Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monolog Larut Malam dan Pipi yang Merona
Malam kian larut ketika jam dinding di kamar Rebecca berdentang pelan menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana rumah keluarga Baskara sudah sepenuhnya sunyi. Di dalam kamarnya yang bernuansa Modern Luxury Monochrome, Rebecca sedang bergelung di balik selimut tebalnya yang sewangi lavender.
Rambut asli hitam pekatnya yang panjang bergelombang tampak berantakan di atas bantal sutra putih. Poni depan *see-through*-nya sedikit menyamping, memperlihatkan dahi mulusnya yang bersih. Di atas kasur, gadis porselen itu mendadak berguling ke kanan dan ke kiri, menyembunyikan wajah imutnya ke dalam pelukan bantal sofa kecil bermotif minimalis.
Pikiran Rebecca mendadak memutar kembali memori beberapa jam yang lalu saat ia berada di toko bunga. Lebih tepatnya, narasi takdir yang entah bagaimana bisa terlintas begitu lancar di dalam kepalanya, yang secara sepihak sempat mengklaim Nyonya Helena Wijaya Immanuel sebagai 'calon mama mertua'.
"Astaga..." gumam Rebecca lirih, suaranya teredam kain bantal.
Ia langsung bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk kedua lututnya erat - erat. Jantung di balik kaus *oversized* hitamnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Semburat warna merah muda yang sangat pekat perlahan merayap naik, memenuhi kedua pipi putih bersihnya yang biasanya sedingin porselen tanpa ekspresi.
"Kalau sampai Mas Naufal tahu isi kepalaku tadi sore, dia pasti akan mengataiku halu tingkat tinggi," bisik Rebecca pada kesunyian kamar, belahan bibir ombrenya yang merah cerah alami ditekuk ke bawah karena rasa malu yang teramat sangat pada diri sendiri.
Bagaimana mungkin otak botani dan laboratoriumnya yang biasa rasional bisa mendadak mengalami malafungsi sistem seperti itu? Menghayal menjadi menantu dari seorang sosialita terpandang sekelas Helena Wijaya Immanuel adalah hal terakhir yang harusnya ada di daftar hidup seorang Kyla Rebecca.
"Lagipula, kenyataannya... aku dan Sagara itu cuma teman tapi musuh," gerutu Rebecca kesal, sepasang mata hijau lembutnya yang langka menatap tajam ke arah boneka Nailong kuning di atas rak seolah benda mati itu adalah Sagara Immanuel Arya.
Benar. Hubungan mereka di sekolah tidak seindah drama-drama romantis di televisi. Sagara adalah pemuda jangkung berwajah es yang hobi sekali memotong jalur jalannya, menyindir isi tas laboratoriumnya, dan bersikap ketus tanpa alasan yang jelas seperti pagi tadi di koridor. Mereka lebih sering beradu argumen dingin daripada bertukar sapaan manis.
Rebecca kembali merebahkan tubuh jam pasirnya yang sintal di atas kasur, menarik selimut hingga sebatas hidung mungilnya. Namun, meski otaknya terus menolak dan melabeli hubungan mereka sebagai 'rival sekolah', secarik kartu nama berserat emas milik Nyonya Helena yang kini tergeletak di atas meja riasnya seolah menjadi bukti nyata bahwa takdir sedang menertawakan semua penyangkalan dingin sang gadis porselen malam ini.
...****************...
Dalam keheningan malam yang kian pekat, Rebecca akhirnya terlelap. Kesadarannya perlahan larut, tenggelam ke dalam dimensi lain yang jauh dari rasionalitas dunia nyata. Malam itu, jiwanya dibawa terbang masuk ke dalam sebuah mimpi yang terasa begitu nyata, asing, namun anehnya sangat familier.
Di dalam mimpinya, Rebecca mendapati dirinya sedang berdiri di tengah-tengah sebuah labirin kaca raksasa yang diselimuti oleh kabut tipis (London mist) seperti yang diceritakan Mbak Tamara. Desain labirin itu bergaya Modern Luxury dengan pilar - pilar batu marmer hitam-putih yang megah. Di balik dinding-dinding kaca yang memantulkan bayangan tubuh jam pasirnya, Rebecca bisa melihat potongan-potongan takdir yang saling tumpang tindih.
