THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Piknik di Padang Rumput Digital
Angin sepoi-sepoi berhembus melintasi padang rumput digital di Sektor 9, membawa serta aroma sintetis bunga lavender dan tanah basah yang diprogram dengan presisi tinggi. Bagi Raka, sensasi ini terasa hampir nyata—terlalu nyata untuk sebuah simulasi data. Ia duduk bersandar pada batang pohon raksasa dengan daun-daun berwarna emas yang berkilauan di bawah sinar matahari sore. Di hadapannya, pemandangan yang ia saksikan adalah definisi sempurna dari kedamaian, sebuah kontras yang menyakitkan terhadap kekacauan batin yang sedang ia rasakan.
Bimo, seperti biasa, telah mengubah area piknik mereka menjadi dapur lapangan darurat. Dengan peralatan masak portabel yang ia keluarkan dari tas punggungnya—yang entah bagaimana muat menampung kompor mini, wajan, dan berbagai bumbu rahasia—dia sedang sibuk mengaduk sesuatu dalam panci besar. Aroma sup krim jamur yang gurih menyebar, bercampur dengan bau roti panggang yang renyah.
"Jangan coba-coba mencicipi sebelum matang!" teriak Bimo ketika Kai mencoba mengendap-endap mendekat dengan sendok kayu di tangan. "Ini adalah Masterpiece Sup Jamur Sector-9 Edition. Butuh waktu tepat tiga menit lagi agar konsistensinya sempurna. Kalau kau merusaknya, aku akan memprogram avatar-mu untuk berjalan mundur selamanya!"
Kai mengangkat kedua tangannya, berpura-pura menyerah, lalu kembali duduk di samping Elara. Dia mengeluarkan alat musik hologram berbentuk gitar akustik dari penyimpanan datanya. Dengan petikan jari yang mahir, dia mulai memainkan melodi lembut, sebuah lagu instrumental yang belum pernah didengar Raka sebelumnya. Nada-nadanya ringan, ceria, namun memiliki undertone melankolis yang halus, seolah menceritakan tentang kenangan yang indah namun sudah berlalu.
Elara duduk di antara Raka dan Kai, kakinya dilipat santai di atas rumput. Dia menatap api unggun kecil yang dinyalakan Bimo—api yang sebenarnya hanya proyeksi cahaya hangat, tapi memberikan efek psikologis yang menenangkan. Wajah Elara disinari oleh cahaya jingga dari api tersebut, membuat kulitnya tampak bercahaya. Dia terlihat begitu bahagia, begitu bebas dari beban perang yang selama ini mereka pikul.
Raka menatap Elara dari samping. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketertarikan romantis semata, tapi karena rasa takut yang menghantui. Lihatlah dia, batin Raka. Dia tidak tahu. Dia tidak tahu bahwa pria yang duduk di sebelahnya ini sedang menghitung detik-detik terakhir kebersamaan mereka.
Raka merasakan geli di ujung jari kelingking kanannya. Ia cepat-cepat menyembunyikan tangannya di balik paha celananya, mengepalkannya erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Rasa sakit fisik itu membantu mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit emosional yang lebih dalam. Glitch itu datang lagi, lebih kuat dari pagi tadi. Visinya sempat kabur selama sepersekian detik, dunia di sekitarnya pecah menjadi kotak-kotak pixel abu-abu sebelum kembali normal. Tidak ada yang menyadari. Bimo masih sibuk dengan supnya, Kai asyik dengan gitarnya, dan Elara... Elara sedang menatapnya.
"Ka?" panggil Elara pelan, suaranya hampir tertelan oleh petikan gitar Kai.
Raka tersentak, segera melepaskan kepalan tangannya dan tersenyum, berharap senyum itu terlihat alami. "Ya, El? Ada apa?"
"Kamu melamun," kata Elara, matanya menyipit sedikit, penuh kecurigaan lembut. "Sejak kita turun dari kapal, kamu terlihat... jauh. Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Tentang misi ini?"
