NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Membantu Diam-diam

Di lantai eksekutif Dirgantara Group, Arkana menutup berkas proyek ekspansi yang baru saja ia baca. Wajahnya tidak menunjukkan banyak perubahan, namun tatapannya berhenti lebih lama pada satu bagian.

Lampiran Amradita.

Nama itu muncul terlalu rapi menurutnya. Seolah sejak awal memang disusun untuk menjadi penyangga jika proyek membutuhkan dorongan tambahan.

Arkana meletakkan berkas itu di meja, menekan tombol intercom untuk memanggil asistennya.

“Saka.”

Hanya satu kata, tetapi pintu ruangannya terbuka tak sampai dua menit kemudian. Saka masuk dengan berkas di tangan.

“Ya, Pak?”

“Jadwal apa yang dimiliki Rendra kali ini?" tanya Arkana.

Saka membuka tablet, menggulirnya sebentar. “Rapat dengan tim proyek ekspansi sampai sekitar pukul sebelas. Setelah itu jadwalnya kosong sebelum rapat divisi sore.”

“Isi celahnya.”

Dahi Saka berkerut tipis.

“Dengan permintaan pembaruan dokumen pendukung proyek,” ucap Arkana lagi. “Semua lampiran pihak ketiga. Terutama Amradita.”

Saka memahami arah perintah itu tanpa perlu bertanya terlalu banyak. “Batas waktu?”

“Dokumen digital hari ini. Dokumen fisik besok pagi jika diperlukan dalam klarifikasi," jawab Arkana.

“Baik.”

Arkana menyandarkan punggungnya. “Jangan buat ini terlihat seperti tuduhan.”

“Prosedur audit biasa?” ucap Saka lebih ke sebuah pertanyaan retoris.

Arkana hanya diam dan itu sudah cukup bagi Saka.

Saka mencatat cepat. “Bagaimana dengan Nona Clara? Namanya ada di beberapa revisi. Perlu ditekan juga?”

“Belum saatnya.” tatapan Arkana berubah dingin. “Orang yang merasa aman akan tetap diam. Tapi, orang yang merasa akan dikorbankan akan mulai bicara.”

Saka mengangguk pelan, segera paham apa yang diinginkan sang atasan. “Jadi kita biarkan tekanan menyentuh keduanya."

“Kita tidak menyentuh mereka,” koreksi Arkana datar. “Kita hanya meminta dokumen yang seharusnya memang mereka punya.”

Saka menunduk. “Saya mengerti.”

Arkana menatap berkas di atas meja sekali lagi. “Kalau Rendra bersih, dia tidak akan panik.”

Saka menurunkan tabletnya. “Saya akan kirim permintaan melalui sekretariat direksi.”

Saka berbalik hendak keluar, tetapi langkahnya berhenti saat Arkana kembali bersuara.

“Saka.”

“Ya, Pak?”

"Cari bukti penguat lain, gunakan jalur apapun tanpa melalui jalur perusahaan. Orang seperti Rendra, akan selalu mencari celah untuk mengelak dari keslahan yang dia buat," ucap Arkana.

"Baik."

“Jangan libatkan Thalia dalam jalur ini," suara Arkana menjadi lebih pelan. “Apa pun yang dia lakukan, biarkan itu tetap menjadi langkahnya sendiri.”

Saka mengangguk. “Saya mengerti.”

Pintu ruang kerja tertutup.

Arkana kembali membuka berkas itu, menatap nama Amradita yang tercetak di sana.

Rendra mungkin mengira nama itu hanya alat untuk proyeknya. Namun bagi Arkana, nama itu sudah cukup menjadi alasan untuk menggali lebih dalam.

Di dalam ruangan berbeda yang saling berjauhan, Arkana dan Thalia tengah mencari bukti yang mengarah pada rahasia yang sama tanpa janji yang disepakati.

.

.

.

Siang itu, Rendra baru saja menyelesaikan rapat ketika Saka muncul di depan ruangannya.

Kehadiran asisten Arkana itu selalu sama: tenang, rapi, dan membawa sesuatu yang jarang berakhir menyenangkan.

“Pak Rendra,” sapa Saka sopan.

Rendra tersenyum sopan disertai anggukan ringan. “Sungguh tidak biasa melihat Anda berdiri di sini. Ada yang bisa saya bantu, Pak Saka?"

“Pak Arkana meminta pembaruan dokumen pendukung untuk proyek ekspansi,” ucap Saka tanpa basa-basi.

Dahi Rendra berkerut tipis. “Dokumen pendukung yang mana?”

Saka menyodorkan map yang ia bawa. “Semua lampiran yang berhubungan dengan dasar penggunaan nama pihak ketiga. Termasuk Amradita.”

Udara di sekitar tiba-tiba terasa menipis. Rendra menatap map itu tanpa langsung menyentuhnya.

“Bukankah bagian itu sudah masuk simulasi awal?”

“Benar,” jawab Saka. “Justru karena itu Pak Arkana ingin memastikan semua nama yang tercantum memiliki dasar persetujuan yang jelas.”

Persetujuan. Satu kata itu cukup membuat rahang Rendra mengeras, tetapi secepat kilat ia tutupi dengan senyum profesional..

“Kapan dibutuhkan?”

“Hari ini untuk dokumen digital. Besok pagi, dokumen fisik harus siap jika diminta dalam rapat klarifikasi,” jawab Saka.

Rendra menatap Saka tajam. “Rapat klarifikasi?”