Rambut hitam pekatnya yang panjang bergelombang tampak berkibar lembut ditiup angin mistis yang membawa aroma mawar hitam, bergamot, dan lavender. Anehnya, di dalam mimpi ini, Rebecca mengenakan gaun kebaya beludru merah marun pekat yang memeluk kencang tubuhnya, namun wajah mungil porselennya tertutup rapat oleh selembar cadar sutra hitam yang sewangi surga.
Saat ia melangkah maju menyusuri koridor kaca yang sunyi, siluet demi siluet pria kian mendekat dari berbagai arah, seolah-olah labirin itu sengaja menjebaknya di tengah-tengah pusaran takdir mereka.
Di sudut kaca sebelah kanan, muncul sosok Gus Adrian atau Doktor Adrian Khalid Al-Fahri, M.A. Pria itu berdiri dengan wibawa mutlaknya, mengenakan beskap hitam sarung premium. Sepasang mata elangnya yang sakral menatap lurus ke arah Rebecca. Di tangannya, Gus Adrian memegang ujung kain cadar sutra milik Rebecca yang sempat terbang kemarin, lalu mengulurkannya perlahan dengan gerakan penuh perlindungan yang kaku namun meneduhkan.
Namun, sebelum Rebecca sempat meraih kain itu, dinding kaca di depannya bergetar. Dari arah sebaliknya, muncul sosok Sagara Immanuel Arya.. Pemuda jangkung berwajah sedingin es kutub itu datang dengan setelan kasual, mengendarai motor sport putihnya yang membelah kabut mimpi. Wajah tampan Sagara tampak luar biasa tegang, memancarkan kecemburuan yang membara persis seperti di koridor sekolah pagi tadi.
"Jangan diambil, Re! Dia tidak tahu apa-apa tentang aroma laboratoriummu!" seru Sagara dalam mimpi, suaranya menggema rendah, terdengar posesif sembari mengulurkan tangan tegapnya untuk menarik Rebecca menjauh dari jangkauan Gus Adrian.
Di saat Rebecca berdiri terpaku di antara tarikan dua kutub pesona pria yang berbeda tersebut, langit-langit labirin kaca mendadak terbuka. Dari atas, terdengar suara tawa anggun yang sangat berkelas milik Nyonya Helena Wijaya Immanuel, seolah sang calon mama mertua bayangan itu sedang mengawasi pilihan hidupnya dari atas panggung aristokrat. Tak jauh dari sana, siluet Davika Ovwua Mwohan dan Gus Xavier Al Buchori juga tampak melintas di balik kabut, memberikan senyuman penuh teka-teki dari kisah mereka sendiri.
Rebecca merasa pasokan udaranya menipis. Sepasang mata hijau lembutnya yang langka bergerak gelisah di balik kelopak mata yang terpejam. Debaran di dadanya kian bergemuruh kencang seiring bayangan Gus Adrian dan Sagara yang perlahan menyatu, mengurung siluet porselennya dalam labirin takdir yang kian mengencang.
Hah...!
Rebecca tersentak bangun. Ia terduduk di atas kasur minimalisnya dengan napas yang memburu pendek-pendek. Keringat dingin sebesar biji jagung tampak membasahi kening mulusnya, membuat beberapa helai poni *see-through*-nya menempel di dahi. Kamar tidurnya masih sama, sunyi dan gelap, dengan boneka Nailong kuning yang masih duduk manis di atas rak.
Rebecca menyentuh dadanya yang berdegup luar biasa kencang, lalu mengusap wajah imutnya dengan kedua tangan kecil yang gemetar. Mimpi itu terasa terlalu abu-abu dan pekat. Sebuah sinyal kuat dari alam bawah sadar bahwa kehidupan tenangnya sebagai siswi introver pecinta botani kini sudah sepenuhnya berakhir, digantikan oleh jalinan romansa rumit yang siap meledak keesokan pagi di sekolah.