NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tabebuya: Keindahan Penantian

Pagi itu, masih menyisakan tetesan sisa hujan semalam. Awan kelabu masih setia menyelimuti bumi, membuat para manusia enggan bangun untuk memulai hari.

Sudah sedari tadi Nia membuka mata. Namun, raganya enggan bangun dan masih menatap lukisan sosok Angkasa yang dilukisnya kemarin.

"Pagi, Ang," bisik Nia.

"Pagi," balas Angkasa dalam pikiran Nia.

Nia beringsut di dalam selimutnya. Mata kuliah pagi ini bukanlah mata kuliah favoritnya —Sejarah Seni Rupa Indonesia— membuatnya tak begitu bersemangat di pagi hari.

"Baiklaaah..." kata Nia sambil bangun dan meregangkan tubuhnya.

"Kita pindah lokasi dan dengarkan dongeng sebelum tidur pagi ini," gumam Nia sambil beranjak dari kasurnya sambil menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian, Nia sudah rapi dengan midi dress kasual berkerah warna hitam dipadu dengan sneakers broken white yang membuat penampilannya segar. Rambut panjangnya dia ikat sembarang sambil berjalan keluar dari kamar kosnya.

"Well... Aku harus jalan cepat," gumam Nia sambil bergegas menuruni tangga kosnya.

Kos Nia terletak tak jauh dari kampus, hanya membutuhkan dua puluh menit jalan kaki santai atau sepuluh menit jalan kaki cepat untuk sampai ke fakultasnya. Saat Nia tengah berjalan cepat menyusuri jalanan kampus, sebuah suara menyapanya.

"Butuh tumpangan, Cantik?" kata Bumi, teman sekelas Nia, menawarkan boncengan motornya yang sepi penumpang.

"Mmm... Boleh?" tanya Nia memastikan.

"Bolehlah buat kamu," jawab Bumi sambil menaik-turunkan alisnya. Nia tersenyum.

"Thanks," ucap Nia sambil membonceng Bumi.

"Sama-sama, Cantik," kata Bumi sambil melajukan motornya perlahan.

"Nama ku bukan Cantik, Bumi,"

"Okeee... Sama-sama, Duniaaa," kata Bumi mengoreksi panggilannya.

"Nia aja, Bumi,"

"Nggak mau. Nggak keliatan uniknya. Nggak keliatan kerennya," tolak Bumi.

"Bisa aja. Nama kamu juga keren kok," puji Nia tulus.

"Nama Bumi itu beken, Dunia. Tapi, nama Dunia Damai Sentosa, cuma ada satu. Kamu," kata Bumi. Nia tersenyum.

Sejak pertama kali mendengar namanya, Bumi sudah langsung jatuh cinta tanpa mempedulikan bagaimana rupa si pemilik nama. Dan begitu Bumi mengenal dekat Nia, dia semakin jatuh hati padanya. Orangnya begitu merepresentasikan namanya.

Motor Bumi sudah terparkir di area parkir Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). Nia dan Bumi berjalan bersama menuju kelas mereka. Kuliah segera dimulai sesaat setelah keduanya tiba karena dosen juga tiba di waktu yang hampir bersamaan dengan mereka.

Seratus menit mendengarkan kuliah tentang sejarah seni rupa memang cukup melelahkan. Untung saja mata kuliah kedua cukup menyenangkan. Seni Lukis Alam Benda. Nia rela jika harus menghabiskan seratus lima puluh menit waktu hidupnya untuk melukis.

"Bengkel, here we go!" kata Bumi semangat. Nia tersenyum.

"Kali ini obyeknya apa ya?" tanya Rasi, sahabat Nia dari SMA, antusias.

"Apapun obyeknya bakalan gue sikat," kata Bumi.

"Ya... Ya... Si Master Perspektif," puji Rasi dengan nada yang sama sekali tidak memuji. Bumi tersenyum bangga.

Nia, Bumi, dan Rasi tengah berjalan menuju bengkel di ujung lorong lantai satu bagian belakang gedung satu, saat teriakan histeris terdengar dari area parkir Fakultas Sastra, yang letaknya di belakang gedung satu FSRD.

"Heboh amat? Artis?" tanya Rasi penasaran sambil menoleh ke arah teriakan histeris di area parkir Fakultas Sastra.

Nia ikut menoleh. Matanya membulat saat menangkap sosok di tengah kerumunan para mahasiswi.

