NovelToon NovelToon
Munajat Cinta

Munajat Cinta

Status: tamat
Genre:Spiritual / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:65.4k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

EDISI SPESIAL RAMADHAN

Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.

Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.

Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.

Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Status Suami Tapi Rasa Bujang

Sore itu sebelum kegiatan ekstrakurikuler dimulai, Gus Azlan memberikan arahan singkat di depan para asatidz dan ustadzah di aula kecil, suasana nampak serius karena membahas tentang integritas pengajar.

"Saudara-saudaraku sekalian." suara Gus Azlan menggema dengan mantap.

"Mengajar bukan hanya soal mentransfer teks dari kitab ke otak santri, tapi tentang hal (keadaan batin). Jika batin kita tidak tenang, jika kita menyimpan kebencian atau ketidakjujuran maka ilmu itu tidak akan barakah." ujar Gus Azlan.

Ia terdiam sejenak dan matanya menyapu ruangan dan berhenti selama dua detik tepat di posisi Zunaira duduk.

"Imam Al-Ghazali pernah berpesan, bahwa salah satu bentuk kejujuran tertinggi adalah menjaga rahasia yang diamanahkan Allah padamu. Maka marilah kita menjadi pribadi yang amanah, baik dalam tugas pesantren maupun dalam urusan pribadi yang hanya diketahui oleh-Nya." ucapnya lagi.

Zunaira menunduk, ia tahu pesan itu khusus untuknya yaitu sebuah penguat agar ia tidak goyah menghadapi tatapan sinis rekan kerja atau intimidasi halus yang mungkin masih dikirimkan oleh pihak luar.

Pertemuan pertama mereka sebagai suami istri di hari kerja itu ditutup dengan sebuah kebetulan yang manis.

Saat semua orang sudah meninggalkan aula, Gus Azlan tertinggal di depan pintu karena tali sepatunya lepas, Zunaira yang berjalan paling belakang melewati pintu itu.

Gus Azlan mendongak dan memastikan tidak ada orang di sekitarnya.

"Zunaira." panggil Gus Azlan pelan.

Zunaira berhenti karena panggilan tersebut, dan melihat sekilas kearah sang suami sambil melihat sekeliling takut ada orang.

"Terima kasih untuk hari ini, melihatmu di kantor tadi membuat semua bebanku terasa ringan. Besok pagi aku akan titipkan sesuatu lewat santri kecil kelas satu, jangan kaget ya." sahut Gus Azlan.

"Nggih Mas, hati-hati di jalan pulang ke ndalem." balas Zunaira dengan lembut.

Zunaira melanjutkan langkahnya menuju asrama dengan perasaan membumbung.

Meskipun mereka belum bisa bergandengan tangan, meskipun kata sayang harus dibisikkan di antara tumpukan berkas kurikulum, Zunaira menyadari satu hal yaitu cinta yang dirahasiakan ini justru membuat setiap detiknya menjadi lebih berharga.

Kesabaran ini adalah madu yang akan terasa manis pada waktunya dan akan juga indah pada waktunya pula.

Malam itu di kamarnya, ia membuka kembali Kitab Tafsir maharnya, ia membaca ayat demi ayat dan menyadari bahwa kini ia belajar bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk menjadi pendamping yang sepadan bagi Gus Azlan.

...****************...

Matahari baru saja naik sepenggalah, menyapu embun yang masih tertinggal di pucuk-pucuk daun sawo di halaman madrasah.

Zunaira sedang sibuk merapikan buku absen di teras kelas ketika seorang santri cilik bernama Faiz mendekat dengan langkah ragu-ragu.

Faiz adalah santri kelas satu ibtidaiyah yang dikenal sangat pemalu, namun pagi ini wajahnya nampak serius seolah membawa misi kenegaraan.

"Ustadzah Zu." panggil Faiz lirih sambil menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada ustadz lain yang memperhatikan.

Zunaira berjongkok agar sejajar dengan tinggi santri itu sambil bertanya kenapa dia memanggil.

"Iya, Faiz? Ada apa? Mau minta izin tidak masuk kelas?" tanya Zunaira.

Faiz menggeleng cepat, ia merogoh saku seragamnya yang agak kebesaran dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi susu kurma dingin dan selembar kertas yang dilipat kecil sekali.

"Tadi... tadi saya ketemu Gus Azlan di depan kantor asrama putra dan katanya ini kitab suplemen buat Ustadzah supaya tidak ngantuk waktu ngajar Nahwu." ujar santri cilik itu.

Jantung Zunaira berdesir, ia menerima titipan itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Terima kasih ya Faiz, ini... Gus Azlan bilang apa lagi?" tanya Zunaira.

"Katanya, 'bilang sama Ustadzah, jangan lupa baca catatan di halaman terakhir'. Sudah itu saja Ustadzah. Faiz mau lari, nanti telat masuk kelas ustadz Khalid!" Tanpa menunggu jawaban bocah itu melesat pergi dan meninggalkan Zunaira dengan rona merah yang perlahan menjalar di pipinya.

Zunaira segera masuk ke dalam kelas yang masih kosong, ia membuka lipatan kertas itu.

Tidak ada kalimat romantis yang gamblang melainkan sebuah kutipan ayat dan sandi yang hanya mereka berdua yang tahu maknanya.

"Dan Dialah yang menyatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)..." (QS. Al-Anfal: 63)*

Z, suplemennya diminum ya, jangan sampai telat makan siang seperti kemarin.

