NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laporan dari Jalur Konvoi

William duduk di meja makan dengan posisi tegak, bahunya lurus, sementara tangannya berada di sisi piring yang belum tersentuh. Berbagai hidangan sarapan telah tersusun rapi di hadapannya—roti, daging, sup ringan, dan buah—semuanya masih utuh, belum berkurang sedikit pun. Tatapannya tidak langsung tertuju pada makanan, melainkan sesekali bergerak ke arah Aveline yang masih berdiri di dekat meja dapur.

Aveline menyelesaikan aktivitasnya tanpa terburu-buru. Tangannya mengangkat wajan, lalu dengan gerakan pasti ia memindahkan spageti bawang putih yang baru saja dimasak ke dalam piring. Uap tipis masih terlihat saat makanan itu jatuh perlahan, tersusun rapi tanpa berantakan. Ia tidak langsung merespons laporan Ralf yang masih berdiri di tempatnya, tubuh pria itu terlihat kaku, jelas menunggu jawaban yang tidak kunjung datang.

Aveline berjalan mendekat ke meja makan dan meletakkan piringnya tepat di seberang William. Tanpa melihat siapapun. Ia duduk mengambil garpu, lalu menggulung spageti dengan gerakan tenang sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Mulutnya mengunyah dengan perlahan.

Baru setelah ia menelan, Aveline kemudian berbicara.

“Biarkan saja.”

Suasana langsung berubah.

Para pelayan saling melirik. Ralf yang masih berdiri tampak ragu, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

William justru tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat ringan, dengan tatapannya yang mengarah ke Aveline tanpa menyembunyikan ketertarikannya.

“Tampaknya kau tidak peduli padanya.”

Aveline tidak langsung menjawab. Garpunya kembali bergerak, mengambil potongan spageti berikutnya. Namun matanya yang tajam bergeser, menatap William tanpa menolehkan kepala sepenuhnya.

“Peduli atau tidak, apa urusannya denganmu?”

Nada suaranya datar, tidak meninggi, namun cukup tegas.

Ia menegakkan sedikit punggungnya, lalu melanjutkan tanpa memberi ruang bagi William untuk menyela.

“Aku punya caraku sendiri untuk menanganinya. Tanpa bantuan Tuan Kolonel.”

Setelah itu ia mengambil gelas di depannya dan meneguk air putih secukupnya.

William sempat mengira percakapan itu akan berakhir di sana. Ia mengira Aveline akan berdiri dan pergi seperti sebelumnya. Namun wanita itu tidak bergerak dari kursinya. Ia justru kembali fokus pada makanannya, menghabiskan spageti sedikit demi sedikit tanpa memperhatikan sekitar.

William memperhatikannya beberapa saat.

Cara Aveline makan, cara ia memegang garpu, dan ketenangannya setelah berbicara—semuanya tidak sesuai dengan bayangan yang ia miliki sebelumnya

Beberapa saat kemudian, William akhirnya mengalihkan pandangannya dan mulai menyentuh makanannya sendiri.

Waktu berlalu tanpa banyak suara. Tidak lama kemudian, piring Aveline sudah kosong. Ia meletakkan garpunya seraya berdiri tanpa suara, dan kemudian langsung berbalik menuju tangga tanpa mengucapkan apapun.

William sedikit melirik ke arah piring kosong itu.

Langkah Aveline tetap stabil saat menaiki anak tangga.

Pandangan William kembali ke depan, namun pikirannya tidak lagi berada di meja makan.

Haruskah ia merasa bersalah … melihat perbedaan sikap wanita itu dibandingkan dengan semua yang pernah ia dengar?

William menarik napas pendek. Tangannya melepaskan sendok yang sejak tadi ia pegang, lalu ia berdiri.

“Bereskan semuanya. Aku tidak ingin melanjutkan.”

Para pelayan langsung menunduk.

“Baik, Tuan.”

William tidak menunggu lebih lama. Ia meninggalkan ruangan, tetapi tidak menuju kamarnya, melainkan berjalan lurus ke arah ruang kerja.

