Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Pagi keberangkatan data v lebih cepat dari biasanya. Udara masih terasa dingin ketika suara koper diseret pelan terdengar dari lantai atas rumah Fahrizal. Bahkan jam saja belum menunjukkan pukul enam pagi, akan tetapi Feryal sudah bangun sejak subuh tadi. Entah karena terlalu semangat..atau justru terlalu gugup.
Ia berdiri di depan cermin. Sambil merapikan sweater krem yang dikenakannya. Penampilannya begitu sederhana, wajahnya tampak tenang meski isi kepalanya tidak
Tok,..tok.. Pintu kamarnya diketuk pelan "Masuk aja." ucap Feryal dan tak lama pintu pun terbuka perlahan dan Bilal muncul dari balik sana. Dengan kemeja hitam lengan panjang yang digulung santai sampai siku membuat tampilannya terlihat lebih santai dari biasanya.
"Udah siap?." tanya nya. Feryal mengangguk kecil "Harusnya sih." Bilal melirik koper di dekat pintu. "kamu bawa segitu doang?."
"Lah emang mau pindahan?." Untuk beberapa detik suasana terasa ringan. tidak canggung seperti sebelumnya. Tidak juga terlalu manis tapi lebih ke nyaman.
Dan itu sudah cukup, dan mereka turun bersama ke lantai bawah, dengan aroma roti panggang langsung menyambut begitu sampai ke ruang makan.
Syahira sudah duduk sambil memegang gelas susu. Begitu melihat keduanya turun bersama. Kedua netranya langsung membesar dengan sempurna.
"Wih." Feryal langsung menyipitkan matanya. "Apaan?."
"Enggak, cuma langka aja lihat kalian turun bareng kayak pasutri normal."
"Syahira."
"Oke oke aku diem." tapi senyum jahilnya sama sekali tidak hilang. Di ujung meja, Fahrizal hanya tertawa.kevil.sambilelipat korannya. Tatapannya berpindah pada Bilal beberapa.saat sebelum akhirnya berkata pelan.
"Jaga Feryal baik baik ya." ucapan yang sederhana namun dalam. dan Bilal langsung menangkap makna di baliknya. Bukan sekedar titipan melainkan sebuah kepercayaan.
Bilal mengangguk hormat, "insyaallah Abi." Fahrizal tersenyum tipis, "dan kami juga di jaga diri sendiri."
Bilal sedikit terdiam sebelum akhirnya mengangguk lagi.sarapan berlangsung hangat meski sesekali Feryal salah tingkah di buatnya.
"Hati-hati ya di Bali."
"Iya
"Jangan lupa oleh oleh."
"Iya."
"Jangan berantem kak."
"Syahiraa."
“Ya kali aja honeymoon-nya malah jadi seminar keluarga.”
“SYAHIRA.”
Fahrizal sampai tertawa kecil melihat wajah Feryal yang mulai memerah menahan malu sementara Bilal menunduk sambil menahan senyum. Dan anehnya…
Sudah lama sekali rumah itu tidak terasa seringan ini. Perjalanan menuju bandara berlangsung cukup tenang. Jakarta pagi itu masih sibuk seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalanan, suara klakson sesekali terdengar bersahutan.
Feryal duduk di kursi penumpang sambil memandangi jalan dari balik jendela. Sementara Bilal fokus menyetir. “Masih deg-degan?” tanya Bilal tiba-tiba. Feryal tidak langsung menjawab. “Sedikit.”
“Karena mama kamu?” Feryal mengangguk pelan.“
"Dan mungkin… karena aku juga belum tahu nanti bakal jadi apa.”
Bilal meliriknya sekilas. “Kita hadapin sama-sama.”
Kalimat itu berhasil membuat dada Feryal menghangat sedikit. Ia menoleh pelan ke arah Bilal. “Kamu takut nggak?” Bilal tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Takut.”
“Serius?”
“Hm.”
“Takut apa?” Bilal diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan. “Takut kalau nanti kamu malah makin jauh.”
Deg, Feryal pun terdiam, jujur dan terlalu mentah. Entah kenapa justru karena itulah dadanya terasa sesak. "Aku enggak pergi buat ninggalin kamu, Bi."
Bilal mengangguk pelan. "Aku tau."
"Tapi?."
"Tapi kadang yang bikin takut itu bukan karena kehilangan tiba tiba." dan ia pun tersenyum kecil.
