NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Bayangan di Seberang Jalan

Almira berdiri membeku di samping Reynard.

Dari balik celah tirai, ia bisa melihat sosok pria yang berdiri di seberang jalan.

Tidak bergerak.

Tidak berjalan.

Tidak melakukan apa pun.

Hanya berdiri.

Dan entah kenapa, itu jauh lebih menyeramkan daripada jika pria itu mencoba mendobrak pintu rumah.

Karena orang yang diam biasanya memiliki tujuan.

"Apakah dia melihat kita?"

bisik Almira.

"Kurasa begitu."

jawab Reynard pelan.

"Itu bukan jawaban yang ingin kudengar."

"Percayalah. Aku juga."

Mereka terus memperhatikan.

Sementara di belakang mereka, suara pintu kamar terbuka pelan.

Dimas muncul.

Rambutnya berantakan.

Wajahnya menunjukkan bahwa ia baru saja terbangun.

"Ada apa?"

bisiknya.

Reynard menunjuk ke luar.

Dimas mendekat.

Mengintip dari balik tirai.

Lalu seluruh ekspresinya langsung berubah.

Pucat.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Almira melihat ketakutan yang benar-benar nyata di wajah Dimas.

"Kita harus pergi."

katanya cepat.

"Apa?"

"Kita harus pergi sekarang."

"Dimas."

suara Reynard menegang.

"Siapa dia?"

Dimas tidak langsung menjawab.

Dan itu justru membuat suasana semakin buruk.

"Dimas."

ulang Almira.

Pria itu menarik napas panjang.

Lalu berkata,

"Aku pernah melihatnya."

Hening.

"Di mana?"

"Setelah aku menemukan lokasi Aurora."

Jantung Almira langsung berdegup lebih cepat.

"Orang yang sama?"

Dimas mengangguk.

"Dia mengikuti aku selama beberapa hari."

"Dan?"

"Dan setelah itu seseorang mencoba membobol apartemenku."

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Karena mereka semua tahu apa arti kalimat tersebut.

Tidak ada perdebatan lagi.

Dalam waktu kurang dari lima menit mereka sudah siap meninggalkan rumah persembunyian.

Dokumen penting dimasukkan ke dalam tas.

Laptop diamankan.

Jejak yang mungkin tertinggal diperiksa.

Dan selama semua itu berlangsung, pria di seberang jalan tetap berdiri di tempatnya.

Seolah tahu mereka sedang memperhatikannya.

Seolah sengaja membiarkan dirinya terlihat.

"Aku membenci orang misterius."

gumam Almira.

"Padahal sekarang hidupmu penuh orang misterius."

jawab Reynard.

"Itulah sebabnya aku membencinya."

Mereka keluar melalui pintu belakang.

Berusaha tidak menarik perhatian.

Menyusuri gang kecil di antara rumah-rumah.

Udara malam terasa lembap.

Langit mendung tanpa bulan.

Lampu jalan yang redup membuat bayangan tampak lebih panjang dari biasanya.

Dimas memimpin jalan.

Namun langkahnya lebih cepat dibanding biasanya.

Lebih tegang.

Almira memperhatikan hal itu.

Dan semakin yakin bahwa pria di seberang jalan bukan ancaman biasa.

Setelah berjalan hampir sepuluh menit, mereka tiba di area parkir kecil yang tersembunyi di belakang deretan ruko kosong.

Sebuah mobil tua sudah menunggu.

Begitu mereka masuk, Dimas langsung menyalakan mesin.

Mobil bergerak meninggalkan kawasan tersebut.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit pertama.

Semua orang sibuk memperhatikan kaca spion.

Memastikan tidak ada yang mengikuti.

Sampai akhirnya Reynard memecah keheningan.

"Jelaskan."

katanya.

Dimas menghela napas.

"Aku tidak tahu namanya."

"Bagus."

gumam Almira.

"Kita kembali ke situasi normal."

"Tapi aku tahu dia bukan orang lapangan biasa."

lanjut Dimas.

"Maksudmu?"

"Aku pernah melihatnya bertemu seseorang."

"Seseorang siapa?"

Dimas terdiam.

Kemudian menjawab pelan.

"Salah satu nama yang ada dalam daftar Aurora."

Hening.

Itu informasi baru.

Dan cukup penting.

"Kamu yakin?"

tanya Reynard.

"Sangat."

"Lalu kenapa tidak memberitahu kami sebelumnya?"

"Karena aku tidak punya bukti."

Jawaban itu masuk akal.

Namun tetap membuat frustrasi.

Sekitar satu jam kemudian mereka tiba di sebuah apartemen milik teman lama Dimas yang sedang berada di luar negeri.

Tempat itu lebih aman.

Setidaknya untuk sementara.

Begitu masuk ke dalam unit apartemen, mereka akhirnya bisa bernapas sedikit lega.

Hanya sedikit.

Karena tidak ada yang benar-benar merasa aman lagi.

Pukul empat pagi.

Dimas tertidur lebih dulu.

Kelelahan akhirnya menang.

Namun Almira masih terjaga.

Ia berdiri di balkon apartemen.

Memandangi lampu-lampu kota yang mulai redup menjelang subuh.

Pikirannya kacau.

Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu singkat.

Aurora.

Dimas.

Ayah mereka.

Ancaman.

Pria misterius.

Dan semakin mereka mendekati jawaban, semakin besar risiko yang mereka hadapi.