Begitu pintu tertutup, suasana seketika berubah. Para pelayan yang sejak tadi menahan diri akhirnya menghela napas lega.

Greta yang berdiri di dekat meja, langsung menggeleng pelan.

“Benar-benar suasana yang tegang.”

Marta mengangguk cepat. “Jantungku rasanya tidak tenang dari tadi.”

Ia melirik ke arah tangga, lalu kembali ke meja.

“Tidak kusangka setelah tiga bulan tidak bertemu, mereka bisa jadi seasing ini.”

Greta menghela napas pelan. “Apalagi Nona … sikapnya berubah begitu saja.”

Marta menunduk sedikit. “Beliau terlihat … menakutkan.”

Beberapa detik hening sebelum Greta menoleh ke arah Sabine.

“Ngomong-ngomong, Sabine. Apa yang tadi Nona minta darimu?”

Sabine yang sejak tadi berdiri agak di belakang tampak sedikit terkejut dipanggil. Ia mengangkat wajahnya.

“Nona meminta saya menjahit pakaian. Beliau sudah menyiapkan kain dan alatnya.”

Marta dan Greta saling berpandangan.

“Kupikir beliau akan menyakitimu,” gumam Marta pelan.

Sabine menggeleng. “Saya baik-baik saja.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Setelah membantu di sini, saya akan melanjutkan jahitan itu.”

Greta langsung mengangkat tangan sedikit, menghentikannya.

“Tidak perlu. Lanjutkan saja tugasmu.”

Marta ikut mengangguk. “Biarkan ini menjadi urusan kami.”

Greta tersenyum tipis, meskipun raut wajahnya masih menyimpan keraguan.

“Bukankah lebih baik menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin? Jika kau melakukannya dengan baik, Nona pasti akan puas.”

Sabine terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

“Kalau begitu … saya permisi dulu.”

Marta dan Greta mengangguk bersamaan, bahkan sempat melambaikan tangan kecil seolah mengantarnya pergi.

Sabine berbalik dan meninggalkan ruangan, sementara dua pelayan itu kembali ke pekerjaan mereka—meskipun suasana di antara mereka tidak sepenuhnya tenang. Setidaknya, mereka berdua sedang berusaha untuk menjauhkan segala mara bahaya yang siap menghangtam kapanpun dan dimanapun.

.

Aveline duduk di dekat jendela dengan punggung tegak, satu tangan bertumpu di sandaran kursi, sementara pandangannya mengarah keluar tanpa benar-benar fokus pada apapun. Cahaya matahari jatuh ke lantai, membentuk garis terang yang memanjang hingga ke ujung kakinya. Ruangan tenang, tidak ada suara selain hembusan angin tipis dari luar.

Namun sebuah ketukan pelan terdengar dari pintu.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Liora masuk dengan langkah hati-hati. Di tangannya terdapat beberapa gaun—potongannya sederhana, namun jelas dibuat dari bahan yang mahal, jatuh rapi dengan jahitan yang bersih dan tanpa hiasan berlebihan. Ia berhenti beberapa langkah dari dalam, lalu mendekat sedikit.

“Nona, ini gaun Anda.”

Aveline tidak langsung menoleh. Ia baru mengalihkan pandangan setelah beberapa detik.

“Letakkan di sana saja.”

“Kau boleh pergi,” lanjutnya.

Akan tetapi, Liora tidak bergerak.

Gaun-gaun itu tetap berada di tangannya. Sedangkan kepalanya menunduk, dengan bahu yang sedikit menegang. Ia tidak menjawab dan tetap di tempat.

Beberapa detik berlalu. Aveline menghela napas pelam. Sebab menyadarinya dan segera menoleh dengan alis sedikit terangkat. Tatapannya berhenti pada Liora yang masih berdiri di tempat.

“Ada apa?”

Liora tetap menunduk. Bahunya bergetar kecil.

