Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — ORANG MATI YANG KEMBALI
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Aku bahkan tidak sadar sejak kapan napasku tertahan.
Pria itu berdiri santai di ambang lorong.
Air hujan masih menetes dari jas hitamnya.
Wajahnya pucat.
Dingin.
Dan terlalu familiar.
Tidak mungkin.
“Mustahil…”
Bisikku pelan.
Tanganku mulai gemetar.
Karena wajah itu—
wajah yang selama ini hanya muncul di ingatanku—
sekarang berdiri hidup tepat di depanku.
Ayahku.
Tidak.
Otakku menolak percaya.
Ayahku mati.
Aku melihat pemakamannya.
Aku hidup bertahun-tahun dengan kehilangan itu.
Jadi siapa pria ini?
“Alena.”
Suaranya terdengar pelan.
Lembut.
Dan itu menghancurkan pertahananku seketika.
Karena suaranya sama.
Persis sama.
Air mataku langsung jatuh tanpa izin.
“Tidak…”
Aku mundur satu langkah.
“Ini tidak mungkin…”
Mahesa langsung mengeras.
Untuk pertama kalinya sejak tadi—
pria itu terlihat kehilangan kendali.
“Kau…”
Tatapannya tajam penuh kebencian.
“Kau seharusnya mati.”
Pria itu tersenyum kecil.
“Aku juga berpikir begitu.”
Arkan langsung bergerak ke depanku.
Protektif.
“Kita belum tahu dia siapa.”
Tapi aku hampir tidak mendengar ucapan Arkan.
Karena pikiranku kacau.
Pria itu menatapku lagi.
Dan kali ini—
aku melihat sesuatu di matanya.
Rasa bersalah.
“Ayah…”
Bisikku pelan.
Pria itu menutup mata sebentar.
Dan itu sudah cukup jadi jawaban.
Dunia rasanya langsung runtuh lagi.
“Brengsek…”
Air mataku jatuh makin deras.
“Kamu hidup…”
Suaraku pecah.
“KAMU HIDUP?!”
Ruangan langsung dipenuhi emosiku yang meledak.
Aku melangkah maju.
Mendorong Arkan.
“Kamu hidup selama ini?!”
Pria itu diam.
Dan diamnya justru membuat semuanya lebih menyakitkan.
“Aku pikir kamu mati…”
Napasmu mulai berantakan.
“Aku hidup sendirian…”
Suara pecahku menggema di lorong bawah tanah itu.
“Aku dihancurkan…”
Tanganku mengepal keras.
“Dan kamu hidup?!”
Tatapannya berubah hancur.
Benar-benar hancur.
“Ayah minta maaf.”
Kalimat itu langsung membuatku tertawa.
Pahit.
Nyaris gila.
“Maaf?”
Aku menggeleng cepat.
Air mataku terus jatuh.
“Kamu tahu berapa malam aku berharap semua ini cuma mimpi?”
Sunyi.
“Kamu tahu berapa kali aku berharap ada seseorang datang nyelametin aku?”
Pria itu menunduk.
Dan untuk pertama kalinya
dalam hidupku—
aku melihat ayahku terlihat begitu kecil.
“Aku tidak punya pilihan.”
“JANGAN BOHONG!”
Suara pecahku membuat semua orang diam.
“Kamu selalu punya pilihan!”
Dadaku terasa sesak sampai sakit.
“Aku anakmu…”
Kalimat itu keluar begitu pelan.
Tapi justru paling menghancurkan.
Dan pria itu…
langsung terlihat seperti baru ditikam.
“Aku tahu.”
Suaranya serak sekarang.
“Justru karena itu aku pergi.”
Aku tertawa kecil sambil menangis.
“Tolong…”
Aku menggeleng.
“Jangan bikin semua ini terdengar seperti pengorbanan mulia.”
Sunyi.
Mahesa tiba-tiba tertawa kecil.
“Drama keluarga yang menyentuh.”
Tatapannya dingin ke arah ayahku.
“Tapi tetap tidak mengubah apa pun.”
Ayahku langsung menatapnya.
Dan seketika—
suasana berubah lagi.
Dingin.
Berbahaya.
