Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Jangan lupa Follow Instagram Author
@arvn_63
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kera Mata Enam dan Pedang yang Menolak Bicara
Hutan Cermin Hitam tidak mengenal konsep siang dan malam. Di bawah kanopi daun kelabu yang merajut langit, waktu terasa membeku. Kabut tipis terus merayap di antara batang-batang pohon obsidian, membawa serta aroma lumut basah dan kebusukan yang tak berujung.
Shen Yuan berjalan menyusuri akar-akar pohon raksasa yang menonjol dari tanah. Pakaian sutranya yang tadinya putih bersih kini telah ternoda oleh bercak darah tiga pembunuh elit keluarga Lin. Namun, ia tidak repot-repot membersihkannya. Di tempat ini, bau darah adalah undangan, dan ia sedang menunggu tamunya.
Ujian Seleksi Murid Dalam mensyaratkan sepuluh Inti Iblis tingkat menengah. Membunuh manusia tidak memberikan inti tersebut, jadi cepat atau lambat, Shen Yuan harus berhadapan dengan penguasa asli hutan ini.
Tiba-tiba, langkah Shen Yuan terhenti.
Daun-daun kering di sekitarnya berhenti bergemerisik. Angin mendadak mati. Di mata Shen Yuan, pepohonan bertekstur cermin di sisi kirinya mulai memantulkan bayangan yang aneh. Bukan lagi bayangan dirinya, melainkan bayangan seorang wanita tua yang menangis darah, lalu berubah menjadi siluet Li Mu yang lehernya tergorok.
"Ilusi visual yang memanipulasi kelemahan mental," gumam Shen Yuan pelan. Ia tidak menutup matanya, membiarkan halusinasi itu menari di ujung pandangannya. "Trik yang kekanak-kanakan."
Di dalam Dantian-nya, Benih Hitam berputar pelan, memancarkan gelombang energi purba yang langsung menelan seluruh Qi Yin pengganggu itu. Pikiran Shen Yuan kembali sejernih es abadi. Namun, ia sengaja memiringkan tubuhnya, berpura-pura terhuyung ke belakang seolah pikirannya baru saja diracuni oleh ilusi tersebut.
Sraaaakkk!
Kail telah dimakan. Dari atas dahan pohon setinggi sepuluh tombak di belakangnya, sesosok bayangan raksasa melesat turun membelah kabut.
Itu adalah Kera Cermin Mata Enam. Binatang Buas Mutasi yang berada di Puncak Lapisan Ketujuh Kondensasi Qi. Tubuhnya setinggi dua manusia dewasa, ditutupi bulu perak yang memantulkan cahaya layaknya zirah baja. Enam mata merah menyala di wajahnya yang cacat berkedut liar, menatap Shen Yuan sebagai sepotong daging segar yang sudah kehilangan akal.
Kera itu mengayunkan lengan panjangnya yang dipenuhi otot beringas, cakarnya yang setajam pedang meluncur lurus untuk mengoyak leher Shen Yuan dari belakang.
Namun, mangsa yang ia kira telah lumpuh oleh ilusi itu tiba-tiba memutar tubuhnya dengan presisi yang mengerikan.
Shen Yuan tidak menghindar. Ia mengangkat lengan kirinya—lengan yang bebas dari perban—dan menangkis cakar raksasa itu secara langsung.
TRAAANGGG!
Suara benturan logam bergema di seluruh penjuru hutan. Kera Mata Enam itu membelalakkan keenam matanya karena terkejut. Cakarnya yang mampu membelah batu pualam, hanya meninggalkan bekas goresan putih tipis di kulit lengan pemuda itu.
Tulang Emas Pucat di dalam lengan Shen Yuan meredam seluruh gaya kejut dari serangan Puncak Lapisan Ketujuh tersebut tanpa retak sedikit pun.
"Kau punya enam mata," bisik Shen Yuan, menatap lurus ke wajah mengerikan kera itu. "Tapi kau masih tidak bisa melihat siapa yang sebenarnya sedang diburu."
Langkah Penghancur Bayangan.
Memanfaatkan keterkejutan kera tersebut, Shen Yuan menjejakkan kaki kanannya ke tanah. Qi cair mengalir mulus ke otot betisnya, melontarkannya ke udara hingga sejajar dengan wajah sang monster. Tangan kanannya yang masih terbalut perban tebal ditarik ke belakang.
Ia tidak menggunakan energi murni yang besar agar perbannya tidak terbakar. Ia hanya memadatkan setengah porsi Tinju Runtuh Gunung ke dalam buku-buku jarinya.
BUMMM!
Pukulan itu mendarat tepat di antara keenam mata sang kera.
