"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
***
Aku berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan wanita yang selama sepuluh hari ini terlihat seperti mayat hidup. Tawaran Erlan terus terngiang di kepalaku seperti melodi yang menggoda sekaligus mematikan. Kebebasan. Kata itu terasa begitu manis, namun harganya adalah pengkhianatan kepada Darrel—pria yang selama ini, dengan caranya yang kasar dan aneh, mencoba menjagaku dari dunia luar.
"Hanya perlu sedikit patuh, lalu aku bisa pergi," bisikku pada diri sendiri, meyakinkan hatiku yang mulai goyah.
Aku mandi dengan air hangat, menyikat rambutku yang kusut hingga rapi kembali, dan memilih gaun berwarna krem yang lembut. Aku harus terlihat seperti Liana yang dulu—gadis yang membuat Darrel tertarik, bukan Emily sang pembunuh harapan.
Sore mulai menjelang. Aku menuruni tangga dan berjalan menuju dapur utama. Martha dan beberapa pelayan tampak terkejut melihatku turun dengan wajah yang lebih segar.
"Nyonya? Anda butuh sesuatu?" tanya Martha, segera menghampiriku dengan raut cemas sekaligus lega.
"Aku ingin memasak, Martha. Darrel akan pulang sebentar lagi, kan?" tanyaku dengan senyum tipis yang kupaksakan.
"Tuan Muda biasanya pulang sebelum pukul tujuh, Nyonya. Tapi... biar kami saja yang memasak, Anda masih pucat," bujuk Martha.
"Tidak. Aku ingin memasakkan sesuatu yang dia suka. Apa makanan favoritnya?"
Martha sempat ragu sejenak, namun akhirnya ia menjawab, "Tuan Muda menyukai Steak au Poivre dengan kematangan medium rare, dan sup krim jamur buatan rumah. Dia tidak terlalu suka makanan yang terlalu manis."
Aku mengangguk. "Bantu aku menyiapkan bahan-bahannya."
Selama hampir satu jam, aku menyibukkan diri di dapur. Aroma lada hitam dan daging yang dipanggang mulai memenuhi ruangan. Mengiris bawang dan mengaduk sup setidaknya memberiku pengalihan dari pikiran gelap tentang Erlan. Aku harus membuat Darrel percaya bahwa aku sudah "menerima" takdirku, agar aku bisa mulai mempengaruhinya.
Tepat pukul setengah tujuh, suara deru mobil terdengar di halaman. Jantungku berpacu. Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat dan tegas bergema di aula. Darrel masuk ke dapur, masih mengenakan jas hitamnya, namun dasinya sudah dilonggarkan.
Ia berhenti tepat di ambang pintu dapur. Matanya yang tajam membelalak kecil saat melihatku berdiri di sana, mengenakan celemek dan sedang menata piring.
"Lily?" suaranya rendah, penuh keheranan. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Aku berbalik dan tersenyum, meski tanganku sedikit gemetar di balik kain lap. "Aku bosan di kamar, Darrel. Aku ingin membuatkanmu makan malam. Kau pasti lelah."
Darrel melangkah mendekat, matanya menyipit penuh selidik. Ia berhenti tepat di depanku, aroma tembakau dan parfum maskulinnya segera menyeruak. Ia meletakkan telapak tangannya yang besar di dahiku.
"Kau tidak demam," gumamnya. "Tapi kau bertingkah aneh. Setelah sepuluh hari mengurung diri dan memaki setiap kali aku masuk, sekarang kau memasak?"
"Aku hanya sadar, Darrel," ucapku sambil menunduk, mencoba memainkan peran sebagai istri yang penurut. "Menangis tidak akan menghidupkan Nenek. Dan membencimu... hanya membuatku semakin lelah. Kau benar, aku adalah istrimu sekarang. Aku harus belajar menerima itu."
Darrel terdiam cukup lama. Ia meraih daguku, memaksaku menatap matanya yang kelam. "Kau sungguh berpikir begitu? Atau ini hanya trik agar aku melepaskan pengawasan padamu?"
"Kau bisa mengawasiku sesukamu, Darrel. Tapi biarkan aku melayanimu malam ini," balasku lembut, memberanikan diri menyentuh lengannya.
Rahangnya yang tegas tampak sedikit mengendur. Ia menghela napas panjang, melepaskan cengkeramannya di daguku. "Baiklah. Sajikan di meja makan kecil di sayap barat. Aku ingin makan dengan tenang, tanpa ada pelayan di sekitar kita."
Makan malam itu berlangsung dengan keheningan yang berbeda. Tidak ada teriakan atau piring terbang. Darrel memakan masakanku dengan lahap, meski ia tidak banyak bicara. Aku memperhatikannya, mencari celah untuk memulai misi yang diberikan Erlan.
"Darrel," panggilku pelan saat ia menyesap anggur merahnya.
"Hmm?"
"Tadi... Ayahmu datang," ucapku hati-hati.
Gerakan tangan Darrel terhenti. Matanya langsung menatapku tajam. "Erlan ke kamarmu? Apa yang dia katakan? Dia menyakitimu?"
"Tidak, dia tidak menyakitiku," aku segera menggenggam tangannya di atas meja, mencoba menyalurkan rasa percaya. "Dia hanya bicara tentang masa depan. Tentang klan Grisham. Dia bilang... sudah saatnya kau mengambil kendali sepenuhnya."
Darrel tertawa getir, suara tawa yang kering. "Tentu saja dia bicara begitu. Dia ingin aku menjadi bonekanya seumur hidup."
"Tapi bagaimana jika itu bukan untuk dia? Bagaimana jika itu untuk kita, Darrel?" aku mencondongkan tubuh, mencoba menggunakan nada yang persuasif. "Jika kau menjadi pemimpin tertinggi, tidak akan ada lagi yang bisa mendikte hidup kita. Erlan tidak akan bisa menyentuhku, Winston tidak akan berani mendekat. Bukankah kau ingin melindungiku? Kekuasaan itu adalah perisai terbaik, bukan?"
Darrel menatapku dengan intensitas yang mengerikan, seolah ia sedang mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik mataku. "Kau mendorongku untuk masuk ke neraka yang selama ini coba kuhindari, Lily? Kau ingin aku menjadi monster yang memegang tongkat Grisham?"
"Aku hanya ingin kita aman, Darrel," bisikku, mengabaikan rasa bersalah yang mulai menusuk hatiku. "Hanya itu."
Darrel meletakkan gelasnya dengan denting yang keras. Ia berdiri dan menarikku bangkit, mendekapku erat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat.
"Jika aku mengambil takhta itu, tidak akan ada jalan kembali, Liana," bisiknya di telingaku. "Dunia akan melihatmu sebagai permaisuri dari klan paling berdarah. Kau siap menanggung itu?"
Aku mengangguk di dadanya, meski dalam hati aku berteriak: Maafkan aku, Darrel. Aku hanya ingin pergi dari sini.
***
Bersambung...
sebentar Evelyn masih hidup atau mati?