NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Tekat Terhambat

Tepat jam 7 malam, di lobi gedung bawah sudah dalam keadaan lenggang. Hanya beberapa orang berlalu lalang dengan beban tugas masing-masing. 

Seorang petugas keamanan pria berdiri di dekat pintu keluar, menyapa sang CEO yang hendak keluar untuk pulang.

“Malam Pak Arvin!” sapanya.

Arvin menyahut dengan anggukan.

Sebelum Arvin berlalu keluar, si petugas itu buru-buru bertanya.

“Bapak kurang enak badan? Wajah bapak pucat.”

Arvin hanya berhenti dan menoleh sejenak, lalu melanjutkan langkah.

Setelah masuk ke dalam mobil, Arvin buru-buru menyentuh kulit dahinya sendiri. Mulai meraba-raba cemas.

Suhu tubuhnya agak panas.

Dia mendengus abai lalu memaling pandang ke tas kerjanya.

Tas kerja hitam yang biasa ia bawa terbaring di kursi sebelah. Di dalamnya ada selembar kertas cerai yang malam ini akan diberikan kepada Ayu untuk ditandatangani.

Arvin menatapnya penuh harap ke tas itu, lalu berpaling menghidupkan mesin mobil.

Semua harus diakhiri secepat mungkin. Sudah cukup setiap hari perang melawan batin.

Pada akhirnya, setelah beberapa hari merenung dalam, Arvin mau mengakui kepada diri sendiri kalau separuh hatinya telah direbut oleh Ayu, sementara separuh hatinya masih dikuasai sang mantan.

Maka, harus ada salah satu yang dibuang agar tidak terus-menerus menyiksa batin.

Arvin memilih Ayu yang harus dibuang. Karena itulah surat cerai itu dibuat.

Sampai di rumah.

“Pak, makan malam sudah siap,” sambut Ayu menunduk.

“Iya,” jawab Arvin datar sembari melangkah ke meja makan.

Makan malam pun berlangsung seperti biasa. Tenang, tidak ada obrolan. Hanya ada suara dentingan piring yang berpadu dengan detak jam dinding. 

Di sisi kiri mereka, tirai dinding kaca sengaja tidak ditutup, menampilkan pemandangan gedung-gedung kota yang berkelip.

Ayu di seberang meja menyantap tenang hidangan yang sama. 

Arvin melirik ke depan, diam-diam memperhatikan wanita itu.

Tak disangka, Ayu menyadari dan menatap balik. Buru-buru, Arvin menurunkan pandang lagi.

“Maaf, Pak. Apa ada yang salah?” tanya Ayu memecah kesunyian. Dia menyangka Arvin melihatnya karena ada yang salah di penampilan wajahnya.

Arvin berdehem. Segera menyapu mulut dengan tisu. Dia menyelesaikan makan malamnya yang belum tuntas.

“Saya ingin bicara sesuatu yang penting,” tukasnya dingin.

Ayu menurunkan garpu dan pisau dari genggamannya. “Mau bicara apa, Pak?”

Arvin segera meraih tas kerjanya di pinggir meja, merogoh kertas cerai yang sudah disiapkan.

Sebelum kertas itu benar-benar keluar, sorot mata Arvin menangkap tatapan Ayu yang dipenuhi sorotan penasaran ke arahnya.

Lalu, dia seakan bisa membayangkan kesedihan serta kekecewaan seperti apa yang akan menerpa wajah cantik Ayu yang manis-polos dan rada kurang intelektual itu.

Dada Arvin terenyuh.

Perlahan, kertas didorong kembali ke dalam.

Arvin menutup tasnya lalu menentengnya. Dia berdiri. “Tidak jadi,” katanya, bergegas pergi.

“Pak!” Ayu yang masih duduk di kursinya di belakang memanggil.

Arvin menoleh.

“Apa bapak kurang enak badan? Wajah bapak rada pucat,” ujar Ayu dengan mata dipicingkan.

Arvin meraba wajahnya sendiri, dan berlalu pergi tanpa menjawab. Ayu masih memperhatikan dari belakang dengan raut cemas hingga pria itu tidak terlihat lagi.

