NovelToon NovelToon
MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yorozuya Rin

Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.

Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.

Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya.

Perjalanan penantian pernikahan mantan jenderal pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paviliun Feique yang Sunyi

Bab 7 : Paviliun Feique yang Sunyi

Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian baru, Shen Fuyan akhirnya melangkah kembali ke halaman kecil yang telah ia tinggalkan selama lima tahun lamanya.

Halaman itu masih bernama Paviliun Feique.

Dulu, saat masih belia, ia sangat menyukai nama itu Feique, burung pipit yang terbang bebas di langit. Baginya, nama itu ringan, ceria, dan penuh kebebasan.

Namun waktu mengubah cara pandangnya.

Burung pipit… tak pernah benar-benar terbang jauh.

Pernah suatu masa ia ingin mengganti nama itu menjadi Honghu, angsa yang menjelajah langit luas, atau bahkan Kunpeng, makhluk agung yang membelah samudra dan langit.

Sesuatu yang lebih… besar.

Lebih tak terbatas.

Tapi kini, setelah melewati tahun-tahun yang keras dan panjang, ia mengerti.

Yang menentukan sejauh mana seseorang terbang… bukanlah nama tempat tinggalnya.

Melainkan pilihan yang ia buat sendiri.

Langkahnya terhenti sejenak di tengah halaman. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma dedaunan tua yang mengering. Paviliun itu tampak lebih lengang dari yang ia ingat.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Sebagian besar pelayan telah dipindahkan selama ia pergi. Kini hanya tersisa satu orang Mingzhu.

Gadis itu berdiri tegak di samping pintu, matanya jernih namun waspada. Ia adalah cucu Nyonya Wei, dan lima tahun lalu, dialah yang ikut mendampingi Shen Fuyan ke Gunung Zuowang… atau setidaknya, itulah yang diketahui orang lain.

Hanya Mingzhu yang tahu kebenaran.

Bahwa selama lima tahun itu… nona keduanya tidak benar-benar berada di gunung.

Dan sejak kepulangan itu, tanpa banyak kata, Mingzhu secara alami mengambil posisi sebagai pengurus utama Paviliun Feique.

Shen Fuyan tidak banyak memedulikan perubahan itu. Ia hanya berjalan perlahan, menyentuh pagar kayu, melirik ke sudut-sudut halaman seolah menyusuri bayangan masa lalu yang masih tertinggal di sana.

Setelah cukup lama, ia berbalik.

“Hari ini kita keluar,” katanya ringan, “aku ingin mengajak Lin Yuexin mencicipi camilan di Jinchanxuan.”

Namun baru saja ia hendak melangkah keluar—

“Nona Kedua!”

Suara itu datang tergesa-gesa, diiringi langkah kaki yang ramai.

Shen Fuyan bahkan belum sempat menghela napas ketika Nyonya Kedua Li sudah muncul di gerbang halaman, diikuti rombongan pelayan yang rapi berbaris di belakangnya.

Seketika, firasat buruk merayap di hatinya.

“Bibi,” sapa Shen Fuyan dengan tenang, meski alisnya sedikit terangkat, “apa yang membawa Anda kemari?”

Nyonya Kedua Li tersenyum hangat, lalu tanpa ragu menggenggam tangannya terlihat penuh kasih, namun juga… tegas.

“Kemarin kita belum sempat membicarakan ini,” ujarnya. “Kebetulan kau sudah kembali hari ini, jadi mari kita pilih beberapa pelayan untuk melayanimu.”

…Ah.

Jadi ini.

Shen Fuyan hampir salah menangkap maksudnya, bayangan kehidupan lamanya sebagai pria membuat kata “pelayan halaman” terdengar janggal di telinganya.

Ia menahan ekspresi, lalu berkata ringan, “Aku sudah terbiasa hidup tenang di Gunung Zuowang. Tidak perlu terlalu banyak orang.”

