Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 4 )
"Kau Pangeran Mapanji Wijaya, si pangeran pecundang itu?!!! "
Rona muka Ki Bayuseta terlihat tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Pangeran Mapanji Wijaya. Ki Pragola, utusan orang yang memerintahkan pembunuhan dari Kotaraja Watugaluh dengan jelas mengatakan bahwa Pangeran Mapanji Wijaya adalah seorang pangeran yang tidak berguna, yang tidak bisa ilmu kanuragan ataupun ilmu pemerintahan sedikitpun, terkenal pemboros besar yang suka menghambur-hamburkan uang ke tempat tempat hiburan.
Tetapi kini yang ada di hadapan nya jelas seorang pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi dan tingkat tenaga dalam yang setara dengan nya. Jika benar apa yang diceritakan oleh Ki Pragola tempo hari, jelas Pangeran Mapanji Wijaya sudah terkapar ketika mendengar suara lantang dan tekanan tenaga dalam nya. Karena itu wajar saja jika Ki Bayuseta tak percaya mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"Tua bangka, kuping mu budek ya hah?!!!!
Jelas jelas aku bilang, aku Pangeran Mapanji Wijaya putra kedua Biyung Ratu Sri Isyana Tunggawijaya dan Kanjeng Romo Pangeran Panji Rawit, masih juga minta diperjelas. Ludaka, Warak! Cepat buat tua bangka itu mengerti... ", teriak Pangeran Mapanji Wijaya segera. Ludaka dan Warak hampir saja bergerak tetapi urungkan niat begitu melihat Resi Mpu Lodra menghalangi mereka.
" Bangsat!!
Jadi kau rupanya orang yang diminta untuk dihabisi itu ya hah?! Baik, kali ini aku kabulkan keinginan orang yang membayar ku..!! "
Ki Bayuseta merentangkan kedua tangan nya lebar sebelum menyilang di depan dada. Seluruh tubuh nya mengeluarkan uap panas dan kedua kepalan tangannya di selimuti cahaya hijau kehitam-hitaman.
Resi Mpu Lodra mundur selangkah ke belakang melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ki Bayuseta.
"Ajian Gempur Bumi???!!
Gusti Pangeran, berhati-hatilah! Tua bangka ini mengeluarkan ilmu kanuragan andalan nya! ", peringat Resi Mpu Lodra yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya mengangguk paham.
Musuh yang tangguh, harus pula dihadapi dengan sepenuh jiwa. Pangeran Mapanji Wijaya mengangkat tangannya ke atas lalu menangkup di depan dada. Seluruh tenaga dalam ia pusatkan pada Ajian Sepi Angin dan mulai merapal Ajian Segara Geni nya.
Saat Ki Bayuseta sedang mempersiapkan diri, Mpu Wardaya melesat maju ke arah Pangeran Mapanji Wijaya sembari menghantamkan kepalan tangannya.
Whhuuuuuuggggg...!
Resi Mpu Lodra yang melihat itu semua, langsung memapak pergerakan lawan nya dengan mengerahkan ilmu kanuragan tingkat tinggi nya, Ajian Segara Bayu. Dan..
BLLAAAAAAAAAMMMMMM!!
Kedua orang tua itu sama-sama terpental ke belakang. Tetapi Resi Mpu Lodra segera bersalto sebelum mendarat dan kembali mengejar ke arah Mpu Wardaya yang masih terdorong mundur.
"Jangan coba coba mengganggu Gusti Pangeran Mapanji Wijaya..!! ", teriak Resi Mpu Lodra sembari melayangkan tendangan ke arah kepala Mpu Wardaya. Pimpinan Empat Manusia Aneh Gunung Sundara itu merunduk, menghindari serangan maut musuhnya dan keduanya pun bertarung dengan sengit pada jarak yang cukup jauh dari tempat Pangeran Mapanji Wijaya dan Ki Bayuseta berhadapan.
Begitu ilmu kanuragan nya sempurna, Ki Bayuseta dengan cepat menghantamkan kepalan tangannya ke bumi.
Bhhuuuuuummmmmm..!!!