"Aku melihatmu dari jendela kantor saat jam istirahat tadi, kau nampak pucat, ingat kesehatanmu bukan lagi milikmu sendiri sekarang. Ada kita yang harus dijaga."

Zunaira mendekap kertas itu di dadanya, perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.

Menjadi istri rahasia ternyata melahirkan sensasi yang luar biasa unik tapi setiap perhatian kecil terasa seperti anugerah besar karena harus diperjuangkan di balik tirai kerahasiaan.

Di kediaman utama, Gus Azlan baru saja menyelesaikan koordinasi dengan para pengurus pondok.

Ia duduk di teras samping, tempat favoritnya untuk menjernihkan pikiran dan tak lama kemudian Naura, keponakannya yang mungil datang berlari sambil membawa buku mewarnai.

"Paman Azlan! Paman tadi kasih susu ya buat Ustadzah Zu?" Naura bertanya dengan suara nyaring, membuat Gus Azlan hampir tersedak kopi hijaunya.

"Sstt... Naura, suaranya jangan kencang-kencang." Gus Azlan meletakkan jari telunjuk di bibir.

Gus Haidar yang baru saja kembali dari kebun pun tertawa melihat adiknya yang nampak panik, ia duduk di kursi kayu panjang di samping Gus Azlan, sementara Naura asyik mewarnai di lantai.

"Lan, kamu ini seperti intelijen saja pakai kurir santri cilik segala." goda Gus Haidar.

"Tapi ingat, santri itu punya mata dan telinga di mana-mana. Semakin kamu sering menitipkan sesuatu, semakin besar risiko mereka bertanya-tanya." lanjutnya Gus Haidar memperingati sang adik.

Azlan menghela napas, wajahnya berubah serius.

"Aku tahu, Mas. Tapi melihat Zunaira yang harus berpura-pura asing denganku di depan umum, hatiku rasanya perih. Kemarin saja, saat dia hampir tersandung di tangga kantor kurikulum dan aku refleks ingin menangkapnya tapi untung ada Ustadzah Sarah di dekatnya, jadi aku harus menahan diri dan hanya bertanya 'Ustadzah tidak apa-apa?' dengan nada sedingin mungkin." seru Gus Azlan.

Haidar menepuk pundak adiknya karena merasa kasihan juga dengan sang adik, status saja sudah suami tapi rasanya masih saja bujang.

"Itu seninya Lan, Allah sedang melatih sabarmu. Rasulullah pun dulu merahasiakan dakwahnya di awal-awal untuk strategi, anggap saja ini strategi untuk melindungi Zunaira dari lidah-lidah tajam yang mungkin belum siap menerima kenyataan ini." seru Gus Haidar.

Tiba-tiba Ning Arifa muncul dari balik pintu dengan gaya cerianya yang khas.

"Mas Azlan! Tadi Arifa lewat asrama ustadzah terus lihat Ustadzah Zu lagi minum susu kurma sambil senyum-senyum sendiri di meja kerjanya. Wah, kayaknya suplemen dari Mas manjur banget ya?" seru gadis remaja itu.

Azlan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang senang sekali menggodanya.

"Arifa tolong ya jaga Mbak iparmu itu, jangan sampai dia merasa tertekan karena harus berbohong terus." ujar Gus Azlan.

"Siap, Mas! Tenang saja, Arifa sudah jadi tameng nomor satu buat Mbak Zu, eh maksudnya Ustadzah Zu." Arifa memberi hormat ala tentara dan membuat Naura ikut tertawa tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan orang-orang dewasa di sekitarnya.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
Lala_Syalala: yukkk mampir baca kak🙏😊😊
total 1 replies
Rahma Inayah
Alhamdulillah dr awal bc tnp ada tabung bab Thor .
tiara
Alhamdulillah sudah baca dari awal sampai akhir ceritanya
Supryatin 123
Alhamdulillah saya sudah baca sampai akhir cerita semoga ada bonchapnya thorr lnjut thor 💪💪
Kasih Bonda
Alhamdulillah sudah baca awal sampai akhir
Nengsih Irawati
Alhamdulillah sudah baca dari awal hingga akhir,,, ceritanya saya suka meskipun tidak tau keadaan pondok dalam kehidupan nyata karena saya belum pernah mondok di pesantren,,,, makasih atas ceritanya 🥰 semangat
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
semoga menjadi umroh yg mabrur aamiin
Rahma Inayah
hanya Allah tempat kita memintah dan mohon pertolongan Krn tujan Zu utk ibadah maka Allah mengangkat segala sakit yg km raskan sehingga km bisa khusyuk beribadah .Zu ibarat perisai Al Anwar istilah kata klu Zu GK GK ada SM dgn kaki hilang sebelah mka akan ssh berjaln
Nurgusnawati Nunung
bagus.
Nurgusnawati Nunung
lanjut thor. ceritanya bagus. semangat
Nengsih Irawati
lanjut 🥰
Rahma Inayah
lanjut Thor
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah... akhirnya bebas.. lepas.. hehehe
Supryatin 123
semoga ibadah umrohnya berjalan lancar.semoga mereka selalu dalam lindunganNYA amiinn🤲🤲 lnjut thor 💪💪
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪❤️❤️❤️
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Nengsih Irawati
lanjut 🥰
Rahma Inayah
dokter pribadi yg posesif dan jg penaybr dan penyayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!