Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: KABUT DI LERENG KEMELUT
Kabut tebal yang menyelimuti lereng Bogor pagi itu seolah menjadi tirai bagi drama yang siap meledak.
Suara baling-baling helikopter yang mendarat di padang rumput belakang kediaman Surya menciptakan badai angin kecil yang menerbangkan dedaunan kering.
Reihan berdiri di balkon, matanya terkunci pada sosok Adrian yang melangkah maju dengan penuh percaya diri, didampingi oleh Baskoro yang kini tidak lagi mengenakan topeng pelayannya.
"Ini bukan lagi soal warisan, Luna," bisik Reihan tanpa menoleh.
"Ini adalah invasi."
Laluna merasakan dinginnya udara pegunungan merasuk hingga ke tulang, namun panas di dadanya tidak kunjung padam.
Ia teringat dokumen di pelabuhan. Ia teringat pengorbanan kakeknya. Ia tidak akan membiarkan rumah ini, tempat perlindungan terakhir suaminya, dihancurkan oleh dendam yang diracuni oleh pihak luar.
Pasukan keamanan pribadi Surya, yang sudah tua namun tetap tangguh, membentuk barikade di depan pintu masuk utama.
Namun, Reihan segera memberi kode agar mereka mundur. Ia tidak ingin ada tumpahan darah di kediaman kakeknya.
"Biarkan mereka masuk," perintah Reihan.
Suaranya bergema di aula besar yang berlantai marmer dingin.
Adrian melangkah masuk ke dalam aula, menatap sekeliling dengan pandangan merendahkan.
"Rumah yang indah, Reihan.
Jauh lebih hangat daripada apartemen kumuh di London tempat aku menghabiskan masa kecilku."
"Kau punya hak untuk marah, Adrian,"
Reihan menyahut sambil menuruni tangga utama dengan langkah tenang.
"Tapi kau tidak punya hak untuk membawa tentara asing ke dalam urusan keluarga kita."
Baskoro maju ke depan, memegang sebuah map berlogo firma hukum internasional.
"Ini bukan sekadar urusan keluarga, Tuan Reihan. Adrian telah menjual hak klaimnya kepada Konsorsium Global Aegis. Secara de jure, Aegis sekarang memiliki hak untuk melakukan audit paksa dan pembekuan aset Arta Wiguna hingga status ahli waris sah ditetapkan oleh pengadilan internasional."
Laluna, yang berdiri di puncak tangga di samping kursi roda Kakek Surya, tiba-tiba tertawa kecil.
Tawa itu terdengar jernih namun penuh dengan nada menantang, membuat semua orang di aula menoleh ke arahnya.
"Audit paksa?" Laluna melangkah turun satu per satu, jarinya menyentuh railing kayu jati yang dipoles mengilap.
"Baskoro, kau lupa satu hal. Aegis mungkin bisa membekukan saham keluarga Arta, tapi mereka tidak bisa menyentuh saham Wijaya."
Baskoro menyeringai. "Saham Wijaya sudah lama mati, Nyonya."
"Salah," Laluna berhenti tepat di depan Baskoro.
Ia mengeluarkan sebuah dokumen kecil yang sudah ia siapkan sejak mereka meninggalkan pelabuhan semalam.
"Berdasarkan perjanjian aslinya, 30% dari lahan di bawah kantor pusat Arta Wiguna dan 25% dari hak paten teknologi logistik utama kita adalah milik keluarga Wijaya secara mutlak jika terjadi sengketa kepemimpinan di keluarga Arta. Itu adalah klausul 'perlindungan timbal balik' yang ditandatangani oleh Surya dan Wijaya."
Wajah Adrian sedikit berubah.
Ia melirik Baskoro, mencari konfirmasi.
"Jika kau membawa konsorsium asing untuk membekukan aset Reihan, maka secara otomatis seluruh operasional perusahaan akan berhenti karena mereka tidak memiliki izin penggunaan paten milikku," lanjut Laluna dengan nada yang semakin tajam.