Bumi tempat itu bergetar seolah-olah sedang terjadi gempa. Detik berikutnya, Ki Bayuseta melesat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang masih menyeimbangkan tubuh karena getaran yang terjadi.
Belum sampai di depan Pangeran Mapanji Wijaya, Ki Bayuseta kembali memukul tanah dengan sekuat tenaga.
Bhhuuuuuummmmmm..!!
Tanah retak dan menjalar cepat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat sang pangeran Medang terperosok masuk ke dalam tanah. Begitu Pangeran Mapanji Wijaya amblas ke dalam bumi, Ki Bayuseta dengan cepat mencengkeram kedua bidang tanah yang merekah dan menyatukan nya.
Grraaaaaaakkkkkk bhhuuuuuummmmmm!!
Ki Bayuseta menyeringai lebar melihat tanah menutup kembali dan Pangeran Mapanji Wijaya terkubur hidup hidup. Tetapi seringai itu menghilang saat ia masih merasakan pancaran tenaga dalam bergerak ke arah nya.
"Bangsat kecil ini... ", umpat Ki Bayuseta sembari menghantamkan kepalan tangannya yang berselimut cahaya hijau kehitam-hitaman ke arah gundukan tanah yang bergerak cepat ke arah nya.
BLLAAAAAAAARRRRRRR!
BLLAAAAAAAARRRRRRR!
BLLAAAAAAAARRRRRRR!
Tiga cahaya hijau kehitam-hitaman menghantam gundukan tanah, menciptakan ledakan beruntun yang dahsyat. Tanah dan debu beterbangan bersama dengan asap yang membumbung tinggi.
Belum sempat Ki Bayuseta berpuas diri, dari bekas ledakan sesosok bayangan melesat cepat ke arah nya sambil menghantamkan tapak tangan nya yang di selimuti cahaya merah menyala. Ki Bayuseta yang tak bisa menghindar lagi, segera menyilangkan kedua tangannya sebagai pertahanan.
BLLAAAAAAAAAMMMMMM!!
Tubuh Ki Bayuseta mencelat jauh dan menghantam tanah dengan keras. Seluruh tubuhnya menghitam seperti baru terbakar akibat hantaman Ajian Segara Geni milik Pangeran Mapanji Wijaya. Dia bisa dipastikan sudah mati.
Tetapi detik berikutnya, tubuh gosong Ki Bayuseta pulih kembali seperti sedia kala dan orang yang sudah mati itu kembali bangkit seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Matanya tajam menatap Pangeran Mapanji Wijaya.
"Hehehehehehehe....!
Kau pikir bisa membunuh ku dengan ilmu kesaktian yang kau miliki, Pangeran Pecundang!! Aku Bayuseta, Tuan Iblis Darah, tak akan pernah bisa mati cuma dengan ilmu kanuragan seperti itu! ", ucap Ki Bayuseta dengan penuh kesombongan.
" Sekarang giliran ku untuk menghabisi mu..!! "
Ki Bayuseta merentangkan kedua tangannya lebar lebar sambil memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit merapal mantra dan sekejap berikutnya seluruh tubuhnya mengeluarkan darah. Dalam balutan darah itu, tubuh Ki Bayuseta berubah membesar hingga seukuran dua kali tubuh manusia pada umumnya. Selain itu, sepasang tanduk muncul di pelipisnya dan sebuah senjata berwujud tombak dengan ujung tiga ada dalam genggaman tangannya.
Rara Lembayung yang melihat Pangeran Mapanji Wijaya tak memegang senjata apapun, langsung melemparkan pedang nya.
"Gunakan pedang ku Kangmas..!! ", teriak Rara Lembayung segera. Pangeran Mapanji Wijaya mengangguk mengerti dan mulai menyalurkan tenaga dalam nya pada pedang pinjaman di tangannya.
Setelah memegang pedang, Pangeran Mapanji Wijaya segera meloncat tinggi ke udara dan membabatkan pedang nya ke arah Ki Bayuseta yang kini telah berubah wujud menjadi iblis darah.
Shhrreeeeeeeeeettttt!!!
Ki Bayuseta menyeringai lebar melihat ini dan menggunakan tombak trisula nya sebagai pertahanan. Keduanya langsung bertarung sengit.