Tengkorak tebal Kera Mata Enam berderak keras. Gelombang kejut merambat masuk ke dalam otaknya, mengubah jaringan saraf monster itu menjadi bubur dalam sepersekian detik. Tubuh raksasa seberat ratusan kati itu terpelanting ke belakang, menghantam pohon obsidian hingga pohon itu tumbang dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Kera itu mati bahkan sebelum punggungnya menyentuh tanah.
Shen Yuan mendarat dengan ringan. Ia melangkah mendekati mayat kera tersebut, menggunakan dua jarinya yang dilapisi Qi seperti pisau bedah untuk merobek dada sang kera, lalu menarik keluar sebuah kristal bundar berwarna perak kusam.
"Satu Inti Iblis Puncak Lapisan Ketujuh," ucap Shen Yuan, menyimpan batu itu ke dalam kantong penyimpanannya. Ia kemudian meletakkan telapak tangannya di atas bangkai kera tersebut.
Kitab Penelan Surga: Telan.
Pusaran hisap meledak. Bulu perak dan otot baja sang kera mengering seketika, dihisap habis menjadi energi murni yang mengalir masuk ke Dantian Shen Yuan. Mayat raksasa itu menyusut menjadi debu abu-abu dalam lima tarikan napas.
Lautan Qi cair di perut Shen Yuan beriak gembira. Dantian-nya kini terisi sekitar dua persepuluh bagian. "Esensi binatang mutasi jauh lebih murni dari pada kultivator manusia. Hutan ini benar-benar ladang panen yang sempurna," senyum Shen Yuan.
Namun, senyum itu langsung membeku.
Udara di sekitar Shen Yuan mendadak berubah. Suhu di hutan yang tadinya hanya dingin oleh kabut, tiba-tiba anjlok hingga titik beku. Lapisan es tipis mulai merayap naik menutupi daun-daun kering dan batang pohon obsidian di radius tiga tombak.
Bulu kuduk Shen Yuan meremang. Benih Hitam di perutnya bergetar hebat, bukan karena kelaparan, melainkan karena insting ancaman tertinggi.
Seseorang sedang mendekat. Seseorang yang langkah kakinya tidak mengeluarkan suara, namun niat membunuhnya begitu tajam hingga memotong angin itu sendiri.
Shen Yuan memutar tubuhnya perlahan, menyembunyikan tangan kanannya yang diperban kembali ke balik punggungnya. Mata obsidiannya menembus kabut kelabu, mengunci sesosok siluet yang berjalan dengan tenang dari arah utara.
Jubah linen putih yang ujungnya sedikit compang-camping. Rambut hitam yang diikat sembarangan. Dan sebuah pedang besi bersarung kayu kusam yang tersampir di punggungnya.
Ye Chuan. Sang Pedang Sunyi.
Pemuda itu berhenti lima langkah dari Shen Yuan. Matanya yang sedingin es abadi melirik tumpukan debu abu-abu bekas mayat Kera Mata Enam, lalu beralih menatap Shen Yuan.
Hening. Tidak ada di antara mereka yang berbicara selama beberapa detik. Hanya suara angin yang mendesau melewati pepohonan hitam.
Ye Chuan adalah elit peringkat pertama Sekte Luar. Auranya murni berada di Lapisan Kedelapan Kondensasi Qi. Namun, berbeda dengan Lin Feng yang memamerkan kekuatannya, kekuatan Ye Chuan terasa seperti pisau yang disembunyikan di balik sutra. Sangat tipis, namun mematikan.
"Itu adalah Kera Cermin Mata Enam," suara Ye Chuan akhirnya memecah kesunyian. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti gesekan dua bilah pedang. "Aku sudah melacak jejaknya sejak tiga jam yang lalu. Kulitnya tidak bisa ditembus oleh pedang tingkat menengah, dan serangannya setara dengan awal Lapisan Kedelapan."
Ye Chuan menghentikan kalimatnya. Tatapannya kini menembus tepat ke bola mata Shen Yuan, menelanjangi topeng pelayan yang selama ini ia kenakan.
"Dan kau... seorang murid yang tangannya divonis hancur oleh Tetua Yun, membunuhnya tanpa menggunakan senjata. Bahkan, kau melenyapkan bangkainya tanpa sisa."
Udara di antara mereka berdua terasa seperti ditarik hingga menjadi benang yang siap putus. Shen Yuan tahu, alibinya tentang "pelayan yang menang karena kekuatan buruh kasar" telah hancur total di mata pemuda ini. Ye Chuan tidak sebodoh Lin Feng atau para penonton di arena. Ia adalah predator sejati yang mengenali bau darah sesamanya.
