Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Kegelapan malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, begitu pula dengan Mansion Mahendra yang megah. Di balik pilar-pilar marmer yang terlihat kokoh, keretakan mulai menjalar secara perlahan. Di dalam kamar paviliun yang tersembunyi, Adelard sedang duduk menghadap layar laptopnya yang berpijar, sementara Devan Dirgantara berdiri di dekat jendela, memandangi bayangan pepohonan yang bergoyang ditiup angin.
"Ayahmu bukan hanya seorang pengusaha, Adel. Dia adalah seorang pragmatis yang kejam," suara Devan memecah keheningan, rendah namun penuh penekanan. "Jika kau ingin dia mengakuimu sepenuhnya, kau tidak bisa hanya mengandalkan air mata atau hasil tes DNA. Kau harus membuktikan bahwa kau adalah aset yang lebih berharga daripada reputasi Clarissa."
Adel menoleh, matanya yang lelah namun tajam menatap Devan. "Aku sudah mengumpulkan data kebocoran dana yayasan. Tapi seperti katamu, Ayah mungkin akan menutupi ini demi menjaga nama baik Ibu dan Clarissa. Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak punya pilihan selain bertindak?"
Devan berbalik, melangkah mendekat hingga ia berdiri di samping meja kerja Adel yang sempit. Ia meletakkan sebuah flashdisk hitam di atas meja. "Di dalam sana ada laporan rahasia tentang ekspansi Mahendra Group ke sektor energi hijau. Ayahmu sedang buntu. Dia butuh analisis pasar yang tidak terpengaruh oleh bias internal perusahaannya. Analisislah, berikan solusi yang tidak terpikirkan oleh staf ahlinya yang sudah tua itu."
"Kau ingin aku membantunya secara rahasia?" tanya Adel.
"Persis. Jadikan dirimu 'bayangan' yang memecahkan masalahnya. Biarkan dia mulai bergantung pada solusi-solusi yang kau berikan tanpa dia tahu siapa pengirimnya untuk saat ini. Saat dia menyadari bahwa 'anak angkat' yang dia kucilkan adalah otak di balik keberhasilannya, egonya akan mulai goyah."
Adel mengambil flashdisk itu, merasakannya di genggaman tangannya. "Kenapa kau melakukan ini, Devan? Kau mempertaruhkan posisimu sendiri dengan membantuku melawan keluarga tunanganmu."
Devan tertawa kecil, suara yang terdengar dingin namun memiliki nada kekaguman. "Aku sudah bilang, aku benci barang palsu. Dan di rumah ini, Clarissa adalah kepalsuan terbesar. Selain itu... aku melihat potensi dalam dirimu yang tidak dimiliki oleh siapa pun di lingkungan ini. Kau adalah badai yang sedang tenang, Adel. Dan aku ingin melihatmu menghancurkan tatanan yang membosankan ini."
---
Keesokan harinya, suasana di sekolah tidak lebih baik dari di rumah. Clarissa, yang merasa mendapatkan angin segar setelah keputusan "anak angkat" itu, mulai melakukan manuver baru untuk meracuni pikiran Tuan Mahendra.
Di kantin sekolah yang mewah, Clarissa sengaja berbicara keras-keras saat ia tahu ayahnya sedang makan siang di dekat area tersebut untuk kunjungan donatur tahunan.
"Iya, kasihan sekali Ayah," ucap Clarissa pada Sarah dan gengnya, suaranya diatur agar terdengar prihatin namun tajam. "Adel itu sering sekali masuk ke ruang kerja Ayah diam-diam malam-malam. Aku takut dia berniat mencari dokumen harta warisan atau semacamnya. Mengingat latar belakangnya yang dari panti asuhan, pasti sulit baginya untuk tidak tergoda melihat kekayaan sebanyak itu."
Tuan Mahendra, yang duduk tidak jauh dari sana bersama Kepala Sekolah, menghentikan gerakannya saat memotong steik. Wajahnya mengeras. Benih kecurigaan yang ditanamkan Clarissa mulai berakar.