“Nona …,” ujar Liora, suaranya pelan seakan tersendat. “Kalau Kepala Pelayan Ines benar-benar kembali pada Tuan Marquis. La–lalu … Anda akan.…”

Kalimat itu terhenti. Terlihat bagaimana pelayan itu seperti tidak mampu melanjutkan.

Jemarinya mencengkeram kain gaun lebih kuat.

“Apakah Anda akan menderita lagi? Sa–saya tidak berguna … saya tidak bisa melindungi Anda setelah apa yang terjadi.” Kepalanya menggeleng pelan, napasnya terdengar tidak teratur.

Sedangkan Aveline tidak langsung merespons.

“Ta–tapi … melihat Nona yang sekarang,” lanjut Liora dengan suara tertahan. “Saya merasa lega. Setidaknya selama Tuan masih di rumah. Anda akan baik-baik saja.”

Perlahan, Liora mengangkat wajahnya. Matanya mencoba menatap Aveline.

Begitu pandangan mereka bertemu, ia terdiam.

Wajah yang dulu mudah dibaca kini berubah. Tidak ada kehangatan yang biasa ia lihat. Yang tersisa hanya ketenangan yang dingin dan sulit ditebak.

Mata Soren terpaku pada tatapan itu.

Di sana, ia melihat sesuatu yang tidak dibuat-buat—kesetiaan yang sudah lama terbentuk, yang tetap bertahan meskipun tidak pernah benar-benar mampu menghentikan apa yang terjadi sebelumnya.

Aveline menarik napas pelan, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya terarah, mendekat tanpa ragu.

Liora refleks ingin mundur, tetapi kakinya tidak bergerak. Ia akhirnya menunduk lebih dalam, tubuhnya kaku.

Aveline berhenti tepat di depannya.

Tangannya terangkat, menyentuh dagu Liora, lalu mengangkatnya agar wajah itu kembali menghadap.

“Apakah aku selemah itu di matamu?”

Nada suaranya dingin, tegas, dan langsung menekan.

Refleks, Liora menggeleng cepat. Namun ketakutan di matanya tetap terlihat jelas.

Aveline menghela napas.

Gadis ini benar-benar sangat takut padanya.

Ia mengendurkan ekspresinya, membentuk senyum tipis. Garis bibirnya terangkat, tetapi tidak benar-benar hangat.

“Aku akan baik-baik saja. Jangan menangis.”

“Terima kasih karena selalu menemaniku selama ini.”

Untuk pertama kalinya, Liora mengusap air matanya. Napasnya mulai teratur, dan sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.

Ia merogoh saku apronnya.

“Nona, ini untuk Anda!”

Tangannya terulur, memberikan satu bungkus cemilan kecil.

“Saat saya pergi ke butik tadi, ada toko permen. Saya mampir sebentar dan membelikan permen ceri kesukaan Anda.”

Damn!

Detik itu juga, tatapan Soren berubah. Seakan ada bola hitam yang menghantam dirinya hingga ingatan tentang Ellian terpatri jelas dalam pikirannya

Permen ceri.

.

William sudah berada di depan koridor menuju kamarnys ketika langkahnya melambat. Awalnya ia memang berniat langsung masuk, tetapi tangannya berhenti sebelum menyentuh gagang pintu saat suara dari dalam ruangan Aveline terdengar jelas. Ia tidak bergerak lagi. Tubuhnya tetap menghadap pintu, tetapi langkahnya tertahan di tempat.

Ia bisa mendengar suara Liora yang sedang menangis sesenggukan.

William tidak berniat menguping. Itu terjadi begitu saja karena jaraknya terlalu dekat. Namun begitu suara itu masuk ke telinganya, ia tidak melanjutkan langkahnya.

Pria itu terdiam beberapa saat.

Di dalam, Liora masih berbicara, kali ini suara tangisnya sedikit mereda. Ada nada takut, juga putus asa. Kata-katanya tidak selalu jelas, tetapi cukup untuk membuat siapapun paham bahwa ia sedang memohon sesuatu pada Aveline.

