NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Satu

Matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik gedung-gedung tinggi Surabaya, menyelinap masuk melalui celah gorden jendela kamar sempit yang berdebu. Namun, bagi Nurlia Putri Nardiyana, pagi ini bukanlah waktu untuk bermalas-malasan menikmati hangatnya sinar mentari. Pagi ini adalah pertarungan nyata demi sesuap nasi dan masa depan satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini.

"Kakak! Listriknya mati lagi, sih! Gimana aku mau mandi? Airnya nggak keluar!"

Suara rengek khas Adelia terdengar memecah keheningan pagi, disusul dengan langkah kaki gadis itu yang berlari menuju dapur tempat Nurlia sedang sibuk menyiapkan bekal sederhana. Nurlia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tagihan listrik bulan ini memang belum sempat dibayar, rezeki sedang tidak baik-baik saja, dan dia harus pandai-pandai mengatur uang agar cukup sampai akhir bulan.

Nurlia menoleh, menatap adiknya dengan senyum tipis yang penuh kesabaran. Wajah Nurlia yang cantik alami tanpa polesan make-up terlihat segar meski harus bangun sejak subuh. Tubuhnya yang setinggi 165 cm bergerak lincah, tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk, pas dan proporsional.

"Yaelah, Del. Sabar dong," jawab Nurlia santai sambil menutup tempat bekal makan siangnya. "Kan hari ini Minggu, sekolah juga libur. Nggak mandi sebentar nggak apa-apa kali, nanti sore pas listrik nyala baru mandi bersih-bersih."

Adelia mendengus kesal, "Ah, Kak Nurlia mah enak aja. Bau tau-tauan nanti gimana? Aku kan cewek!"

"Ya udah, kalau nggak betah, mandi aja di rumah Rina kan deket. Atau main aja ke sana sekalian," Nurlia tertawa kecil, lalu merapikan seragam kerjanya. Baju koki pelayan yang sederhana, tapi selalu dia setrika agar terlihat rapi dan bersih. "Kakak berangkat dulu ya, nanti telat disemprot Pak Hartono lagi."

"Iya, iya. Hati-hati, Kak!" seru Adelia sambil melambaikan tangan, meski wajahnya masih manyun karena masalah air mandi.

Nurlia keluar dari rumah kecil peninggalan orang tuanya itu. Angin pagi terasa sejuk menerpa wajahnya. Dua tahun sudah kedua orang tuanya pergi meninggalkan mereka, membuat Nurlia yang saat itu baru berusia 23 tahun harus dewasa dalam sekejap. Menjadi orang tua sekaligus kakak bagi Adelia. Beban itu berat, tapi melihat adiknya sebentar lagi akan lulus SMA, semangat Nurlia kembali membara.

Dia mengayunkan kakinya, menaiki sepeda onthel tua yang setia menemani hari-harinya. Jarak dari rumah ke Restoran Pak Hartono sebenarnya tidak terlalu jauh, cukup ditempuh dengan bersepeda selama lima belas menit. Angin berhembus membelai rambut panjangnya yang diikat rapi. Suara deru kendaraan mulai terdengar, menandakan kota ini mulai bangun dan beraktivitas.

Nurlia tersenyum sendiri. Setidaknya hari ini cuaca cerah, tidak ada tanda-tanda akan hujan. Itu sudah cukup menjadi berkah baginya.

Beberapa menit kemudian, Nurlia sampai di depan Restoran Pak Hartono. Tempat makan ini cukup terkenal di kawasan itu, menyajikan masakan rumahan yang lezat dengan harga yang bersahabat. Pelanggannya beragam, mulai dari pekerja kantoran hingga keluarga.

Nurlia memarkirkan sepedanya di sudut yang disediakan, lalu segera masuk lewat pintu belakang yang biasa digunakan karyawan.

"Selamat pagi, Mbak Nurlia!" sapa salah satu tukang masak yang sudah sibuk mempersiapkan bahan-bahan.

"Pagi, Pak! Pagi semuanya!" balas Nurlia ceria.