“Itu tidak bisa,” potong Nyonya Kedua Li tanpa ragu. “Halaman seorang gadis bangsawan tidak boleh kosong seperti ini. Minimal dua pengurus dan empat pelayan kelas dua.”

Nada suaranya lembut, tapi jelas tidak memberi ruang untuk penolakan.

Shen Fuyan mengerti.

Ini bukan sekadar soal kebutuhan… tapi juga soal wajah keluarga.

Sejak istri utama cabang besar meninggal, urusan rumah tangga dipegang oleh Nyonya Kedua Li.

Jika Paviliun Feique terlalu sepi, orang luar bisa saja berprasangka buruk menganggapnya memperlakukan putri cabang utama dengan tidak adil.

Dan itu… bukan sesuatu yang bisa ia biarkan terjadi.

Shen Fuyan menghela napas pelan.

Lalu ia menoleh ke Mingzhu.

“Pergi. Panggil Nyonya Lin.”

Tak lama kemudian, seorang wanita datang dengan langkah ringan.

Nyonya Lin.

Wajahnya cantik untuk ukuran seorang pengasuh, dengan mata yang tampak lembut, terlalu lembut, hingga sulit ditebak apa yang tersembunyi di baliknya.

Nyonya Kedua Li mengenalnya.

Wanita ini dibawa pulang oleh Nyonya Tua dari Gunung Zuowang. Konon, dulunya ia hanyalah istri petani yang nyaris dijual oleh suaminya sendiri karena utang judi.

Namun kemarin, wanita inilah yang membuat keributan di luar halaman Nyonya Tua hingga akhirnya Shen Fuyan dibebaskan dari hukuman berlutut.

Setia.

Berani.

Meski… mungkin agak kasar.

Shen Fuyan tidak banyak bicara. Ia hanya menyerahkan urusan pemilihan pelayan kepada Nyonya Lin, sementara dirinya mengajak Nyonya Kedua Li masuk untuk minum teh.

“Apa yang Anda inginkan dari pelayan?” tanya Nyonya Lin langsung.

Shen Fuyan menjawab singkat, tanpa ragu:

“Yang mudah diatur.”

Senyum samar terlukis di bibir Nyonya Lin.

Ia pun mulai berjalan di depan barisan pelayan, mengajukan beberapa pertanyaan sederhana tentang kebiasaan, temperamen, dan latar belakang mereka.

Tak lama, ia memilih satu pengurus utama dan empat pelayan kelas dua.

Cepat.

Terlalu cepat.

Setelah semuanya selesai, Nyonya Kedua Li tinggal sebentar untuk berbasa-basi sebelum akhirnya pamit.

Namun di perjalanan pulang, pengasuh di sisinya berbisik pelan

“Orang-orang yang dipilih… semuanya termasuk yang paling lamban di antara yang lain.”

Nyonya Kedua Li tertegun. “Tidak ada yang cakap?”

“Aku sudah mencoba mengingatkan,” jawabnya ragu, “tapi Nyonya Lin hanya bilang…Nona Kedua menginginkan yang mudah diatur.”

Hening sejenak.

Kemudian Nyonya Kedua Li menggeleng perlahan.

“Tidak masalah,” katanya pelan. “Selama Mingzhu ada di sana… Shen Fuyan tidak akan sampai diperlakukan semena-mena.”

Namun dalam hatinya, kekhawatiran tetap tersisa.

Wanita bernama Nyonya Lin itu… jelas belum sepenuhnya memahami cara dunia

keluarga bangsawan bekerja.

Di sisi lain, setelah rombongan itu pergi, Nyonya Lin memperkenalkan para pelayan baru.

Sesuai kebiasaan, Shen Fuyan seharusnya memberi mereka nama baru.

Namun ia hanya melambaikan tangan.

“Tidak perlu. Gunakan saja nama lama kalian. Kalau ingin mengganti… minta Mingzhu yang mengurusnya.”

Satu kalimat sederhana.

