NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Menantu dan Mertua

"Bagaimana? Si manja itu sudah tidur?"

Pertanyaan pertama saat Prabujangga baru sampai di balkon kediaman Respati berasal dari suara hangat Dewandanu. Laki-laki tua itu menepuk kursi kayu di sebelahnya, mengundang Prabujangga untuk duduk.

"Ayah sudah menyiapkan kopi. Karena tidak tau kamu lebih suka kopi pahit atau manis, Ayah bawakan gulanya kemari supaya kamu bisa mengisinya sendiri."

Langkah Prabujangga memelan, matanya menatap dua cangkir kopi di atas meja bundar kecil dengan permukaan kaca. Dewandanu benar-benar membawakan toples berisi gula yang ditutup dengan rapat.

"Ayah seharusnya tidak usah repot-repot," ujar Prabujangga, nada bicaranya sedikit kaku. "Saya bisa meminum keduanya."

Dewandanu terkekeh. "Bisa dan suka itu berbeda, Prabu," tuturnya. "Kamu mungkin bisa minum keduanya, tapi untuk suka... pasti salah satu di antara mereka."

Prabujangga tersenyum kecil, tangannya menarik kursi kayu sebelum mendudukinya. "Saya selalu menyesuaikan apa yang bisa saya minum dan makan sampai melupakan apa yang benar-benar saya suka," balasnya, meraih sendok kecil dan memasukan satu sendok gula ke dalam kopinya. "Tapi sepertinya saya lebih suka yang manis."

"Yang manis? Seperti putri saya, contohnya?"

Gerakan Prabujangga terhenti, kepalanya mendongak dari cangkir kopi untuk bertemu pandang dengan mertuanya. Tanpa bisa dihentikan, tawa kecil lolos dari bibirnya. "Untuk yang satu itu sepertinya terlalu banyak mengandung gula."

Dewandanu tertawa puas, tangannya memukul paha karena jawaban Prabujangga yang tidak terduga. Hal itu membuat Prabujangga lagi-lagi merasakan sesuatu yang asing. Interaksi ini, yang seharusnya menegangkan dan membuatnya merasa terancam seperti saat bersama Batra, tiba-tiba menjadi begitu ringan dan terbuka.

"Saya benar-benar khawatir dengan putri saya itu, Prabu." Dewandanu menyesap kopinya, membiarkan uap menerpa wajahnya. "Saya begitu menyayanginya sampai-sampai saya membatasi kebebasannya di masa muda," tuturnya, mulai merenung.

"Itulah mengapa dia tidak terlalu banyak tau tentang dunia luar. Ayah meminta maaf jika seandainya kelalaian ini juga mempengaruhi hubungan kalian," imbuhnya, meletakkan cangkir kopi kembali ke atas meja. "Tapi jangan salah menganggap, Kharisma itu adalah putri saya satu-satunya, putri kesayangan saya."

Prabujangga mendengarkan, tatapannya lurus pada pepohonan yang tumbuh di halaman. Ia tidak pernah merasa gugup sebelumnya, bahkan saat berhadapan dengan ayahnya. Tapi justru saat bersama dengan Dewandanu yang jelas-jelas tulus tanpa sandiwara, rasa gugup itu menghampirinya.

Mendengar betapa Dewandanu menyayangi Kharisma membuatnya semakin yakin, bahwa ayah mertuanya itu akan langsung menghabisinya di tempat jika tau bahwa pernikahan ini pada awalnya direncanakan hanya untuk memperoleh keturunan.

Dan bagian buruknya, Dewandanu juga akan mengusirnya dari kehidupan Kharisma.

"Tolong jaga dan cintai putri saya sebagaimana saya mencintai dan menyayanginya, Prabu." Dewandanu tersenyum. "Saya percaya bahwa kamu adalah laki-laki terbaik yang telah saya pilihkan untuk Kharisma. Mungkin pesan seperti ini terdengar berlebihan, tapi kamu akan mengerti jika suatu saat nanti kamu menjadi ayah dari seorang anak perempuan."

