NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IRIK

RS Harapan Bunda..

 Pak Soerya melangkah cepat menyusuri koridor panjang menuju ruang operasi, sepatu pantofelnya berdecit di lantai. Wajahnya pucat, tangannya menggenggam ponsel erat-erat, dan napasnya memburu seperti orang yang baru saja berlari maraton.

Meysa berjalan beberapa langkah di belakangnya, kakinya terasa berat dan ringan sekaligus. Berat karena dadanya sesak oleh firasat buruk.

"Ayah, Rangga kenapa?" tanya Meysa dengan nada khawatir.

Pak Soerya tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan menuju pintu ruang operasi yang dijaga ketat oleh dua perawat.

Ketika mereka tiba di depan ruang tunggu, terlihat Renal yang sedang duduk menatap kearah pintu ruang operasi.

"Renal, bagaimana dengan keadaan Rangga?" tanya pak Soerya

Bukannya malah menjawab, Renal melihat sosok di belakang Pak Soerya.

"Om, ini... bukannya dia pembantunya Rangga ya?" tanya Renal, jarinya menunjuk ke arah Meysa."Kok dia ikut ke sini?"

Pak Soerya menoleh, alisnya bertaut. "Pembantu? Maksud kamu siapa, Renal?"

Renal bingung. Ia menunjuk Meysa."Ya dia, Om. Meysa. Bukankah dia pembantu yang Om rekrut buat bersihin apartemen Rangga?"

Renal masih menatap Meysa dengan tatapan penuh tanya. Ia hendak bertanya, tapi tertahan ketika sebuah bunyi klik dari pintu ruang operasi membuat semua orang menoleh.

Pintu terbuka perlahan, dan seorang dokter dengan jas operasi masih berlumuran noda merah keluar dengan ekspresi serius. Maskernya sudah diturunkan ke dagu, tapi sarung tangan karetnya masih terpasang, tanda bahwa proses operasi belum benar-benar selesai.

"Selamat malam. Bapak keluarga pasien?" tanya dokter pada Pak Soerya yang langsung berdiri dari kursi.

"Iya, Dok. Saya ayahnya. Bagaimana keadaan anak saya?" suara Pak Soerya bergetar, tidak seperti biasanya yang tegas dan penuh wewenang.

Dokter itu menarik napas sejenak. "Pasien mengalami pendarahan internal di bagian kepala. Kami sudah berusaha menghentikannya, tapi ada beberapa gumpalan darah yang menekan saraf. Kondisinya kritis, Pak. Untuk sementara, kami mengizinkan satu orang keluarga masuk untuk melihat beliau."

Pak Soerya mengangguk cepat. "Saya, Dok. Saya yang masuk." Ia menoleh sekilas ke arah Meysa, lalu mengikuti dokter masuk ke dalam ruang operasi. Pintu tertutup kembali, menyisakan Renal dan Meysa di ruang tunggu yang sunyi.

Renal duduk kembali, tapi matanya tidak lepas dari Meysa. Keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa detik,

"Meysa."

Gadis itu menoleh.

"Lo harus jelasin sekarang," kata Renal, nada bicaranya penuh dengan tekanan."Sebenarnya ada apa hubungan apa, antara lo sama si Rangga?"

Meysa menggigit bibirnya, ia enggan untuk berbicara karena takut Renal membocorkan berita tentang pernikahannya pada semua orang, terlebih saat di kampus..

Meysa menghela napas berat,"Sebenarnya kita berdua udah nikah." tutur Meysa."Tapii, Mas Renal jangan bilang siapa-siapa tentang pernikahan ini, karena kami berduapun tidak menginginkannya. Hanya saja Ayah Soerya terus memaksa kam!'

Mata Renal membelalak. "APA?" Dengan suara lantang."Jadi kalian udah nikah? Sejak kapan? Kok gue nggak pernah—"

"Pernikahan kami menginjak satu bulan setengah." lanjut Meysa. "Tapi tolong, Mas Renal, jangan bilang siapa-siapa termasuk Mas Rangga sendiri."

Renal masih terdiam. Mulutnya terbuka, hendak berkata sesuatu, tapi kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokan. Ia menatap Meysa dengan pandangan yang sulit diartikan antara terkejut, bingung, dan ada sedikit rasa bersalah karena selama ini ia mengira perempuan sederhana di depannya hanyalah pembantu.

"Jadi selama ini..." Renal mengerutkan kedua alisnya."Jadi...Rangga bohong soal Lo pembantunya? Padahal gue sahabatnya Rangga dari SMA kenapa dia harus menutupi itu dari gue?"

Meysa tersenyum pahit. "Karena Rangga tidak mau orang lain tahu status kita, terlebih dikampus yang notabennya dia adalah idola semua perempuan!"

