Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Pagi itu, mansion keluarga Halstrom terasa lebih sunyi dari biasanya. Dari luar, rumah besar itu masih tampak sama seperti hari-hari sebelumnya. Lorong panjang tetap bersih tanpa cela, pelayan bergerak sesuai ritme pekerjaan mereka, dan aroma kopi hangat bercampur teh melati samar memenuhi udara pagi. Tidak ada perubahan mencolok yang bisa langsung dilihat seseorang saat memasuki rumah itu.
Namun bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya, sesuatu terasa berbeda.
Bukan perubahan besar yang datang tiba-tiba. Tidak ada pertengkaran keras, tidak ada suara pecahan benda, dan tidak ada wajah marah yang terlihat jelas. Hanya sebuah ketegangan kecil yang menggantung pelan di udara, samar namun cukup terasa untuk membuat semua orang mulai lebih berhati-hati. Para pelayan berbicara lebih pelan dari biasanya, langkah kaki terdengar lebih ringan di lorong, bahkan staf rumah mulai saling bertukar pandang setiap kali nama nyonya rumah disebut.
Karena semua orang perlahan memahami satu hal.
Nyonya rumah mereka berubah.
Dan perubahan itu tidak lagi samar seperti beberapa minggu lalu.
Kalau sebelumnya Seraphina masih terlihat seperti wanita yang sama dengan sedikit perbedaan kecil, sekarang semuanya mulai terasa lebih jelas. Cara berbicara berubah. Cara mengambil keputusan berubah. Bahkan tatapannya terasa berbeda. Tetap tenang, tetap elegan, tetap lembut di permukaan, namun ada sesuatu yang terasa jauh lebih sulit ditebak.
Dulu, Seraphina dikenal terlalu baik.
Terlalu mudah mengalah.
Terlalu sering memaafkan.
Apa pun yang diminta keluarga hampir selalu dipenuhi, bahkan sebelum mereka selesai meminta. Para pelayan tahu itu. Darius tahu itu. Lysandra dan Kael bahkan mungkin terlalu terbiasa dengan semua kemudahan yang selalu tersedia di depan mereka.
Namun sekarang…
Segalanya mulai bergeser.
Di ruang kerja pribadinya, Seraphina duduk tenang di balik meja besar berbahan kayu gelap sambil memeriksa laporan yang baru dikirim Evelyn Hart pagi tadi. Cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi di belakangnya, memantulkan cahaya lembut pada tumpukan map yang tersusun rapi di atas meja. Secangkir teh di samping laptopnya masih mengepulkan uap tipis, namun hampir tidak disentuh sejak tadi.
Tatapannya bergerak perlahan dari satu laporan ke laporan lain.
Aset pribadi berhasil dipisahkan.
Dua rekening cadangan kembali di bawah pengawasan pribadinya.
Hak validasi investasi tertentu mulai berubah.
Beberapa jalur dana milik Darius perlahan kehilangan ruang gerak.
Semuanya berjalan sesuai rencana.
Pelan.
Rapi.
Dan yang paling penting, tanpa menarik terlalu banyak perhatian.
Seraphina menekan layar laptop pelan, membaca ulang revisi dokumen yang baru dikirim tim legal Alden Verrow. Perubahan kecil terus dilakukan sedikit demi sedikit. Tidak cukup besar untuk memicu kecurigaan langsung, namun cukup untuk membuat Darius kehilangan keleluasaan yang selama ini ia nikmati.
Kalau dulu pria itu bisa bergerak bebas menggunakan banyak akses perusahaan, sekarang semuanya mulai memiliki batas.
Dan batas itu dibuat dengan sangat hati-hati.
Seraphina tahu ia tidak boleh gegabah.
Darius terlalu pintar untuk dilawan secara terang-terangan. Pria itu pandai membaca situasi, pandai memanipulasi keadaan, dan lebih berbahaya saat merasa terpojok. Karena itu, Seraphina memilih cara yang jauh lebih aman.
Mengurangi ruang gerak.
Sedikit demi sedikit.
Sampai semuanya terlambat untuk diperbaiki.
Ia baru saja menandatangani satu revisi terakhir ketika suara ketukan pelan terdengar dari pintu.
