NovelToon NovelToon
After Reuni

After Reuni

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: rachmaraaa

Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.

Dan Reuni itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Langit Jakarta malam itu terlihat begitu tenang. Lampu-lampu kota memantul indah dari dinding kaca ballroom hotel mewah tempat pernikahan itu digelar.

Di salah satu sudut ruangan, bunga putih dan lilin kristal menghiasi pelaminan megah bernuansa ivory dan gold. Aroma mawar serta melati memenuhi udara, membuat suasana terasa hangat sekaligus sakral.

Hari yang selama ini dinanti akhirnya tiba.

Mita Mahira duduk di ruang rias dengan gaun akad berwarna putih gading yang membalut dirinya anggun. Tangannya dingin sejak tadi, meski para saudarinya terus berusaha menenangkannya. Sesekali ia menatap pantulan dirinya di cermin, masih sulit percaya bahwa hari ini ia benar-benar akan menjadi istri Adrian Azzam.

Di luar ballroom, Adrian berdiri bersama keluarganya. Pria itu terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya, meski jemarinya beberapa kali merapikan jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Jas hitam dengan detail silver membuatnya tampak semakin berwibawa.

“Akhirnya nikah juga lo,” goda Bagas pelan.

Adrian hanya tersenyum kecil. Namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa haru.

“Gue udah terlalu lama nunggu dia,” jawabnya lirih.

Beberapa menit kemudian, prosesi akad dimulai.

Suasana ballroom mendadak hening ketika Mita berjalan masuk didampingi walinya. Air mata beberapa tamu langsung jatuh melihat perempuan itu melangkah perlahan menuju meja akad. Adrian menatapnya tanpa berkedip sedikit pun, seolah seluruh dunia berhenti tepat di detik itu.

Mita duduk di hadapan Adrian dengan tangan gemetar.

Penghulu mulai membacakan khutbah nikah sebelum akhirnya ijab kabul dilaksanakan.

Dengan suara tegas dan mantap, Adrian mengucapkan akadnya.

“Saya terima nikah dan kawinnya Mita Mahira binti Mahendra dengan mas kawin seperangkat alat salat, uang tunai sebesar dua ratus juta rupiah, dan emas seberat dua puluh enam gram dibayar tunai.”

“Sah!”

Suara para saksi dan tamu memenuhi ballroom.

Mita langsung menunduk sambil menahan tangis. Bahunya bergetar pelan ketika Adrian menggenggam tangannya untuk pertama kali sebagai suami.

“Sekarang kamu beneran jadi istri aku,” bisik Adrian lembut.

Mita tertawa kecil di sela air matanya. “Masih kayak mimpi.”

Adrian kemudian menyematkan cincin pernikahan di jari manis Mita, diiringi tepuk tangan seluruh tamu undangan. Kamera para fotografer terus menyala mengabadikan momen yang terasa begitu sempurna malam itu.

Saat resepsi dimulai, ballroom berubah semakin megah. Lampu chandelier berkilauan di atas lantai marmer, sementara live orchestra memainkan lagu romantis yang membuat suasana terasa hangat.

Adrian menggandeng tangan Mita naik ke atas pelaminan. Tatapan keduanya tidak pernah benar-benar terlepas satu sama lain.

Malam itu bukan hanya tentang pesta mewah, gaun indah, atau dekorasi mahal.

Tetapi tentang dua orang yang akhirnya berhasil sampai pada tujuan yang sama, setelah segala ragu, luka, dan perjalanan panjang yang mereka lalui bersama.

Dan di tengah gemerlap Jakarta malam itu, Adrian Azzam tahu satu hal pasti.

Ia tidak lagi berjalan sendirian.

。⁠◕⁠‿⁠◕⁠。

Pintu kamar hotel suite itu akhirnya tertutup perlahan tepat setelah suara tawa dan ucapan selamat dari keluarga menghilang di balik lorong.

Suasana mendadak berubah sunyi.

Hanya ada cahaya lampu temaram berwarna keemasan yang memenuhi ruangan luas dengan jendela kaca besar menghadap gemerlap Jakarta di malam hari. Kelopak mawar merah tersebar di atas ranjang king size, sementara aroma vanilla dan bunga melati samar memenuhi udara.

Mita berdiri kikuk di dekat pintu sambil memegang ujung gaunnya. Untuk pertama kalinya sejak akad tadi, ia benar-benar merasa gugup.

Adrian yang berdiri tak jauh darinya justru tersenyum kecil melihat wajah sang istri yang sejak tadi menunduk.

“Capek?” tanyanya pelan.

Mita mengangguk kecil. “Sedikit… tapi lebih deg-degan.”

Adrian terkekeh pelan sebelum berjalan mendekat. Jas hitam yang tadi begitu rapi kini sudah sedikit longgar, membuat dirinya terlihat lebih santai dibanding saat di ballroom.

“Kenapa deg-degan?” godanya lembut.

Mita langsung memalingkan wajah.

“Jangan tanya kayak gitu…”

Adrian tersenyum makin lebar. Ia kemudian meraih tangan Mita perlahan, menggenggamnya hangat.

“Aku juga gugup,” ucapnya jujur.

Mita akhirnya mendongak menatap pria itu. Ada ketulusan yang membuat dadanya terasa hangat. Sejak awal hubungan mereka, Adrian memang selalu tahu bagaimana membuatnya merasa aman.