Kecepatan dan kekuatan Ki Bayuseta meningkat tajam sebanyak 2 kali lipat dari sebelumnya. Untungnya Pangeran Mapanji Wijaya yang telah mempelajari Ilmu Pedang Pengejar Angin, bisa mempertahankan diri meskipun dengan susah payah.
Thhrraaaaaaaaaannnggggg thhrraaaaaaaaaannnggggg...!!
Dhhaaaaaaasss...!!!!
Pangeran Mapanji Wijaya terpental ke belakang setelah tendangan keras Ki Bayuseta mendarat telak di perutnya. Dalam gerakan itu, dia merapal mantra Ajian Surya Brahma yang membuat tubuh nya mengeluarkan aura merah. Ki Bayuseta memburu arah pergerakan sang pangeran. Begitu menyentuh tanah dan berhenti, Ki Bayuseta dalam wujud Iblis Darah nya melompat sambil menghujamkan senjata trisula nya.
Whhuuuuuuggggg..
Pangeran Mapanji Wijaya dengan sigap berguling ke samping kanan. Akibatnya senjata trisula Ki Bayuseta menancap di tanah sedalam dua jengkal. Sang Tuan Iblis Darah berusaha untuk mencabut senjata nya dan inilah kesempatan yang sudah ditunggu oleh Pangeran Mapanji Wijaya.
Putra kedua Ratu Sri Isyana Tunggawijaya dan Pangeran Sri Lokapala ini langsung menghantamkan tapak tangan nya yang sudah dilambari Ajian Surya Brahma.
Hiiiiyyyyaaaaaaaattttttt....
DHHUUUUUUUAAAAARRRRR!
Aaaaaarrrrrrrrrrgggggggghhh!!!!
Kuatnya Ajian Surya Brahma membuat tubuh Sang Tuan Iblis Darah meledak dan hancur berantakan. Ludaka, Warak, Pandu, Rukmaka dan Tumenggung Rengga langsung menyambar potongan tubuh Ki Bayuseta agar tidak menyentuh tanah. Sesuai dengan petunjuk Resi Mpu Lodra, kelemahan Ajian Pancasona yang membuat Ki Bayuseta tak bisa mati adalah saat tubuhnya tidak langsung menyentuh bumi. Para penduduk Wanua Tuntang yang sudah menyiapkan peti kayu, langsung mendekat dan memasukkan potongan tubuh Ki Bayuseta ke dalamnya.
Begitu melihat Ki Bayuseta mati, Mpu Wardaya sadar bahwa Serikat Bulan Darah sudah selesai. Maka ia pun segera melarikan diri bersama Nyai Basingah yang masih hidup meskipun luka cukup parah. Ki Gandamayit dan Si Anak Iblis sudah tewas dikeroyok oleh para pengikut Pangeran Mapanji Wijaya.
Melihat pimpinan tewas dan sesepuh sudah melarikan diri, sebanyak 25 orang anggota Serikat Bulan Darah meletakkan senjata. Mereka sadar bahwa perlawanan mereka hanyalah sia-sia belaka.
Para pengikut setia Pangeran Mapanji Wijaya bersukaria dengan keberhasilan mereka. Bukan hanya memberantas kelompok jahat, tetapi mereka juga bebas dari tekanan dan ancaman bagi kehidupan mereka sendiri.
"Gusti Pangeran..
Semua potongan tubuh Bayuseta sudah dimasukkan ke dalam peti kayu untuk selanjutnya dibakar diatas Rawa Pening. Hamba akan lebih dulu turun bersama warga Wanua Tuntang", ucap Resi Mpu Lodra sembari menghormat sebelum ia pergi meninggalkan Candi Nawagraha.
"Lembayung, bawa seluruh pengawal pribadi ku bersama dengan Tumenggung Rengga dan yang lainnya. Tinggalkan aku disini bersama dengan Ludaka dan Warak.. ", perintah Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Rara Lembayung hendak bertanya tapi tangan Pangeran Mapanji Wijaya terangkat sebelum berkata,
" Ada yang perlu aku urus disini... "