Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal-usul Larasati
Hawa dingin yang ditinggalkan Kala Dirja masih terasa membeku di sudut-sudut kamar penginapan Subosito. Sang Kesatria Naga Sisik Perak itu baru saja pergi, meninggalkan ancaman yang menggantung seperti pedang di atas kepala.
Subosito menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tetap memacu adrenalin. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama, sebuah ketukan lembut, hampir tak terdengar, muncul dari arah pintu kayu yang reyot.
Bukan langkah berat prajurit atau desis dingin kesatria perak. Itu adalah bunyi tongkat kayu cendana yang mengetuk lantai dengan ritme yang halus.
Subosito membuka pintu dan menemukan Larasati berdiri di sana. Cahaya lampion koridor menyinari wajahnya yang pucat, memberikan kesan rapuh sekaligus tegar. Tanpa suara, Subosito memberi isyarat agar gadis itu masuk, namun Larasati menggeleng pelan.
"Udara di dalam terlalu pengap oleh bekas aura naga itu, Sura," bisik Larasati. "Mari kita bicara di taman. Lampion di sana cukup terang bagi mereka yang memiliki mata, dan kesunyian di sana cukup luas bagi kita yang memiliki beban!"
Subosito mengangguk, lalu mengikuti Larasati menuju sebuah gubuk kecil di tengah taman penginapan yang rimbun oleh pohon kamboja. Di bawah naungan atap ilalang dan diterangi oleh cahaya lampion kuning yang bergoyang ditiup angin malam, mereka duduk saling berhadapan. Suara jangkrik menjadi musik latar bagi pertemuan yang terasa begitu berat.
Larasati meletakkan tongkat cendananya di samping paha. Gadis buta itu menengadahkan wajahnya ke arah langit malam, meski matanya yang berselaput putih tak mampu menangkap gemerlap bintang.
"Kau melihat simbol itu di hulu cambuk Suro Geni tadi siang, bukan?" tanya Larasati secara tiba-tiba. Suaranya datar, namun ada getaran kesedihan yang terserap di dalamnya.
Subosito mengangguk pelan, lupa sejenak bahwa Larasati tak bisa melihatnya. Namun, gadis itu seolah merasakan gerakan kepala Subosito.
"Gagak berantai," lanjut Larasati. "Simbol dari Organisasi Sayap Hitam . Mereka bukan sekadar pembunuh bayaran; mereka adalah bayangan yang menghapus garis keturunan. Dan belasan tahun yang lalu, mereka menghapus garis keturunanku!"
Larasati terdiam sejenak, jemarinya meraba permukaan meja kayu yang kasar. "Namaku yang sebenarnya bukanlah Larasati. Aku adalah putri tunggal dari keluarga bangsawan di wilayah pinggiran Kadipaten. Ayahku adalah seorang bendahara yang jujur, terlalu jujur bagi dunia yang penuh dengan ular seperti Patih Mangkubumi. Suatu malam, ketika aku masih berumur tujuh tahun, aroma melati di rumah kami berubah menjadi bau anyir darah dan belerang!"
Subosito tertegun mendengarkan dengan seluruh jiwa, merasakan setiap kepedihan yang mengalir dari kata-kata gadis itu.
"Sayap Hitam datang tanpa suara. Mereka membantai semua orang. Pelayan, penjaga, bibi, paman..., bahkan ayah dan ibuku di depan mataku sendiri. Aku masih bisa mendengar suara tebasan pedang itu di dalam mimpiku hingga hari ini. Mereka ingin tidak ada satupun saksi yang tersisa. Saat itu, aku bersembunyi di dalam lemari kayu yang gelap, menggigit tanganku sendiri hingga berdarah agar tidak berteriak!"
Larasati menarik napas dalam, seolah sedang menghirup kembali udara malam yang sesak saat peristiwa itu terjadi.
"Namun, saat pemimpin mereka menemukanku dan mengangkat pedangnya, sebuah cahaya muncul. Bukan cahaya emas sepertimu, tapi sebuah pendaran ungu yang tenang namun mematikan. Seorang pria tua dengan jubah abu-abu muncul dari kegelapan. Dia mengalahkan para pembunuh itu dengan satu kibasan tangan. Dialah yang menyelamatkanku dari maut malam itu!"
Subosito menajamkan pendengarannya. Nama pria itu sudah di ujung lidahnya.
“Pria itu adalah Resi Bhaskara ,” ucap Larasati.
DEGH!
Mendengar nama itu, Subosito tersentak hebat. Tubuhnya menegang, dan secara tidak sadar, aura panas tipis keluar dari telapak tangan. Resi Bhaskara? Gurunya? Orang yang melatihnya di lereng Lawu dengan penuh ketegasan ternyata adalah penyelamat gadis ini?