"Aang?" gumam Nia sambil berhenti berjalan menuju bengkel. Bumi dan Rasi turut berhenti.

"Aang?" tanya Bumi sambil menatap Nia. Rasi menatap Bumi dan Nia bergantian.

"Mmm... Lo kenal?" tanya Rasi pada Nia.

"Eh? Oh, yaaa... bisa dibilang begitu. Yuk!" kata Nia lalu melanjutkan perjalanan menuju bengkel.

Rasi menatap Bumi sesaat lalu menatap kerumunan mahasiswi sastra yang histeris, kemudian mengikuti Nia menuju bengkel. Mata Bumi masih terpaku pada sosok di tengah kerumunan heboh mahasiswi.

"Aang," gumam Bumi, lalu berjalan menuju bengkel menyusul Nia dan Rasi.

Nia sudah duduk di salah satu bangku dan menyiapkan kertas lukis di easel. Rasi duduk di bangku samping kanan Nia dan menatapnya.

"Siapa cowok tadi?" tanya Rasi pada Nia penuh selidik sambil menyiapkan kertas lukis di easel.

"Eh?"

"Cowok yang bikin heboh anak sastra tadi, siapa?" tanya Rasi sekali lagi. Bumi sudah duduk di sisi kiri Nia, ikut menyimak jawaban apa yang keluar dari mulut Nia.

"Oh. Dia temen aku waktu di panti," kata Nia.

"Panti?" tanya Bumi.

"Iya, aku besar di panti. Trus diangkat jadi anak di keluarga ku yang sekarang waktu aku umur sebelas tahun," jelas Nia. Rasi sudah mengetahui cerita itu sejak dia mengenal Nia di bangku SMA.

Bumi terdiam mengetahui satu fakta baru yang Bumi tahu dari Nia. Bumi menatap Nia yang masih menceritakan sosok pria tadi pada Rasi. Tak ada perasaan malu mengungkap bahwa dia pernah besar di panti asuhan.

"Wow! Jadi dia temen masa kecil lo? Jangan bilang first love lo itu dia," celetuk Rasi setelah mendengar cerita singkat Nia. Bumi tersadar dari lamunannya.

"Apaan sih?" kata Nia sambil tersipu.

"Eh, tapi kenapa dia masuk di pertengahan semester genap gini sih? Aneh," tanya Rasi lebih kepada dirinya sendiri.

"Mungkin dia belum masuk," kata Bumi.

"Bisa jadi dia baru survei aja. Pendaftaran udah dibuka. Kalo nggak salah, besok ada tes penerimaan di gedung sastra," kata Bumi.

"Oh iya! Jadi, dia lebih muda dari kita?" tanya Rasi pada Nia. Nia menggelengkan kepalanya.

"Kalo dari umur sih, kita seumuran. Dia lebih tua empat bulan dari aku," kata Nia. Rasi terlihat manggut-manggut.

"Baik. Untuk tema hari ini saya ambil tema penantian berbuah indah. Jadi obyek lukis kita kali ini adalah..." kata Bu Indah, dosen Seni Lukis Alam Benda, sambil membuka kain penutup yang menutupi obyek lukis yang berdiri di sampingnya.

"Cukup susah ya membawa ini kesini," kata Bu Indah setelah kain penutup terbuka. Para mahasiswa tertawa kecil.

Sebuah pot besar dengan tanaman bunga berdiri di samping Bu Indah.

"Bunga tabebuya memiliki makna harapan baru atau keindahan setelah penantian," jelas Bu Indah.

"Karena tanaman ini biasanya bukan jenis tanaman hias, agak susah nyari yang versi mini," kata Bu Indah.

"Dan ini yang paling mini yang saya temukan," lanjut Bu Indah diikuti tawa para mahasiswa.

"Oke. Nggak perlu buang waktu lama-lama. Silakan mulai," kata Bu Indah mempersilakan para mahasiswa untuk mulai melukis.

Nia menatap lekat-lekat bunga berwarna pink itu. Harapan. Keindahan setelah penantian. Kata-kata yang seolah memberikan nafas bagi Nia yang tengah sedikit kecewa tentang pertemuan kembalinya dengan Angkasa. Penantian belasan tahun yang tak berujung indah.

'Atau... belum? Semoga ada keindahan di ujung jalan sana,'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!