NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Fitnah Keji

Suara nyaring bernada tinggi menusuk gendang telinga Sumarni secara paksa. Ia terbangun dengan napas memburu dan peluh dingin membasahi lehernya. Pening hebat menyerang pangkal kepalanya bak ditusuk ribuan jarum.

Layar merah transparan masih berkedip agresif di depan matanya. Cahayanya menyilaukan, membawa peringatan ancaman fitnah yang bisa menghancurkan hidupnya dalam sekejap.

Sumarni bangkit dari kasur kapuknya dengan dada berdebar keras. Udara pagi yang biasanya segar kini terasa pengap dan mencekik rongga dadanya. Telapak kakinya yang menyentuh lantai tegel terasa kebas oleh hawa dingin yang tidak wajar.

Ia segera mandi dengan air sumur yang sedingin es, berusaha menajamkan akal sehatnya. Ia mengenakan kebaya kutubaru katun berwarna kuning gading. Rambut panjangnya ia gelung rapi dengan jepit perak sederhana tanpa perhiasan berlebihan.

Saat ia melangkah keluar dari paviliun menuju dapur utama untuk menyeduh teh, suasana rumah terasa sangat ganjil. Beberapa pelayan wanita yang sedang menyapu halaman tiba-tiba menghentikan pekerjaan mereka. Mereka menunduk dalam-dalam sambil saling menyikut, lalu membuang muka dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi.

Aroma tidak sedap langsung menusuk hidung Sumarni saat ia mendekati area pelataran dapur. Bau menyengat kemenyan dan bunga kantil layu yang dibakar menguar kuat dari arah tungku api besar. Asap putih mengepul memenuhi udara, membuat mata perih dan kerongkongan gatal.

Ningsih, pelayan pribadi Sulastri, berdiri di sudut dapur sambil memegang sapu lidi. Tangan keriput wanita itu bergetar hebat. Tatapannya penuh dengan ketakutan palsu yang sengaja didramatisasi.

"Jangan mendekat ke arah saya!" jerit Ningsih tiba-tiba, memecah keheningan pagi. Suaranya sengaja dikeraskan agar gema teriakannya terdengar hingga ke ruang makan utama.

Sumarni mengerutkan dahi, merasakan aura permusuhan yang sangat kental menekan dadanya. "Ada apa ini, Ningsih? Mengapa kamu membakar kemenyan di dapur saya?"

Langkah kaki bergegas terdengar berderap dari arah koridor utama. Sulastri muncul dengan balutan kebaya sutra merah menyala. Wajah istri pertama itu dibuat sepucat mungkin, lengkap dengan air mata buaya yang menggenang di pelupuk matanya. Bahunya bergetar, memerankan sosok wanita tersakiti dengan sangat meyakinkan.

Sulastri menunjuk wajah Sumarni dengan jari telunjuk yang dihiasi cincin berlian besar. "Kamu benar-benar wanita ular berbisa. Pantas saja Mas Harjono semalaman tidak pulang ke rumah utama dan bersikap seperti orang linglung pagi ini."

Para pelayan dan beberapa mandor pabrik yang sedang mengambil jatah sarapan kini berkumpul rapat di halaman dapur. Mereka saling berbisik dengan tatapan menuduh yang menusuk langsung ke arah Sumarni.

"Lihat ini semuanya!" teriak Sulastri sambil melempar sebuah buntelan kain putih kotor ke lantai tegel pelataran.

Buntelan itu terbuka saat menghantam tanah. Isinya tumpah berserakan, memperlihatkan gumpalan rambut, jarum karatan, serpihan kemenyan, dan kelopak bunga mawar hitam yang sudah mengering.

Hati Sumarni mencelos melihat benda menjijikkan tersebut. Dada kirinya berdenyut nyeri menahan amarah. Fitnah keji ini jelas sudah direncanakan dengan sangat matang oleh Sulastri untuk menghancurkan nama baiknya.

"Ningsih menemukan buntelan kutukan ini tertanam sebagian di bawah jendela paviliunmu subuh tadi," tuduh Sulastri dengan suara melengking menahan tangis palsu. "Kamu menggunakan ilmu pelet kotor untuk merusak akal sehat suami kita."

Bisik-bisik para pekerja pabrik semakin riuh berdengung bak kawanan lebah yang marah. Di era tahun delapan puluhan ini, tuduhan menggunakan ilmu hitam adalah aib mematikan yang bisa membuat pelakunya dihakimi massa dan diusir paksa dari kampung.

Dada Sumarni terasa panas terbakar amarah yang mendidihkan darahnya. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Namun, ia menolak keras untuk panik atau menangis. Insting editornya langsung menyala, menganalisis setiap celah logika dari sandiwara murahan di depannya.

