"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama sama mantan kekasih
Setelah semua sudut ruangan di Kantor Kepala Desa bersih dan berkas-berkas laporan tertata rapi, dua belas mahasiswa itu akhirnya diperbolehkan kembali ke posko. Karena hari pertama ini memang dikhususkan untuk adaptasi dan koordinasi awal dengan Pak Kades, tidak ada agenda luar lagi yang harus mereka lakukan sore itu.
Sesampainya di posko tengah sawah, suasana tampak tenang. Anggota laki-laki ada yang memilih membersihkan diri, dan sebagian lagi bersantai di teras luar. Sementara itu, Kanaya, Lisa, dan Mely langsung masuk ke dalam kamar perempuan dan menutup pintunya rapat-rapat.
Kanaya baru saja mendudukkan dirinya di atas kasur kapuk sambil memijat pelan jari manisnya yang masih diperban. Namun, belum sempat ia meluruskan kaki, Mely sudah melompat ke atas kasur dengan mata yang berbinar-binar penuh rahasia. Ia memastikan sekali lagi bahwa pintu kamar mereka sudah terkunci dengan benar.
"Eh, gila, gila, gila! Kalian berdua harus tahu ini. Aku punya hot news paling dapet yang bakal bikin kalian syok!" bisik Mely dengan suara super pelan namun penuh penekanan, khas orang yang memegang kartu as.
Lisa yang sedang menguncir rambutnya langsung menoleh penasaran. "Apalagi sih, Mel? Muka lo kerut-kerut gitu kayak agen intelijen aja."
"Ini serius, Lis, Nay! Ini soal drama Clarissa yang ngelabrak Kanaya tadi di kantor desa," kata Mely, sukses membuat Kanaya yang tadinya cuek langsung menegakkan posisi duduknya.
"Kenapa emangnya, Mel? Aku emang merasa nggak enak banget tadi, makanya langsung ikut bersih-bersih," sahut Kanaya agak cemas.
"Bukan salah kamu, Nay! Clarissa itu emosi bukan karena kamu manja atau jari kamu berdarah," seru Mely setengah berbisik sembari memajukan wajahnya ke tengah-tengah Kanaya dan Lisa. "Tadi pas semua orang sibuk bersih-bersih di dalam, aku nggak sengaja ngelihat Wisnu narik lengan Clarissa keluar ke koridor samping. Karena penasaran, aku ngikutin dan nguping di balik dinding kayu."
Lisa langsung melebarkan matanya. "Terus? Lo dengar apa?"
"Ternyata, Clarissa sama Wisnu itu mantan pacaran, guys!" ungkap Mely dengan nada dramatis. "Clarissa itu cemburu buta karena ngelihat Wisnu perhatian banget sama Kanaya tadi pagi di dapur, terus berlanjut sampai tadi pas bersih-bersih. Si Clarissa bahkan bilang kalau Wisnu sengaja manfaatin jabatan ketua buat deketin Kanaya di depan muka mantannya sendiri!"
Deg.
Kanaya langsung tertegun, lidahnya mendadak kelu. Informasi dari Mely rasanya seperti hantaman baru yang sama sekali tidak ia duga. Jadi, sikap ketus Clarissa dari kemarin itu bersumber dari rasa cemburu masa lalu yang belum selesai dengan Wisnu?
"Demi apa lo, Mel?!" Lisa menutup mulutnya dengan kedua tangan, benar-benar syok. "Gila, posko kita ini turns out isinya penuh plot twist ya. Di satu sisi ada Wisnu-Clarissa, di sisi lain..." Lisa sengaja menggantung kalimatnya sambil melirik Kanaya, mengingat di posko ini juga ada Arman, mantan kekasih Kanaya sendiri yang belum diketahui oleh Mely dan Wisnu.
Kanaya menghela napas panjang, bersandar pada dinding kamar yang dingin. Kepalanya mendadak pening. Baru hari pertama KKN di Desa Sukamukti, tapi jaring-jaring masa lalu di antara mereka berempat—Kanaya, Arman, Wisnu, dan kini Clarissa—sudah mulai terajut dengan begitu rumit di balik keheningan enam petak sawah ini.