NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Deg. Kalimat itu masih menggantung diudara, berat dan tak terduga. Feryal menatap Bilal tanpa berkedip, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

Permintaan itu sederhana tapi tidak sesederhana itu. Ada begitu banyak hal yang langsung berputar di kepalanya dalam satu waktu. Tentang mereka. Tentang hubungan yang bahkan belum sepenuhnya pulih. Tentang dirinya yang masih berada ditengah perjalanan menemukan keyakinannya sendiri.

Dan sekarang, tentang keinginannya memiliki seorang anak, membuat napasnya tertahan sejenak.

"Kamu tadi bilang apa Habibi?." suaranya lirih, bukan karena tidak jelas akan tetapi ia butuh waktu untuk benar benar mencernanya.

Bilal tidak mengalihkan pandangannya, tatapanya tetap hangat, tapi kalo ini juga terlihat rapuh, bahkan sesuatu yang jarang sekali ia tunjukkan.

"Aku ingin kita punya anak, Fey," ulangnya lebih pelan. "Bukan sekarang juga harus,..tapi aku ingin kita mulai memikirkan itu."

Feryal menelan ludahnya dengan susah payah, tangannya yang tadi berada diantara mereka kini jatuh lemas disamping tubuhnya.

"Aku,..Kenapa sekarang?." tanyanya akhirnya. Bukan penolakan melainkan ia masih butuh waktu untuk meyakini apa yang harus ia yakini kedepannya.

Bilal menghela napasnya panjang dan sedikit menjauh memberi ruang diantara mereka, seolah tidak ingin membuat Feryal merasa terdesak.

"Aku sadar akan banyak hal belakangan ini," ucapnya jujur.

"Tentang kita,..tentang apa yang hampir kita kehilangan tanpa kita sadari." Mendengar itu Feryal pun terdiam.

"Aku terlalu fokus memperbaiki apa yang menurutku salah Fey,..sampai aku lupa bahwa yang paling penting itu menjaga apa yang sudah kita punya."

Hening beberapa saat, namun kali ini tidak ada jarak diantara keduanya melainkan keduanya nampak sama sama saling berpikir dan merenungi

"Aku nggak mau kehilangan kamu, Fey," tambahnya pelan. "Dan aku nggak mau kita terus jalan tanpa arah yang sama." Feryal pun menunduk jemarinya saling bertaut seperti mencari pegangan.

"Aku,..aku belum kepikiran Bi,..belum kepikiran sampai kesitu." Bilal pun mengangguk, tidak ada perubahan ekspresi yang drastis tapi ada sedikit ketegangan yang ia tahan.

"Iya aku tau, makanya aku enggak mau minta jawaban sekarang, aku tidak terburu-buru aku akan menunggu sampai kamu siap."

Feryal mengangkat wajahnya, "Tapi aku pengen kamu tau, kalau aku serius sama pernikahan kita sama masa depan kita."

Deg. kalimat itu terasa seperti yang selama ini ia tunggu, tapi hanya saja datangnya di waktu yang membuatnya belum sepenuhnya ia siap untuk saat ini.

"Aku masih nyari diriku Bi," ucapnya feryal jujur.

"Aku masih belajar memahami keyakinanku,..hidupku,.., semuanya." Bilal menatapnya dalam "dan aku ingin tetap ada di situ Fey, di proses itu."

Feryal menggeleng kecil. "Aku takut.."

"Apa?."

"Aku takut kalau aku belum selesai sama diriku sendiri,..aku malah gagal jadi seseorang yang harusnya bisa jadi yang terbaik buat anak itu nanti."

suasana semakin sunyi, keduanya nampak saling terdiam beberapa saat, jawaban itu jujur membuat Bilal pun ikut merasakan akan kejujuran dan ketulusannya.

Ia melangkah lebih dekat lagi, akan tetapi kali ini tanpa memaksanya, tangannya hanya menggenggam jemari Feryal yang begitu lembut.

"Kamu nggak harus jadi yang sempurna dulu untuk memulai sesuatu, "katanya pelan. "Kadang,..kita justru belajar sambil berjalan."

Feryal pun tersenyum tipis, tapi matanya masih menyimpan keraguan. "Aku nggak bilang kita harus sekarang," lanjut Bilal.

"Aku cuma,..ingin kita sama sama tahu arah kita ke mana."

