Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalau saja kamu pria Biasa
Gerimis jatuh, bukan badai. Tipis, tapi cukup bikin kaca vila berembun dan waktu terasa lambat.
Sebulan sudah Florence jadi ‘cicilan utang nyawa’. Sebulan pula dia mengintip sisi Lucifer yang tak ditayang ke dunia: lelaki yang mengumpat karena sepiring makan tak tersentuh, yang melempar jasnya saat tubuhnya menggigil, yang mengganti mawar layu di vas tanpa suara.
Hari ini vila senyap. Lucifer mengunci diri di ruang kerja sejak subuh. Bisik pengawal: Ada duri di lingkar dalamnya.
Florence seharusnya tak peduli. Seharusnya.
Tapi tangannya gatal. Di gudang belakang, dia menemukan kanvas tua, tabung cat minyak yang mengerak, kuas-kuas kaku bekas waktu. Barang sitaan dari pulau ini, barangkali. Dulu di panti, dia biasa melukis wajah Suster Maria—keriput yang teduh, mata yang sabar.
Kini, jemarinya bergerak tanpa izin akal.
Gores pertama: rahang yang tegas, seperti pahatan yang menolak lunak.
Gores kedua: hidung yang lancip, angkuh.
Gores ketiga: mata… biru.
Biru Arktik. Biru yang semalam mengawasinya menelan obat, dingin, tapi tak membiarkan dia tenggelam.
Tiga jam, dan Lucifer Azrael lahir di kanvas. Tampan. Kokoh. Tapi di tangan Florence, tak ada belati di tatapnya. Tak ada musim beku. Yang ada hanya letih—seperti pemuda dua puluh delapan yang dipaksa menghitung cara membunuh sejak lima belas.
Di sudut kanvas, Florence menambahkan setangkai mawar. Tidak merah. Putih. Kelopaknya ia buat sedikit terbuka, seolah baru belajar napas. Duri di batangnya ia lukis tipis, nyaris tak terlihat, tapi ada. Seperti lelaki di depannya: indah sekaligus melukai.
Florence menutup lukisan dengan kain. Dadanya sesak. Bodoh. Kenapa kamu bingkai iblis dengan bunga?
Senja turun ke dapur.
Florence tak punya hak di sini. Tapi koki kepala ke kota, dan laporan pengawal menyebut Lucifer belum menjejak lantai sejak pagi.
Dia mati lapar pun bukan tanggunganmu, katanya pada diri sendiri. Malah impas.
Namun kakinya membangkang. Tangannya mengambil bawang, daging asap, telur, keju. Spaghetti carbonara—menu ulang tahun anak panti. Sederhana, hangat, tak banyak tanya.
Aromanya naik, mengetuk pintu lantai dua.
Jam delapan, ruang kerja menghela napas. Pintu terbuka. Lucifer muncul dengan kemeja kusut, rambut awut, urat merah berenang di biru matanya. Letih. Lapar. Manusia.
Di meja makan, satu piring tertutup menunggu. Di sebelahnya, kertas kecil bertulis tangan: Makan. Biar tidak mati konyol. —F
Lucifer diam. Membuka tudung. Uapnya masih hidup. Dia duduk. Tanpa kata. Menghabiskan. Sendiri.
Pukul sepuluh, langkah Florence terhenti di depan ruang kerja yang menganga. Dari celah pintu, Lucifer bersandar di kursi, jari memijat pelipis. Cahaya lampu meja memahat wajahnya jadi tegas, tapi juga retak. Migrain. Atau mahkota neraka yang terlalu berat.
Jangan masuk, Florence. Itu monster. Ingat.
Lagi-lagi, kakinya lebih cepat dari larangan.
“Permisi,” lirihnya.
Biru itu membuka, siaga. Menemukan Florence, siaganya luruh jadi tanya.
“Apa?” Serak.
Florence meremas salib di leher. “Kepala… Tuan sakit?”