"Melainkan kehilangan pelan pelan." mobil mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Feryal menunduk menatap jemarinya sendiri.
Lalu perlahan tangannya pun bergerak menyentuh tangan Bilal yang berada di perseneling.
Pelan dan hampir ragu, namun cukup membuat Bilal sedikit terkejut. Pria itu menoleh sebentar, Feryal tidak menatapnya, tapi jemarinya tidak pergi.
“Aku masih di sini,” bisiknya pelan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bilal merasa kalimat sederhana itu, lebih menenangkan dari apapun.
Namun tanpa keduanya sadari, perjalanan ke Bali itu, bukan hanya akan membawa mereka mendekat.Tapi juga membuka luka-luka lama…Yang selama ini belum benar-benar selesai.
Perjalanan menuju bandara berlangsung lebih tenang dari yang Feryal bayangkan. Jalanan pagi Jakarta mulai dipenuhi kendaraan, langit perlahan berubah jadi terang sementara musik pelan dari radio menemani suasana di dalam mobil.
Feryal duduk sambil memandangi jalan dari balik jendela. Jemarinya memainkan ujung Hoodie yang dikenakannya tanpa sadar, kebiasaan kecil yang selalu muncul saat pikirannya sedang penuh.
Bilal melirik sekilas ke arahnya. "Kamu kalau lagi tegang emang suka gitu ya?, Feryal.menoleh bingung. "Gitu gimana?."
"Mainin lengan baju terus." Feryal langsung menghentikan gerakannya refleks. "Oh."
Sudut bibir Bilal terangkat tipis, "Santai aja Fey, kita belum masuk ruang sidang."
"Justru itu yang bikin deg degan," gumam Feryal pelan.
"Hmm?."
"Aku nggak tahu nanti suasananya bakal gimana." Bilal terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab tenang. "Kalau nanti semuanya nggak berjalan baik.."
Ia menjeda ucapannya sebentar. "Kita pulang." Feryal pun menoleh, sesimpel itu?."
"Yeah sesimpel itu."
"Tapikan mama?."
"Aku nggak datang buat rebut kamu dari siapa siapa," potong Bilal lembut, "Dan aku juga nggak mau kamu ngrasa harus memilih hari itu."
Deg.
Kalimat itu membuat dada Feryal terasa hangat sekaligus berat, karena selama ini,..itulah uang paling ia takutkan.
Memilih diantara dua orang yang sama sama ia sayangi. Mobil akhirnya memasuki area bandara, suasananya langsung berubah lebih sibuk. Dan orang orang berlalu lalang dengan koper besar, pengumuman penerbangan terdengar dari speaker, sementara aroma kopi dari cafe sekitar memenuhi udara.
Bilal mengambil koper dari bagasi sebelum berjalan mendampingi Feryal masuk ke dalam, "Aku masih nggak nyangka kita beneran pergi." gumam Feryal sambil melihat sekitar
Bilal menatapnya sekilas, "mau dibatalin?."
"Nggak." Feryal langsung menggeleng cepat.
"Yakin?." kali ini Feryal terdiam untuk beberapa saat lalu mengangguk pelan.
"Iya,..aku mau jalanin ini." Tatapan Bilal perlahan melembut, ada rasa lega yang tidak bisa ia sembunyikan meski wajahnya tetap setenang biasanya.
Mereka berjalan menuju ruang tunggu bersama. Sesekali bahu keduanya bersenggolan kecil karena ramainya orang yang lewat.
Dan anehnya, tak ada lagi rasa canggung diantara keduanya seperti sebelumnya. Saat mereka duduk berdampingan menunggu boarding, ponsel Feryal tiba tiba saja bergetar.
Saat pesan masuk dari bundanya "Hati hati dijalan Fey,..Bilal, bunda lagi masak makanan favorit kamu nih."
Deg.
Feryal menatap layar itu cukup lama sampai Bilal menyadari perubahan ekspresinya. "Ada apa?."
Feryal menunjukkan layar ponselnya perlahan, Bilal membaca pesan itu sebentar sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Dia tetap bunda kamu yang udah lahirkan kamu, Fey."
Namun entah kenapa justru kalimat sederhana itu membuat jantung feryal semakin tidak tenang. Karena ia tau pertemuan ini akan jauh lebih emosional dari yang ia bayangkan.