Namun cukup untuk menegaskan siapa yang memegang kendali di Paviliun Feique.

Setelah semuanya beres, Shen Fuyan segera mengajak Nyonya Lin pergi mencari Lin Yuexin.

Namun belum jauh melangkah

“Nona! Kerudung Anda!”

Mingzhu berlari kecil, napasnya sedikit terengah.

Nyonya Lin kembali mengambil topi berkerudung itu. Saat ia kembali, ia mendengar

Shen Fuyan menghela napas kesal.

“Ribet sekali…”

Tak ada orang lain di sekitar.

Dan saat itulah,

Senyum di wajah Nyonya Lin berubah.

Bukan lagi senyum sopan seorang pengasuh.

Melainkan senyum yang… hidup. Tajam. Menggoda.

Dengan suara rendah, ia berkata pelan

“Aku sudah bilang… seorang jenderal tidak cocok dikurung dalam peran wanita anggun.”

Matanya berkilat samar.

“Padang pasir yang luas, suara pedang beradu, dan kobaran api… itulah tempatmu.”

Tanpa ragu, Shen Fuyan menjawab datar

“Melanggar titah kekaisaran adalah kejahatan berat.”

Ia melirik sekilas.

“Mau menggantikanku di tiang eksekusi?”

Nyonya Lin tertawa kecil, menutup bibirnya.

“Aku tidak seberani itu.”

...----------------...

Kereta keluarga Shen sudah menunggu di luar.

Langit mulai berubah keemasan, cahaya senja memantul di atap-atap kota, sementara jalan utama ibu kota dipenuhi suara manusia, roda kereta, dan pedagang yang berseru. Di dalam kereta, selain Shen Fuyan dan Lin Yuexin, terdapat pula Nyonya Lin dan pelayan milik Lin Yuexin.

Percakapan mereka ringan.

Tidak ada yang penting dibicarakan.

Namun suasana… terasa seperti sebelum badai.

Saat mereka tiba di Restoran Jinchanxuan, tirai kerudung mereka berkibar pelan tertiup angin, menutupi wajah dan sosok dengan anggun.

Mereka naik ke lantai dua dan memesan ruang pribadi.

Setelah hidangan tersaji, Shen Fuyan bahkan memesan ruangan lain di sebelah, lalu menyuruh Nyonya Lin membawa para pelayan ke sana.

Begitu pintu tertutup dan penjaga berdiri di luar.

Shen Fuyan langsung melepas kerudungnya dan melemparkannya ke samping.

Lin Yuexin hanya tersenyum tipis, gerakannya tetap anggun saat menyajikan teh.

“Cobalah ini,” katanya lembut, mendorong sebuah dim sum berbentuk perahu kecil.

“Menu edisi bulan lalu ‘Perahu Mimpi di Galaksi’.”

Shen Fuyan menatapnya.

“…Ini terlalu indah untuk dimakan.”

Namun tetap ia gigit.

Dan ternyata… rasanya sepadan.

Manis pasta kacang merah berpadu dengan jeli teh bunga, menciptakan rasa yang berlapis dan halus di lidah.

Sementara mereka makan, Shen Fuyan sesekali melirik keluar jendela.

Lin Yuexin memperhatikannya.

“Kau akan pergi lagi?”

Shen Fuyan menyentuh wajahnya sendiri. “Sejelas itu?”

“Tidak. Hanya saja… aku mengenalmu.”

Hening sejenak.“Kau mau ke mana?”

Shen Fuyan mengeluarkan secarik kertas kecil dan menyerahkannya.

Lin Yuexin membacanya.

Tanda tangan di bawahnya membuat matanya sedikit menyipit.

Wei Jie.

Shen Fuyan bersandar santai.

“Keponakan Permaisuri. Dulu atasanku… lalu aku jadi atasannya.”

Ia tersenyum samar.

“Sekarang Komandan Pengawal Kekaisaran.”