Tok.
Tok.
Seraphina mengangkat pandangan dari layar.
“Masuk.”
Pintu terbuka perlahan.
Lysandra masuk dengan langkah cepat, mengenakan pakaian mahal yang tampak terlalu sempurna bahkan untuk suasana rumah. Rambutnya tersusun rapi, wajahnya tetap cantik seperti biasa, namun ekspresi di matanya terlihat sedikit terganggu. Gadis itu masih mempertahankan senyum tipis khasnya, walau tampak jelas ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
“Mama sibuk?”
Nada suaranya terdengar lebih manis dari biasanya.
Seraphina mengenali nada itu.
Nada yang hampir selalu muncul ketika putrinya menginginkan sesuatu.
Wanita itu menutup layar laptop perlahan sebelum bersandar tipis di kursi.
“Lumayan,” jawabnya tenang. “Ada apa?”
Lysandra langsung berjalan masuk lalu duduk di sofa dekat meja kerja tanpa banyak basa-basi. Kakinya disilangkan santai, jemarinya memainkan ujung rambut seolah sedang memikirkan cara paling tepat untuk memulai pembicaraan.
“Aku butuh bantuan.”
Kalimat itu terdengar begitu familiar.
Terlalu familiar.
Kalau ini beberapa bulan lalu, Seraphina mungkin bahkan sudah tahu arah pembicaraan sebelum putrinya melanjutkan. Biasanya soal acara sosial. Tas baru. Dana tambahan. Mobil. Liburan. Sesuatu yang mahal dan hampir selalu berakhir dengan kata iya darinya.
Dulu, Seraphina merasa membahagiakan anak berarti memberi semua yang mereka mau.
Ia takut dianggap kurang peduli.
Takut mengecewakan.
Takut membuat anak-anaknya merasa kekurangan.
Sekarang pemikiran itu terasa begitu naïf.
Karena sebanyak apa pun yang pernah ia beri…
Akhir hidupnya tetap sama.
“Aku lagi pegang project besar,” lanjut Lysandra sambil tersenyum kecil. “Acara sosial bulan depan. Lumayan penting.”
Seraphina mengangguk pelan.
“Lalu?”
Lysandra sedikit membungkuk.
“Aku butuh tambahan dana.”
“Berapa?”
Tanpa ragu, Lysandra menyebut angka.
Jumlah besar.
Terlalu besar untuk sesuatu yang ia sebut sekadar acara sosial.
Angka yang cukup membeli apartemen kecil di pusat kota.
Kalau ini Seraphina yang dulu, mungkin ia sudah membuka aplikasi bank sekarang juga. Bahkan mungkin sambil bertanya apakah jumlah itu cukup atau perlu ditambah.
Namun kali ini tidak.
Seraphina justru membuka tablet di depannya. Jemarinya bergerak pelan membuka laporan pengeluaran pribadi Lysandra beberapa bulan terakhir.
Belanja butik mewah.
Perhiasan.
Makan malam eksklusif.
Acara sosial.
Transfer tambahan.
Pengeluaran yang jumlahnya sudah jauh melewati batas wajar.
Dan tetap saja…
Putrinya masih merasa kurang.
Tatapan Seraphina kembali naik perlahan.
Wajahnya tetap tenang.
“Tidak.”
Lysandra langsung berhenti bergerak.
“Hah?”
Alisnya mengerut.
Seolah merasa salah dengar.
“Aku bilang tidak,” ulang Seraphina tenang.
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Lysandra menatap ibunya cukup lama. Ada rasa bingung bercampur tidak percaya di wajah cantiknya.
“Mama bercanda?”
“Tidak.”
“Tapi aku butuh.”
“Kamu masih punya anggaran.”
“Itu gak cukup.”
Seraphina meletakkan tablet perlahan ke atas meja.
“Kalau begitu sesuaikan kebutuhan.”
Nada suaranya tetap lembut.
Tidak keras.
Tidak tinggi.
Namun justru itu yang terasa sangat asing.
Karena Seraphina tidak terdengar sedang bernegosiasi.
Ia sedang membuat keputusan.
Dan keputusan itu terasa final.