Larasati seolah merasakan gejolak energi di depan tubuhnya. "Ya, gurumu. Dia membawaku pergi dari rumahku yang terbakar. Dia bilang, dunia luar terlalu berbahaya bagi seorang yatim piatu yang buta—karena saat itu, mataku baru saja kehilangan penglihatannya akibat trauma dan asap belerang. Karena dia merasa tidak bisa membawaku terus dalam perjalanannya yang penuh rahasia, dia menitipkanku di sebuah tempat yang dia anggap paling aman. Sebuah tempat tersembunyi yang penuh oleh para pendekar muda pilihannya!"
Larasati menundukkan kepala, suaranya kini semakin parau. "Dia menitipkanku di Padepokan Gagak Hitam!"
Mata Subosito membelalak. Dunia seakan berhenti berputar. Padepokan Gagak Hitam adalah tempat yang dibakar oleh Subosito dengan api garuda miliknya, tetapi, Subosito tak pernah melihat Larasati di sana.
“Aku berada di paviliun belakang, di bagian yang terlindungi karena kondisiku,” Larasati menjelaskan seolah bisa membaca kebingungan Subosito. "Resi Bhaskara memintaku untuk tetap di sana, belajar tentang meditasi dan energi batin, terpisah dari murid-murid lainnya. Aku hidup dalam kesunyian yang damai selama beberapa tahun..., hingga malam terkutuk itu datang!"
Larasati mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah mana dia mengira wajah Subosito berada.
"Malam ketika 'Setan Api' mengamuk. Malam ketika api raksasa berwarna emas jatuh dari langit dan melahap seluruh padepokan. Aku mendengar kabar saudara-saudaraku yang terbakar. Aku merasakan panas yang begitu hebat hingga pakaianku nyaris menyatu dengan kulitku. Aku berhasil melarikan diri melalui parit air, melewati semak belukar bangunan yang saat itu runtuh menjadi abu. Padepokan itu, rumah keduaku, habis tak tersisa oleh api Garuda!"
Hening yang luar biasa menggelayut di gubuk itu. Subosito merasa seolah jantungnya diremas oleh tangan raksasa. Rasa bersalah yang selama ini coba dia kubur, kembali meledak di dalam dada. Dia tidak tahu, dia benar-benar tidak tahu bahwa ada seorang gadis kecil buta yang juga menjadi korban dari ledakan kekuatan yang tak terkendali saat dirinya kehilangan kesadaran di malam itu.
Selama ini Subosito merasa sebagai korban karena dikhianati Resi Bhaskara dan Mangkubumi, namun ternyata, dirinya juga adalah pelaku yang membuat hidup seseorang yang ada di depannya sengsara.
Larasati melanjutkan ceritanya, suaranya kini lebih tenang, namun penuh dengan keteguhan. "Aku menjadi pelarian yang hidup dalam pengungsian. Aku berpindah dari satu desa ke desa lain, menggunakan kemampuan batinku untuk bertahan hidup, hingga aku mendengar tentang Sayembara Jagat Raya. Aku ikut bukan untuk gelar Panglima, Sura. Aku ikut karena aku ingin mencari keadilan. Aku ingin tahu kenapa keluarga bangsawan sepertiku harus dibantai, dan kenapa Resi Bhaskara membiarkan padepokannya hancur. Dan yang terpenting, aku ingin bertemu dengan pemilik api itu!"
Subosito masih mengingat kebisuannya, perlahan air mata menetes diwajahnya. Pemuda itu ingin bicara, ingin berteriak bahwa dirinya sangat menyesal, namun sumpah bisunya dan beban identitasnya dipertahankan.
"Aku tahu kau adalah pemilik api itu, Subosito," bisik Larasati. Kali ini, gadis buta itu memanggil nama aslinya. "Sejak awal kita bertemu di kapal, warnamu sudah menceritakan segalanya kepadaku. Aku tidak membencimu. Aku melihat bahwa api itu bukan berasal dari kebencianmu, melainkan dari penderitaan yang tak mampu kau bedung!"
Subosito gemetar, dirinya tidak menyangka Larasati sudah tahu segalanya, namun tetap bersedia menjadi kawannya di Hutan Larangan dan di atas danau. Kebaikan hati gadis ini terasa lebih menyakitkan daripada serangan pedang Kala Dirja.
Lampion di taman mulai meredup, namun cahaya diantara mereka justru semakin terang. Subosito meraih sebuah kayu yang patah di dekat kakinya. Dengan tangan yang gemetar, pemuda itu mulai menggoreskan sesuatu di tanah berpasir di bawah gubuk itu, yang mungkin saja akan mengungkapkan isi hatinya.
Asal usul Larasati telah terungkap, mengikat takdirnya dengan Subosito dalam simpul masa lalu yang penuh darah dan api. Namun, pengakuan ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar.
Di luar sana, Organisasi Sayap Hitam mulai menyadari bahwa salah satu mangsa mereka masih hidup dan kini sedang berjuang di dalam istana Majapahit. Mampukah Subosito melindungi Larasati dari bayang-bayang masa lalunya, sementara dirinya sendiri harus berhadapan dengan babak sayembara yang mungkin saja akan mempertemukannya dengan Kala Dirja?
Jangan lewatkan kelanjutan kisahnya dalam Subosito.