William tidak mengubah posisi. Tatapannya tetap lurus ke depan, tetapi fokusnya tidak lagi pada pintu.

Anehnya, ia tidak merasa terganggu.

Yang muncul justru sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan cepat. Bukan rasa iba yang jelas, bukan pula rasa kesal. Hanya perasaan yang membuatnya tidak langsung pergi, tetapi juga tidak berniat untuk melihatnya.

Ia mendengar Aveline menjawab. Suaranya tenang, dan datar seperti biasa. Tidak ada nada panik, maupun nada tinggi. Cara bicaranya stabil, seolah ia sudah tahu harus mengatakan apa sejak awal.

William menghela napas pendek tanpa suara.

Ia tetap di tempatnya beberapa detik lebih lama, sebelum pada akhirnya ....

“Tuan.”

Suara itu datang dari samping, cukup dekat untuk membuatnya langsung menoleh.

Kellan dan Bram sudah berdiri tidak jauh darinya dengan posisi mereka yang baru saja bisa menemui William setelah berurusan dengan badak militer. Keduanya berdiri tegak, posisi tubuh rapi seperti biasa.

William mengalihkan pandangan sepenuhnya dari pintu. Ekspresinya kembali datar, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya.

Bram maju setengah langkah, mengangkat berkas yang ia pegang sedikit.

“Laporan dari petugas inspeksi, Tuan,” ucapnya singkat.

Kellan hanya mengangguk, menguatkan ucapan itu tanpa menambahkan apapun.

William tidak langsung mengambil berkasnya. Tatapannya turun sebentar ke arah dokumen itu, lalu kembali ke wajah mereka berdua.

“Ke ruang kerja,” katanya singkat.

Tidak ada penjelasan tambahan. Ia sudah berbalik lebih dulu, langkahnya kembali tegas seperti biasa. Diikuti Bram dan Kellan tanpa menanyakan apapun di belakangnya.

~oo0oo~

Pintu ruang kerja tertutup rapat. Udara di dalam ruangan itu tenang, hanya ada suara langkah sepatu yang sempat terdengar sebelum semuanya kembali sunyi.

William berjalan ke meja, menarik kursinya, lalu duduk tanpa dengan tenang. Berkas yang tadi dibawa Bram kini sudah berada di atas meja, tepat di depannya.

Ia baru membukanya setelah beberapa detik.

Halaman pertama langsung berisi ringkasan temuan. Tulisan rapi, jelas, dan berbeda dari laporan Roland sebelumnya.

William mulsi membaca tanpa suara.

Konvoi ditemukan dalam keadaan tidak utuh, tetapi bukan hancur sepenuhnya. Posisi kereta tidak berantakan seperti hasil serangan terbuka. Tidak ada tanda benturan besar di jalur utama. Beberapa peti masih ada di tempat, tetapi sebagian lain hilang tanpa jejak jelas.

Ia membalik halaman berikutnya.

Petugas inspeksi mencatat bahwa tidak ditemukan bekas perlawanan besar di lokasi. Darah memang ada, tetapi jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah pengawal dalam konvoi. Ini berarti bentrokan terjadi, tetapi singkat dan terarah.

William berhenti sebentar di satu bagian.

Prajurit Leren.

Status: belum sadar.

Ditemukan di sisi jalur, dalam kondisi luka berat tetapi tidak fatal. Tidak ada keterangan pasti mengenai apa yang ia lihat sebelum kehilangan kesadaran.

William menutup berkas itu setengah, jarinya masih menahan halaman.

“Roland melaporkan ini sebagai gangguan di pelabuhan,” katanya tanpa mengangkat kepala.

Nada suaranya datar, tetapi jelas.

Bram menjawab, “Ya, Tuan. Laporan ini berbeda. Fokusnya bukan di pelabuhan, melainkan di jalur konvoi setelah keluar dari area distribusi.”

William mengangkat pandangannya.

“Dan menurut petugas inspeksi?”

Kellan yang menjawab kali ini, suaranya tenang tetapi lebih hati-hati. “Bukan perampokan biasa, Tuan.”