Feryal terdiam lama. Ia menatap Bilal. Lalu menatap tangan mereka yang saling menggenggam satu sama lain. Untuk pertama kalinya ia tidak merasa menekan. "Aku butuh waktu," katanya akhirnya.

Bilal langsung mengangguk. "Ambil waktu sebanyak yang kamu butuh."

Bilal langsung mengangguk. "Ambil waktu sebanyak yang kamu butuh." Feryal menghela napas pelan. Dadanya pun masih terasa penuh, tapi tidak lagi sesak seperti sebelumnya.

"Terima kasih...udah ngomong jujur." Bilal tersenyum kecil, "Harusnya dari dulu aja aku ngomong gini."

Malam itu terasa lebih hangat dari biasanya, bukan karena cuaca, tapi karena jarak yang selama ini menggantung di antara Feryal dan Bilal perlahan mulai menipis.

Tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat mereka kembali duduk berdampingan tanpa rasa canggung yang berlebihan seperti dulu.

Feryal duduk di sofa ruang keluarga, kakinya di lipat santai, sementara tangannya memegang secangkir teh yang sudah mulai mendingin. Dan disampingnya Bilal tampak lebih tenang dari biasanya. Meski sesekali ia terlihat seperti sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya.

"Fey."

"Hmm?" Bilal menoleh, menatapnya sejenak sebelum akhirnya berbicara. "kamu,..lagi pengen pergi.

Feryal mengernyit, "Pergi,..kemana?, tumben."

"Iya,..liburan mungkin." Feryal terdiam beberapa detik, pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi datang di waktu yang tidak biasa.

"Kok tiba tiba" tanyanya. Bilal menghembuskan napasnya pelan. "Nggak tiba tiba juga sih, cuma kepikiran aja."

Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata kata yang tepat. "kita kan udah lama enggak jalan bareng Fey."

Feryal menatapnya kembali, kalimat itu sederhana tapi jujur, dan justru karena itu terasa menyentuh. "Terus?, tanyanya pelan. Bilal tersenyum" aku kepikiran, gimana kalau kita ke Bali."

Deg. Nama itu langsung memantul dikepala Feryal begitu saja. "Ke,..rumah mama?" suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

"Iya" sahut Bilal mengangguk. Dan Feryal tidak langsung menjawabnya begitu saja. Ada banyak hal yang langsung berputar di pikirannya. perihal ibunya maupun percakapan terakhir mereka tentang dirinya yang sekarang.

"Kenapa ke sana?" tanyanya akhirnya. Bilal menatapnya lebih dalam. "Karena itu bagian dari kamu, Fey."

Hening seketika, "Aku nggak mau kamu terus jalan tanpa pernah benar benar menyelesaikan apa yang ada disana sayang." ucapan Bilal yang tidak memaksa berhasil membuat Feryal terdiam seketika.

"Hmm dan,.." Bilal menambahkan, "kalau boleh jujur .." Feryal menoleh. "Aku juga pengen kita punya waktu berdua, tanpa tekanan dan jarak. Dan Feryal menahan napasnya sejenak.

"Kayak,..honeymoon?" tanyanya setengah bercanda, meski nadanya tidak sepenuhnya ringan. Dan bilal.pun tersenyum. "Telat sih,..tapi boleh juga sih."

Feryal untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawa itu terasa tidak dipaksakan. Namun setelah tawa itu mereda, keheningan kembali datang dalam sekejap.

"Bi,.."

"Iya?"

"Sejujurnya aku takut." Bilal tidak langsung menjawab, ia hanya menunggu. "Aku takut kalau aku kesana,..semua jadi makin rumit."

"Yang pasti kemungkinan itu pasti ada."

"Terus kenapa kamu tetap maunya kesana?." tanya Feryal. Bilal menatapnya dengan tenang. "Karena kalau kita terus menghindar masalahnya ya enggak akan pernah selesai."

Feryal menunduk, masuk juga ke logikanya yang diucapkan Bilal itu. tapi entah kenapa hati tidak selalu bisa langsung mengikuti.

"Aku nggak mau kamu kesana karena aku," lanjut Bilal. "Kalau kamu belum siap, kita nggak harus sekarang juga."

Feryal mengangkat wajahnya, tatap Bilal kali ini, tidak mendesak dan mengarahkan. Hanya menawarkan dan itu yang membuatnya justru ingin mempertimbangkan. "Aku,.." Ia berhenti sejenak, mengatur napasnya. "Mau coba."

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!