Napas Prabujangga tertahan, pikirannya melayang kembali pada kondisi Kharisma yang saat ini tengah mengandung anaknya. Bayangan memiliki seorang anak perempuan tidak pernah terbesit di benaknya, terlebih lagi melihat bagaimana kondisi keluarganya. Namun melihat bagaimana cara Dewandanu menyayangi Kharisma... apakah ia akan benar-benar mampu menjadi seorang ayah?

Prabujangga perlahan mengangguk, meskipun separuh fokusnya telah lenyap. "Saya pasti akan mengusahakannya, Ayah."

...***...

Rasa kantuk masih membayangi bahkan setelah tidur selama lebih dari delapan jam. Kharisma meregangkan tubuhnya, perlahan-lahan mendudukan diri di tempat tidur dengan mata yang masih terpejam. Selimut menggenang di pinggangnya.

Ia mengerjap, perlahan-lahan menggosok mata. "Mas Prabu?" gumamnya, sedikit terkejut melihat Prabujangga yang tertidur dalam posisi duduk.

Laki-laki itu berada di tepi tempat tidur, duduk pada bangku kayu dengan tangan terlipat di samping Kharisma. Meskipun terlihat nyenyak, ia bisa menebak bagaimana punggung itu akan protes saat laki-laki itu bangun.

"Mas Prabu kenapa tidur seperti itu?" Kharisma mencoba menepuk pipi Prabujangga, suaminya itu bergumam malas dan membenamkan wajah diantara tangan.

Kharisma mendengkus kesal. Seingatnya, kemarin ia masih berpelukan di dalam mobil dengan Prabujangga, dan sekarang tiba-tiba saja sudah pagi. Dan yang membuat senyumnya kian melebar adalah tempatnya berada saat ini—kamarnya.

Semua benda-benda ini, suasana ini, aroma ini, entah kenapa membuatnya ingin menangis karena kerinduan.

"Kenapa senyum-senyum seperti itu? sedang membayangkan siapa?" Suara menyebalkan Prabujangga membuatnya memutar mata.

Kharisma menatap Prabujangga, suaminya itu hanya membuka sebelah matanya dan tidak bergerak dari posisinya. "Maksud Mas apa? Aku tidak sedang membayangkan siapa-siapa."

"Bohong," balas Prabujangga dengan suara serak. "Kalau tidak membayangkan siapa-siapa kenapa tersenyum seperti itu?"

"Memangnya kalau tersenyum artinya membayangkan seseorang? Mas mengada-ngada saja." Kharisma bersedekap kesal. Pagi-pagi begini ia sudah dibuat kesal oleh suaminya. "Itu kenapa Mas tidurnya duduk seperti itu? ini juga, kenapa bantal-bantalnya mengelilingi aku seperti ini? Seperti bayi saja."

Kharisma memandangi bantal-bantal yang mengelilinginya. Satu di kepala, lalu dua bantal lain di kedua sisinya seperti benteng pertahanan.

"Bentuk perlindungan untuk anak saya," gumam Prabujangga, masih enggan mengangkat kepala. "Saya ingat bagaimana caramu tidur selama ini, saya tidak ingin anak saya kenapa-napa," imbuhnya.

Kharisma menghela napas. "Lagi-lagi untuk adik bayi," gumamnya ketus. "Mas mengajakku ke sini juga karena senang keinginanya sudah tercapai."

Untuk yang satu itu, barulah Prabujangga mendongak. Tiba-tiba saja ia menegakkan tubuh dan bersedekap. "Jadi kamu beranggapan begitu?"

Kharisma cemberut. "Begitu bagaimana?"

"Bahwa saya mengajak kamu ke sini karena saya senang dengan berita ini."