Sore harinya, saat Adel baru saja pulang dari latihan etiket yang melelahkan, Tuan Mahendra memanggilnya ke ruang kerja. Ruangan itu terasa lebih berat dari biasanya.
"Adel," panggil Tuan Mahendra tanpa menoleh dari jendelanya. "Aku dengar dari Clarissa bahwa kau sering terlihat di sekitar ruang kerjaku saat malam hari. Apa yang kau cari?"
Adel menarik napas panjang. Ia sudah menduga ini akan terjadi. "Saya hanya ingin belajar, Ayah. Saya merasa banyak hal yang tidak saya ketahui tentang bagaimana Ayah membangun perusahaan ini."
"Belajar?" Tuan Mahendra berbalik, matanya menyipit penuh selidik. "Atau kau sedang mencari celah untuk mengambil keuntungan? Ingat, Adel, statusmu di sini adalah anak angkat. Aku memberikanmu nama Mahendra bukan untuk kau gunakan merusak perusahaan dari dalam."
"Saya tidak pernah berniat merusak apa pun," jawab Adel tenang, meskipun hatinya terasa perih mendengar tuduhan ayahnya sendiri. "Jika Ayah tidak percaya, Ayah bisa memeriksa CCTV. Saya hanya membaca buku-buku sejarah bisnis di rak depan, tidak pernah menyentuh meja Ayah."
Tuan Mahendra terdiam sejenak. Kejujuran di mata Adel membuatnya merasa sedikit bersalah, namun suara Clarissa kembali terngiang di kepalanya. "Tetaplah di paviliunmu jika tidak ada urusan penting. Jangan membuat Ibu dan Clarissa merasa tidak nyaman dengan kehadiranmu di area utama saat malam hari."
Adel membungkuk hormat dan keluar. Di koridor, ia berpapasan dengan Clarissa yang sedang berdiri bersandar di dinding dengan senyum penuh kemenangan.
"Bagaimana? Enak kan dituduh jadi pencuri di rumah sendiri?" bisik Clarissa saat Adel melewatinya. "Itu baru permulaan, Adel. Ayah mungkin mengakuimu secara hukum, tapi secara emosional, kau adalah ancaman yang harus dia waspadai. Aku akan memastikan dia melihatmu sebagai musuh, bukan putri."
Adel berhenti sebentar, menatap Clarissa dengan pandangan yang membuat Clarissa sedikit gentar. "Kau sangat sibuk menghancurkan reputasiku, Clarissa, sampai kau lupa menjaga milikmu sendiri. Berhati-hatilah, orang yang terlalu fokus pada lubang di tanah orang lain sering kali tidak sadar bahwa dia sendiri sedang berdiri di atas jurang."
---
Malam harinya, kemarahan Adel berubah menjadi ambisi yang dingin. Ia membuka flashdisk dari Devan. Data tentang energi hijau itu sangat kompleks, penuh dengan grafik teknis dan proyeksi finansial yang membosankan. Namun bagi Adel, ini adalah sebuah teka-teki yang harus dipecahkan.
Selama berjam-jam, ia tidak beranjak dari kursinya. Ia membedah satu demi satu kesalahan strategi dalam draf tersebut. Ia menemukan bahwa perusahaan konsultan yang disewa ayahnya sengaja melebih-lebihkan biaya operasional untuk mengambil keuntungan pribadi.
Adel mulai menulis. Ia menyusun ulang strategi itu, memangkas biaya yang tidak perlu, dan menambahkan poin tentang integrasi teknologi baru yang sedang tren di Eropa—informasi yang ia dapatkan dari jurnal bisnis internasional yang dikirimkan Devan lewat email.
Tengah malam, sebuah email anonim terkirim ke alamat pribadi Tuan Mahendra dengan subjek: *“Analisis Kebocoran dan Optimalisasi Proyek Green Energy - Tahap 1”*.
Di tempat lain, di kediaman keluarga Dirgantara, Devan duduk di depan komputer pribadinya, memantau aktivitas server. Ia melihat email itu terkirim. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang biasanya kaku.
"Kau benar-benar cepat belajar, Adelard," gumam Devan.
