NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 42

Menahan napas di tengah kerumunan yang tertawa adalah cara paling sunyi untuk menyadari bahwa setiap suara tawa itu sebenarnya adalah tembok yang memisahkan kita dari kebenaran. Felysha Anindhita berdiri dengan punggung yang tegak, jemarinya meremas pelan gelas kristal berisi jus jeruk yang sedari tadi tidak dia minum. Gaun Midnight Blue yang dia kenakan terasa seperti lapisan pelindung yang rapuh, sebuah warna yang dia pilih untuk memberikan kekuatan, seolah-olah dia masih membawa sepotong langit Paris di pundaknya meskipun udara di sekitarnya terasa begitu berat oleh aroma parfum pria yang tidak dia sukai.

Andra berdiri di sampingnya, satu tangannya sesekali menyentuh lengan Felysha dengan gaya yang seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa gadis ini adalah miliknya. Setiap kali tangan itu menyentuh kulitnya, Felysha merasakan getaran ketidaknyamanan yang merambat hingga ke tengkuknya. Dia mencoba tetap fokus pada panggung utama tempat sang pelelang mulai memperkenalkan barang pertama, namun matanya terus-menerus mencuri pandang ke arah balkon lantai dua.

"Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Fely. Biru benar-benar warna yang cocok untukmu," bisik Andra, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Felysha. "Tapi aku rasa kamu akan terlihat jauh lebih baik dengan kalung berlian yang sedang kita lelang nanti. Papa kamu sudah setuju untuk membelikannya sebagai tanda... rekonsiliasi kita."

Felysha menelan ludah, sebuah gerakan yang dia usahakan agar tidak terlihat oleh Andra. "Saya tidak butuh berlian baru, Andra. Saya lebih suka perhiasan yang memiliki cerita, bukan sekadar harga."

Andra tertawa kecil, suara yang terdengar begitu hambar di telinga Felysha. "Semua perhiasan punya cerita, Fely. Ceritanya adalah siapa yang cukup kuat untuk memilikinya. Seperti aku yang cukup kuat untuk membawamu pulang ke Jakarta."

Felysha tidak membalas. Dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu servis di samping ballroom. Di sana, dia melihat seorang fotografer dengan tuxedo yang sangat pas di tubuhnya sedang mengambil beberapa bidikan. Meskipun wajahnya sebagian tertutup oleh bodi kamera yang besar, Felysha mengenali gerakan tangan itu—gerakan tangan yang penuh kehati-hatian, cara jemari itu memutar ring fokus seolah-olah sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga.

Mahesa.

Jantung Felysha berdegup lebih kencang. Dia merasa ada sebuah aliran listrik yang menghubungkan mereka meskipun jarak mereka terpisah oleh puluhan tamu. Dia ingin memberikan tanda, namun dia tahu Andra sedang memperhatikannya dengan sangat teliti. Andra mulai menyadari kegelisahan Felysha, dan matanya mulai mengikuti arah pandang gadis itu.

"Siapa yang sedang kamu cari, Fely?" tanya Andra, nadanya berubah menjadi sedikit lebih tajam.

"Hanya... hanya sedang melihat dekorasi bunga di sudut sana," Felysha berbohong, suaranya sedikit bergetar.

Gunawan, yang berdiri di sisi lain Felysha, berdehem pelan. "Fely, fokuslah. Papa ingin kamu memberikan sambutan singkat sebagai wakil generasi muda untuk yayasan seni ini nanti. Jangan biarkan pikiranmu melayang ke mana-mana."

Felysha mengangguk patuh, namun di dalam tas kecilnya, dia menggenggam ponselnya yang mati. Dia teringat pesan ayahnya bahwa Mahesa harus membuktikan nilainya dalam seminggu. Tapi melihat Mahesa di sini, di tengah bahaya yang mengintai, Felysha menyadari bahwa Mahesa sedang membuktikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kemampuan fotografinya.

Di sisi lain ballroom, Mahesa terus bergerak. Dia memotret beberapa tamu penting, namun matanya selalu kembali pada Pierre yang kini terlihat berdiri di dekat meja operator suara. Dia melihat Pierre memberikan isyarat pada dua orang pria lain yang mengenakan seragam pelayan. Waktunya sudah hampir sampai. Acara lelang akan mencapai puncaknya dalam lima menit.

Mahesa mengangkat kameranya sekali lagi. Kali ini, dia tidak memotret tamu. Dia memotret ke arah Andra. Dia memperbesar bidikannya hingga ia bisa melihat detail pada saku jas Andra. Ada sebuah ponsel yang menyala di sana, menampilkan sebuah pesan yang sedang diketik. Mahesa menahan napas, menyesuaikan fokus hingga teks itu terbaca samar di layar kameranya.

"Bawa saksi dari Paris ke sini sekarang. Aku mau dia hancur tepat saat acara penutupan."

Mahesa merasakan darahnya membeku. Andra tidak hanya berencana melaporkannya ke polisi; dia benar-benar membawa seseorang dari masa lalu Mahesa di Paris untuk datang ke Jakarta. Siapa? Pierre? Tidak, Pierre ada di sini bersamanya. Apakah orang lain dari grup di Paris?