"Kalau terus mengernyit seperti itu, kamu akan cepat tua."

suara Reynard terdengar dari belakang.

Almira tidak menoleh.

"Terima kasih atas nasihat yang sangat tidak berguna."

"Sama-sama."

Reynard berdiri di sampingnya.

Membawa dua gelas kopi.

Ia menyerahkan salah satunya.

Almira menerimanya tanpa protes.

Dan itu membuat Reynard tersenyum kecil.

"Aku baru sadar sesuatu."

katanya.

"Apa?"

"Kamu sudah berhenti menolak kopi dariku."

Almira langsung menoleh.

"Aku masih bisa melemparkannya kalau mau."

"Tapi tidak melakukannya."

"Belum."

"Itu kemajuan."

Almira memutar mata.

Namun diam-diam ia menyadari bahwa pria itu benar.

Beberapa bulan lalu, ia mungkin akan menolak hanya karena kopi itu diberikan oleh Reynard.

Sekarang?

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Dan itu sedikit menakutkan.

Mereka berdiri dalam diam beberapa saat.

Angin subuh bertiup pelan.

Suasana kota mulai berubah.

Tidak lagi malam.

Belum benar-benar pagi.

Momen di antara dua waktu.

Dan entah kenapa, suasana itu membuat percakapan mereka menjadi lebih jujur.

"Aku pernah membencimu."

kata Almira tiba-tiba.

Reynard tertawa.

"Pernah?"

"Baiklah. Sering."

"Itu lebih akurat."

"Aku serius."

"Aku juga."

Almira tersenyum tipis.

"Aku benar-benar tidak tahan melihatmu waktu pertama kali."

"Karena aku tampan dan sukses?"

"Karena kamu arogan."

"Itu juga benar."

Untuk sesaat mereka tertawa bersama.

Kemudian keheningan kembali datang.

Namun kali ini terasa nyaman.

Tidak memaksa.

Tidak canggung.

Dan untuk pertama kalinya, Almira mulai menyadari sesuatu.

Ia menikmati momen seperti ini.

Momen ketika tidak ada topeng.

Tidak ada rapat.

Tidak ada keluarga yang mendorong mereka bersama.

Hanya dirinya dan Reynard.

Sial.

Perasaan itu semakin mengganggu.

Sementara itu, Reynard diam-diam memperhatikan Almira.

Ia juga menyadari perubahan yang sama.

Dulu setiap percakapan dengan Almira terasa seperti medan perang.

Sekarang?

Ia justru mencari-cari alasan untuk berbicara dengannya.

Dan kesadaran itu membuatnya sedikit khawatir.

Karena ia tahu satu hal.

Mereka sedang berada di tengah situasi yang sangat berbahaya.

Waktu yang buruk untuk jatuh cinta.

Sangat buruk.

Namun hidup tampaknya tidak peduli pada waktu yang tepat.

Karena tepat ketika Reynard sedang memikirkan hal itu, Almira tersandung kaki kursi kecil yang ada di balkon.

"Hati-hati."

Refleks.

Reynard langsung menangkap pergelangan tangannya sebelum ia kehilangan keseimbangan.

Seketika.

Dunia terasa berhenti.

Bukan karena situasinya dramatis.

Melainkan karena mereka tiba-tiba menyadari betapa dekat jarak di antara mereka.

Sangat dekat.

Mata Almira bertemu dengan mata Reynard.

Dan selama beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Tidak ada candaan.

Tidak ada sindiran.

Hanya keheningan.

Keheningan yang aneh.

Dan berbahaya.

Karena keduanya sama-sama tahu bahwa sesuatu telah berubah.

Sebelum siapa pun sempat mengatakan apa pun, suara ponsel tiba-tiba berbunyi dari dalam apartemen.

Mereka langsung tersadar.

Reynard melepaskan tangannya.

Almira memalingkan wajah.

Dan keduanya berpura-pura bahwa momen barusan tidak terjadi.

Padahal jelas terjadi.

Sangat jelas.

Beberapa detik kemudian Dimas muncul dari ruang tamu sambil membawa ponsel.

Wajahnya tampak tegang.

"Seseorang mengirim email lagi."

katanya.

"Ancaman?"

tanya Reynard.

"Lebih buruk."

Dimas menyerahkan ponsel tersebut.

Almira membaca layar.

Lalu merasakan darahnya langsung berdesir dingin.

Karena email itu hanya berisi satu lampiran.

Sebuah foto lama.

Foto yang diambil sekitar dua puluh tahun lalu.

Di dalam foto itu terdapat beberapa orang yang berdiri bersama di depan sebuah bangunan.

Salah satunya adalah Arman Mahardika.

Salah satunya lagi adalah Pradipta Valencia.

Namun bukan itu yang membuat mereka membeku.

Karena di sisi paling kanan foto tersebut berdiri seorang pria yang sangat familiar.

Pria yang baru saja mereka lihat beberapa jam lalu.

Pria yang berdiri di seberang jalan.

Pria yang mengikuti Dimas.

Dan di belakang foto terdapat tulisan tangan yang sudah mulai pudar.

Pendiri Aurora — Tahun Pertama.

Ruangan mendadak sunyi.

Karena satu fakta baru saja menghantam mereka.

Pria misterius itu bukan anggota biasa.

Dia ada sejak awal.

Dan yang lebih mengerikan...

Arman dan Pradipta pernah berdiri di foto yang sama dengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!