Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Perang sang Pewaris
Asap mesiu masih menggantung tipis di udara Cornwall yang asin saat matahari mulai tenggelam, memberikan warna merah darah pada langit di atas pondok batu yang kini hancur separuh. Di halaman, Marcus dan tim taktis Iron Crest sedang sibuk membersihkan sisa-sisa pertempuran,mereka diam diam baru muncul untuk membantu.sementara dua orang tim medis sedang merawat Elena Vost yang duduk bersandar di bangku taman dengan perban di kakinya.lukanya tidak parah, namun mereka harus membiarkan nya beristirahat.
Alistair Thorne berdiri di ambang pintu pondok yang sudah tidak memiliki daun pintu lagi. Ia menatap telapak tangannya yang masih ternoda residu bubuk mesiu. Pikirannya tidak berada di sini; ia sedang berada di sebuah ruangan megah di London pusat, menatap mata ayahnya yang sedingin es. ia tahu jalan yang ia pilih sudah menimbulkan kekacauan.
"Tuan Thorne," Marcus mendekat dengan langkah berat, napasnya masih sedikit memburu, memecahkan lamunan alistair. "Unit intelijen kita melaporkan bahwa Ayah Anda telah memblokir seluruh rekening cadangan kita di Swiss. Dia secara resmi telah menyatakan Anda sebagai 'pengkhianat organisasi' di hadapan dewan The Obsidian Order."
Alistair tidak terkejut, dia sudah menduga jika itu akan terjadi. "Dia ingin memotong pasokan oksigen saya sebelum dia menghancurkan jantung saya. Secara administratif, itu adalah langkah yang logis bagi seorang Silas Thorne." Tapi itu tidak akan menghentikan tekadku.
"Lalu apa rencana kita? Kita tidak bisa bertahan di sini,Tuan Thorne. Pondok ini sudah terekspos dan musuh akan segera mengirimkan gelombang kedua untuk menyerang," tanya Marcus dengan nada cemas."Saya juga tidak bisa berbuat banyak, sebagian pasukan kita telah di tahan.Tuan besar sengaja memanggil kami agar tidak bisa membantu Anda.
Alistair melirik ke arah dalam pondok yang sudah hancur. Di sana, di tengah puing-puing kayu dan debu bangunan yang berserakan, Sloane Sterling sedang berlutut di atas lantai. Ia tidak menangis atau merengek. Ia juga tidak gemetar karena takut. Ia justru sedang sibuk mengumpulkan pecahan vas bunga ke dalam sebuah ember kecil dengan gerakan yang sangat teliti.Alistair tidak lagi heran dengan pemandangan itu. dia malah takjub, karena Sloane tidak bertingkah seperti gadis biasa, yang akan ketakutan melihat situasi yang mencekam karena perang. Alistair berjalan pelan mendekati gadis itu. tangan dan matanya masih fokus pada pecahan kaca yang berserakan di lantai.Ia bahkan tidak sadar jika alistair menghampiri nya.
"Sloane," panggil Alistair pelan.
Sloane mendongak. Wajah manisnya penuh dengan coretan abu hitam, dan ada luka gores kecil di pipinya, tapi matanya tetap menyala-nyala dengan amarah domestik yang khas. "Alistair! Lihat ini! Vas ini adalah satu-satunya benda yang membuat ruangan ini tidak terlihat seperti gua prasejarah, dan sekarang dia hancur! Dan kau! Berhenti berdiri di sana seperti patung! Ambilkan aku sapu baru di bagasi mobil!"
Alistair melangkah masuk, mengabaikan serpihan kaca di bawah sepatu botnya yang mahal. Ia berlutut di samping Sloane, menangkap tangan gadis itu agar berhenti memunguti pecahan tajam tersebut.
"Sloane, cukup. Tempat ini sudah hancur. Kita akan segera pergi dari sini," bisik Alistair.
