"Hah?"
Queen mengangguk pelan.n"Dia nelpon kemarin."
"Terus?"
"Gue nggak tahu harus gimana."
Anggi terdiam beberapa detik. Kemudian sahabatnya itu berkata santai. "Ya udah."
"Apa?"
"Temuin aja Nathan."
Queen langsung menatapnya. "Hah?"
"Temuin."
"Ngapain?"
"Supaya semuanya jelas."
Queen menggigit bibir bawahnya.
Anggi melanjutkan. "Lo jujur aja kalau sekarang lo udah nikah."
Mata Queen langsung membulat. "Ah gila."
"Kenapa?"
"Nggak mungkin gue ngomong gitu."
Anggi berkedip. "Lah emang kenapa?"
Queen langsung menunduk. Entah kenapa ia sendiri tidak tahu jawabannya. Mungkin karena takut melihat reaksi Nathan. Mungkin karena takut menyakiti Nathan. Atau mungkin. Karena selama ini ia belum benar-benar berani menerima kenyataan bahwa dirinya sekarang adalah istri Revan.
Anggi memperhatikan sahabatnya beberapa saat. Lalu ekspresinya perlahan berubah serius.
"Queen."
"Hm?"
"Lo sayang sama Nathan?"
Pertanyaan itu membuat Queen membeku. Untuk beberapa detik ia tidak menjawab.
Anggi kembali bertanya. "Masih?"
Queen menatap halaman bukunya yang sejak tadi tidak benar-benar ia baca. Kemudian pelan-pelan ia menjawab.
"Gue nggak tahu."
Anggi menghela napas. "Terus lo sayang sama Pak Revan?"
DEG.
Kali ini Queen benar-benar terdiam. Wajah Revan tiba-tiba muncul di kepalanya.
Saling support sabi kali ya😉