Diam Lucifer adalah jawaban.
Entah setan mana yang menuntun, Florence maju. Berdiri di belakang kursi.
“Dulu Suster Maria sering migrain. Aku biasa…” Suaranya hampir tak ada. “Kalau Tuan tak keberatan…”
Lucifer seharusnya menghardik. Seharusnya mengusir.
Tapi dia diam. Dan diam adalah izin.
Dengan jemari gemetar, Florence menempelkan ibu jari di pelipis itu. Memutar pelan. Hati-hati, seolah menyentuh kaca yang retak.
Kulit Lucifer panas. Uratnya tegang seperti tali kapal. Perlahan, mengendur.
Hanya gerimis dan dua napas yang bicara.
Dan di kepala Florence, bencana mekar.
Kalau saja…
Kalau saja Lucifer Azrael lelaki biasa. Bukan raja neraka. Bukan algojo. Hanya eksekutif muda yang pulang dengan dasi longgar, disambut wangi carbonara, lukisan wajahnya, dan jemari yang tahu letak sakitnya…
Kalau dia cuma lelaki biasa, dengan biru di matanya, garis di rahangnya, hangat di telapaknya… mungkin hidup tak sedingin ini. Mungkin dia bisa tertawa tanpa menghitung korban. Mungkin dia bisa bilang ‘terima kasih’ tanpa pisau di baliknya. Mungkin… mungkin aku bisa…
Florence memenggal pikirannya sendiri. Menguburnya. Menggembok. Menenggelamkan ke dasar laut, bersama doa tentang orang tuanya yang tak pernah pulang.
Karena Lucifer Azrael bukan lelaki biasa. Dia yang memutus kabar tentang darahnya. Yang mencuri cium sebagai hukuman. Yang merawatnya sebab dia aset.
“Sudah,” suara Lucifer memecah. Beku kembali. Topeng terpasang.
Florence melepas tangan, mundur tiga langkah. Seperti tertangkap basah mencuri napas.
Lucifer berdiri, berbalik. Menatapnya—dari kepala hingga ujung napas.
“Lukisan di gudang,” datar. “Bagus.”
Darah Florence turun ke kaki. Tentu dia tahu. Tak ada yang lolos dari mata iblis.
“Carbonara-nya,” Lucifer lanjut, “keasinan.”
Dusta. Piringnya bersih seperti tak pernah dipakai.
“Satu lagi.” Lucifer melewatinya, berhenti sejengkal di sisi. Tak menyentuh. Tak menoleh. “Jangan ulangi. Pijatan. Masakan. Lukisan. Itu bukan cicilan utangmu.”
Lalu pergi. Meninggalkan Florence dengan aroma mint yang tertinggal di jemari—sisa dari rambutnya.
Florence kembali ke kamar. Membuka kain penutup. Menatap Lucifer versinya—lelaki biasa yang letih, bukan raja yang kejam. Di sudut kanvas, mawar putih itu menatapnya balik, suci, rapuh.
Diambilnya kuas, dicelupnya ke hitam. Sekali tarik, dia menyilang biru itu. Membunuhnya di kanvas.
Kubur, Florence. Sebelum kamu lupa siapa yang menidurkan orang tuamu. Sebelum kamu lupa kau hanya mawar yang dibuang saat kelopaknya gugur.
Namun hitam itu luntur. Oleh air mata.
Di kamarnya, Lucifer berdiri di balkon. Gerimis menyentuh kulit. Di tangannya, kertas kecil: Makan. Biar tidak mati konyol. —F
Diremasnya. Hendak dibuang. Tapi justru masuk ke saku, dekat dada.
Sial. Sesaat tadi, ketika pelipisnya disentuh, ketika carbonara ‘keasinan’ itu lewat tenggorokan, dia lupa dirinya Raja Neraka.
Lupa bahwa yang ‘biasa’ itu melemahkan. Dan Raja Neraka yang lemah… mati.