Di kamar, Arvin sudah selesai mandi dan berganti pakaian dengan kaos dan celana pendek rumahan. Rebahan memandang langit-langit.

“Kenapa aku tiba-tiba batal ngasih tadi?” gumamnya. Sorot matanya berubah sendu cukup lama.

Pikirannya kemana-mana.

Lantas, Arvin bangkit cepat. “Tidak! Aku tidak boleh merasa begini jika ingin bebas dari Ayu!”

Kertas cerai tadi sudah dipindahkan di laci nakas. Arvin menarik laci itu, mengeluarkan isinya, dan melangkah keluar kamar.

Dia mencari Ayu dan wanita itu kebetulan masih di area dapur, mengelap meja masak dan kompor sambil bersenandung ria.

Arvin menghembuskan napas berat sebelum memanggil.

“Ayu!” panggil Arvin setelah cukup dekat dengan wanita itu. 

Ayu memutar badan. “Iya Pak?”

“Ini soal tadi yang tidak jadi. Sebenarnya saya mau …”

Lagi-lagi suaranya tertahan tanpa sebab.

“Mau apa Pak?” dahi Ayu mengerut.

Arvin menganga. “Saya …” 

Kedua tangan Arvin mengepal sendiri, membuat kertas yang ia genggam sekarang jadi ikut meremuk pinggirannya.

Ayu memajukan langkah dengan tatapan penasaran. Hari ini Arvin bertingkah aneh di matanya.

“Saya … mau bilang, tolong besok siapkan jas kerja saya.”

“Baik Pak. Tapi sepertinya saya sudah biasa menyiapkan meski tanpa disuruh. Apa bener cuma ingin bicara itu?” Suara Ayu terdengar jelas meragukan jawaban Arvin.

“Tentu saja. Kau pikir aku bohong!” suara Arvin meninggi, membuat Ayu jadi sungkan menatap.

“Maaf, Pak.”

“Sudah aku mau tidur!” Arvin balik badan.

Ketika dia pergi berlalu, Ayu melihat kertas di tangan Arvin itu.

“Bapak pegang apa itu?” Ayu menyempatkan bertanya.

“Bukan apa-apa,” balas Arvin ketus. Kertas ia angkat, disembunyikan ke depan badan. Ayu menggaruk-garuk pipi dengan bibir cemberut.

Tidak mau terlalu penasaran, Ayu yang sudah selesai bersih-bersih pergi menuju kamarnya.

...****...

Pagi hari.

Ayu sudah selesai menyiapkan jas yang Arvin pinta semalam. Dia datang mengetuk pintu kamar Arvin.

Beberapa kali ketukan, pintu tidak dibuka. Biasanya cuma 3 ketukan Arvin langsung menongolkan kepala.

“Pak Arvin. Jas bapak sudah siap.” Terpaksa Ayu memanggil pakai suara. Namun tidak kunjung dijawab.

Mungkin masih mandi, Pikir Ayu.

Ayu kemudian kembali ke dapur untuk membuat sarapan dan akan kembali beberapa menit lagi.

10 menit berlalu, jam dinding menunjukkan pukul 7 kurang 10 menit.

Ayu sudah berdiri lagi di depan pintu kamar Arvin. Mengetuk lagi dan tetap tidak ada jawaban.

Arvin sering menasehati agar mengantar jas harus di bawah jam 7. Lewat jam itu bisa terlambat berangkat kerja. Tapi ini sudah mau jam 7.

“Apa jangan-jangan pak Arvin sakit, ya. Semalam wajahnya memang rada pucat,” gumam Ayu, mencari-cari penyebabnya.

Karena jadi cemas, Ayu mencoba menekan gagang pintu dan mendorongnya. 

Pintu tidak dikunci.

“Pak Arvin, jasnya sudah siap,” ucap Ayu sambil melangkah masuk menenteng jas.

Lurus di depan, nampak Arvin ternyata masih berbaring di tempat tidur berbalut selimut.

Ayu pun hati-hati jalan mendekat.

“Pak jas anda sudah … ya Tuhan, Pak Arvin!” Ayu berteriak, menutup mulut.

Jas ditangannya sontak terlepas, tergeletak di lantai.

Wajah Arvin pucat memutih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!