"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KODE KECIL DI DALAM PERUT
Pagi itu, kediaman Dirgantara tidak dimulai dengan suara ketukan *keyboard* yang berisik. Aletta duduk di tepi tempat tidur, menatap sebuah benda kecil di tangannya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—campuran antara terkejut, panik, dan bahagia yang meledak-ledak. Di layar benda itu, terpampang dua garis merah yang sangat jelas.
"Mas... Mas Arkan!" teriak Aletta, suaranya sedikit gemetar.
Arkan, yang sedang mengancingkan manset kemeja birunya di depan cermin, langsung berbalik. Insting protektifnya menyala dalam sekejap. Ia melangkah cepat mendekati Aletta, mengira ada serangan siber baru atau mungkin Sir Lancelot masuk ke dalam saluran air lagi.
"Ada apa, Al? Kau terluka? Ada peretas masuk ke jaringan rumah?" tanya Arkan, suaranya bariton dan penuh kewaspadaan yang maskulin.
Aletta tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan benda kecil itu ke hadapan Arkan. Arkan menerimanya, membacanya perlahan, lalu terdiam selama satu menit penuh. Matanya yang biasanya tajam dan sedingin es, mendadak bergetar. Ia menatap benda itu, lalu menatap perut rata Aletta, lalu kembali ke benda itu lagi.
"Dua garis... ini artinya..." Arkan bergumam, suaranya serak karena emosi yang tertahan.
"Artinya ada 'bug' kecil yang akan tumbuh di perutku selama sembilan bulan, Mas," bisik Aletta sambil mulai meneteskan air mata haru.
Arkan langsung menjatuhkan dirinya berlutut di depan Aletta. Ia memeluk pinggang istrinya dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di perut Aletta. "Terima kasih, Al. Terima kasih sudah memberikan keajaiban ini padaku."
Namun, keharuan itu hanya bertahan sepuluh menit. Begitu Arkan berdiri kembali, mode "CEO Paling Protektif di Dunia" langsung aktif secara ekstrem.
"Mulai detik ini, kau dilarang menyentuh laptop lebih dari satu jam sehari. Radiasinya tidak baik untuk kesehatan pewaris Dirgantara," ujar Arkan dengan nada otoriter yang biasanya ia gunakan untuk memecat manajer yang tidak kompeten.
"Mas! Tapi aku sedang mengembangkan enkripsi baru untuk kaktus!" protes Aletta.
"Tidak ada enkripsi. Tidak ada kode. Tugasmu sekarang adalah istirahat. Dan jangan lari-larian di tangga lagi," Arkan segera meraih ponselnya. "Yudha! Batalkan semua rapatku hari ini. Pesan kursi ergonomis paling mahal, pembersih udara tingkat medis, dan carikan aku dokter kandungan terbaik yang punya spesialisasi dalam menangani istri yang hobi meretas."
Aletta hanya bisa melongo. "Mas Arkan, aku hamil, bukan sedang sakit parah!"
"Bagi seorang pria yang baru tahu dia akan menjadi ayah, ini adalah misi paling kritis dalam sejarah hidupku, Aletta," Arkan mengecup kening Aletta dengan sangat posesif. "Aku tidak akan membiarkan satu pun ancaman mendekatimu, termasuk kelelahan karena menatap layar."
Dua jam kemudian, ruang kerja Aletta sudah berubah. Arkan telah memasang bantal-bantal empuk di setiap sudut kursi, meletakkan stok buah-buahan organik di atas meja, dan—yang paling ajaib—ia memasang sensor gerak di pintu kamar mandi agar Aletta tidak terpeleset.
Bahkan Sir Lancelot pun terkena imbasnya. Bebek itu kini mengenakan kalung bertuliskan 'Security Detail Level 1' dan dilarang terlalu dekat dengan Aletta jika bulunya belum disisir bersih.
"Mas, kau berlebihan! Kau bahkan melarangku minum kopi!" keluh Aletta saat Arkan menyodorkan segelas susu hamil cokelat.
Arkan duduk di samping Aletta, ia membuka satu kancing kemejanya, tampak sangat jantan namun matanya penuh kelembutan. Ia mengusap rambut Aletta. "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan si kecil. Aku sudah kehilangan banyak hal di masa lalu, Al. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada kalian."
Aletta terdiam, ia melihat ketulusan di mata suaminya. Ia tahu Arkan sangat mencintai keluarga kecil mereka ini. Aletta tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Arkan. "Baiklah, Serigala Siaga. Tapi janji ya, aku masih boleh main karambol sama Rian dan Bobi?"
"Boleh. Tapi mereka harus tes kesehatan dulu sebelum masuk rumah ini," jawab Arkan serius.
Aletta tertawa renyah, memeluk lengan Arkan erat-erat. "Kau benar-benar luar biasa, Mas."
Malam harinya, Arkan berbaring di samping Aletta, tangannya mengusap perut Aletta yang masih rata dengan sangat hati-hati. Di bawah sinar lampu tidur yang temaram, Arkan membisikkan sesuatu ke arah perut Aletta.
"Dengarkan Ayah, Kecil. Kau punya ibu yang paling cerdas dan ajaib di dunia. Tapi kalau kau sudah lahir nanti, jangan belajar meretas komputer dulu ya? Ayah ingin jantung Ayah tetap sehat setidaknya sampai kau lulus sekolah."
Aletta tertawa kecil sambil memejamkan mata. "Mas, bagaimana kalau dia nanti malah meretas sistem keamanan mainannya sendiri?"
Arkan mengecup pelipis Aletta. "Kalau itu terjadi, aku akan sangat bangga. Tapi tetap saja, dia akan jadi anak yang paling dijaga oleh seluruh pasukan Dirgantara."
Di luar jendela, bintang-bintang bersinar terang, seolah-olah ikut merayakan kehadiran anggota baru di keluarga mereka. Perjalanan Aletta dan Arkan kini memasuki babak baru yang penuh warna—bukan lagi tentang kode-kode rumit atau musuh yang mengintai, melainkan tentang cinta yang sedang tumbuh secara nyata.
"Mas Arkan..." gumam Aletta yang mulai mengantuk.
"Ya, Sayang?"
"Besok... carikan baju bayi gambar bebek ya?"
Arkan tersenyum, mencium puncak kepala Aletta. "Tentu. Aku akan membelikan seluruh toko baju bayi kalau perlu."
Dan begitulah, Sang Serigala Dirgantara telah resmi menjadi "Suami Siaga" paling bucin di Jakarta, siap menghadapi segala tantangan demi menjaga kebahagiaan istri dan calon bayinya.
**Kehamilan Aletta membawa kebahagiaan sekaligus kekacauan lucu di rumah Dirgantara. Namun, apa yang akan terjadi saat Aletta mengalami 'ngidam' yang sangat aneh: ia ingin melihat Arkan ikut lomba balap karung di acara perayaan kantor?**
makiin byk laaa kerandoman Aletta ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
kyakny bkal ad sir Lancelot versi kaktus mini atau mungkin serigala mini🤭🤭🤭🤭🤭
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