Lin Yuexin menatapnya lama.

“Aku selalu penasaran,” katanya pelan. “Kalau kau tidak menyukai perjodohan ini, kenapa tidak mencari sendiri?”

Sudut bibir Shen Fuyan terangkat.

“Kalau kau pernah melihat mereka tidak mandi setengah bulan, bersendawa sembarangan, dan membuat keributan di rumah bordil seolah ingin merobohkannya…”

Ia mengangkat alis.

“Kau tidak akan bertanya begitu.”

Wajah Lin Yuexin langsung pucat.

Namun ia tetap mencoba tenang.

“…Apakah Wie Jie juga seperti itu?”

“Tidak.”

Shen Fuyan menyesap teh.

“Dia terlalu sombong untuk menyentuh tempat seperti itu.”

Lalu, dengan nada ringan, ia menambahkan

“Dan dia pasti tidak akan tertarik pada seseorang seperti aku.”

Tangan Lin Yuexin berhenti sejenak.“Apa dia tahu kau masih hidup?”

“Cerita panjang.”

Shen Fuyan menghela napas.

“Singkatnya… dia ingin mengambil jasadku ke perbatasan. Permaisuri terpaksa memberitahunya aku masih hidup.”

“Tapi… tidak memberitahu bahwa kau wanita?”

“Benar.”

Sunyi.

“Apa kau akan menemuinya?”

Shen Fuyan menatap keluar jendela.

Sosok berpakaian hitam mulai terlihat di seberang jalan.

“Aku harus.”

Tak lama kemudian, ia berdiri.

“Aku segera kembali.”

Dengan kerudung kembali menutupi wajahnya, ia berjalan keluar bersama Nyonya Lin berpura-pura menuju kamar kecil.

Namun arah langkah mereka… justru menuju keluar restoran.

Setelah berpisah di toko kosmetik, Shen Fuyan berjalan sendiri menuju Kedai Linlang.

Dan di sana

Ia melihatnya.

Seorang pria dengan jubah hitam, berdiri tegak dengan pedang di pinggangnya.

Aura dingin dan tajam seperti bilah baja.

Wei Jie.

Shen Fuyan mendekat.

Pria itu bahkan tidak meliriknya… sampai ia berdiri tepat di hadapannya.

Alisnya langsung mengerut.

“Jenderal yang mengirimmu?”

Shen Fuyan tidak menjawab.

Hanya mengangguk.

Seketika, ekspresi pria itu berubah dingin.

“Bohong lagi.”

Nada suaranya keras, penuh emosi yang tertahan.

Ia jelas… tidak percaya.

Shen Fuyan berdeham pelan, lalu dengan suara yang lebih halus, ia berkata

“Jenderal sudah menduga Anda tidak akan percaya.”

“Dia meninggalkan pesan.”

Wei Jie menatap tajam.

“Apa?”

Dan Shen Fuyan… tersenyum tipis di balik kerudungnya.

“Dia bilang”

“kau masih berutang dua kali… karena tidak melepas celana.”

“Dia ingin tahu… kapan kau akan membayarnya.”

1
Nurhasanah
suka banget sama karakter cwek yg badas nggak menye2 🥰🥰🥰 lanjut thor
Nurhasanah
lanjut thor 🥰🥰🥰
Sri Yana
tolong perbanyak episode nya, ceritanya semakin menarik....
Zhou Yan: maaf ya othor hanya bisa up 1 ep sehari, karena othor punya 4 cerita on going, lumayan menguras emosi kalo harus up lebih dari 1 episode. /Sob/
Jadi selagi nunggu othor up cerita lagi, kakak bisa baca cerita on going othor lainnya ya, 🙏🤭🤭
total 1 replies
Nurhasanah
karya yg bagus di tunggu lanjutan nya 👍👍👍
Nurhasanah
lanjut thor ... makin seru 🥰🥰🥰
Mydar Diamond
lanjuutt 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!