NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 – Ujian Pertama Sistem

Pagi itu, suasana warung terasa berbeda.

Bukan karena jumlah pelanggan.

Bukan karena proyek jalan.

Melainkan karena sebuah keputusan harus segera diambil.

Pesanan untuk seratus peserta pelatihan di kantor kecamatan masih menunggu jawaban.

Dan tenggat waktu yang diberikan Pak Arif tinggal satu hari lagi.

Untuk pertama kalinya sejak menerima tawaran tersebut, Arga memutuskan berhenti menghitung kemungkinan.

Ia membutuhkan data nyata.

Bukan perkiraan.

Bukan asumsi.

Bukan perasaan.

Data.

Saat membantu menata rak minuman, ia memanggil Maya.

"Maya."

"Hm?"

"Kamu masih ingat saranmu kemarin?"

Maya mengangkat alis.

"Saran yang mana?"

"Tes."

Mata Maya langsung berbinar.

"Oh."

"Akhirnya."

Arga tertawa kecil.

"Kamu senang sekali."

"Karena dari kemarin kamu hanya berpikir."

"Itu namanya perencanaan."

"Itu namanya kebanyakan berpikir."

Jawaban itu membuat Arga menggeleng sambil tersenyum.

Namun kali ini ia tidak membantah.

Karena memang benar.

Sudah waktunya menguji kemampuan mereka secara langsung.

Siang harinya, setelah pelanggan mulai berkurang, Arga mengumpulkan semua orang di dapur.

Bukan rapat panjang seperti biasanya.

Hanya penjelasan singkat.

"Aku ingin mencoba simulasi."

Ayahnya langsung terlihat penasaran.

"Simulasi apa?"

"Pesanan besar."

Bu Rina dan ibunya saling berpandangan.

Sementara Maya langsung mengangguk seolah sudah mengetahui arah pembicaraan.

Arga menjelaskan rencananya.

Besok pagi mereka akan mencoba memproduksi lima puluh paket dalam waktu terbatas.

Bukan untuk dijual.

Bukan untuk acara.

Hanya untuk mengukur kemampuan mereka.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Di mana hambatannya.

Dan apa yang perlu diperbaiki.

Semakin lama mendengar, semakin semua orang memahami maksudnya.

"Itu masuk akal."

Ayahnya akhirnya mengangguk.

"Daripada menerima pesanan lalu panik."

Arga tersenyum.

Itulah tujuan sebenarnya.

Ia tidak takut bekerja keras.

Ia takut gagal karena tidak siap.

Keesokan harinya, simulasi dimulai.

Jam enam pagi.

Bahkan sebelum pelanggan pertama datang.

Dapur sudah sibuk.

Ibunya fokus pada proses penggorengan.

Bu Rina membantu menyiapkan bahan.

Maya bertugas mengemas.

Sedangkan Arga mencatat waktu dan alur kerja.

Awalnya semuanya berjalan lancar.

Namun setelah tiga puluh menit, masalah mulai muncul.

Minyak goreng harus diganti lebih cepat.

Kemasan mulai menumpuk.

Dan meja kerja terasa terlalu sempit.

"Aduh."

Maya hampir menjatuhkan satu tumpukan kemasan.

"Maaf."

"Tidak apa-apa."

Jawab Arga.

Justru inilah yang ingin ia lihat.

Masalah.

Karena masalah yang muncul saat simulasi jauh lebih murah dibanding masalah saat acara sungguhan.

Satu jam kemudian, mereka akhirnya menyelesaikan target lima puluh paket.

Namun hasilnya tidak sempurna.

Sangat jauh dari sempurna.

Semua terlihat lelah.

Dapur berantakan.

Dan waktu yang dibutuhkan lebih lama dari perkiraan.

Setelah semuanya selesai, Arga menulis beberapa poin di buku catatannya.

Hambatan pertama: ruang kerja sempit.

Hambatan kedua: proses pengemasan lambat.

Hambatan ketiga: koordinasi belum rapi.

Melihat daftar tersebut, ayahnya menghela napas.

"Kalau seratus paket?"

"Makanya kita melakukan ini."

Jawab Arga.

Karena sekarang mereka mengetahui masalah sebenarnya.

Bukan menebak-nebak.

Menjelang siang, saat simulasi selesai dan warung kembali melayani pelanggan biasa, sebuah kejadian menarik terjadi.

Rudi datang.

Seperti biasa untuk mengambil laporan penjualan gorengan.

Namun kali ini ia menemukan dapur yang masih sedikit kacau.

"Ada perang?"

Tanya Rudi sambil tertawa.

Maya langsung menunjuk Arga.

"Salah dia."

"Aku?"

"Kami dipaksa simulasi."

Arga menggeleng.

"Jangan dengarkan dia."

Setelah mendengar penjelasan lengkap, Rudi justru terlihat terkesan.