Kepanikan mulai merayap di dada Mahesa, namun dia memaksanya turun. Dia harus bertindak cepat. Dia tidak bisa membiarkan Andra melakukan pertunjukan itu di depan Gunawan. Mahesa melihat ke arah Felysha lagi. Gadis itu kini sudah berada di tepi panggung, bersiap untuk naik memberikan sambutan.

Mahesa memutuskan untuk mengambil risiko terakhir. Dia berjalan mendekati area operator suara, tempat Pierre sedang menunggu. Dengan gerakan yang sangat cepat, Mahesa menabrak Pierre dengan bahunya, berpura-pura tersandung karena kerumunan.

"Apa yang kamu lakukan, bodoh?" Pierre membentak dalam bisikan.

"Sinyalnya tidak mau terputus," Mahesa berbisik balik, suaranya penuh kepura-puraan panik. "Ada sistem keamanan baru yang tidak kita ketahui. Kamu harus ikut saya ke ruang teknis sekarang untuk mematikan pusatnya secara manual, atau semuanya batal."

Pierre menatap Mahesa dengan curiga, namun keserakahannya mengalahkan kewaspadaannya. "Sialan! Ayo cepat. Waktu kita tinggal sedikit."

Mahesa memandu Pierre menjauh dari ballroom, menuju lorong belakang yang sunyi. Dia tahu ini adalah kesempatannya untuk melumpuhkan Pierre sebelum agensi internasional dan polisi Jakarta sampai di hotel. Saat mereka sampai di sebuah ruangan penyimpanan linen yang sepi, Mahesa berhenti.

"Di mana?" tanya Pierre, matanya memutar mencari panel teknis.

Mahesa tidak menjawab. Dia berbalik, melepaskan kameranya dan meletakkannya di atas tumpukan handuk bersih. Dia menatap Pierre dengan sorot mata yang sudah tidak memiliki rasa takut lagi. "Tidak ada sistem keamanan baru, Pierre. Yang ada hanyalah akhir dari permainanmu."

Pierre tertegun, lalu tertawa sinis. Dia baru saja akan meraih sesuatu di pinggangnya ketika Mahesa lebih dulu menerjangnya. Mereka bergumul di lantai yang sempit, di antara aroma deterjen dan kain bersih. Mahesa bertarung dengan segala kemarahan yang dia simpan selama bertahun-tahun—kemarahan terhadap dirinya sendiri yang pernah menjadi pencuri, dan kemarahan terhadap pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Di dalam ballroom, Felysha sudah berdiri di depan mikrofon. Dia menatap lautan wajah yang menunggunya, namun matanya tetap tertuju pada pintu servis yang kini kosong. Dia menarik napas panjang, suaranya terdengar jernih dan kuat saat ia mulai bicara tentang seni sebagai sebuah perjalanan untuk menemukan kejujuran.

"Seni bukan tentang apa yang kita miliki," ucap Felysha, matanya menatap tepat ke arah tempat Mahesa tadi berdiri. "Seni adalah tentang apa yang berani kita tunjukkan kepada dunia di tengah semua bayang-bayang yang kita bawa."

Di ruangan penyimpanan linen, Mahesa berhasil menekan tubuh Pierre ke lantai, tangannya mencengkeram erat pergelangan tangan pria itu. Suara sirene polisi mulai terdengar sayup-sayup di luar hotel. Mahesa menatap wajah Pierre yang penuh amarah.

"Ini buat Felysha," bisik Mahesa, lalu dia memberikan satu pukulan yang membuat Pierre terdiam.

Mahesa berdiri, merapikan tuxedo-nya yang kini berantakan. Dia mengambil kameranya kembali, lalu berjalan keluar dari ruangan itu tepat saat beberapa petugas kepolisian Jakarta dan perwakilan Interpol masuk melalui pintu belakang. Dia menyerahkan kartu memori yang berisi semua bukti yang dia kumpulkan semalam dan malam ini.

"Dia di dalam," ucap Mahesa pada petugas itu.

Mahesa tidak menunggu untuk melihat Pierre dibawa pergi. Dia berlari kembali menuju ballroom. Dia harus sampai di sana sebelum Andra memulai serangannya. Dia harus berdiri di samping Felysha, bukan lagi sebagai bayangan, tapi sebagai saksi yang nyata dari sebuah kemenangan yang jujur.

Lampu ballroom kembali menyala terang saat Felysha menyelesaikan sambutannya. Tepuk tangan meriah menggema. Mahesa berdiri di ambang pintu masuk utama, tuxedo-nya sedikit robek di bagian lengan, namun dia berdiri dengan kepala tegak. Dia menatap Felysha, dan kali ini, dia tidak lagi bersembunyi di balik lensa kamera.

Andra yang baru saja akan naik ke panggung dengan ponsel di tangannya, tiba-tiba terhenti saat melihat Mahesa. Dan dia lebih terkejut lagi ketika melihat beberapa petugas kepolisian berpakaian sipil mulai mendekati mejanya.

Malam di Jakarta masih tetap panas dan lembap, namun bagi Mahesa dan Felysha, udara yang masuk ke paru-paru mereka kini terasa jauh lebih lega. Di tengah gemerlap Hotel Indonesia Kempinski, sebuah kebenaran baru saja terungkap, dan warna Midnight Blue di gaun Felysha seolah menjadi simbol dari sebuah pagi yang akhirnya benar-benar akan datang.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!