NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Xiao Ba

Kediaman Keluarga Xiao menyambut kepulangan Xiao Ba dengan suasana yang berbeda dari biasanya.

Bukan sunyi.

Melainkan sunyi yang tegang—jenis keheningan yang tercipta bukan karena tidak ada yang terjadi, melainkan justru karena terlalu banyak yang sedang terjadi di balik permukaan yang tenang itu.

Beberapa pelayan yang ia lewati di koridor memberi hormat dengan cara yang berbeda dari sebelumnya—lebih dalam, lebih sungguh-sungguh, tidak lagi dengan ekspresi yang mencampur antara hormat karena kewajiban dan rasa kasihan yang berusaha disembunyikan.

Kabar tentang kemenangan di pertarungan Tebing Tujuh Roh sudah menyebar ke seluruh penjuru kediaman sebelum ia tiba.

Xiao Ba tidak berhenti di paviliunnya.

Ia berjalan langsung menuju kawasan terlarang di bagian belakang kediaman, tempat di mana Xiao Sun biasanya menghabiskan waktunya berkultivasi.

Ia menemukan sang kakek sudah menunggunya di taman spiritual, duduk di bangku batu di bawah pohon spiritual yang daunnya selalu hijau sepanjang tahun, dengan Lu Ming yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Di sampingnya duduk Penatua Ketiga Xiao Shu dan Penatua Keempat Xiao Lao.

Ekspresi keempat orang itu memberitahu Xiao Ba bahwa apa yang akan dibicarakan bukan sesuatu yang ringan.

Ia duduk di hadapan sang kakek.

“Ada perkembangan baru?” tanyanya langsung.

Xiao Sun mengangguk, lalu melirik ke arah Penatua Ketiga.

Xiao Shu mengambil napas singkat. “Tuan Muda, malam tadi kami menerima informasi dari sumber yang kami percaya di dalam kota. Pasukan dari Kerajaan Ying sedang dalam perjalanan menuju Kota Beira. Diperkirakan tiba dalam tiga sampai lima hari.”

Xiao Ba menatap Xiao Shu tanpa mengubah ekspresinya.

“Berapa banyak?”

“Minimal dua ratus prajurit, dengan beberapa kultivator di alam Prajurit Surgawi memimpin rombongan itu.”

“Dan tujuan resminya?”

“Inspeksi rutin keamanan perbatasan selatan,” jawab Xiao Lao dengan nada yang jelas menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak percaya dengan tujuan resmi itu.

Xiao Ba mengangguk pelan.

Inspeksi rutin.

Label yang cukup untuk memberikan kehadiran militer yang sah di kota ini tanpa menimbulkan terlalu banyak pertanyaan dari pihak lain. Dan di balik label itu, tujuan yang sudah bisa ia tebak sejak informasi tentang rencana Kerajaan Ying mencapai telinganya.

“Kita punya tiga hari, mungkin lima,” ucapnya. “Cukup waktu.”

“Cukup untuk apa?” tanya Xiao Sun dengan nada yang terdengar lebih seperti orang yang sudah tahu jawabannya, namun ingin mendengarnya diucapkan.

“Untuk menyelesaikan urusan di dalam sebelum menghadapi yang datang dari luar.”

Keheningan singkat menyelimuti taman spiritual itu, hanya diisi oleh suara daun pohon spiritual yang bergerak tertiup angin laut dari arah selatan.

Xiao Sun menatap cucunya dengan tatapan yang tidak mudah dibaca oleh siapa pun yang tidak mengenalnya dengan baik. Namun, Xiao Ba sudah mengenal kakeknya cukup lama untuk memahami bahwa di balik tatapan itu ada penerimaan yang datang bersamaan dengan kepedihan.

Penerimaan bahwa apa yang akan terjadi berikutnya tidak bisa lagi dihindari.

Kepedihan karena alasan yang tidak perlu diucapkan.

“Kakek sudah mendapatkan bukti yang cukup?” tanya Xiao Ba.

“Sudah.”

Satu kata. Namun bobotnya terasa seperti ribuan kata sekaligus.

Xiao Ba bangkit dari tempat duduknya.

“Kumpulkan seluruh keluarga di aula utama,” katanya kepada Penatua Ketiga dan Penatua Keempat. “Satu jam dari sekarang.”

Dua penatua itu mengangguk dan segera meninggalkan taman.

Xiao Ba menatap sang kakek yang masih duduk di bangku batu.

“Kakek tidak perlu hadir kalau tidak ingin,” ucapnya pelan.

“Aku akan hadir,” jawab Xiao Sun tanpa ragu. “Ini tanggung jawabku juga.”

Satu jam kemudian, aula utama Kediaman Keluarga Xiao dipenuhi oleh seluruh anggota keluarga.