Raka menggelengkan kepala perlahan. Ia meraih tangan Elara yang tergeletak di atas rumput, menggenggamnya dengan lembut. Kulit Elara terasa hangat, hidup, dan nyata. Kontras yang tajam dengan dinginnya kematian yang ia rasakan di dalam dirinya.
"Tidak," bohong Raka, suaranya tenang dan meyakinkan. "Aku hanya berpikir betapa indahnya tempat ini. Kita jarang punya kesempatan untuk berhenti sejenak, bukan? Untuk sekadar... ada. Tanpa harus bertarung, tanpa harus menyelamatkan dunia. Hanya kita."
Elara tersenyum, pipinya merona. Ia membalas genggaman Raka, jari-jarinya menyelip di antara jari-jari Raka. "Kamu benar. Ini terasa seperti mimpi. Aku berharap kita bisa melakukan ini lebih sering. Mungkin setiap minggu? Atau setiap bulan?"
"Setiap hari jika aku bisa," jawab Raka tanpa berpikir. Kata-kata itu keluar begitu saja, tulus dan tanpa filter.
Elara tertawa kecil, menyembunyikan wajahnya di bahu Raka. "Lebay. Tapi aku suka."
Sementara itu, Bimo akhirnya mengumumkan bahwa sup sudah siap. Mereka berkumpul membentuk lingkaran di sekitar kain piknik berwarna-warni. Mangkuk-mangkuk kayu diisi dengan sup krim yang mengepul panas. Roti bakar dibagikan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidak ada diskusi strategi, tidak ada laporan intelijen, tidak ada analisis ancaman. Mereka hanya makan, tertawa, dan berbagi cerita konyol.
Kai bercerita tentang kegagalan pertamanya dalam coding yang menyebabkan seluruh lampu kota berkedip sesuai irama lagu dangdut selama sepuluh menit. Bimo menceritakan bagaimana dia hampir membakar dapur markas karena mencoba membuat kue ulang tahun dengan oven lasers. Elara menceritakan masa kecilnya di desa pinggiran, tentang bagaimana dia belajar memanah menggunakan ranting pohon dan tali sepatu.
Raka mendengarkan semuanya dengan seksama. Ia tertawa pada lelucon mereka, menambahkan komentarnya sendiri, dan bertindak sebagaimana mestinya: sebagai teman, sebagai pemimpin, sebagai kekasih. Namun, di balik tawanya, matanya terus merekam. Ia merekam cara Bimo menggerakkan tangannya saat bercerita, cara Kai membetulkan kacamata saat gugup, dan cara Elara menatapnya dengan cinta yang tak terbatas.
Saat matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan gradasi ungu, emas, dan merah muda yang memukau, Raka tiba-tiba berdiri.
"Tunggu di sini," katanya. "Ada satu hal yang terlupa."
Ia berjalan kembali ke arah Aurora Wing, mengambil kamera instan tua dari dalam kompartemen penyimpanan. Kamera itu berat di tangannya, sebuah artefak dari masa lalu yang menolak usang. Raka kembali ke kelompoknya, memegang kamera dengan kedua tangan.
"Foto bersama," perintah Raka, suaranya tegas namun hangat. "Satu foto. Untuk mengenang hari ini."
Mereka semua bereaksi antusias. Bimo segera membersihkan mulutnya dari sisa roti, Kai merapikan rambutnya yang acak-acakan, dan Elara duduk lebih tegak, merapikan gaunnya. Mereka berkumpul rapat, bahu saling bersentuhan, wajah-wajah mereka bersinar karena kebahagiaan murni.
Raka mengarahkan lensa kamera ke arah mereka. Melalui viewfinder, ia melihat frame itu: Bimo yang tersenyum lebar sambil menunjukkan jempol, Kai yang membuat ekspresi lucu dengan lidah menjulur, dan Elara yang tersenyum manis, kepalanya sedikit miring ke arah Raka. Dan Raka sendiri, yang berada di sisi paling kiri, juga tersenyum. Senyum yang lebar, senyum yang mencapai matanya.
Klik.
