Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29
Caelan menghubungi perusahaan pengawalan dan menyewa bodyguard untuk Amelia. Setiap hari akan ada yang berjaga di sekitar Amelia dan Emi, baik ketika di rumah maupun saat bepergian.
Selama tiga hari Amelia, Caelan, dan Emi tinggal di rumah orangtua Caelan. Dan selama itu tidak ada gangguan apa pun. Andrew tidak terlihat sama sekali, baik di sekitar rumah Keluarga Harrison maupun di rumah Amelia dan Caelan. Namun, Amelia mendapat kabar kalau rumah lamanya dimasuki pencuri.
Tetangga Amelia melihat orang mencurigakan keluar dari rumah Amelia sambil membawa sebuah tas besar. Saat ditanya, orang itu mengaku sebagai paman Amelia, tapi ketika tetangga itu ingin menghubungi Amelia untuk mengonfirmasi, orang itu malah kabur.
Saat dilakukan pengecekan, benar saja ada beberapa benda yang hilang. Benda-benda elektronik berukuran kecil serta hiasan yang memiliki nilai jual.
Amelia ingin datang ke rumah, Caelan melarang, tapi setelah Amelia merengek seharian Caelan mengizinkannya pergi. Keesokan harinya, Amelia ditemani Caelan pergi ke rumah lama Amelia.
Saat tiba di rumah lama, Amelia langsung memeriksa setiap ruangan. Benar saja, beberapa alat elektronik raib, 2 lukisan di ruang tamu juga menghilang, beberapa hiasan meja juga ikut dicuri, serta gelas-gelas bohemian antik yang merupakan koleksi Andrea tidak lagi berada di tempatnya.
“Dia mengambil koleksi gelas Mama,” ucap Amelia sedih. Harga gelas-gelas itu mungkin tidak mahal, tapi kenangannya sangat berharga bagi Amelia.
Caelan hanya merangkul Amelia, memberi penghiburan nyata tanpa perlu mengeluarkan kata-kata.
“Polisi sudah tahu pelakunya?” tanya Amelia.
Tepat saat itu, mobil patroli berhenti di depan rumah. Amelia dan Caelan segera keluar menemui dua polisi yang datang.
“Nona Cammeron?” tanya seorang polisi dengan name tag Jason di seragamnya.
“Ya, itu saya,” jawab Amelia. “Dan ini suami saya.” Caelan menyalami kedua polisi yang datang dan memperkenalkan diri.
“Bagaimana hasil penyelidikannya?” tanya Caelan.
“Kami sudah mengidentifikasi pelaku.” Jason menyerahkan sebuah foto pada Amelia. “Diambil dari kamera pengawas jalan.”
“Andrew,” gumam Amelia.
“Anda mengenalnya?”
Amelia mengangguk. “Ini adalah paman saya.” Lalu Amelia menceritakan mengenai hubungan buruknya dengan Andrew hingga apa yang dilakukan pria itu beberapa hari lalu. Caelan menambahkan informasi mengenai Andrew yang pernah mendekam di penjara karena penipuan.
“Kemungkinan besar, dia memang mengincar kalian. Bukan hanya motif uang, tapi juga balas dendam.”
Mendengar hal itu, Amelia merasa takut. Apalagi Andrew sudah nekad mencuri di rumahnya. Bisa jadi, pria itu akan melakukan hal sama di rumah baru Amelia.
“Apa kalian akan menginap di sini?”
“Tidak, kami akan kembali ke Amber setelah ini.”
“Itu pilihan terbaik,” kata Jason. “Kami akan memastikan tempat ini terus diawasi, dan kalian juga perlu berkoordinasi dengan pihak berwenang di Amber untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.”
Setelah mengobrol beberapa saat dengan petugas patroli, Caelan memutuskan agar mereka segera pulang sebelum gelap. Amelia menurut, dan mereka langsung pergi dari rumah lama.
Setelah mobil melaju, Amelia berkata, “Apa sebaiknya aku menjual rumah itu?”
“Kau tidak harus melakukannya, tapi jika kau ingin melakukannya, aku tidak akan melarang,” ujar Caelan.
“Mungkin aku harus memberikan sebagian uang penjualannya pada Paman Andrew agar dia berhenti mengganggu kita,” kata Amelia. Ia pasrah jika harus menyerahkan uang penjualan rumah pada Andrew, asalkan pamannya itu berhenti mengganggu hidupnya.
