Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Jalan Terakhir
Sore mulai berganti malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu. Namun, di pinggir jalan itu Rahman dan ibu serta putrinya masih berdiri seperti orang kehilangan arah.
Koper-koper berada di dekat kaki mereka, sangat tidak sebanding dengan kehidupan mewah yang dulu mereka miliki.
Dyah duduk di kursi halte dengan wajah pucat. Tangannya memegangi dada, napasnya terasa berat. Sedangkan Lina terus mengeluh sejak tadi.
"Papa, kita mau ke mana? Aku capek, aku juga lapar," keluh Lina.
Rahman diam, tidak menjawab. Lalu, ia memejamkan mata. Kesabarannya mulai habis.
"Aku nggak mau tidur di jalan, Pa. Aku—"
"Cukup!" Bentakan Rahman membuat Lina terkejut.
Gadis itu langsung terdiam, matanya membesar.
Rahman mengusap wajah kasar. Dadanya naik turun menahan emosi. Ia sendiri bahkan tidak tahu harus bagaimana.
Uang yang mereka bawa hampir habis. Mereka belum menemukan tempat untuk tidur malam ini. Bahkan, tidak ada teman yang mau membantu mereka.
Dan, di tengah semua itu, Lina terus mengeluh tanpa henti.
"Kalau bukan karena kalian—" Rahman menghentikan ucapannya sendiri, lalu menghela napas kasar.
Dyah langsung menoleh. "Karena kami apa?"
Rahman tertawa pahit. "Tidak ada."
Namun, pikirannya kacau. Semua terasa begitu berbeda sekarang.
Dulu, setiap kali ia pulang, semuanya sudah beres. Makanan tersedia, rumah rapi, Ibunya terurus, Lina tidak pernah kekurangan. Dan, ia tidak pernah memikirkan siapa yang melakukan semua itu karena semuanya terasa biasa.
Sampai semuanya hilang.
"Man!" Suara Dyah melemah. "Astaga... Dada Mama... "
Rahman langsung menoleh, melihat wajah Dyah yang semakin pucat.
"Obat Mama dimana?" tanya Rahman panik.
Dyah gemetar. "Ada di tas tapi... " Tangannya terlalu lemah untuk membuka.
Rahman buru-buru membantu. Namun, di saat itulah sebuah benda jatuh dari dalam tas kecilnya, sebuah foto.
Rahman memungutnya dan seketika, napasnya tertahan.
Itu adalah foto lama yang tadi ia ambil dari rumah. Di dalam foto itu, Mela tersenyum lembut sambil memeluk Lina kecil.
Rahman menatap wajah wanita itu lama. Entah kenapa, di tengah kehancuran ini, yang muncul di pikirannya justru Mela.
Wanita yang dulu selalu tahu harus bagaimana. Wanita yang tidak pernah meninggalkan keluarga ini, bahkan saat diperlakukan buruk.
Rahman mengusap foto itu perlahan. "Kita harus mencari Mela."
Dyah langsung mengangkat kepala. "Apa? Kamu sudah gila, ya?"
"Itu satu-satunya jalan, Ma."
"Tidak!" Dyah langsung menolak. "Kita harus punya harga diri, Man."
Rahman tertawa pahit. "Harga diri?" Ia menatap ibunya dengan tatapan lelah. "Ma, kita bahkan tidak punya tempat tidur malam ini."
Dyah terdiam.
"Uang kita tinggal sedikit, Mama juga sakit dan, Lina tidak akan kuat hidup seperti ini."
Dyah menggigit bibir. "Tapi, apa Mela mau menerima kita kembali?"
Rahman menatap foto di tangannya lagi. "Mela tidak pernah sekejam itu. Lagipula..." Tatapan Rahman beralih pada Lina yang menunduk. "Dia tidak mungkin tega pada Lina."
Kalimat itu membuat Dyah membeku. Karena untuk pertama kalinya, mereka mengakui sesuatu yang selama ini mereka abaikan.
Mela selalu bekerja keras dan mempunyai peranan penting di dalam keluarga. Tapi, mereka tidak pernah menghargainya. Bahkan justru meremehkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Dan sekarang, mereka baru menyadarinya setelah kehilangan semuanya.
Malam semakin larut. Angin terasa semakin dingin.
Dyah akhirnya menutup mata. Tubuhnya melemas.
"Tapi, Mama tidak yakin, dia masih mau menerima kita."
Rahman tidak bisa menjawab. Karena, meski ada Lina, ia sendiri tidak yakin. Tapi, mereka tidak punya pilihan lain.
"Kita harus yakin, Ma. Seperti yang aku bilang, dia tidak mungkin setega itu pada kita, terutama Lina," ucap Rahman. "Sekarang, kita cari tempat untuk tidur. Kasihan Lina, sudah mengantuk. Kita juga sudah berjalan jauh. Besok, kita cari toko emas dan menjual perhiasan Mama untuk biaya perjalanan. Mama tidak keberatan, kan?"
Dyah mengangguk pelan. Saat ini, satu-satunya harapan mereka hanya Mela. Dan, ia sangat berharap, Mela mau memaafkan mereka dan menerima mereka kembali.
Keesokan paginya, mereka pergi ke toko emas kecil.
Dengan berat hati, Dyah melepas gelang, anting dan cincin terakhir yang masih ia pakai.
Tangannya gemetar saat menyerahkannya. "Itu hadiah dari papa mu dulu," bisiknya lirih.
Dyah selalu memakainya, tidak pernah sekalipun melepasnya. Namun sekarang, kenangan pun harus ia jual demi bertahan hidup.
"Maaf, Ma. Nanti, kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan, aku akan membelikan yang baru untuk Mama," ucap Rahman.
Dyah hanya mengangguk dan tersenyum, meski ia tahu, kenangan tidak bisa di ganti dengan apapun.
Rahman mengambil perhiasan ibunya lalu, memberikannya pada petugas toko. Setelah melalui proses pengecekan dan verifikasi untuk menentukan nilai serta keabsahan barang, petugas menghitung harganya.
Rahman menatap ibunya yang mengangguk pelan. Lalu, ia beralih pada petugas toko dan menerima uang itu.
Jumlahnya lumayan banyak, cukup untuk perjalanan dan mencari kontrakan di desa nanti.
Setelah beberapa jam kemudian, mereka bertiga sampai di terminal dengan harapan terakhir yang tersisa.
Desa Morana, tempat wanita yang dulu mereka sakiti, yang sedang hidup tenang tanpa mereka.
yg duda aja pada nikah Ama gadis pede² aja tuh, Ngapain janda harus insecure /CoolGuy/
emng klo janda gak boleh gituuu klo sama Bujang?? /CoolGuy/
aq bnc ms ll... igt tu
dan kalau rahman cinta, dia tdk akan melupakan mela saat dia.membangun keluarga bahagia dengan camila.
ingat..pesona mela itu tdk bisa membuat rahman jatuh cinta pd mela. mungkin dia menjadikan mela istri dlu karna dino adalah saingannya dan rahman memiliki ambisi..menjadikan mela sebagai pertandingan..siapa yg menang mendapatkan mela..makanya dia dengan mudah berpaling pd camila karna dia sadar yg dia inginkan wanita seperti camila. dari fisik sampai perlakuannnya sedangkan mela? meski mela baik tapi tdk memungkin seorng pria jatuh cinta dan tdk berlaku pd rahman.
ga tau malu sama ga tau diri emang biasanya sepaket si
ga bisa berdiri sendiri
🤣🤣
dasar uleeer
tapi lu Ama Mak lu
ga boleh lah
udah bukan mukrim juga
dan bukan kewajiban mela juga lah