"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Vaelor vs Zagred
Darah hitam menyembur dari dada Edwin. Tebasan Sulon meninggalkan efek terbakar suci yang mencegah daging Edwin beregenerasi.
"Ayahanda, aku menggunakan kekuatan Yggradasil yang murni hanya untuk membunuh Iblis. Kekuatanku adalah musuh terbesar Iblis." Raja Eldrin menjelaskan jika Edwin telah salah mengira tentang dirinya selama ini.
"Tiga nyawamu itu, aku akan membunuhnya juga!"
Raja Eldrin tidak berniat memberikan jeda kepada Edwin untuk bertindak. Sekarang ia bersiap melepaskan serangan selanjutnya.
"Spirit Sword - Sulon!"
"Verdant Purge!"
Sebuah cahaya berwarna ungu terlihat di udara, saat Raja Eldrin mengayunkan tangannya. Terlihat sebuah tebasan berkecepatan tinggi menghancurkan seluruh bangunan aula dan menghempaskan semua orang disana termasuk Vaelor dan Zagred yang sedang bertarung.
Tebasan itu memotong kepala Edwin dalam sekejap. Gelombang kejut yang tercipta dari tebasan itu menciptakan ledakan.
Saking cepat dan kuatnya serangan ini, Edwin dipaksa menghadapi realita jika dirinya bisa saja mati ditangan anaknya, karena sekarang jantung iblisnya tersisa tiga.
"Eldrin!" teriak Edwin yang kepalanya terpotong, namun masih bisa berteriak.
"Kekuatanmu itu sangat menjijikan!" Raja Eldrin berteriak sambil mengangkat tangan kirinya.
Busur Arcus ditangan kirinya memancarkan energi sihir yang mematikan, kemudian ia menyilangkan bilah cahaya Sulon di depan busur tersebut.
Raja Eldrin seperti membidik kepala Edwin, menyatukan kekuatan Arcus dan daya hancur Sulon menjadi satu anak panah tunggal yang berputar dinamis antara warna emas dan ungu.
Pertempuran tingkat tinggi ini baru saja mencapai titik puncaknya, di mana sang mantan raja yang perkasa kini mulai terdesak oleh sepasang senjata roh legendaris.
"Sekarang matilah dengan tenang, Ayahanda..." ucap Raja Eldrin dengan kedua mata yang menggenang.
Saat anak panah itu dilepaskan, tidak ada ledakan suara yang keras. Yang terjadi justru adalah fenomena aneh di mana ruang dan waktu di sekitar mereka seolah melambat. Anak panah tunggal itu membelah tiga jantung tersisa milik Edwin.
"Eldrin! Keparat!" teriak Edwin yang menyadari dirinya tidak dapat menghindari serangan tersebut.
Baru saja tubuhnya kembali menyatu, namun serangan itu terus melaju lurus, mengarah tepat ke tubuh Edwin yang kini melotot tidak percaya karena dirinya dikalahkan dengan begitu mudah.
Anak panah itu menembus tepat di tengah dada Edwin. Energi sihir yang besar dari Arcus dan Sulon menyebar di dalam tubuhnya seperti akar pohon cahaya.
Energi itu melesat cepat menghancurkan ketiga jantung iblis yang tersisa. Tiga jantung iblis itu meledak secara bersamaan dari dalam dagingnya.
Darah hitam menyembur dari mulut dan perut Edwin. Namun, tidak ada lagi proses regenerasi jahat. Untaian daging dan akar iblis yang sebelumnya menjahit lehernya mendadak layu, membusuk, dan rontok menjadi abu hitam. Tubuh Edwin limbung dan ambruk ke atas tanah, berlumuran darahnya sendiri.
"Ayahanda, terimakasih untuk kasih sayang kau berikan selama ini. Sekarang pergilah dengan tenang dan damai..." Raja Eldrin tidak dapat menahan air matanya saat melihat Edwin sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan dan dipastikan akan mati.
"Maafkan aku, Eldrin... Aku gagal melindungi Ibumu dan Istrimu... dan aku gagal... menjadi ayah yang baik untukmu..." ucap Edwin dengan suara yang serak dan bergetar, kehilangan semua keangkuhannya.
Raja Eldrin yang berdiri dihadapannya itu pun memegang tubuhnya yang tergeletak ditanah.
"Ayahanda..." Raja Eldrin tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Air matanya membasahi wajahnya dan wajah Edwin.
"Eldrin..." bisik Edwin dengan suara yang tersengal-sengal, "Aku merasa hampa sejak kematian Ibumu. Aku memandangi dunia dengan cara yang berbeda saat mereka kembali merenggut Istrimu..."
Raja Eldrin menggenggam tangan Edwin, sosok Ayah yang pernah menjadi panutannya.
"Kenapa Ayah menjual jiwamu kepada Iblis?! Aku tidak bisa memaafkanmu!"
Edwin tersenyum kecut dan air mata mulai membasahi diwajahnya yang renta. Edwin menatap langit malam. Pandangannya mulai kabur.
"Kau tidak tahu apa-apa!" tangis Edwin pecah, suaranya dipenuhi keputusasaan yang sangat menyayat hati. "Sistem dunia sihir ini... para Bangsawan dan Tetua Elf yang egois... mereka semua menutup mata! Kekaisaran Suci Luminous... manusia-manusia bajingan itu membantai istrimu... Dan ibumu, Eldrin! Mereka membakarnya hidup-hidup di Kekaisaran Suci Luminous hanya karena mereka seorang Elf!"
Tubuh Raja Eldrin gemetar. Dunianya terasa runtuh saat mengetahui kebenaran ini.
"Demi kedamaian kita harus mengalah. Kedamaian macam apa yang dibangun di atas abu kematian wanita yang kucintai?! Orang-orang yang kusayangi! Aku membenci sistem ini, Eldrin..." Edwin memegang erat tangan anaknya itu dan menyadari jika dirinya benar-benar putus asa.
"Aku ingin menghancurkan Kekaisaran Luminous, menghancurkan dunia sihir yang munafik ini, agar tidak ada lagi yang merasakan kehilangan seperti yang kurasakan ini..."
Suara nafasnya terdengar melemah. Edwin menatap wajah anaknya untuk sesaat. Eldrin menangis dan tidak dapat menahan air mata kesedihan yang ia pendam.
"Aku mempercayakan masa depan kerajaan ini padamu, anakku. Aku harap... Kau dapat menemukan jawaban yang berbeda dariku..." Suara Edwin terdengar semakin melemah dan pelan. Nyaris tidak terdengar.
Di detik-detik terakhirnya, bayangan mendiang istrinya, orang-orang terdekatnya dan istri dari Eldrin, seolah hadir tersenyum di antara kabut kematian.
Tangan Edwin yang gemetar perlahan jatuh ke tanah. Napas terakhirnya berhembus bersama dengan tangisan Raja Eldrin yang pecah.
Sang mantan raja, yang berubah menjadi monster karena dendam dan rasa cinta yang terlalu besar, akhirnya tewas dengan tenang.
Tubuhnya perlahan hancur menjadi partikel cahaya, kembali bersatu dengan tanah kerajaan Elf yang dulu sangat ia cintai.
Eldrin berdiri dalam keheningan, menundukkan kepalanya memberi penghormatan terakhir pada ayahnya.