NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Janji di Balik Transparansi

Tepat pukul 02.00 dini hari, suhu di dalam kamar anjlok secara tidak wajar. Kaca jendela retak yang menghadap ke jalan raya tiba-tiba mengembun, namun embunnya berwarna merah kehitaman. Suara derik ribuan kaki kecil mulai terdengar dari balik dinding kayu kamar tersebut. Krik... Krik... Krik...

Nando, yang sedari tadi duduk bersila mengawasi Luna, langsung berdiri. Matanya memicing tajam. "Sialan. Dukun itu benar-benar tidak kenal lelah."

Garam krosok di bawah pintu mulai mendesis pelan, berubah warna menjadi hitam pekat. Bau daging busuk terbakar menusuk indra penciuman astral Nando.

Dari sela-sela lantai kayu dan celah bawah pintu yang sudah tidak terlindungi garam, mulai bermunculan asap hitam. Asap itu bergulung di lantai, perlahan memadat menjadi ratusan kelabang raksasa berbisa. Panjang kelabang-kelabang itu mencapai seukuran lengan orang dewasa, cangkangnya hitam legam memantulkan cahaya redup, dengan sungut merah menyala dan gigi taring yang meneteskan cairan asam kental yang mendesis saat mengenai lantai.

Itu adalah Teluh Kelabang Geni. Serangan jarak jauh dari sang dukun di Alas Roban yang melacak energi Keris Pangruwat dan buhul yang ada di dalam ransel Luna. Kelabang-kelabang itu merayap dengan suara klik-klik memuakkan, membentuk barisan melingkar mengepung ranjang tempat Luna tertidur.

"Jangan harap kau bisa menyentuhnya!" geram Nando.

Pendar birunya meledak hebat. Nando melayang ke tengah ruangan, menghentakkan kakinya ke lantai. Gelombang energi berbentuk cincin biru citrus menyapu lantai. Kelabang-kelabang asap yang berada di barisan terdepan seketika terbakar menjadi abu, memekik dengan suara seperti logam bergesekan sebelum lenyap.

Namun, kelabang-kelabang itu tidak berhenti. Mereka terus merembes keluar dari dinding, jumlahnya semakin banyak. Beberapa mulai merayap naik ke kaki ranjang.

"Luna! Bangun!" teriak Nando, suaranya menggema di ruangan.

Luna tersentak bangun, napasnya memburu. Matanya langsung disuguhi pemandangan mimpi buruk: lantai kamarnya tertutup karpet kelabang hitam raksasa, dan Nando sedang bertarung gila-gilaan, membakar mereka dengan tinju dan tendangan auranya.

"Kelabang Geni!" pekik Luna, refleks menarik kakinya menjauhi tepi kasur. Ia tahu persis apa itu. Kelabang ini bukan hewan fisik, melainkan murni dari teluh. Jika digigit, racunnya tidak akan membunuh tubuh, melainkan langsung merusak sukma dan menyebabkan koma yang tak bisa disembuhkan secara medis.

"Gunakan kerisnya, Luna! Energiku tidak bisa membakar semuanya, mereka terlalu banyak!" teriak Nando, meninju seekor kelabang yang mencoba merayap ke arah meja rias. Nando mulai terlihat kewalahan. Cahaya birunya berkedip-kedip redup setiap kali ia menggunakan energi besarnya.

Luna segera menyambar ranselnya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh gagang Keris Pangruwat. Saat ia menariknya keluar, hawa panas seketika menjalar dari besi berkarat itu.

Luna melompat turun dari kasur, tepat di belakang Nando. Seekor kelabang raksasa menerjang dari atas lemari, mengarah lurus ke wajah Luna. Dengan insting bertahan hidup yang diasah selama belasan tahun, Luna mengayunkan keris itu di udara.

SRAATT!

Ujung keris berkarat itu tidak menyentuh fisik kelabang, namun energinya membelah makhluk asap itu menjadi dua. Asap hitam itu menjerit dan meledak menjadi debu.

"Bagus!" seru Nando, berdiri bersisian dengan Luna.

"Ada terlalu banyak! Mereka terus datang dari balik dinding!" Luna memutar tubuhnya, menyabet dua kelabang lain yang mencoba menggigit pergelangan kakinya. "Dukun itu menggunakan energi bumi di sekitar sini. Kita harus memutus alirannya!"

"Bagaimana caranya?!"

Luna menatap berkeliling. Kamar ini berbentuk bujur sangkar. "Nando, aku butuh kau memusatkan seluruh sisa energi birumu menjadi satu titik yang kuat. Pukul tepat di tengah-tengah kamar ini. Gelombang kejut dari auramu akan memecah konsentrasi portalnya. Di saat yang sama, aku akan menancapkan keris ini ke lantai untuk mengunci segelnya!"

"Itu akan menguras habis sisa tenagaku untuk malam ini," ucap Nando, rahangnya mengeras, "tapi mari kita lakukan. Hitungan ketiga!"

Keduanya bersiap. Kelabang-kelabang itu mulai melompat bersamaan dari segala arah, membentuk gelombang hitam yang siap menelan mereka.

"Satu!" teriak Luna.

"Dua!" Nando mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, memusatkan seluruh aura birunya hingga menyilaukan mata.

"TIGA!"

