Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 Akhirnya
Maxime mengajak Aurora dinner romantis lagi. Max memberikan buket bunga yang jauh lebih indah dari pemberian Adrian. ia juga memberi Hadian Rora kalung yang indah dan harganya juga mahal. Rora terkejut menerima hadiah kalung dari Max. Rora tahu Max baru saja menggunakan uang pribadinya untuk menutup anggaran perusahaan otomotifnya.
"Max kenapa memberi hadiah semahal ini? kau sudah memberiku banyak hadiah mahal jadi berhentilah" kata Rora.
"Aku membelinya sudah sejak satu minggu yang lalu memang sengaja untuk kejutan dan aku rasa ini waktu yang tepat. soal perusahaan kau jangan cemas aku bisa mengatasinya" Max berdiri di belakang Aurora membantu memakaikan kalung itu di leher jenjang Rora.
"Kau suka?"
"Suka sekali Max, apapun yang kau beri aku pasti suka"
Keduanya menikmati makan malam, hanya sedikit sekali yang mereka makan karena pikiran Max sejak tadi melayang membayangkan hal liar yang tidak bisa ia kendalikan. di tambah Aurora malam ini tampil sangat cantik di hadapan Max.
Max memainkan sampange di gelasnya tanpa meminumnya. tatapan mata Max intens memandang wajah Aurora tanpa beralih. sejak tadi ia sedang mengagumi istrinya sendiri. Max sedang berpikir bagaimana melakukan hubungan tanpa menyakiti Rora. ia tidak mau malam ini gagal lagi.
"Max wajah mu memerah kau baik-baik saja?" tanya Rora sembari menyentuh lembut tangan Max.
Sentuhan Rora bak setrum di tangan Max. rasanya ia bisa gila malam ini jika tidak bisa melakukannya dengan Rora.
"Apa kita pulang saja?" tanya Rora.
"Tidak, malam ini kita akan menginap. aku sudah reservasi kamar terbaik di hotel ini"
Rora semakin terkejut ia tersenyum dan tahu kenapa sejak tadi Max terus gelisah.
"Oke baiklah" kata Rora sembari mengusap tangan Max.
Max dan Rora segera menuju ke kamar hotel yang sudah Max pesan. di dalam kamar keduanya di sambut dengan dekorasi bak pengantin baru. hiasan bunga mawar ada di sudut kamar dan juga di ranjang. kenapa bunga mawar karena Rora sangat menyukainya.
"Wow Max ini berlebihan?" Rora senang melihat semua kejutan itu ia memeluk Max.
Keduanya berciuman ringan mengecup bibir dan saling menatap dengan intens. lalu kecupan singkat itu berubah menjadi lumatan. Max memainkan pemanasan dengan sangat baik dan hati-hati. ia membuat Rora tetap nyaman dengan setiap sentuhannya pada tubuh Rora.
Max mengangkat Rora menuju ranjang. membaringkannya perlahan dan kembali pemanasan yang sesungguhnya di mulai.
Max melepas jas dan kemejanya. perlahan ia mulai melepas gaun yang di kenakan Rora. keduanya sudah sama-sama panas dan siap untuk melanjutkannya. Perlahan namun pasti Max mulai melakukannya, Rora menahan rasa sakit dengan menggigit bibirnya. Max menenangkan Rora dan melakukannya pelan dan selembut mungkin. memang sangat sulit sekali memasukan miliknya kedalam milik Rora. dengan satu hentakan agak kasar akhirnya Max berhasil. ia terdiam membiarkan Rora mengambil jeda dan bernafas dulu. lalu gas sampai berkali-kali hingga lemas dan lelah.
***
Catherine menatap layar ponselnya yang sepi. tidak ada telepon atau chat dari Abian seperti biasanya. Catherine mulai gelisah dan galau ia sudah terbiasa dengan perhatian Abian selama beberapa hari ini.
Cathe sadar! dia itu cuma mempermainkan mu. kau juga mau jadi pacarnya agar tidak di laporkan polisi. itu saja jangan berharap lebih. dua hari lagi pacaran kalian akan berakhir!
Catherine menyerah menunggu Abian menelponnya. mungkin Abian masih marah karena ucapan ketus Catherine tadi siang. saat Catherine minta maaf pun Abian tidak menghiraukannya.
Akhirnya Catherine memilih untuk tidur karena sudah larut malam dan besok ada ujian di sekolah.
Paginya Catherine bersiap pergi ke sekolah. ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan rambut yang di ikat serampangan ke belakang. wajahnya cantik dan manis. Catherine berdiri sedikit lama di depan cermin ia sedang membandingkan dirinya dengan kakaknya Maxime. mereka berdua saudara tapi sama sekali tidak mirip. Max ada campuran luar ia berambut sedikit pirang dan kulitnya juga sangat putih, tinggi tegap dan tampan. tapi Catherine, namanya memang mirip orang barat hanya saja fisiknya itu lokal sekali. berkulit kuning langsat, rambut hitam agak ikal dan tidak tergolong tinggi. Bahkan Catherine juga tidak mirip mama atau papa Gunanto.
tuk tuk..
"Non" bibi memanggil Catherine.
"Iya bi" Catherine membuka pintu kamarnya seraya meraih tas sekolahnya.
"Ada temannya yang menunggu sejak tadi" kata bibi.
"Hah teman?" Catherine tidak merasa ada janji dengan siapapun pagi ini.
"Iya non orangnya ganteng mirip aktor drama non" kata Bibi sambil senyum-senyum.
Pasti itu Abian...tapi ngapain Abian datang kesini?! bisa gawat kalau papa tahu.
Catherine berlari cepat membuka pintu dan mendapati Abian berdiri di dekat mobilnya.
"Hai maaf aku tidak bilang dulu mau menjemput mu" kata Abian mempersilahkan Catherine memasuki mobilnya.
"Kenapa tidak naik motor?"
"Menjemput Catherine Gunanto sepertinya lebih tepat pakai mobil. tidak kena panas, tidak kena angin apalagi kehujanan"
"Mau mengejek saya anak manja lagi?" sindir Catherine.
Abian tersenyum ia sudah terbiasa dengan sikap ketus Catherine selama hampir satu minggu ini.
"Yuk keburu papa lihat kita!" Catherine segera memasuki mobil Abian.