William tidak langsung menanggapi. Ia membuka kembali berkas itu, membaca ulang beberapa baris yang sama.

“Barang tidak diambil secara acak,” lanjut Kellan. “Yang hilang hanya peti tertentu. Sisanya dibiarkan.”

William menutup berkas itu sepenuhnya sekarang.

Ia berdiri.

Langkahnya mengitari meja perlahan, berhenti tepat di depan Bram dan Kellan. Tatapannya berpindah dari sisi satu ke yang lain.

“Kalau ini perampokan, mereka akan mengambil semua yang bisa dibawa,” ucapnya.

Tidak ada yang menjawab.

“Kalau ini serangan, akan ada kerusakan yang lebih jelas,” lanjutnya.

Ia berhenti. Tatapannya sedikit menajam.

“Ini bukan keduanya.”

Bram mengangguk pelan. “Petugas inspeksi juga menyimpulkan hal yang sama, Tuan.”

Sunyi kembali memenuhi ruangan selama beberapa detik. William menoleh sedikit ke arah jendela, lalu kembali menatap mereka.

“Prajurit Leren.”

“Masih belum sadar, Tuan,” jawab Kellan. “Dokter bilang masih membutuhkan waktu.”

William belum menjawab. Tangannya kembali terangkat, mengambil berkas itu sekali lagi, tetapi kali ini ia tidak membukanya. Hanya menahannya sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu.

“Tidak ada keributan besar,” katanya pelan, lebih ke arah dirinya sendiri. “Tidak ada jejak panik. Barang yang hilang dipilih.”

Ia menatap Bram.

“Menurutmu?”

Bram menarik napas singkat. “Orang dalam, Tuan.”

Jawaban itu keluar lagi, seperti yang dikatakan Aveline. Tetapi William sama sekali tidak membantah. Ia hanya mengalihkan pandangannya ke Kellan.

“Kau?”

Kellan menjawab lebih pelan. “Setidaknya … mereka tahu apa yang mereka cari, Tuan.”

William lagi-lagi hanya diam beberapa saat.

Lalu ia meletakkan berkas itu kembali ke meja dengan gerakan yang tidak keras, tetapi cukup tegas untuk terdengar.

“Kalau mereka tahu apa yang mereka cari, berarti mereka juga tahu jalurnya.”

Udara di ruangan itu terasa lebih berat sekarang.

“Dan kalau mereka tahu jalurnya.…” William melanjutkan, suaranya tetap rendah.“Maka mereka tidak bekerja sendirian.”

Kata-kata itu jatuh tanpa penekanan berlebihan, tetapi cukup untuk membuat Bram dan Kellan saling berpandangan singkat.

Tidak ada yang berani menambahkan.

William kembali ke kursinya, duduk dengan tenang. Tangannya bertumpu di meja, jari-jarinya diam.

“Begitu Leren sadar, aku yang akan menanyainya,” katanya pada akhirnya.

“Siap, Tuan.”

Jawaban itu keluar bersamaan. William tidak langsung memberi perintah lain.

Ia hanya menatap berkas di depannya sekali lagi, lalu perlahan mengangkat pandangannya.

“Dan sebelum itu,” lanjutnya, “jangan ada perubahan jadwal yang terlihat.”

Bram mengernyit tipis. “Tuan?”

William menatapnya lurus.

“Biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Nada suaranya tidak berubah, tetapi maknanya jelas.

Kellan yang pertama mengerti. “Agar mereka tidak tahu kita sudah sadar?”

William tidak menjawab dengan kata-kata.

Hanya diam. Itu sudah cukup.

Di atas meja, berkas laporan itu tetap terbuka pada halaman tentang Prajurit Leren—satu-satunya orang yang mungkin melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi.

Dan saat ia sadar nanti, apa yang keluar dari mulutnya bisa menentukan arah berikutnya.

Atau justru membuka sesuatu yang lebih besar dari yang mereka perkirakan.

.

.

.

Bersambung

1
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!