Layar sistem mendadak muncul di depan pandangannya.

[Opsi Analisis Forensik Material Terbuka. Harga: 100 Poin. Tukar sekarang untuk membongkar kebohongan?]

"Tukar," batin Sumarni mantap tanpa keraguan sedikit pun.

[Penukaran Berhasil.

Pengetahuan detail anatomi material berhasil diunduh ke dalam memori otak.]

Rasa dingin yang aneh mengalir cepat dari ubun-ubun hingga ke ujung kaki Sumarni. Matanya kini bisa melihat detail buntelan aneh di lantai tegel itu dengan ketajaman luar biasa.

Sumarni tidak mundur ketakutan seperti yang diharapkan Sulastri. Ia justru melangkah maju membelah kerumunan dengan punggung tegak dan dagu terangkat penuh wibawa.

Ia berjongkok tepat di depan buntelan kain putih itu, mengabaikan pekikan ngeri dari beberapa pelayan wanita yang mundur ketakutan. Jari lentiknya yang bersih mengambil helaian rambut dari tumpukan benda kotor tersebut.

"Ilmu pelet murahan?" kekeh Sumarni dengan nada dingin yang mengiris udara pagi. Tawa sinisnya meluncur begitu natural, membuat Sulastri mendadak membeku di tempatnya.

Sumarni berdiri perlahan dan mengangkat helaian rambut itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. "Jika Mbak Sulastri ingin memfitnah saya di depan para pekerja, setidaknya gunakan modal yang sedikit lebih mahal dan cerdas."

Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah kerumunan pekerja pabrik. Matanya memancarkan ketegasan yang tidak berani dibantah oleh siapa pun.

"Coba kalian semua perhatikan baik-baik. Rambut ini lurus, kaku, tebal, dan berbau minyak kelapa tengik," jelas Sumarni dengan lantang. "Kalian semua bisa melihat sendiri bahwa rambut saya ikal alami, halus, dan saya selalu memakai minyak kemiri bakar."

Mata para pekerja langsung beralih membandingkan helaian rambut di tangan Sumarni dengan rambut yang menggelung rapi di kepalanya. Perbedaan fisik itu sangat mencolok dan tidak bisa disangkal.

Sumarni kemudian membungkuk kembali, mengambil jarum karatan dari lantai pelataran. Ia memutar jarum tebal itu di depan wajah Ningsih yang mulai gemetar.

"Jarum besar ini adalah jarum karung yang biasa digunakan untuk menjahit goni tembakau di gudang belakang, bukan jarum jahit pakaian yang biasa saya gunakan di paviliun," cecar Sumarni tanpa memberi ampun.

Wajah Sulastri mendadak pucat pasi. Aliran darah seakan tersedot habis dari wajahnya. Bibir istri pertama itu bergetar hebat saat skenario sempurnanya mulai runtuh berantakan di depan matanya sendiri.

"Dan satu detail penting lagi," lanjut Sumarni sambil melempar tatapan tajam yang membakar kesombongan Sulastri. "Buntelan pembungkus ini menggunakan potongan kain mori kasar kualitas paling rendah di pasaran. Semua orang tahu, pabrik batik Sekar Malam milik saya hanya memproses katun primisima halus dan sutra asli."

Sumarni melemparkan benda-benda kotor itu tepat ke ujung sepatu hak tinggi Sulastri. Bunyi dentingan jarum karatan yang membentur lantai terdengar nyaring, memecah keheningan yang kini mencekam para penonton.

"Suami kita adalah pengusaha besar yang memiliki akal sehat dan kecerdasan tinggi," tegas Sumarni dengan suara bariton yang menggema kuat. "Tuduhan bahwa Tuan Harjono bisa ditaklukkan dan ditipu dengan trik dukun kampung murahan seperti ini adalah penghinaan paling besar bagi martabatnya sebagai kepala keluarga."

Mendengar nama majikan mereka disebut, para pekerja sontak tertunduk pucat dan mundur teratur. Mereka tersadar bahwa gosip kampungan ini bisa menyinggung harga diri Tuan Harjono secara langsung dan berujung pada pemecatan massal.

Tatapan menuduh yang awalnya mengarah tajam pada Sumarni kini berbalik seratus delapan puluh derajat menembus tubuh Sulastri dan Ningsih. Rasa malu yang luar biasa hebat memukul dada Sulastri seperti godam besi, membuatnya nyaris kehabisan napas.

"Kamu, kamu memutarbalikkan fakta dengan pandai bicara!" tunjuk Sulastri dengan suara melengking panik, berusaha mempertahankan sisa harga dirinya. "Aku akan tetap melaporkan kejadian ini pada Mas Harjono."

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!