Kharisma mengerutkan kening. Meskipun kesal, dia tetap penasaran dan melirik ke arah Prabujangga. "Memangnya tidak, ya? Mas kemarin kan buru-buru memerintahkan Meara mengemas pakaian setelah tau berita kalau aku hamil. Itu makannya Mas mau mengajakku ke sini, kan?"

Itu sudah jelas sekali. Memangnya apa lagi? Memang ia hanya dimanfaatkan untuk memberikan suaminya itu keturunan, kan?

"K-kenapa?" Kharisma terbelalak saat Prabujangga tiba-tiba mendekatkan wajahnya, ekspresi laki-laki itu tampak datar dan tak bisa dibaca.

Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Di jarak sedekat ini, Kharisma bisa melihat warna indah mata Prabujangga yang selama ini selalu menyorot dengan dingin. Meskipun selama beberapa bulan ini mereka sudah banyak saling menyentuh, tapi tetap saja hal sesederhana ini yang justru berhasil membuatnya gugup.

"Saya penasaran kira-kira sudah sejelek apa nama saya di pikiranmu ini," bisik Prabujangga, telunjuknya mengetuk pelipis Kharisma dengan lembut. "Sejahat apa kira-kira saya dimata kamu?"

Kharisma menelan ludah, matanya sedikit berpaling. "Tidak jahat, kok, hanya... sedikit mengesalkan saja," gumamnya. "Lagipula apa lagi yang bisa membuat Mas mau mengantar aku ke sini? Ponsel saja sudah disita."

"Kalo ponselnya tidak disita? Apa saya masih mengesalkan?"

Ayolah... Mas Prabu ini kenapa tiba-tiba begini?

Kharisma menggeleng, lalu membuang muka dengan cemberut. "Kalau dikembalikan juga tetap mengesalkan. Sebenarnya Mas bernapas saja sudah mengesalkan."

"Jadi saya harus berhenti bernapas, begitu?"

Kharima mengangguk, berharap bahwa Prabujangga setidaknya akan menahan napas sampai ia mengizinkan laki-laki itu untuk bernapas lagi. Itu terdengar romantis, kan? Tapi alih-alih, justru sekarang Prabujangga mengendikkan bahu dengan acuh dan bangkit dari kursi.

"Baiklah, kalau begitu anggap saja saya mengesalkan."

Kharisma terbelalak, tak terima karena tidak dibujuk. "Mas—"

Ucapannya seketika berhenti saat tangan Prabujangga tiba-tiba menarik pinggangnya, mulut laki-laki itu membungkamnya dengan ciuman yang tak santai. Kharisma terengah-engah, tangannya secara naluriah mencengkram bahu Prabujangga.

Prabujangga meraih tengkuknya, memperdalam ciuman sementara tangannya yang lain dengan cekatan membuka kancing kemeja yang sudah kusut karena dikenakan semalaman.

"Mas Prabu..."

Ciuman itu terlepas, dan napasnya langsung terengah-engah. Bibirnya mengerucut sebal saat ibu jari Prabujangga mengusap bibirnya.

"Jangan berteriak di sini, tidak sopan," gumam Prabujangga, menggeleng pelan melihat reaksi Kharisma yang melotot galak ke arahnya. Ia kembali menegakkan tubuh dan melepaskan kancing kemeja.

Namun tiba-tiba di saat bersamaan, pintu terbanting terbuka.

"KHARISMA! MY BESTIE!"

Kharisma terbelalak saat Kinnar—sahabatnya— menerobos masuk. Sesaat, perempuan itu langsung membeku di tempat begitu melihat kehadiran Prabujangga, matanya terpaku pada bagian atas tubuh laki-laki itu yang terbuka.

Bersambung...

1
partini
dihhh jangan jadi Kunti bogel yah no good,, bisanya kaya gitu sih jadi parno aku baca Nya
Elisabeth Lalang
Bukankah tujuan dari maksud pernikahan itu adalah agar Prabu dan Kharisma memiliki anak lalu kenapa sekarang Prabu semena-mena akan meninggalkan Kharisma Di Malam pengantinnya😟
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!