Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring Laba-Laba Hitam
Cahaya mentari pagi menyaring masuk melalui jendela kaca patri di ruang kerja pribadi Maximilian, namun suasana di dalamnya jauh dari kata hangat. Di atas meja mahoni yang luas, bukan lagi sajian sarapan romantis pasca lamaran semalam yang tersaji, melainkan tumpukan map tebal bersandi, tablet enkripsi militer, dan peta digital yang memancarkan titik-titik merah di seluruh benua.
Maximilian duduk di kursi besarnya, menyesap kopi hitam tanpa gula. Di depannya, Rebecca berdiri menatap deretan angka dan grafik yang baginya tampak seperti bahasa asing yang mematikan. Cincin berlian hitam di jari manisnya berkilat, sebuah pengingat permanen bahwa ia bukan lagi tamu, melainkan bagian dari mesin raksasa ini.
"Kau sudah membuktikan bisa menarik pelatuk, Rebecca," suara Maximilian memecah keheningan, berat dan penuh otoritas. "Tapi membunuh hanyalah satu persen dari pekerjaan ini. Sisanya adalah menjaga agar dunia tidak menyadari bahwa kita yang menggerakkan mereka."
Max memberi isyarat agar Rebecca mendekat. Ia menekan sebuah tombol di meja, dan peta hologram muncul di tengah ruangan.
"Dunia bawah tanah bukan sekadar tentang narkoba atau senjata seperti di film-film murahan," lanjut Max, jemarinya menunjuk ke titik-titik di pelabuhan utara. "Ini adalah tentang logistik, kontrol energi, dan pasar gelap informasi. Keluarga Moretti menguasai tiga puluh persen jalur pengiriman legal di sektor ini. Kita adalah 'pajak' tersembunyi bagi setiap kapal yang masuk. Jika kita berhenti bergerak, ekonomi kota ini akan lumpuh dalam empat puluh delapan jam."
Rebecca memperhatikan dengan saksama. Ia mulai menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi bukan hanya pria berjas dengan pistol, tapi juga bankir, politisi, dan direktur perusahaan pelayaran.
"Jelaskan padaku tentang d'Angelo," tanya Rebecca, suaranya mantap meskipun otaknya sedang memproses informasi dalam jumlah besar. "Kenapa Lorenzo d'Angelo begitu penting hingga Bianca merasa bisa menginjak-injak siapa saja?"
Maximilian menyandarkan punggungnya, matanya menatap hologram dengan tajam. "Keluarga d'Angelo menguasai pencucian uang di wilayah selatan. Mereka memiliki bank-bank bayangan di luar negeri. Kita punya otot dan jalur, mereka punya sistem untuk membuat darah menjadi emas. Itulah mengapa aliansi ini rumit. Kita saling membutuhkan, tapi kita juga saling membenci karena masing-masing dari kita ingin menjadi penguasa tunggal."
Rebecca mengangguk, ia mulai memahami pola jaring laba-laba ini. "Jadi, penyerangan sisa-sisa Valenti semalam bukan hanya tentang dendam? Itu adalah upaya d'Angelo untuk memutus jalur kita dengan membuat seolah-olah kita tidak kompeten menjaga keamanan pelabuhan?"
"Tepat," Max tersenyum tipis, sebuah ekspresi bangga muncul di wajahnya. "Dan dengan kau memimpin serangan semalam, kau tidak hanya menghancurkan Valenti. Kau merusak narasi Bianca. Kau menunjukkan bahwa Moretti memiliki lapis pertahanan baru yang tidak mereka antisipasi."
Maximilian menarik sebuah map merah dari laci rahasianya. Di dalamnya terdapat daftar nama yang membuat napas Rebecca tertahan. Nama-nama hakim, kepala kepolisian, hingga beberapa menteri.