Tanpa membuang waktu, Nurlia langsung menuju area dapur dan bagian persiapan. Dia menggulung sedikit lengan bajunya, siap bekerja. Hari ini adalah hari Minggu, biasanya restoran akan cukup ramai oleh pengunjung yang datang untuk makan siang bersama keluarga. Dia harus memastikan segalanya siap, meja bersih, dan pelayanan prima.

•••

Dua jam kemudian, suasana di Restoran Pak Hartono mulai memadat. Suara dentingan sendok dan garpu bercampur dengan tawa serta obrolan para pengunjung, irama yang khas untuk sebuah tempat makan yang sibuk. Nurlia bergerak lincah di antara deretan meja kayu yang tertata rapi. Wajahnya selalu memasang senyum ramah, matanya jeli mengamati setiap sudut ruangan, memastikan tidak ada pelanggan yang kekurangan pelayanan.

"Mas, ini pesanan nasi goreng spesialnya," ucap Nurlia lembut sambil meletakkan piring dengan hati-hati.

"Mbak, minumannya kurang es," seru seorang pelanggan dari meja sudut.

"Siap, sebentar ya Pak, saya ambilkan lagi," jawab Nurlia sigap.

Pekerjaan sebagai pelayan menuntut stamina dan kesabaran ekstra. Nurlia harus siap menjawab berbagai pertanyaan tentang menu, merekomendasikan masakan andalan, hingga mengulang pesanan agar tidak salah. Untungnya, dia tidak bekerja sendirian. Di sana ada Rina, Sari, dan beberapa temannya yang lain yang juga menjadi pelayan. Mereka saling bantu, membuat beban kerja terasa lebih ringan.

Saat itu, Nurlia membawa nampan besar berisi pesanan yang cukup mewah—seafood platter lengkap dengan saus spesial dan aneka garnish yang terlihat sangat menggugah selera. Harga menu ini tidak murah, jadi satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.

Nurlia melangkah hati-hati, memfokuskan pandangannya ke depan. Namun, saat hendak berbelok melewati sela-sela meja, ujung sepatunya tersangkut kaki meja yang sedikit menonjol.

"Eh!"

Nurlia tersentak kaget. Tubuhnya sempat oleng ke samping, nampan di tangannya bergoyang hebat. Jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Keringat dingin langsung membasahi pelipis. Dengan reflek yang cepat, dia mengencangkan cengkeraman tangannya dan menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh tersungkur bersama makanan itu.

"Alhamdulillah..." desisnya pelan, napasnya memburu. Dia berdiri tegak kembali, memastikan semua makanan di nampan tetap utuh dan tidak tumpah sedikitpun. Kalau sampai jatuh, bukan hanya rugi materi, dia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh Pak Hartono, dan yang paling parah, bisa-bisa dia dipotong gajinya atau bahkan dipecat. Pikiran itu membuatnya bergidik ngeri.

Nurlia menarik napas panjang menenangkan diri, lalu melanjutkan langkahnya dengan lebih waspada menuju meja tujuan.

"Permisi, Bu. Ini pesanannya," ucap Nurlia dengan senyum yang dipaksakan tetap manis, meski jantungnya masih berdegup kencang.

Penerima pesanan itu adalah seorang wanita karir yang tampak sukses. Dia mengenakan setelan blazer modis yang rapi, duduk dengan anggun sambil sesekali melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya.

"Oh, iya. Taruh saja situ," jawab wanita itu singkat namun sopan.

"Silakan dinikmati, Bu," pamit Nurlia lalu berbalik badan.

Setelah memastikan pesanan sampai dengan aman, Nurlia segera berjalan kembali ke arah dapur untuk mengambil pesanan berikutnya. Di dekat pintu masuk dapur, dia berpapasan dengan Rina, temannya yang juga baru saja selesai mengantar minuman.

"Eh, Lia! Tadi kelihatan oleng banget kamu, aku kira mau jatuh tuh!" bisik Rina sambil tertawa kecil, tapi matanya memandang khawatir.