"Kalian benar-benar melakukannya?"

"Iya."

Rudi mengangguk pelan.

"Lalu hasilnya?"

Arga menunjukkan catatannya.

Pria itu membaca beberapa menit.

Kemudian tersenyum.

"Bagus."

Ayah Arga mengangkat alis.

"Bagus?"

"Karena kalian menemukan masalah."

Jawaban itu membuat semua orang terdiam.

Rudi melanjutkan.

"Orang sering menganggap simulasi yang bagus adalah simulasi tanpa masalah."

"Itu salah."

"Lalu?"

"Simulasi yang bagus adalah simulasi yang menunjukkan masalah sebelum pelanggan menemukannya."

Kalimat itu langsung ditulis Arga di buku catatannya.

Karena memang benar.

Hari ini mereka menemukan banyak kelemahan.

Namun justru itulah nilai sebenarnya.

Sore harinya, Arga mulai menghitung ulang.

Dengan beberapa perbaikan sederhana, mereka mungkin bisa menangani seratus paket.

Bukan dengan mudah.

Tetapi memungkinkan.

Saat sedang menghitung, Maya duduk di sampingnya.

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Kita ambil pesanan itu atau tidak?"

Untuk beberapa detik, Arga tidak menjawab.

Kemudian ia menutup buku catatannya.

"Menurutmu?"

Maya terlihat berpikir.

"Kemarin aku bilang harus dites."

"Lalu?"

"Sekarang sudah dites."

Arga mengangguk.

"Dan?"

"Menurutku kita bisa."

Jawaban itu keluar tanpa ragu.

Untuk pertama kalinya sejak bergabung di warung, Maya terdengar sangat yakin.

"Aku juga berpikir begitu."

Kata Arga.

Bukan karena semuanya sempurna.

Justru karena mereka tahu apa yang belum sempurna.

Dan bisa memperbaikinya.

Malam harinya, Pak Arif menelepon.

Tepat ketika warung hampir tutup.

Arga yang mengangkat telepon.

"Halo?"

"Arga?"

"Ya, Pak."

"Maaf mengganggu malam-malam."

"Tidak apa-apa."

Pak Arif terdengar sedikit terburu-buru.

"Panitia membutuhkan jawaban besok pagi."

Arga menarik napas pelan.

Momen yang ditunggu akhirnya tiba.

Di hadapannya, ayah, ibu, Bu Rina, dan Maya memperhatikan dengan tegang.

Semua menunggu jawabannya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Arga selalu berusaha menghindari keputusan gegabah.

Namun ia juga belajar bahwa ada saat di mana seseorang harus melangkah.

Dan saat itu telah tiba.

"Kami menerima pesanan tersebut."

Beberapa detik hening.

Kemudian suara Pak Arif terdengar lega.

"Syukurlah."

"Kami akan bertemu besok untuk membahas detailnya."

"Baik, Pak."

Telepon ditutup.

Dan untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

Lalu Maya yang pertama memecah keheningan.

"Kita benar-benar melakukannya."

Ayah Arga tertawa.

Ibunya terlihat gugup.

Bu Rina justru tampak bersemangat.

Sementara Arga hanya tersenyum tipis.

Karena ia tahu.

Keputusan menerima pesanan bukan akhir dari masalah.

Justru awal.

Malam semakin larut.

Setelah semua orang masuk ke rumah, Arga masih duduk sendirian di depan warung.

Lampu proyek masih terlihat di kejauhan.

Suara mesin terdengar samar.

Ia membuka buku catatannya sekali lagi.

Lalu menulis:

Pesanan Pelatihan Kecamatan

100 peserta

2 hari

Tenggat minggu depan

Kemudian di bawahnya ia menulis kalimat lain.

Ini bukan ujian dapur.

Arga berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan.

Ini ujian sistem yang sudah kami bangun selama berbulan-bulan.

Karena itulah kenyataannya.

Selama ini mereka memperbaiki pencatatan.

Mengatur produksi.

Membagi tugas.

Membangun kebiasaan kerja.

Sekarang semua itu akan diuji dalam kondisi nyata.

Dan hasilnya akan menentukan satu hal penting.

Apakah warung kecil keluarga mereka benar-benar siap naik ke tingkat berikutnya.

Atau mereka masih harus belajar lebih banyak sebelum menghadapi peluang yang lebih besar.

Arga menutup buku catatannya.

Lalu menatap jalan yang perlahan berubah bersama perkembangan kawasan tersebut.

Perubahan besar memang masih menunggu di masa depan.

Ruko baru.

Pasar modern.

Persaingan yang lebih ketat.

Namun untuk saat ini, fokusnya hanya satu.

Membuktikan bahwa usaha kecil mereka mampu menghadapi tantangan yang lebih besar dari sebelumnya.

Bersambung...

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!