“Aku tidak setuju,” sahut Caelan. “Memberinya uang bukan penyelesaian. Karena jika uang itu habis, dia akan datang lagi padamu. Dan itu akan terus berlanjut.”
Amelia memikirkan kemungkinan yang sama. Orang seperti Andrew tidak akan berhenti setelah diberi sekali. Ia akan meminta lagi dan lagi. Menjadikan Amelia dan Caelan sebagai sumber uang.
“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Amelia. Setelah mendengar kabar pencurian di rumah lama, Amelia sudah menduga siapa pelakunya, dan semenjak itu ia merasa khawatir dan takut.
“Aku mengerti kalau kau merasa khawatir dan ingin ini cepat berlalu. Aku pun demikian, tapi memberi Andrew uang bukan solusi. Kita harus menghentikannya,” jawab Caelan.
“Bagiamana caranya?” Amelia tidak bisa menutupi kegelisahannya. Sebab yang menjadi sasaran bukan hanya dirinya, tapi Caelan dan Emi serta orang-orang terdekat mereka.
“Untuk saat ini, yang bisa kita lakukan hanya menjaga diri. Kau harus selalu hati-hati dan waspada, meskipun ada orang-orang profesional yang menjaga kalian sepanjang waktu, tapi meningkatkan kewaspadaan diri juga penting.” Caelan berusaha menenangkan Amelia. “Tenanglah, aku akan melindungimu. Aku akan tetap di kota sampai masalah ini selesai.”
“Bagaimana pekerjaanmu?”
“Aku akan bekerja dari rumah atau kantor sedangkan untuk perjalanan dinas akan diurus oleh rekanan atau asistenku.”
“Maaf, sudah menghambat pekerjaanmu,” ucap Amelia penuh penyesalan.
“Simpan saja kata maaf itu,” ujar Caelan. “Sudah tugasku untuk menjagamu.”
“Terima kasih.”
Mobil yang dikendarai Caelan baru saja memasuki Kota Amber, ketika ponsel Amelia berbunyi. Panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.
Saat Amelia menunjukkan pada Caelan, suaminya memberi isyarat agar mengangkat panggilan itu. Amelia menurut dan menyalakan loud speaker.
“Keponakanku yang baik.”
Suara itu langsung Amelia kenali. Ia menyebut nama Andrew tanpa suara dan Caelan melambatkan laju mobil. Lalu lintas sore itu tidak terlalu padat dan mereka sudah keluar dari jalan antar kota. Di depan sudah terlihat gapura dengan nama Kota Amber di bagian atas.
“Bagaimana keadaan rumahmu? Ah, harusnya aku menyebutnya rumah kita. Karena masih ada hakku di sana.”
“Karena merasa berhak, makanya kau mencuri dari rumahku?” balas Amelia.
“Aku hanya mengambil beberapa barang dan menjualnya, karena aku perlu uang. Suamimu membuatku bangkrut dan memenjarakanku.”
Jemari Amelia terkepal, suaranya dingin ketika membalas, “Kau memang pantas mendapatkannya.”
“Aku hanya meminta hakku, dan kalian membalas dengan kejam.”
“Kau tidak punya hak sedikit pun. Karena rumah itu adalah milik ibuku dan sudah diwariskan padaku.”
“Aku tidak menginginkan rumah itu, hanya uang. Kalau kau memberi-“
“Tidak, kau tidak akan mendapatkan sepeser pun.” Kali ini Caelan yang menyahut.
“Akhirnya kau bersuara juga.”Andrew berbicara dengan Caelan. “Kupikir pria tua itu suami Amelia, ternyata kau. Aku salah memperhitungkan lawan.”
“Karena kau sudah tahu, sebaiknya kau mundur. Jika kau berhenti mengganggu keluargaku, maka aku tidak akan melakukan apa pun padamu, tapi-“
Andrew memotong kalimat Caelan. “Kau mau memasukkanku ke penjara lagi? Sebelum kau melakukannya, aku akan membuatmu tidak bisa melakukannya.”
Sebuah mobil berlawanan arah tiba-tiba muncul dari belokan dan berada di depan mobil Amelia dan Caelan. Dengan kecepatan penuh maju mobil sedan hitam itu melaju, menubruk bagian depan mobil mereka karena Caelan terlambat menghindar.
Amelia dan Caelan saling tatap. Lalu teriakan Amelia terdengar nyaring ketika hantaman itu terjadi.