"Kau ingin menghancurkan Reihan? Silakan. Tapi kau akan mendapatkan perusahaan yang hanya berupa gedung kosong tanpa otak dan tanpa darah."
Situasi menjadi buntu.
Adrian menatap Laluna dengan rasa ingin tahu yang baru. Di matanya, Laluna bukan lagi sekadar 'istri baker' yang beruntung, melainkan seorang lawan yang memiliki taring yang sama tajamnya dengan Reihan.
"Kau sangat setia pada pria yang menikahi kau karena kontrak, Laluna," ucap Adrian, mencoba memprovokasi.
"Apakah kau tahu bahwa dalam kontrak aslinya, Reihan diwajibkan menceraikanmu begitu ahli waris lahir? Dia tidak pernah berniat menjadikanmu ratu di istana ini."
Laluna melirik Reihan. Ia melihat kilat luka di mata suaminya, namun Laluna hanya tersenyum tipis.
"Kontrak itu sudah lama aku bakar di oven rotiku, Adrian. Kami tidak lagi bicara soal kertas. Kami bicara soal janji."
Kakek Surya, yang sejak tadi diam, memberi tanda agar kursi rodanya didorong maju ke tengah aula. Suasana mendadak hening.
Otoritas pria tua itu masih terasa sangat kuat meski ia tampak rapuh.
"Adrian..." suara Surya serak namun tegas.
"Ibumu, Elena, tidak pernah diusir. Dia pergi karena dia tahu bahwa hidup di dalam lingkaran Arta Wiguna hanya akan membuatmu menjadi target.
Aku memberinya pilihan, dan dia memilih kedamaian di London daripada kekacauan di sini. Jika kau ingin menuntut, tuntutlah aku, bukan saudaramu."
Surya mengeluarkan sebuah kunci lain dari sakunya, kunci yang jauh lebih kecil dan terlihat seperti kunci loker bank.
"Di Bank Swiss, atas namamu, terdapat dana yang cukup untuk kau membangun imperiummu sendiri tanpa perlu menghancurkan apa yang ayahmu bangun di sini. Itu adalah warisan yang disimpan ayahmu khusus untukmu."
Adrian tertegun.
Genggamannya pada map di tangannya melonggar.
Namun, Baskoro tidak membiarkan momen itu berlalu begitu saja. Ia menyadari rencananya untuk menggunakan Adrian sebagai boneka mulai goyah.
"Jangan dengarkan dia, Adrian! Itu hanya taktik untuk membuatmu mundur! Aegis tidak akan melepaskanmu begitu saja jika kau gagal hari ini!"
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar gerbang.
Laluna berteriak saat Reihan segera menariknya ke lantai, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
Pasukan berseragam hitam milik konsorsium yang dibawa Baskoro mulai bergerak masuk tanpa perintah Adrian.
"Baskoro! Apa yang kau lakukan?!" teriak Adrian panik.
"Jika kau tidak bisa mengambilnya dengan hukum, maka kita ambil dengan paksa!"
Baskoro berteriak di tengah kekacauan. "Aegis tidak peduli pada siapa yang menjadi CEO, mereka hanya ingin teknologinya!"
Aula yang megah itu seketika berubah menjadi medan perang. Reihan menarik Laluna menuju ruang rahasia di balik perpustakaan, sementara pengawal Surya mulai baku tembak dengan tentara bayaran di halaman.
Di tengah kepulan debu dan suara tembakan, Laluna menyadari satu hal. Ini bukan lagi soal siapa yang benar atau siapa yang salah. Ini adalah upaya perebutan paksa terhadap inovasi yang dimulai oleh kakeknya dan disempurnakan oleh suaminya.
"Reihan, kita harus ke ruang server di ruang bawah tanah!" seru Laluna di tengah kebisingan.
"Jika mereka mendapatkan kodenya, semuanya berakhir!"
Reihan menatap istrinya, matanya penuh dengan tekad.
"Tetaplah bersamaku, Luna".