Nurlia langsung memukul pelan lengan temannya itu. "Aduh, jangan ngomong gitu dong! Ngeri banget lho! Tadi kaki aku nyangkut kaki meja. Kalau makanan itu tumpah, tamat riwayat aku hari ini," keluh Nurlia dengan nada gemas. "Mahal banget itu lho, Rin."

"Ya elah, untung kan nggak jadi. Rezeki kamu masih aman," Rina tersenyum menenangkan. "Udah sana ambil pesanan lagi, yang di meja nomor 7 udah manggil-manggil nih."

"Iya, iya. Makasih ya," balas Nurlia sambil terkekeh.

Obrolan singkat itu cukup untuk menghilangkan rasa deg-degannya. Dia kembali tersenyum, menyambar buku pesanan, dan melangkah keluar dapur.

Belum sempat Nurlia melangkah jauh, pintu kaca restoran terbuka. Lonceng kecil di atasnya berbunyi tling... tling... menandakan ada tamu baru yang datang. Nurlia segera membetulkan posisi dasi seragamnya, memasang senyum terbaik, dan berjalan menyambut.

Datang sepasang muda-mudi. Si wanita terlihat masih sangat muda, mungkin sekitar dua puluh dua tahun, dengan rambut yang digelombang cantik dan berpakaian modis. Di sebelahnya ada seorang pria yang tampak sedikit lebih tua, menggenggam tangan wanita itu dengan mesra. Mereka terlihat seperti pasangan yang sedang menikmati waktu berdua di akhir pekan.

"Selamat pagi, silakan masuk," sapa Nurlia ramah.

Nurlia mempersilakan mereka duduk di meja yang sudah dia lap bersih tadi. Dengan sigap, dia meletakkan dua buku menu besar di hadapan mereka.

"Silakan dipilih dulu menunya, nanti kalau sudah mau pesan panggil saya ya," ucap Nurlia lembut sambil berdiri sedikit membungkuk sopan.

Nurlia mundur selangkah, memberi mereka waktu untuk berdiskusi. Tidak butuh waktu lama, wanita muda itu melambaikan tangan memanggilnya. Nurlia segera mendekat sambil membawa buku catatan kecil dan pulpen.

"Sudah mau pesan, Mbak?" tanya Nurlia.

"Iya. Aku mau pesen yang ini, Nasi Goreng Kampung sama Es Teh Manis," kata wanita itu sambil menunjuk salah satu halaman menu.

"Baik. Kalau Masnya?" Nurlia mengalihkan pandangan ke pria di hadapannya.

"Aku sama saja, tapi nasi gorengnya jangan terlalu asin. Tambah kerupuk banyak ya," jawab pria itu santai.

"Siap, catat. Nasi Goreng Kampung dua, satu minta kurang asin, Es Teh Manis dua, dan kerupuknya extra," ulang Nurlia pelan memastikan tidak salah dengar. "Pesanan lain cukup?"

"Cukup, Makasih ya Mbak," jawab pasangan itu serempak.

"Siap, ditunggu sebentar ya masaknya," pamit Nurlia lalu berbalik pergi menuju dapur untuk menyerahkan nota pesanan.

Makanan yang mereka pesan memang tergolong ringan, tapi pasti mengenyangkan, pas sekali untuk menu sarapan santai di hari Minggu. Nurlia tersenyum sendiri melihat keromantisan pasangan itu. Terkadang dia iri melihat orang lain bisa jalan-jalan dan makan enak dengan tenang, sementara dia harus bekerja keras setiap hari. Tapi rasa itu segera dia buang jauh-jauh. Setidaknya, melihat pelanggan puas membuat hatinya juga ikut senang.

1
Hagia Sophia
kapan BAB pacarannya, lamaaaa
Cimut (Kelinci Imut): Soalnya harus ada proses pendekatan dulu dong, gak tiba-tiba langsung pacaran, nanti kesannya alurnya maksa..
••
Apalagi Nurlia dan Sulthan awalnya orang asing yang belum kenal dekat.🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!