Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 29 NGIDAM
Di dalam kamar lain, lebih tepatnya kamar Aline dan Erlangga suasana tampak sangat berbeda.
Mereka masih terjaga dan saling melirik satu sama lain, hanya keheningan yang menyelimuti di antara keduanya belum ada yang mau memulai percakapan.
Wajah Aline tampak ragu tapi dari binar matanya terlihat bahwa ia sangat menginginkan sesuatu. Hingga beberapa menit kemudian suaranya memecah keheningan itu.
"Erlangga..." panggil Aline pelan sambil menatap langit-langit kamar.
"Hmm! Kenapa?" tanya Erlangga.
Aline tampak masih ragu-ragu. Ia mencoba menghadap ke arah Erlangga menatap wajah suaminya dengan pandangan dalam, untuk pertama kalinya ia melihat secara visual suaminya dengan pandangan meneliti. Hidung mancung, bibir merah yang tidak pernah menyentuh rokok. Rahang yang tegas, tidak ada celah untuk wanita tidak mengangguminya. Pikir Aline.
Erlangga yang di tatap intens seperti itu, wajahnya langsung memerah sampai telinga. "A-ada apa?" tanyanya lagi suaranya sedikit gugup.
"Aku nggak bisa tidur... aku ingin kamu nyanyikan aku bintang kecil." pinta Aline tiba-tiba dengan nada suara yang terdengar manja dan mata berkedip-kedip lucu.
Seketika tubuh Erlangga menegang, yang awal wajahnya memerah karena tatapan intens dari Aline, tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi saat mendengar permintaan itu.
"Nyanyi..." Ia mengulang kalimat itu seolah tidak percaya. "Tapi aku tidak bisa Menyanyi."
"Ayolah... Erlangga, aku ingin sekali mendengar suara kamu." Aline memohon dengan menampilkan wajah sendu.
Erlangga menarik napas dalam-dalam saat melihat wajah menggemaskan istrinya. "Baiklah, tapi dengan satu syarat." kata Erlangga.
"Syarat apa?" jawab Aline cepat karena sudah tidak sabar ingin mendengar suara suaminya bernyanyi.
"Ganti panggilanmu. Kita ini sudah menikah, bukan lagi orang asing, Aline... coba kamu memintanya dengan panggilan baru."
Seketika nyali Aline menciut, nama apa yang harus ia ucapkan? Namun, malam ini keinginan itu lebih mendominasinya seolah anaknya benar-benar sangat menginginkan ayahnya bernyanyi.
Ia menghirup udara dalam-dalam sebelum mengucapkan kalimat itu. "Ma-aas... aku ingin kamu bernyanyi untukku." cicit Aline suaranya terdengar gugup.
Erlangga terlihat bahagia senyumnya mengembang saat mendengar panggilan itu. Ia langsung bangun dan duduk besilang kaki menghadap istrinya. "Baiklah, Sayang. Mulai sekarang harus biasakan memanggil seperti itu."
Aline hanya menganggukan kepala dengan gerakkan kaku.
Erlangga mulai menyanyikan lagu bintang kecil dengan nada yang teramat sangat lembut membuat Aline terperangah. Apa ini yang disebut tidak bisa menyanyi? Bahkan suara suaminya lebih bagus dibandingkan dirinya?
Aline hanyut dalam nyanyian tersebut sampai ia benar-benar tertidur lelap.
Beberapa menit kemudian Erlangga menyudahinya saat melihat Aline yang sudah tertidur. Ia menyelimuti istrinya dan mengecup keningnya sejenak kemudian ikut merebahkan diri menyusul istrinya ke alam mimpi.
Hanya dalam hitungan detik Aline langsung terbangun kembali. Membuat Erlangga yang baru saja memejamkan mata akhirnya kembali terjaga.
Erlangga menatap istrinya bingung, keningnya mengkerut dalam saat melihat istrinya sedang bersedekap dada sambil menatapnya tajam. Namun, tatapan itu bukannya terlihat seram atau garang malah terlihat lucu. Ia berusaha untuk tidak meledakkan tawanya.
"Kenapa, Sayang? Bukannya tadi sudah tidur kenapa bangun lagi?" tanya Erlangga lembut.
Aline mendengus kesal sambil membuang muka ke arah samping. "Gara-gara, Mas... aku jadi nggak bisa tidur lagi!"
Erlangga semakin kebingungan. "Memang apa yang sudah aku lakukan?"