“Kau masih jadi anjing mereka rupanya.”
Mahesa tersenyum tipis.
“Dan kau masih jadi pengkhianat.”
Aku menghapus air mata cepat.
Mencoba berpikir lagi.
“Ayah…”
Aku menatap pria itu.
“Kenapa sekarang?”
Tatapannya kembali melembut ke arahku.
“Karena mereka mulai bergerak terlalu jauh.”
“Terlalu jauh?”
“Mereka ingin mengaktifkan sistemnya.”
Jantungku langsung berdetak keras lagi.
Sistem.
Rahasia dalam biometrikku.
“Apa sebenarnya yang disimpan ayah?”
Sunyi.
Lalu—
ayahku menarik napas panjang.
“Semua data The Circle.”
“Aku sudah tahu itu.”
“Bukan cuma nama.”
Tatapannya berubah serius.
“Rekaman transaksi.”
“Pembunuhan.”
“Manipulasi politik.”
“Semua.”
Ruangan langsung terasa makin dingin.
“Kalau data itu bocor…”
Ayahku menatap semua orang.
“…negara bisa kacau.”
Mahesa tertawa kecil.
“Dan itu sebabnya data itu harus kembali ke kami.”
Arkan langsung melangkah maju sedikit.
“Kalau tidak?”
Tatapan Mahesa berubah mengerikan.
“Kalian semua mati.”
Leon mengangkat pistol lagi.
“Coba saja.”
Tapi ayahku langsung bicara—
“Tidak.”
Semua menoleh padanya.
“Kalian tidak mengerti.”
Suaranya serius.
Sangat serius.
“The Circle bukan cuma Mahesa.”
“Lalu?”
Ayahku menatapku.
Dan entah kenapa—
cara dia melihatku sekarang membuat jantungku terasa tidak nyaman.
“Orang paling berbahaya…”
Dia bicara pelan.
“…bahkan belum muncul.”
Sunyi.
Aku langsung merinding.
Karena nada suaranya terdengar takut.
Dan kalau pria seperti ayahku sampai takut—
berarti semuanya jauh lebih buruk.
“Siapa dia?” tanya Arkan cepat.
Ayahku diam beberapa detik.
Lalu—
“Aku tidak pernah tahu nama aslinya.”
Mahesa tersenyum kecil.
“Tapi semua orang memanggilnya…”
Tatapannya berubah dingin.
“…The Founder.”
Bulu kudukku langsung berdiri.
“Dia yang membentuk The Circle.”
“Dia juga yang memerintahkan pembunuhan keluargamu.”
Tatapan Mahesa langsung ke arahku.
“Dan sekarang…”
Dia tersenyum kecil lagi.
“…dia menginginkanmu hidup-hidup.”
Dadaku langsung terasa dingin.
Kenapa?
Kalau mereka hanya butuh data—
kenapa aku harus hidup?
Seolah membaca pikiranku—
ayahku langsung bicara.
“Karena sistem itu tidak bisa dibuka tanpa kamu sadar.”
Aku langsung membeku.
“Apa?”
“Biometrikmu bukan cuma sidik jari.”
Tatapan ayahku terasa berat sekarang.
“Itu terhubung ke respons neurologismu.”
Aku mulai merasa mual lagi.
“Semakin emosimu tidak stabil…”
Mahesa melanjutkan sambil tersenyum tipis.
“…semakin sistemnya aktif.”
Tidak.
Tidak mungkin.
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
Kenapa hidupku dihancurkan perlahan.
Kenapa mereka terus bermain dengan emosiku.
Kenapa aku terus ditekan.
Mereka tidak cuma ingin menangkapku.
Mereka ingin menghancurkanku secara mental—
agar sistem itu terbuka sendiri.
“Brengsek…”
Bisikku pelan.
Dan di detik itu—
suara langkah lain terdengar dari belakang lorong.
Pelan.
Tenang.
Semua langsung menoleh.
Lalu—
sebuah suara pria terdengar.
Dalam.
Tenang.
Dan mengerikan.
“Akhirnya…”
Langkah itu semakin dekat.
“…semua pemain utama berkumpul di satu tempat.”