Dari para penatua yang usianya sudah melampaui satu abad hingga anggota-anggota muda yang bahkan belum genap sepuluh tahun. Semua hadir dengan ekspresi yang beragam. Ada yang tahu apa yang akan terjadi, ada yang hanya bisa menduga, dan ada pula yang tidak tahu sama sekali, namun tetap merasakan sesuatu dari cara undangan pertemuan ini disampaikan.

Xiao Ye, Penatua Kedua, duduk di tempatnya dengan ekspresi yang berusaha terlihat wajar. Namun, matanya bergerak sedikit lebih sering dari biasanya—membaca ruangan, mencoba mengalkulasi sesuatu yang kini semakin sulit dihitung.

Xiao Shao, Penatua Kelima, duduk di sampingnya dengan postur yang sedikit lebih tegang dari biasanya.

Xiao Tian dan Xiao Xiyun duduk di antara anggota muda keluarga dengan wajah yang sulit dibaca dari kejauhan. Namun, indra spiritual Xiao Ba menangkap denyutan kecil ketegangan dari tubuh keduanya.

Xiao Sun berjalan ke kursi utama di bagian depan aula dengan langkah yang lebih tegak dibanding minggu-minggu terakhir. Ia duduk dengan cara yang mengingatkan semua orang bahwa lelaki tua ini adalah Patriark yang telah memimpin keluarga itu selama lebih dari setengah abad.

Xiao Ba berdiri di sisi aula—tidak duduk, tidak pula berdiri di posisi yang mencolok.

Hanya hadir.

Namun, kehadirannya terasa oleh semua orang di ruangan seperti sesuatu yang besar berdiri diam di pojok aula—tidak bergerak, namun mustahil diabaikan.

“Aku mengumpulkan kalian semua hari ini,” suara Xiao Sun bergema di aula yang tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi dari ukurannya, “untuk menyelesaikan satu urusan yang sudah terlalu lama tertunda.”

Ia memberi jeda pendek, cukup untuk membuat beberapa orang di aula tanpa sadar menahan napas.

“Penyelidikan tentang siapa yang membocorkan informasi Akar Spiritual Xiao Ba kepada Klan Cakar Hitam, dan melalui mereka ke istana Kerajaan Ying, sudah selesai. Bukti telah dikumpulkan dan dikonfirmasi.”

Xiao Ye tidak bergerak.

Namun, di tempat duduknya, sesuatu yang sangat halus berubah dari cara ia memegang sandaran kursi.

“Pelaku pengkhianatan ini adalah Penatua Kedua Xiao Ye dan Penatua Kelima Xiao Shao.”

Kata-kata itu jatuh ke dalam aula seperti batu besar yang dilemparkan ke kolam tenang.

Beberapa anggota keluarga yang lebih muda mengeluarkan suara kecil. Yang lebih tua hanya diam, wajah mereka menampilkan berbagai reaksi yang sulit dibaca.

Xiao Ye akhirnya bergerak.

Ia berdiri dari kursinya secara perlahan, dengan ekspresi yang seolah telah melepaskan semua topeng yang selama ini ia kenakan.

“Patriark,” katanya. Suaranya lebih tenang dari yang mungkin diharapkan siapa pun di ruangan itu. “Kamu sudah tua. Kamu melihat cucumu hancur di depan matamu dan tidak bisa berbuat apa-apa. Wajar kalau kamu membutuhkan seseorang untuk disalahkan.”

Xiao Sun menatap Xiao Ye dengan tatapan yang tidak mengandung amarah meluap.

Hanya kejelasan yang dingin.

“Bukti yang kami miliki bukan sekadar kesimpulan dari seseorang yang membutuhkan kambing hitam, Xiao Ye,” ucap Xiao Sun. “Kita berdua tahu itu.”

Xiao Ye tertawa pelan. Tawa yang tidak mengandung kegembiraan, melainkan sesuatu yang lebih dekat pada pengakuan dari seseorang yang sadar bahwa permainannya telah berakhir, namun tetap ingin mengakhirinya dengan caranya sendiri.

“Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan, Patriark tua? Mengusir kami? Menyerahkan kami kepada penguasa kota? Sementara pasukan Kerajaan Ying sedang dalam perjalanan menuju kota ini untuk menghapus Keluarga Xiao dari peta Kota Beira?”

Kata-kata itu dimaksudkan untuk menciptakan keputusasaan. Untuk membuat semua orang di aula merasa bahwa menghadapi pengkhianat dari dalam saat ancaman dari luar semakin dekat adalah keputusan yang tidak masuk akal.

Namun, di pojok aula, pemuda berambut hitam yang sejak tadi berdiri diam akhirnya melangkah maju.

Semua mata berpaling ke arah Xiao Ba yang berjalan menuju tengah aula dengan langkah tenang.

“Penatua Kedua,” ucap Xiao Ba, suaranya cukup untuk didengar seluruh ruangan tanpa perlu dinaikkan sedikit pun, “kamu benar bahwa Kerajaan Ying sedang mengirimkan pasukan ke sini. Kamu juga benar bahwa situasinya tidak mudah.”