Pria itu lalu mengajak Mita duduk di sofa dekat jendela. Dari sana, lampu kota Jakarta terlihat begitu indah seperti hamparan bintang.

“Akhirnya selesai juga semua acaranya,” gumam Mita pelan.

“Dan akhirnya…” Adrian menoleh padanya, “aku bisa manggil kamu istriku tanpa takut dibilang halu.”

Mita tertawa kecil sambil memukul pelan lengan suaminya.

Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk diam menikmati suasana. Tidak ada terburu-buru. Tidak ada tekanan.

Adrian kemudian mengusap punggung tangan Mita dengan lembut. “Terima kasih udah bertahan sampai sejauh ini sama aku.”

Kalimat itu justru membuat mata Mita memanas.

“Harusnya aku yang bilang makasih.”

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak pernah ninggalin aku… bahkan waktu aku banyak takutnya.”

Tatapan Adrian melembut. Ia mengangkat dagu Mita perlahan sebelum mengecup kening perempuan itu lama.

“Aku nikahin kamu bukan cuma buat hari ini,” bisiknya lirih. “Tapi buat semua hari setelah ini.”

Jantung Mita kembali berdegup tidak karuan.

Malam itu, di kamar hotel suite yang mewah dan hangat, keduanya akhirnya benar-benar menyadari bahwa kehidupan baru mereka telah dimulai. Bukan hanya sebagai sepasang kekasih, tetapi sebagai suami dan istri yang akan berjalan bersama untuk waktu yang panjang.

"Aku bantu buka gaunnya," ucap Adrian tiba-tiba.

Mita mengangguk dan memunggungi suaminya. Saat rentetan kancing mutiara terbuat, Adrian menariknya lembut hingga menampakkan bahu Mita yang putih. Adrian menunduk dan mengecupnya lembut.

"You'r mine." Sebuah kalimat singkat tapi paten. Yang orang lain tidak bisa lagi mengganggunya.

Mita tersenyum lembut, ketika bibir Adrian menciumi punggung belakangnya.

Gaunnya terus diturunkan hingga benar-benar terlepas dari tubuh Mita.

"Mau mandi air hangat? Kita berendam supaya capeknya hilang. Ada bathtub di kamar mandi."

Mita mengangguk gugup. Meskipun ini bukan pertama kalinya ia akan bercinta dengan Adrian. Tapi, perlakuan Adrian lah yang membuatnya benar-benar kikuk. Pernikahannya terdahulu jauh dari kata romantis dan mewah. Apalagi dengan mahar ratusan juta serta emas yang nilainya tidak main-main.

"Mas..."

"Hmm?" Adrian memeluknya dari belakang.

"Ini pernikahan mewah versi Adrian Azzam ya?" Mita membalik tubuhnya dan mengalungkan tangannya di leher Adrian untuk bisa langsung menatap wajah suaminya.

Adrian tersenyum lebar, "ini untuk menghargai kamu. Aku nggak tau sederhana versi kamu seperti apa. Tapi, yang jelas , aku nggak mau menurunkan standar kamu sebagai perempuan. Ini yang aku mampu, Sayang."

"I-iya, tapi ini benar-benar kejutan banget untuk aku. Kamu nyiapinnya kapan? Aku tuh janda lho."

"Terus kalau kamu janda, kamu harus menurunkan standar kamu, gitu?" Adrian menggeleng cepat. "Nggak bisa gitu. Perempuan ku memiliki harga diri yang tinggi. Nggak usah mikirin omongan orang. Selagi aku mampu, aku akan berikan untuk kamu."

Mita terharu, lagi. Ia memajukan tubuhnya dan berjinjit untuk mencium bibir suaminya. "Terima kasih sudah hadir dalam hidupku."

"Aku juga terima kasih, karena kamu mau menerima ku."

"Terus... Nyiapin semua ini sendiri?" Mita menaikan sebelah alisnya.

"Nggak dong. Kebetulan aku ada teman orang WO. Ya udah, tinggal bilang, kasih uang, beres. Alhamdulillah aku dikelilingi orang-orang baik, Sayang."

"Alhamdulillah, Mas. Terus... Kita jadi berendam air hangat?"

[]

*Kalian jangan iri ya 😙

1
riza
haduuh 🧐
riza
mudah²an nggak terjadi apa-apa sih sama Mita 🥺
riza
kok nyesek ya 🥺
riza
iya betul 🥺 sebelum semua terlambat, mending di obrolin dari skrg 🥰
riza
uhuuuuyy 🤭🤭
Secilia Cindy
bacanya sambil meriang2 ka..🤭
Dila Dilabeladila
hadehhhhhh udah langsung ajak k KUA aja bias bisa nambah dengam bebas🤣🤣
riza
hot ya kak 🔥🤭
riza
si Rio sakit emang
riza
lah dasar si Rio tolil
riza
fitnah jir
riza
eh gila si Rio
riza
lah sama mas ... saya yg baca juga udh GK sabar ini 🤭
riza
mulai deh ngeselinnya
riza
mas Adrian maunya mewah ya 🤭
Ika Alif
tak tunggu sampai end aja bacanya😍
riza
nanggung sekali ya 🤭
riza
setuju nih
riza
ceritanya bagus kak. semoga karyamu banyak yg baca dan laris manis ya kak 😍
rachmaraaa: aamiin 🙏
total 1 replies
riza
ciee... mereka jadian juga 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!