Nando menghantamkan kedua tinjunya secara gaib ke lantai keramik. BLAAARRRR! Sebuah ledakan energi biru citrus yang luar biasa dahsyat menyapu seluruh ruangan. Suara dentuman itu tidak terdengar secara fisik, namun membuat seluruh kaca jendela di losmen itu bergetar hebat. Karpet kelabang itu terlempar ke udara, menjerit kesakitan karena terbakar aura murni.

Di detik yang sama, Luna berlutut dan menancapkan ujung Keris Pangruwat kuat-kuat ke lantai kayu di tengah ruangan. KRAAAK! Gelombang energi putih dari keris itu menyebar keluar, berpadu dengan sisa-sisa gelombang biru milik Nando, membentuk jaring cahaya yang menyegel seluruh dinding, lantai, dan langit-langit kamar.

Semua kelabang hitam itu lenyap dalam sekejap mata. Bau daging busuk menguap, tergantikan kembali oleh bau kapur barus tua dari losmen dan sisa-sisa aroma sandalwood yang sangat tipis.

Hening. Pertarungan itu berakhir sama cepatnya dengan saat ia dimulai.

Luna terduduk lemas di lantai, tangannya masih mencengkeram gagang keris. Napasnya tersengal-sengal. Di depannya, Nando jatuh berlutut. Pendar birunya benar-benar menghilang. Tubuh astralnya kini sangat transparan, nyaris terlihat seperti bayangan tipis yang hampir menyatu dengan udara. Pria itu menunduk, tubuhnya bergetar karena kelelahan absolut.

"Nando..." panggil Luna panik, merangkak mendekat. "Nando, kau tidak apa-apa?"

Nando mengangkat kepalanya dengan susah payah. Matanya masih menyiratkan ketegasan, namun suaranya kini terdengar sangat pelan, seolah berasal dari tempat yang sangat jauh. "Aku... aku harus mengistirahatkan sukmaku, Luna. Aku terlalu banyak membakar energi. Aku akan masuk ke mode dorman (hibernasi) untuk memulihkan diri... hingga besok pagi."

"Jangan tinggalkan aku," bisik Luna, ketakutan mulai merayap. Tanpa pelindung Nando, ia akan menjadi sasaran empuk.

Nando tersenyum sangat tipis, sebuah senyum yang menenangkan hati Luna yang kalut. "Hanya beberapa jam. Simpan keris itu... dan tetaplah di dalam jaring cahayanya. Besok pagi... kita akan berburu serigala di sarangnya."

Setelah mengucapkan kalimat itu, wujud transparan Nando perlahan menyusut menjadi sebuah bola cahaya biru kecil sebesar kepalan tangan, lalu melesat masuk ke dalam ransel Luna, tepat di dekat letak buhul dan keris, menjadikannya tempat berlindung sementara untuk memulihkan energinya.

Luna sendirian di kamar nomor 13 yang berantakan. Ia memeluk ranselnya erat-erat di depan dada, bersandar di dinding. Matahari akan terbit beberapa jam lagi. Besok, ia harus mencari sopir yang cukup gila untuk mengantarnya ke Alas Roban. Dan kali ini, di paruh pertama perjalanan, Luna harus melindungi dirinya sendiri. Perang ini tidak lagi bisa dihindari. Karang Mayit memanggil namanya.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
ms. S
up up suka bgt Nando dan luna
ms. S
keren👍👍
ms. S
gila.. gila... novel yg bikin aku ga PGN tidur aka baca trus smpe skrg. deg2an iya, sng iya, menggeltik iya.. top deh. arogansi Nando dan loyalitas Luna jadi satu membentuk kolaborasi yg bikin entitas lainnya tercerai berai.. good job
ms. S
aku jadi deg2an
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hhh... tegang banget /Sleep/ Luna udah kehabisan tenaga, saat lawan paling kuat muncul 🙀
Ai Emy Ningrum: hahaha 😈👿😈👿😈👿
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
waahh ketemu disini sama Pak Seno, Alya dan Gulo 😍
Sur Tini
lanjut ka makin seru
Akbar Aulia
apakah Nando dan Luna mampir diwarung koki seno
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lanjut Season 2 🥳🥳🥳
SeekarYaSeekar
menantikan petualangan selanjutnya
SeekarYaSeekar
next
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
coo cuwiiittt 🥰🥰 ditengah intaian ibliss
Ai Emy Ningrum: iblis pun meleyot hatinya 💔💔💔 hatinya gundah..terakhir merasakan hal seperti itu kita2 500 tahun sblum jd iblis 🫩🫩😈👿👹👺
total 1 replies
SeekarYaSeekar
selalu menegangkan, tapi sayang kalau dilewatkan
SeekarYaSeekar
ngeri tapi penasaran
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Aahh aq jd ikutan 😭😭terharu.
Sebentar lg berita mereka bkl viral nih, apkh Kala ank mngenali Luna ya. 😃

lanjut thor.
Pappan Boquet
ayo kak up up up
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Aahh jd ikut tegang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak sabar.. gak sabar pengen ikut menyaksikan..
up lagi kak Tanty 😍😍
Ai Emy Ningrum: yaa begitulah 😸 kebahagiaan tersendiri liyat jemuran kering 😚😚
total 5 replies
SeekarYaSeekar
kemarin lusa aku baca ini maraton sampai malam, dan sekarang harus nunggu update an rasanya luaamaaaa banget 😂😂
Semangat 💪💪 KK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!