Suara mekanis kamera itu terdengar nyaring di tengah keheningan sore yang magis. Foto itu keluar perlahan dari slot kamera. Raka mengambilnya, menggoyangkannya gently agar tinta kimia di dalamnya berkembang.
"Lihat!" seru Kai, mendekatkan wajahnya. "Kita terlihat hebat! Bahkan Bimo terlihat tampan!"
"Hei! Aku selalu tampan!" protes Bimo sambil pura-pura tersinggung.
Elara mengambil foto itu dari tangan Raka. Dia menatapnya lama, matanya berbinar. "Ini bagus sekali. Cahayanya sempurna. Ekspresi kita... kita terlihat sangat bahagia."
Raka menatap foto itu dari atas bahu Elara. Di sana, di atas kertas foto kecil itu, terpantul momen kebahagiaan tertinggi mereka. Namun, jika seseorang memperhatikan dengan sangat teliti, sangat saksama, mereka mungkin akan melihat sesuatu yang aneh. Bayangan Raka di latar belakang foto itu... sedikit lebih pudar daripada yang lain. Seperti transparansi tipis, seolah-olah keberadaannya di dunia fisik mulai menipis, tergantikan oleh ketidakpastian nasibnya. Tapi Elara tidak memperhatikannya. Dia terlalu sibuk tersenyum, terlalu sibuk mencintai momen itu.
"Aku akan menyimpannya," kata Elara, memasukkan foto itu ke dalam saku dada seragamnya, tepat di dekat jantungnya. "Ini akan jadi foto favoritku."
Raka merasa dadanya sesak. Ia ingin berteriak. Ia ingin memberitahu Elara untuk tidak menyimpannya, karena foto itu akan menjadi bukti penyiksaan baginya nanti. Tapi ia menahan diri. Ia hanya tersenyum, meski rasanya seperti ada kaca pecah di tenggorokannya.
Matahari terus tenggelam, mengubah langit menjadi kanvas raksasa berwarna ungu tua. Bintang-bintang buatan mulai bermunculan satu per satu, menyalakan malam di Sektor 9. Angin menjadi lebih dingin, dan Kai mulai memainkan lagu yang lebih lambat, lebih sendu.
Raka memandang cakrawala. Di kejauhan, di balik pepohonan digital, ia merasakan hawa asing. Sebuah getaran halus di udara, seperti statis listrik sebelum badai. Instingnya sebagai prajurit berteriak bahwa ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang mengintai. Tapi ia memilih untuk mengabaikannya. Hari ini bukan hari untuk kewaspadaan. Hari ini adalah hari untuk kebahagiaan.
Biarkan besok menjadi masalah besok. Biarkan ancaman datang nanti. Untuk saat ini, di bawah langit senja yang indah ini, Raka memutuskan untuk menjadi egois. Ia memutuskan untuk menikmati sisa-sisa kebahagiaannya, sekecil dan sesingkat apapun itu.
"Bim," kata Raka tiba-tiba, memecah keheningan musik Kai.
"Hmm?" Bimo sedang membersihkan peralatan masaknya.
"Masakanmu hari ini... enak banget. Terima kasih."
Bimo terkejut, lalu tersenyum bangga. "Tentu saja! Masakan Bimo nggak pernah gagal!"
"Kai," lanjut Raka. "Lagumu... indah. Mainkan lagi nanti di markas, ya?"
Kai mengangguk, sedikit bingung dengan pujian mendadak itu. "Siap, Kapten."
Raka kemudian menoleh ke Elara. Gadis itu sedang menatapnya, menunggu. Raka tidak berkata apa-apa. Dia hanya meraih tangan Elara lagi, menggenggamnya erat, seolah-olah itu adalah satu-satunya hal yang menjaga agar ia tidak hanyut ke dalam kegelapan yang semakin mendekat.
Malam pun turun sepenuhnya, membungkus mereka dalam kehangatan palsu yang nyaman. Mereka tidak tahu bahwa ini adalah malam terakhir di mana mereka bisa tertawa tanpa beban. Mereka tidak tahu bahwa fajar besok akan membawa warna yang berbeda. Warna darah.
Bersambung