NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:37.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA BENTURAN DI SEBRANG

Satu minggu telah berlalu sejak deru mesin mobil Maheer menghilang dari halaman mansion. Bagi Assel, tujuh hari ini terasa sangat panjang dan membingungkan. Seharusnya, ia merasa lega. Bukankah selama ini kehadiran Maheer selalu membuatnya kesal, memicu perdebatan, dan memaksanya menghadapi emosi yang ingin ia kubur dalam-dalam? Namun, kenyataannya justru bertolak belakang. Ada perasaan aneh yang menjalar, sebuah kekosongan yang perlahan menggerogoti hatinya.

Setiap kali ia melewati kamar tamu yang kini tertutup rapat, Assel tanpa sadar menoleh. Di meja makan yang biasanya ramai dengan ocehan manja pria itu, kini hanya ada keheningan yang menyesakkan. Rumah yang besar itu terasa lebih dingin.

"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" gumam Assel lirih, matanya menatap kosong ke arah kursi kayu yang biasa ditempati Maheer.

Pikirannya melayang pada saat-saat Maheer menggodanya dengan panggilan 'Acel'. Suara baritonnya, tawa jahilnya, bahkan kecupan kilat yang sempat mendarat di pipinya, kini berputar-putar di kepalanya seperti film lama. Assel mencoba menepis bayangan itu dengan menenggelamkan diri dalam tumpukan fail desain, namun setiap kali ia diam, bayangan Maheer kembali datang.

"Mama kenapa sih? Dari tadi Azka panggil, Mama tidak dengar-dengar?"

Sentuhan tangan kecil di lengannya membuat Assel tersentak. Ia menunduk dan mendapati Razka sedang menatapnya dengan mata bulat yang penuh rasa ingin tahu.

"Eh, Mama tidak apa-apa, Sayang. Memangnya ada apa kamu memanggil Mama?" tanya Assel sambil mengusap rambut putranya dengan lembut, berusaha menutupi kegundahannya.

"Tadi Azka tanya, kenapa Om Jahat tidak pulang-pulang, Mama? Apakah Om Jahat sudah tidak mau tinggal dengan kita lagi?" tanya Razka. Ada nada kehilangan yang tersembunyi di balik suara polosnya.

"Razka, kan sudah Mama bilang, jangan panggil orang tua sembarangan!" tegur Assel, meski hatinya mencelos mendengar pertanyaan itu.

"Iya, iya, Azka minta maaf. Maksudnya Papa Maheer. Tapi kenapa Papa Maheer tidak pulang-pulang, Mama?" Razka mengulangi pertanyaannya dengan lebih menekankan kata 'Papa'.

Assel bingung harus menjawab apa. "Mama tidak tahu, Sayang. Mungkin pekerjaan Papa sangat banyak di sana, jadi belum bisa pulang."

Assel meraih ponselnya di atas meja. Ia baru menyadari satu hal yang konyol: ia tidak memiliki nomor kontak pribadi Maheer. Selama ini, segala urusan komunikasi selalu diperantarai oleh Hans. Namun, berbeda dengan Razka. Bocah itu tampak sibuk menekan-nekan layar jam pintar di pergelangan tangannya.

Tak lama kemudian, suara yang sangat familiar terdengar dari pengeras suara jam pintar itu.

"Ada apa, Jagoan? Tumben telepon Papa. Kangen ya sama Papa?" Suara Maheer terdengar renyah, sedikit serak namun penuh kehangatan.

Mendengar suara itu, jantung Assel tiba-tiba berdegup kencang. Ia terpaku, menahan napas agar tidak terdengar di seberang telepon.

"Siapa yang kangen? Azka cuma mau tanya, apakah Om sudah tidak ingin tinggal di sini lagi?" jawab Razka tampak gengsi menyebutkan Papa pada Maheer, ia juga menyetel suara yang dibuat sedatar mungkin, meskipun matanya berbinar.

"Masih dong! Papa pasti pulang, hanya saja dalam waktu dekat ini Papa belum bisa. Pekerjaan di sini sedikit rumit," ujar Maheer di seberang sana. "Oh iya, mulai hari Senin kamu libur sekolah satu minggu, kan? Bagaimana kalau kalian liburan ke sini? Papa pasti senang sekali kalau kalian datang."

Razka langsung menatap ibunya yang duduk terpaku di sampingnya. "Mama, boleh tidak kita liburan ke tempat Papa?"

Belum sempat Assel menjawab atau sekadar menarik napas untuk bicara, tiba-tiba dari pengeras suara jam tangan Razka terdengar suara decitan ban mobil yang sangat panjang dan memekakkan telinga.

Creeeeeekkkkk!

Tak lama kemudian, suara benturan keras menghantam pendengaran mereka. BUM! Suara kaca pecah dan derit logam yang tertekuk terdengar begitu jelas sebelum akhirnya semuanya menjadi sunyi senyap.