Ia berhenti di tengah aula, menghadap Xiao Ye.

“Namun, kamu salah tentang satu hal.”

Xiao Ye menatapnya dengan tatapan yang mencoba meremehkan, namun tidak sepenuhnya berhasil.

“Apa yang kupikir salah?”

“Kamu mengira bahwa karena ada ancaman dari luar, tidak ada waktu untuk menyelesaikan ancaman dari dalam. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Selama masih ada pengkhianat di rumah ini, tidak akan ada cara efektif untuk menghadapi siapa pun yang datang dari luar.”

Xiao Tian yang duduk di antara anggota muda keluarga akhirnya bangkit berdiri, rahangnya mengeras.

“Xiao Ba, kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Kamu baru keluar dari kawasan tebing dan sudah mengira dirimu bisa mengatur urusan keluarga ini.”

“Aku tidak mengatur urusan keluarga,” jawab Xiao Ba tanpa menoleh ke arah Xiao Tian. “Aku hanya menyelesaikan satu hal yang memang harus diselesaikan.”

Ia kembali menatap Xiao Ye.

“Penatua Kedua, pilihan yang Kakek berikan adalah kesempatan yang tidak semua pengkhianat dapatkan. Akui apa yang sudah dilakukan, keluar dari keluarga ini bersama seluruh garis keturunanmu, dan jangan pernah kembali lagi. Atau hadapi konsekuensi yang telah diputuskan oleh Patriark.”

Xiao Ye menatap Xiao Ba selama beberapa detik.

Lalu matanya bergerak ke arah Xiao Tian yang masih berdiri, ke Xiao Xiyun yang duduk dengan wajah pucat, dan ke Xiao Shao yang masih duduk namun tidak lagi mampu menyembunyikan fakta bahwa ia sudah menyerah jauh sebelum semuanya berakhir.

Sesuatu di mata Xiao Ye berubah.

Bukan menyerah.

Bukan pula melawan.

Melainkan penerimaan pahit dari seseorang yang telah hidup cukup lama untuk mengetahui kapan sebuah permainan benar-benar selesai.

“Satu hari,” katanya akhirnya. Suaranya sudah tidak lagi mengandung nada sebelumnya. “Beri kami satu hari untuk mempersiapkan diri.”

Xiao Sun yang sejak tadi duduk di kursi utama akhirnya angkat bicara.

“Satu hari,” ucapnya. “Besok saat matahari terbenam, tidak ada satu pun dari garis keturunan Xiao Ye dan Xiao Shao yang boleh masih berada di dalam kediaman ini.”

Xiao Ye memberi anggukan singkat yang tidak mengandung kerendahan hati, namun juga tidak mengandung perlawanan.

Ia duduk kembali.

Dan di aula yang kini sunyi dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, semua orang merasakan bahwa satu bab dari sejarah keluarga ini baru saja ditutup dengan cara yang tidak akan pernah bisa dibuka kembali.

Setelah pertemuan berakhir dan aula perlahan dikosongkan oleh anggota keluarga yang pergi dengan berbagai ekspresi, Xiao Ba tinggal bersama Xiao Sun dan Lu Ming.

“Kamu terlalu langsung,” ucap Xiao Sun, meskipun nada suaranya tidak mengandung teguran.

“Waktu yang kita punya terlalu sedikit untuk tidak langsung,” jawab Xiao Ba.

Xiao Sun menatap cucunya selama beberapa saat, lalu mengangguk pelan.

“Pasukan Kerajaan Ying,” kata Xiao Ba melanjutkan dengan suara lebih rendah, ditujukan hanya kepada sang kakek. “Kakek tidak boleh berada di sini saat mereka tiba.”

Xiao Sun mengerutkan kening. “Aku tidak akan lari dari rumahku sendiri.”

“Bukan lari.” Xiao Ba menatap sang kakek dengan tatapan yang tidak memberi ruang untuk perdebatan. “Pergilah ke tempat yang aman bersama anggota keluarga yang tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Biarkan aku yang mengurus mereka yang datang ke sini.”

“Kamu sendirian?”

“Tidak sepenuhnya sendirian.”

Xiao Sun menatap cucunya dengan tatapan yang mencoba memahami seberapa jauh pemuda empat belas tahun di depannya telah berubah dari anak yang dahulu ia lindungi.

Dan apa yang ia temukan justru tidak membuatnya semakin khawatir.

Sebaliknya.

“Aku percaya padamu, Shan’er,” ucapnya akhirnya pelan dan kata-kata yang jarang tersebut ia ucapkan, namun selalu memiliki bobot yang besar ketika keluar dari mulutnya.

1
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
Dafa Faiha Roshiq
gesss harap dibaca dengan hikmat dan kalo ada kesalahan tulis tolong kasih tau ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!