Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Resign
Di rumah sakit, Kania di periksa dokter bagian ortopedi. Semua di periksa dengan di CT scan apakah tulang jari-jarinya ada yang patah atau tidak.
Tapi beruntung ternyata jari-jari tangan Kania tidak patah, jika saja tidak berteriak dan orang meminta tolong mungkin dua jari tangannya patah. Kania sangat kesal sekali pada Sinta, entah kenapa perempuan itu sangat benci padanya.
"Jarinya tidak ada yang patah, nanti di kasih obat salep saja agar tidak sakit lagi ya dan obat pencegah kram. Beruntung tidak patah, kalau kencang di tarik jarinya bisa patah semua," kata dokter.
Kania ngeri mendengar ucapan dokter, dia melihat tangannya di balut perban karena memang ada yang tergores kulit jarinya jadi harus di tutupi dengan perban agar tidak terkena virus yang mengakibatkan infeksi.
Ibu Laras datang ke rumah sakit, perempuan itu sangat cemas dengan keadaan anaknya. Ketika mendengar kabar Kania dari telepon temannya tentu saja kaget dan langsung ke rumah sakit. Meski dia sedang berada di butik dan keadaan untuk cukup ramai.
"Sayang, kok bisa masuk rumah sakit sih? Kenapa tangannya?" tanya ibu Laras meletakkan tasnya di bangsal.
Tangannya memegang tangan Kania yang di balut perban, gadis itu meringis kesakitan. Penampilan Kania masih dengan baju kafe.
"Aku ngga apa-apa ma," jawab Kania.
"Gimana ngga apa-apa, ini kenapa tangannya? Kok di perban? Patah?" ibu Laras memberondong pertanyaan pada Kania.
"Ngga patah, cuma lecet aja. Mama jangan cemas gitu dong," jawab Kania agar mamanya itu tidak terlalu khawatir.
"Gimana ngga cemas, kamu kerja di kafe dan kejadian itu membuat mama cemas. Kenapa bisa jadi seperti ini, apa teman-temanmu yang melakukannya?"
Pertanyaan mamanya membuat Kania ragu untuk mengatakan sebenarnya, jika dia cerita pasti mamanya akan berbuat sesuatu.
"Kepeleset aja ma, tanganku nekuk jadinya kegores sedikit. Udah jangan cemas lagi, aku jadi pusing nih." ujar Kania.
"Kamu tidak usah kerja di situ lagi, lebih baik magang di kantor papa."
Ibu Laras tegas mengatakan itu, Kania terdiam. Meski dia tahu akan di marahi dan harus keluar dari kafe, tapi agak berat dia keluar.
"Kania, mama dan papa sebenarnya khawatir kamu magang di kafe itu. Di sana banyak sekali persaingan, apa lagi yang mama tahu bosmu itu terlihat lumayan ganteng. Tentu saja banyak yang suka, dan kamu seperti ini juga karena itu kan?"
Kania kembali diam, mamanya menebak apa yang dia alami di kafe tersebut.
Amplop putih itu?
Ya, awal kejadian dia ingin memberikan amplop putih berisi surat resign pada Axel. Tapi Sinta melihatnya dan ya tentu seniornya itu kesal padanya dan melakukan tindakan di luar kendali.
"Sayang, kamu keluar ya dari kafe itu. Mama janji ngga akan melarangmu main dengan teman cowok, kamu bebas main asal ada aturannya."
"Tak kecuali om Axel kan ma?" tanya Kania.
Ibu Laras diam menatap anaknya, rasa keberatan anaknya menyukai laki-laki dewasa. Dia masih belum rela anaknya menyukai Axel.
_
Kania berpikir panjang untuk datang ke kafe Axel lagi, setelah dua hari dia tidak datang ke kafe dan rencana awal untuk resign sudah bulat sejak waktu kejadian itu. Surat pengunduran diri yang dulu jatuh kini dia buat lagi dan harus di serahkan pada Axel.
Dia bersiap dengan rapi, dandanan natural. Setelah semua rapi dan beres, Kania keluar dari kamarnya tak lupa juga tas cangklongnya dan juga helm.
Kakinya menuruni anak tangga, ibu Laras juga bersiap untuk pergi ke butiknya melihat anaknya menuruni anak tangga.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya ibu Laras.