"Kenapa berhenti bernyanyi? Aku kan jadi kebangun." kata Aline sambil cemberut.
Erlangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mana ia tau kalau ia tidak boleh berbenti?
"Ya sudah, aku lanjutkan lagi, ya." bujuk Erlangga penuh pengertian.
Aline mengerucutkan bibirnya di hadapan suaminya. "Nggak mau! Udah nggak mood!"
Melihat sisi manja istrinya, membuat Erlangga tidak bisa menahan diri untuk tidak menerkam bibir ranum yang sedang cemberut itu.
"Astaga! Aline, kenapa kamu jadi semenggemaskan ini, sih!" bisiknya dalam hati berusaha menahan dirinya.
"Lalu... kamu maunya apa, Sayang?"
Aline terdiam sejenak seolah sedang memikirkan apa yang ia inginkan. "Aku mau jalan-jalan ke luar." katanya tiba-tiba.
Sejenak Erlangga melirik jam dinding pukul menunjukan 03:15 dini hari. Ia berusaha tetap tenang menghadapi perubahan emosional istrinya yang sedang hamil.
"Mau jalan-jalan kemana di jam segini, Sayang?" tanyanya.
"Pokoknya nggak mau tau... aku mau ke luar sekarang juga!" Suara Aline terdengar sangat memaksa.
Erlangga menghembuskan napas pelan. "Ya sudah! Aku siap-siap dulu." Ia mulai bergegas turun dari kasur.
Aline yang melihat itu tampak sangat antusias. Lalu ia menyusul turun dari tempat tidur dan segera bersiap-siap.
Lima belas menit berlalu...
Aline dan Erlangga sudah siap dan mereka sudah berada di lantai bawah. Saat Erlangga hendak mengambil kunci mobil, tiba-tiba suara Aline menghentikan gerakkan tangannya saat hampir sampai pada kunci itu.
"Tunggu! Aku nggak mau naik mobil. Aku memang mau jalan-jalan, tapi jalan kaki, bukan pakai kendaraan."
"Sayang... udara di luar itu dingin dan tidak baik untuk kesehatan kamu." Erlangga berusaha memberi pengertian.
Aline menunduk saat mendengar kalimat itu, matanya mulai berkaca-kaca. "Mas... apa kamu nggak mau menuruti keinginanku?"
Erlangga ingin sekali berteriak saat itu juga tapi apalah daya, kecebongnya memang sedang tidak bisa diajak untuk berdamai. Pikirnya.
"Baiklah, Sayang. Apapun yang kamu inginkan."
Aline tersenyum antusias. Ia langsung menggandeng tangan suaminya menuju ke luar rumah.
Setibanya di depan gerbang. Aline melihat sepanjang jalanan suasana masih sepi dan gelap. Namun, udara di sekitarnya cukup terasa sejuk.
Ia berjalan kaki bersama suaminya dengan tangan saling bertautan.
Di sisi lain, Erlangga tampak bahagia dan sangat menikmati kebersamaan mereka, momen seperti ini lah yang paling berharga dalam hidupnya dan tidak bisa dibeli dengan uang. Ia melihat wajah istrinya yang terlihat berseri-seri.
Senyum di bibir Erlangga tidak bertahan lama. Saat istri kecilnya meminta hal yang tidak pernah terbayangkan sedikit pun olehnya.
"Mas! Lihat deh!" seru Aline dengan mata berbinar. "Aku mau mangga itu." tunjuknya pada pohon mangga yang berada di salah satu perumahan tersebut.
"Ya sudah, aku minta sama yang punyanya dulu. Kalau kamu menginginkannya."
"Aku maunya kamu manjat tembok itu terus ngambil mangga itu diam-diam."
"Maling dong..." celetuk Erlangga.
"Minta Mas! Tapi ngomongnya diam-diam!" koreksi Aline.
Erlangga mengusap wajahnya dengan kedua tangannya tampak sangat frustasi dengan apa yang istrinya inginkan. Subuh buta begini, ia harus manjat tembok cuma untuk mengambil mangga tanpa ketahuan pemiliknya yang bahkan ia sendiri sangat mampu untuk membelinya.
"Ayok Mas!" Ia menggoyang-goyangkan tangan Erlangga seperti anak kecil. "Aku mau itu..."
Erlangga mengangguk pelan, lalu mulai berjalan mengendap-ngendap ke arah salah satu rumah yang memiliki pohon mangga tersebut.
Apakah ini definisi ngidam orang yang sedang hamil? Pikir Erlangga.
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