"Pergi? Pergi ke mana lagi?! Setiap tempat yang kita datangi selalu berakhir dengan lubang peluru dan debu mesiu!" Sloane berteriak, air mata akhirnya mulai menggenang di matanya bukan karena takut akan kematian, tapi karena frustrasi. "Aku benci ini, Alistair! Aku benci melihatmu terluka, aku benci melihat rumahmu hancur, dan aku benci pria tua itu karena dia membuatmu merasa seolah-olah kau tidak punya hak untuk bahagia di rumah yang bersih!"Bukan kah ini tidak adil. kau tidak melakukan kejahatan apa pun. tapi harus di buru seperti seorang penjahat saja.
Alistair tertegun. Ia menarik Sloane ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di pundaknya yang masih mengenakan kemeja kotor. "Saya berjanji, ini adalah terakhir kalinya kita melarikan diri."Saya tidak akan membiarkan anda terluka Sloane.
"Kau janji?" Sloane mencengkeram kemeja Alistair. " Apakah itu Secara administratif?"
Alistair tertawa kecil, mendengar pertanyaan dari gadis itu. ia merasa lucu mendengar Sloane yang rewel. mengucapkan kata administratif.
"Secara mutlak iya," jawab Alistair. Ia mengecup puncak kepala Sloane dengan sangat lama, lalu berdiri dengan sorot mata yang telah berubah. Kedinginan di matanya kini telah berubah menjadi kobaran api yang mematikan.
Alistair berjalan keluar menuju Marcus. "Marcus, siapkan seluruh unit yang masih setia kepada saya. Kita tidak akan bersembunyi lagi. Kita akan kembali ke London malam ini."
"London? Itu adalah sarang singa, Tuan. Wilayah kekuasaan mutlak Ayah Anda," Marcus memperingatkan.ia sangat khawatir akan keselamatan Alistair.
"Bukan lagi," sahut Alistair tajam. "Jika dia ingin membersihkan 'noda' dalam hidup saya, maka saya akan menunjukkan padanya bahwa 'noda' inilah yang memberi saya alasan untuk membakar seluruh dunianya yang kaku. Kita akan menyerang jantung The Obsidian Order."
Sloane keluar dari pondok, membawa tas kecilnya yang berisi alat-alat pembersih darurat. Ia berdiri di samping Alistair, menatap Marcus dengan tatapan galak yang biasanya ia gunakan untuk menakuti debu.
"Dan pastikan mobilnya bersih sebelum kita masuk, Pak Luka! Aku tidak mau duduk di atas sisa-sisa pertempuran kalian!" perintah Sloane.
Marcus hanya bisa melongo, sementara Alistair menatap Sloane dengan rasa sayang yang mendalam. Ia menyadari satu hal: ia bukan lagi sekadar robot kaku yang menjalankan organisasi untuk ayah nya. Ia adalah seorang pria yang sedang berjuang demi "rumahnya dan gadis yang ia suka",bagi alistair rumahnya adalah gadis berisik yang sedang mengomel soal lumpur di ban mobil itu.Walaupun orang menganggap nya aneh. namun alistair merasa jika Sloane sangat unik. dan itu yang membuat nya ingin melindungi mawar jalanan itu.
"Sloane," panggil Alistair saat mereka akan masuk ke mobil SUV hitam yang sudah siaga.
"Apa lagi, Tuan Kaku?"
"Setelah ini selesai... saya akan membangunkan Anda sebuah mansion yang paling bersih di seluruh Inggris. Tanpa ada satu pun lubang peluru yang menembusnya."
Sloane tersenyum tipis, lalu menjulurkan lidahnya. "Pastikan ada gudang sabun yang luas! Dan jangan berani-berani menaruh jasmu di atas meja makan baru kita nanti!"
Alistair tertawa kecil—suara tawa yang paling tulus yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya. Ia menutup pintu mobil, dan SUV itu pun meluncur pergi meninggalkan pesisir Cornwall, menuju medan perang terakhir di jantung kota London. Perang antara sang ayah yang ingin menjaga kemurnian kekuasaan, dan sang putra yang ingin menjaga kemurnian cintanya pada sang Mawar Jalan.
To be continued...