Keesokan paginya, Tuan Mahendra tidak keluar dari ruang kerjanya selama berjam-jam. Ia tertegun membaca analisis anonim yang masuk ke emailnya. Analisis itu begitu tajam, begitu berani, dan menyelamatkan perusahaannya dari kerugian triliunan rupiah.
"Siapa orang ini?" gumam Tuan Mahendra pada dirinya sendiri. Ia segera memanggil Pak Hardi. "Hardi, cari tahu dari mana email ini berasal. Ini adalah solusi paling brilian yang pernah aku baca selama sepuluh tahun terakhir."
Pak Hardi, yang sudah tahu sedikit tentang aktivitas Adel, hanya mengangguk sopan. "Akan saya usahakan, Tuan. Namun, pengirimnya menggunakan enkripsi tingkat tinggi."
Sepanjang hari itu, Tuan Mahendra tampak termenung. Saat makan malam, ia terus menatap Adel yang duduk diam di ujung meja, sedang dicerca oleh Nyonya Siska karena salah meletakkan sendok sup.
"Adel," panggil Tuan Mahendra tiba-tiba.
Seluruh meja makan terdiam. Nyonya Siska dan Clarissa menatap Tuan Mahendra dengan bingung.
"Ya, Ayah?" sahut Adel tenang.
"Apakah kau... tahu sesuatu tentang teknologi turbin angin terbaru yang dikembangkan di Denmark?" tanya Tuan Mahendra, menguji secara halus.
Adel sempat melirik ke arah Devan yang sedang berkunjung untuk makan malam. Devan memberi isyarat kecil dengan matanya.
"Saya sempat membaca sedikit di jurnal perpustakaan sekolah kemarin, Ayah," jawab Adel dengan nada yang sengaja dibuat rendah hati. "Katanya sistem integrasi sensornya bisa memangkas biaya perawatan hingga dua puluh persen. Tapi itu hanya bacaan sekilas."
Tuan Mahendra menjatuhkan sendoknya ke piring hingga menimbulkan bunyi denting yang keras. Persis. Itu adalah poin yang ada di email anonim itu. Ia menatap Adel dengan tatapan yang sulit diartikan—antara tidak percaya, kagum, dan curiga.
Clarissa segera merasakan perubahan atmosfer itu. "Ayah, jangan dengarkan dia. Paling dia cuma sok tahu supaya terlihat pintar di depan Devan. Mana mungkin anak yang besar di panti asuhan mengerti soal turbin Denmark."
Namun, untuk pertama kalinya, Tuan Mahendra tidak membalas ucapan Clarissa. Ia terus menatap Adel. "Besok, datanglah ke ruang kerjaku jam tujuh malam. Ada beberapa dokumen yang ingin aku tunjukkan padamu. Hanya kita berdua."
Wajah Clarissa mendadak pias. Ia menatap ibunya, namun Nyonya Siska juga tampak bingung. Sementara itu, di ujung meja, Adel merasakan jantungnya berdegup kencang. Rencananya dengan Devan mulai bekerja.
Setelah makan malam selesai, Devan berpapasan dengan Adel di koridor menuju paviliun.
"Pancingannya sudah dimakan," bisik Devan sambil tersenyum licik. "Sekarang tinggal bagaimana kau memainkan perannya di ruang kerja besok. Jangan tunjukkan semua kartu asmu sekaligus. Biarkan dia memohon untuk tahu lebih banyak."
Adel mengangguk. "Terima kasih, Devan. Tanpa bantuanmu, aku tidak akan pernah punya kesempatan ini."
"Jangan berterima kasih padaku sampai kau benar-benar duduk di kursi Direktur Utama itu, Adel Mahendra," Devan menepuk bahu Adel dengan lembut sebelum menghilang di balik kegelapan pintu keluar.
Malam itu, Adel tidak bisa tidur. Ia tahu bahwa besok malam adalah pertaruhan terbesarnya. Di satu sisi, ia mulai mendapatkan perhatian ayahnya. Namun di sisi lain, ia tahu Clarissa tidak akan tinggal diam melihat posisinya terancam. Sebuah perang baru sedang dipersiapkan di balik pintu tertutup, dan Adel sudah siap untuk menjadi pemenangnya.