"Tapi—"

Pintu ruang operasi terbuka dengan suara berdecit..

Pak Soerya keluar lebih dulu. Di belakangnya, dua perawat mendorong brangkar dengan hati-hati, diikuti oleh dokter yang masih memegang lembaran catatan medis.

Rangga terbaring di atas brangkar itu. Tubuhnya tampak lemah, pucat pasi, dengan perban melilit di kepalanya. Matanya terpejam. Beberapa selang infus menjulur dari tangan kirinya, terhubung ke kantong cairan bening yang bergantungan di tiang besi.

"Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap," ucap dokter sambil memeriksa tekanan darah Rangga. "Operasi berjalan dengan baik, tapi beliau masih dalam masa kritis. Kami harus memantau kondisinya selama dua puluh empat jam ke depan."

Pak Soerya mengangguk patuh, lalu menoleh pada Meysa dan Renal. "Ikut ke ruang rawat inap, kalian berdua."

Mereka berjalan mengikuti brangkar yang didorong perlahan menyusuri koridor panjang rumah sakit. Lampu-lampu di langit-langit terasa terlalu terang, silau, membuat Meysa harus mengerjapkan matanya beberapa kali.

Ruang rawat inap kelas satu itu dingin. AC menyala dengan suara dengungan pelan, dan aroma antiseptik menyengat di hidung.

Setelah Rangga dipindahkan ke tempat tidur yang lebih nyaman dan semua selang terpasang dengan benar, dokter dan perawat meninggalkan ruangan.

Pak Soerya duduk di kursi di samping tempat tidur Rangga, matanya tak lepas dari wajah anaknya. Lampu ruangan menyoroti garis-garis halus di wajah Rangga yang tampak tenang dalam ketidaksadarannya, tenang yang membuat Pak Soerya justru semakin takut.

"Kenapa kamu bisa seperti ini?" lirih Pak Soerya. Ia menggenggam erat tangan Rangga.

"Jangan tinggalkan Ayah, Rangga, "Ayah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Ayah sudah kehilangan ibumu. Ayah tidak bisa kehilangan kamu."

Renal yang duduk di kursi dekat pintu hanya bisa menunduk. Matanya terasa panas, dadanya sesak melihat pria sekokoh Pak Soerya hancur seperti ini.

*

Meysa keluar dari ruang rawat inap dengan langkah pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara yang bisa mengganggu. Kakinya membawanya keluar dari gedung utama, melewati halaman rumah sakit yang diterangi lampu taman temaram, menuju sebuah masjid kecil di sudut kompleks.

Masjid itu sunyi. Hanya ada seorang kakek tua yang sedang duduk di teras, memegang tasbih dan komat-kamit melantunkan doa.

Meysa mengambil air wudhu, lalu berdiri di saf shaf paling depan, menghadap kiblat.

Tangannya terangkat, lalu ia mulai berdoa.

"Ya Allah... Ya Rahman... Ya Rahim..." bisiknya. "Sembuhkanlah dia."

Ia sujud lama. Dahi dan kedua telapak tangannya menempel di lantai masjid yang dingin.

"Ampuni dosa-dosanya, Ya Allah. Ampuni kesalahannya. Dan jika Engkau berkehendak memanggilnya, aku tidak akan protes. Tapi jika masih ada kesempatan... jika masih Engkau izinkan dia melihat dunia lagi... tolong beri dia kesempatan untuk berubah."

1
Emi Sudiarni
kok sedikit bangat up ny
partini
lah Ternyata ada yg tidak suka sama mereka berdua,,jangan menyerah be strong maysa kalau kamu pergi tanda nya kamu kalah sama tuh curut
Humaira
Ya ampun Thor sedikit banget bacanya
Emi Sudiarni
makanya jdi suami jgn jhat..
partini
jahat banget sih di tendang,biar tuh sia Rangga hidup dalam penyesalan
MochiFlora: Terkutuklah kamu Rangga 🤣
total 1 replies
Emi Sudiarni
lanjutkan seru bngat
MochiFlora: Terima kasih kaka 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Bagus pak Soerya buat anakmu menyesal
Humaira
Lagi lagi dibikin keguguran
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Ranita Rani
mumet q liat cwe kya gini,,,,
Ranita Rani
karakter meysa terlalu lemah,,,
partini
WTF gila kamu. ga
Emi Sudiarni
emang kelewatan rangga ini
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
MochiFlora: Terima kasih sudah mampir kakak 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Sumpah gereget banget sama si Meysa
partini
giman mau di kasih tau orang nya aja najis lihat dia
Emi Sudiarni
lanjut kak seru ceritany
Emi Sudiarni
hadir kan kak author cwok yg naksir meysa biar rangga cmburu
Humaira
APASIH NGESELIN BANGET SI ULAT BULU EMILY 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!