“Ya, Pak.”

“Pak Arkana sendiri yang meminta?” tanya Rendra lagi.

“Benar.”

Saka menjawab tanpa ekspresi, tidak memberikan tekanan, ataupun menuduh. Namun justru ketenangan itu yang membuat Rendra serasa terpojok.

“Baik,” ucap Rendra akhirnya. “Saya siapkan.”

Saka mengangguk, lalu berbalik pergi.

Baru setelah sosok Saka menghilang dari pandangannya, Rendra masuk ke dalam ruangannya. Ia duduk di kursi kerjanya, dan membuka map yang ia terima dari Saka untuk ia baca.

Di halaman pertama, ada daftar lampiran yang harus diperbarui. Nama Amradita berada di urutan ketiga.

Di bawahnya, tertulis jelas:

Dasar persetujuan penggunaan nama dan data aset keluarga.

Rendra mengumpat pelan. Dokumen digital bisa ia kirim. Profil Amradita bisa ia susun ulang. Simulasi bisa ia poles. Tapi surat kuasa palsu yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari tidak berada di kantor. Dokumen fisiknya masih di rumah. Di laci ruang kerja yang ia yakini aman.

Tok... Tok...

Ketukan pintu ruang kerjanya diketuk sebelum Rendra sempat menenangkan diri.

“Masuk!" seru Rendra.

Pintu ruang kerja Rendra terbuka diikuti sosok Clara yang datang dengan wajah tegang, ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

“Kamu sudah dapat permintaan klarifikasi?” tanya Clara tanpa basa-basi.

“Kau tahu?” mata Rendra menyipit.

“Semua tim pendukung proyek mendapat pemberitahuan.” Clara berjalan mendekat. “Termasuk bagian revisi yang pernah kusentuh.”

Rendra melempar map itu ke meja. “Pak Arkana meminta dasar persetujuan Amradita.”

Senyum Clara memudar. “Secepat ini? Dan kenapa baru sekarang? Di proyek sebelumnya, hal seperti ini tidak pernah terjadi."

“Jangan tanya aku." sergah Rendra mengusap wajahnya kasar. "Besok pagi dokumen fisik harus siap.”

Clara terdiam sesaat, lalu menatap Rendra lebih serius. “Surat kuasa itu di mana?”

“Rumah.”

“Rumah?” Clara menahan suara agar tidak terdengar terlalu tinggi. “Ren, dokumen seperti itu seharusnya ada di tempat yang bisa kamu kendalikan.”

“Ruang kerjaku terkunci.”

“Istrimu tinggal di rumah itu.”

“Thalia tidak akan masuk ke sana.”

Clara duduk di tepi meja dengan posisi menghadap Rendra. "Kau yakin itu aman? Apakah kamu memasang CCTV di rumahmu?"

"Ya. Di area luar, ruang tengah, dan koridor di dekat ruang kerja. Cukup untuk tahu siapa saja yang bergerak di rumahku," jawab Rendra.

“Bagus, itu artinya kita masih bisa mengendalikan ini. Kirim dokumen digital yang aman, ambil surat kuasanya, dan tunjukkan surat itu pada Pak Arkana hanya jika benar-benar diminta,” ucap Clara dengan seringai licik di bibirnya.

“Dan kalau Pak Arkana meminta tanda tangan Thalia dikonfirmasi?” tanya Rendra.

Clara tersenyum tipis. “Buat Thalia tetap percaya bahwa dokumen itu untuk membantunya. Kalau dia merasa kamu melindungi nama keluarganya, dia tidak akan langsung melawan.”

Rendra terdiam, lalu perlahan senyum dingin muncul di bibirnya. “Kau benar.”

“Tentu saja.” Clara mendekatkan tubuhnya, merapikan kerah jas Rendra dengan gerakan pelan. “Untuk sekarang, pastikan saja dokumen itu aman, kalau perlu pindahkan sebelum Thalia melihat dokumen itu. Jangan beri Thalia alasan untuk curiga.”

Rendra meraih ponselnya, lalu menelepon rumah. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya Bu Ratmi menjawab.

“Selamat siang, Tuan.”

“Thalia di rumah?” tanya Rendra

“Nyonya keluar, Tuan.”

Rendra membeku, keningnya berkerut. “Keluar ke mana?”

“Katanya ada pertemuan dengan Nyonya Miranda.”

Nama itu membuat tangan Rendra mencengkeram ponsel lebih kuat. “Kapan dia pergi?”

“Sekitar satu jam lalu, Tuan.”

Rendra memutus panggilan tanpa menjawab.

Clara memperhatikan wajah Rendra. “Dia tidak di rumah?”

“Tidak.”

“Bagus,” jawab Clara cepat. “Berarti kamu bisa mengambil dokumen itu sekarang tanpa perlu menjelaskan apa pun.”

Rendra tidak segera membalas ucapan Clara. Seharusnya itu hal baik, ia bisa leluasa mengambil dokumen yang ia butuhkan tanpa menjelaskan apapun pada istrinya.

Namun entah kenapa, mendengar Thalia pergi tanpa menunggu izinnya lagi membuat sesuatu di dada Rendra terasa panas.

. . ..

. . ..

To be continued...

1
Dewi Payang
Langsung tersindir😄
Dewi Payang
Mulai gombal🤭🤭
Dewi Payang
Sama Arkana bisa ngomong gitu, tapi sama Rendra kalah terus🤭
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!