"Mau ke kafe ma," jawab Kania.
"Ke kafe? Kerja di sana lagi? Ngga usah, ayo temani mama ke butik aja." kata ibu Laras.
"Mau nyerahin surat pengunduran diri ma, masa udah kerja terus keluar gitu aja. Ngga etis ma," ucap Kania lagi.
"Ya udah mama antar, kamu simpan lagi helmnya. Cuma kasih surat aja kan? Mama tungguin."
Kania diam menatap mamanya, tapi kemudian dia setuju. Lagi pula tangannya juga masih sakit, helmnya di simpan di meja kemudian mengikuti mamanya keluar.
Mobil Fortuner hitam terparkir di depan halaman rumah ibu Laras membuka pintu mobil di susul Kania masuk dan duduk di sebelahnya.
Ibu Laras melihat anaknya terlihat lelah, padahal penampilannya cukup rapi dan cantik.
"Kamu ngga apa-apa sayang?" tanya ibu Laras.
"Ngga apa-apa ma," jawab Kania.
"Wajahnya kelihatan lelah, apa kurang tidur?"
"Semalam ngga bisa tidur, baru tidur jam dua pagi."
"Ya sudah, nanti di butik kamu istirahat aja."
Kania mengangguk, mobil melaju pelan. Satpam membuka pintu pagar dan mobil Fortuner hitam keluar dari rumah besar tersebut.
Selama perjalanan Kania lebih banyak diam, ibu Laras sering sekali melirik padanya. Mata Kania terpejam dan perempuan di sampingnya membiarkan anaknya tidur selama perjalanan ke kafe Axel.
Jalanan lengang meski di ruas jalan protokol, hanya beberapa kendaraan roda dua dan roda empat lewat karena hari ini hari libur.
Tak lama mobil berhenti di depan kafe Axel, ibu Laras diam sejenak memperhatikan suasana kafe. Dan tentu saja sangat ramai, perempuan itu melihat anaknya masih tidur. Tapi kemudian membuka mata, melihat kanan kiri lalu merapikan rambutnya dan wajahnya.
Ibu Laras menghela napas berat, melihat anaknya merapikan penampilannya.
"Keluar sekarang?" tanya ibu Laras.
"Iya ma, lebih cepat lebih baik." jawab Kania.
"Baguslah, mama ngga usah nunggu lama-lama di sini."
Kania membuka pintu mobil, dia berjalan masuk ke dalam kafe. Semua karyawan melihat gadis itu masuk dan berbisik, beberapa temannya mendekat dan melihat tangan Kania di perban yang belum di lepas.
Setelah berbicara sebentar dengan beberapa teman kerjanya itu, Kania berjalan ke ruang kantor Axel. Berhenti di depan pintu dan menghela napas panjang, menyiapkan kata-kata dan sikap ketika berhadapan dengan Axel.
Tangannya di angkat dan hendak mengetuk pintu, namun pintu terbuka cepat. Sosok Axel berdiri menatapnya lekat, Kania menunduk dan tersenyum tipis menatap Axel.
"Selamat siang om, aku mau nyerahin surat pengunduran diri pada om Axel." ucap Kania menyodorkan amplop putih di depan Axel.
Axel diam melihat surat pengunduran diri Kania, ragu untuk menerimanya lalu menatap gadis di depannya itu.
"Kania, kenapa buru-buru? Bukankah kamu meminta enam bulan saja? Kamu baru dua bulan dan..."
"Ngga om, aku sudah cukup kerja di kafe. Aku juga berterima kasih sama om Axel karena menerima magang di kafe ini, maaf kalau aku selalu melakukan kesalahan," ucap Kania lagi tanpa mengindahkan ucapan Axel tadi.
Axel lagi-lagi diam, dia menunduk dan tangannya mengambil surat di tangan Kania.
"Terima kasih ya om, dan maafkan aku."
Setelah berkata seperti itu, Kania berbalik dan melangkah pergi dari hadapan Axel.
Laki-laki itu masih bingung dengan surat itu, bukankah Kania magang di kafenya itu tanpa surat lamaran. Kenapa harus menyerahkan surat pengunduran diri.
"Kania, tunggu!"
_
_
*******