Logika Shen Yuan berputar gila. Jika aku bertarung melawannya sekarang... dengan kultivasi awal Lapisan Ketujuh dan Tulang Emas Pucat, aku mungkin bisa menahan pedangnya. Tapi aku harus membuka seluruh segel Benih Hitam. Kami berdua akan terluka parah, dan itu hanya akan menguntungkan keluarga Lin yang sedang berkeliaran di hutan ini.
Shen Yuan memutuskan untuk tidak menyangkal. Menyangkal di depan orang pintar adalah penghinaan.
"Kera itu mengincar leherku. Aku hanya membela diri," jawab Shen Yuan tenang, suaranya mengalun stabil tanpa getaran sedikit pun. "Mengenai cara kera itu lenyap... Hutan Cermin Hitam memiliki banyak misteri. Mungkin kera itu ditelan oleh ilusi cerminnya sendiri."
Itu adalah jawaban yang penuh kebohongan, namun diucapkan dengan kebenaran yang mutlak.
Mata Ye Chuan sedikit menyipit. Tangan kanannya perlahan bergerak, ibu jarinya menyentuh pangkal pedang kayunya. Kling. Suara gesekan logam yang ditarik setengah inci dari sarungnya menggema.
Seketika, hawa dingin di hutan itu berubah menjadi niat pedang yang membunuh. Daun-daun yang membeku di sekitar Shen Yuan terbelah menjadi dua.
Shen Yuan tidak mundur. Ia menggeser kaki kanannya setengah jengkal ke belakang, merendahkan pusat gravitasinya. Di dalam Dantian-nya, Qi cair bergejolak ganas, siap meledakkan Tinju Runtuh Gunung dengan kapasitas maksimal dari Tulang Emasnya.
Jika pedang itu ditarik sepenuhnya, hutan ini akan bermandi darah.
Satu detik. Dua detik. Ketegangan itu bisa dipotong dengan pisau.
Tiba-tiba, Ye Chuan menekan kembali gagang pedangnya ke dalam sarung. Klak. Hawa membunuh yang mencekik itu seketika sirna, ditarik kembali ke dalam tubuhnya dengan kontrol yang sangat mengerikan.
"Sekte dipenuhi oleh badut yang suka berpura-pura menjadi naga," ucap Ye Chuan pelan, melepaskan cengkeramannya dari pedang. "Tapi kau... kau adalah naga yang berpura-pura menjadi cacing. Sungguh sandiwara yang melelahkan."
Shen Yuan sedikit mengendurkan ototnya, meski kewaspadaannya tetap berada di titik tertinggi. "Berada di tempat yang terang hanya akan mengundang terlalu banyak pemanah, Senior Ye."
Ye Chuan berbalik, jubah linennya berkibar pelan. Ia tidak tertarik dengan urusan politik pelataran luar atau intrik keluarga Lin. Ia hanya hidup untuk pedangnya.
"Aku butuh sembilan Inti Iblis lagi. Kera tadi kuberikan padamu sebagai ucapan selamat datang di duniaku," ucap Ye Chuan seraya melangkah pergi menembus kabut kelabu. Tanpa menoleh ke belakang, ia memberikan peringatan terakhirnya. "Sembunyikan taringmu dengan baik, Pelayan. Karena jika kita bertemu di babak final nanti, pedangku tidak akan segan membelah sisik nagamu."
Sosok Ye Chuan perlahan memudar dan menghilang di balik pepohonan obsidian. Suhu di hutan perlahan kembali normal, meninggalkan genangan air dari es yang mencair.
Shen Yuan menghela napas panjang. Punggungnya basah oleh keringat dingin. Itu adalah pertemuan tersingkat yang pernah ia alami, namun menguras energi mental yang setara dengan bertarung melawan seratus Iblis Darah.
"Sekte Langit Berkabut ternyata jauh dari kata membosankan," Shen Yuan tersenyum tipis, sebuah senyum yang dipenuhi oleh antisipasi dan rasa hormat yang langka.
Pertemuan ini mengubah peta rencananya. Ia kini tahu bahwa target tertingginya bukanlah Lin Feng. Lin Feng hanyalah batu loncatan yang berisik. Target sesungguhnya, gunung yang harus ia runtuhkan untuk membuktikan dominasi Kitab Penelan Surga, adalah pemuda berpedang sunyi itu.
Shen Yuan menarik ujung topi bambunya, lalu melesat menembus kegelapan hutan dari arah yang berlawanan. Malam pertama di Hutan Cermin Hitam baru saja dimulai, dan ia berencana untuk memanen lebih banyak ketakutan dari musuh-musuhnya sebelum matahari palsu di atas kanopi itu terbit kembali.