Assel seketika panik. Ia menarik tangan Razka dan mendekatkan ke wajahnya dan berteriak ke arah jam tangan itu. "Maheer! Maheer! Apa yang terjadi? Kau dengar aku? Maheer!"

Tidak ada jawaban. Hanya ada suara statis yang berkerisik sebelum panggilan itu terputus secara sepihak. Wajah Assel memucat seketika. Tubuhnya gemetar hebat.

"Mama, Papa kenapa?" tanya Razka dengan suara gemetar, matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan.

"Hubungi lagi, Razka! Cepat hubungi Papa lagi!" perintah Assel dengan suara parau.

Razka mencoba menekan tombol panggil ulang berkali-kali, namun yang terdengar hanyalah suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Kepanikan Assel memuncak. Ia segera mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi Hans dengan tangan yang masih gemetar.

"Hans! Cari tahu keberadaan Maheer sekarang juga! Tadi ada suara kecelakaan saat dia sedang menelepon Razka. Cepat, Hans!" teriak Assel tanpa basa-basi.

Menit-menit berikutnya terasa seperti siksaan bagi Assel. Ia berjalan mondar-mandir di ruang makan dengan perasaan tidak karuan. Tak lama, Hans menelepon balik dengan nada suara yang sama paniknya.

"Nyonya, saya sudah mencoba menghubungi rekan di Australia dan ponsel pribadi Tuan Maheer, tapi semuanya nihil. Beliau tidak bisa dihubungi sama sekali setelah laporan terakhir bahwa beliau sedang dalam perjalanan menuju bandara untuk menjemput klien," lapor Hans.

Lutut Assel terasa lemas. Ia terduduk di kursi, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bayangan Maheer yang terluka parah atau bahkan lebih buruk lagi mulai memenuhi benaknya. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia tidak sanggup kehilangan lagi. Cukup Muzammil yang pergi, jangan Maheer.

"Hans, belikan tiket pesawat ke Australia untukku, Razka, dan kau juga ikut. Sekarang juga! Cari penerbangan paling awal!" perintah Assel tegas.

"Baik, Nyonya. Saya akan urus segera."

Assel menatap Razka yang kini sudah menangis sesenggukan. Ia memeluk putranya itu erat-erat. "Tenang, Sayang. Kita akan susul Papa. Papa pasti baik-baik saja."

Malam itu, mansion yang tadinya sepi berubah menjadi sibuk luar biasa. Assel mengepak barang dengan gerakan yang kacau. Di dalam hatinya, ia terus merapalkan doa. Ia menyesal karena selama satu minggu ini ia tidak mencoba menghubungi pria itu, menyesal karena masih bersikap dingin di pertemuan terakhir mereka.

Jangan pergi dulu, Maheer. Aku belum sanggup kehilangan dirimu untuk kedua kalinya. Kalau kau pergi aku bersumpah tidak akan memaafkanmu, batin Assel terasa begitu pedih.

Kini, perjalanan menuju benua lain menjadi satu-satunya harapan Assel untuk menemukan jawaban. Apakah benturan keras itu merupakan akhir dari segalanya, ataukah justru awal dari babak baru yang sesungguhnya dalam hidup mereka?

Readers pasti pada berdebar menanti apa yang akan ditemukan Assel di rumah sakit atau tempat kejadian perkara di Australia nanti. Keselamatan Maheer kini menjadi tanda tanya besar yang menggantung di cakrawala.

So, dukung terus ya, dan jangan lupa berikan penyemangatnya oke, biar Author update cepat.

1
Retno Harningsih
lanjut
Radya Arynda
akhirnya,,,gol juga her maher🤣🤣🤣🤣
Nana Biella
akhirnya luluh juga
Lia siti marlia
akhirnya yang di tunggu tunggu dan di harapkan oleh mahher terjadi juga 🤭🤭🤭
Lia siti marlia
memang kebahagiaan butuh perjuangan semangat mahher buat hempaskan lalat lalat yang terbang menghampiri🤭🤭🤭
dyah EkaPratiwi
siapa lagi yg rese ini
azzura faradiva
kapan konflik dan intrik ini akan berakhir 🤔
Radya Arynda
semangaat,,,tetap ber sama dan ber juang bersama💪💪💪💪
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
walah walah masihbaja ada antek antek nya c khalid💪💪💪 semangat herr buat basmi kuman kuman yang bermunculan 🤭🤭
dyah EkaPratiwi
siapa lagi ini baru mau bahagia sama acel
Lia siti marlia
besok hari baru dan tidak ada lagi kebohongan yang di tutup tutupisemangat mahher buat ngambil hati dan cinta assel😍😍💪💪💪
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
dyah EkaPratiwi
semangat maheer
Lia siti marlia
semoga saja assel bisa berdamai dengan masa lalu dan menerima mahher sepenuhnya😍😍😍
Enny Suhartini
semangat kak lanjut👍
Lia siti marlia
selamat yah mahher akhirnya kamu diterima assel 😍😍😍😍
dyah EkaPratiwi
berhasil ya maheer
Nana Biella
semangat pak maher
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!