"Inilah kompleksitas yang sebenarnya, Tesoro," bisik Max. "Setiap orang dalam daftar ini memiliki 'hutang' pada Moretti. Ada yang karena uang, ada yang karena skandal yang kita tutup, dan ada yang karena kita memegang nyawa keluarga mereka. Tugasmu sebagai Nyonya Moretti bukan hanya mendampingiku di pesta, tapi mengelola daftar ini. Kau harus tahu kapan harus menarik tali mereka, dan kapan harus membiarkan mereka merasa bebas."
Rebecca menyentuh lembaran kertas itu. Teksturnya terasa kasar, sedingin kenyataan yang kini ia hadapi. Ia mulai memahami bahwa kekuasaan Moretti dibangun di atas fondasi manipulasi yang sangat halus.
"Dunia ini tidak mengenal hitam putih," ucap Rebecca, matanya beralih dari map ke arah Maximilian. "Hanya ada abu-abu yang sangat gelap. Jika aku memegang kendali ini, berarti aku memegang tanggung jawab atas ribuan nyawa yang bahkan tidak mengenalku."
"Itulah harga mahkotamu, Rebecca," sahut Maximilian. Ia berdiri, melangkah mendekat dan berdiri tepat di depan Rebecca. Ia meletakkan tangan Rebecca di atas tumpukan dokumen itu. "Bianca menghinamu karena dia pikir kau tidak akan pernah sanggup menyentuh noda-noda ini. Dia pikir kau terlalu suci untuk mengelola dosa-dosa keluarga Moretti."
Rebecca menatap cincin di jarinya, lalu menatap Maximilian dengan sorot mata yang telah bertransformasi sepenuhnya. Kegalaunnya tentang status kemarin telah mengkristal menjadi sebuah tekad yang tak tergoyahkan.
"Lalu ajari aku, Max," ucap Rebecca tegas. "Ajari aku cara membaca pergerakan pasar gelap mereka. Ajari aku bagaimana cara membuat para menteri ini berlutut tanpa harus mengeluarkan satu peluru pun. Aku ingin memahami setiap inci dari kerumitan ini agar tidak ada satu pun orang d'Angelo yang bisa meremehkanku lagi."
Maximilian terdiam sejenak, menatap wanita di depannya. Ia melihat Rebecca bukan lagi sebagai gadis yatim piatu yang ia selamatkan, melainkan sebagai seorang murid yang cerdas dan ambisius yang siap melampaui gurunya.
Selama beberapa jam berikutnya, ruangan itu menjadi ruang kelas yang paling berbahaya di dunia. Maximilian menjelaskan secara detail tentang skema transfer pricing untuk mengaburkan keuntungan ilegal, cara menyusup ke dalam sistem komunikasi musuh tanpa meninggalkan jejak, hingga cara melakukan negosiasi dengan faksi-faksi kecil agar mereka tetap setia.
Rebecca mendengarkan tanpa interupsi. Ia mencatat hal-hal penting di otaknya. Ia belajar bahwa dalam bisnis ini, informasi lebih berharga daripada amunisi. Ia memahami bahwa kekuatan fisik hanyalah alat cadangan; kekuatan sesungguhnya ada pada informasi yang mereka simpan di dalam brankas-brankas besi.
"Vargo dan Liam adalah pedangmu," kata Maximilian sambil menunjuk ke luar jendela di mana tim taktis sedang berlatih. "Erica adalah belatimu. Tapi kecerdasanmu dalam mengelola angka-angka ini... itulah tamengmu. Jangan pernah biarkan musuh tahu seberapa banyak yang kau ketahui."
Di penghujung hari, Rebecca merasa otaknya sangat lelah, namun hatinya merasa sangat penuh. Ia tidak lagi merasa sebagai orang asing. Ia mulai melihat dirinya sebagai otak di balik operasi raksasa ini. Ia memahami bahwa pernikahan mereka nantinya bukan sekadar pesta, melainkan penggabungan dua kekuatan yang akan membuat Moretti tak terkalahkan.
"Max," panggil Rebecca saat matahari mulai terbenam di balik pegunungan. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk tidak memperlakukanku seperti pajangan. Terima kasih karena telah mempercayakan dunia bawah tanahmu padaku."
Maximilian menarik Rebecca ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh khidmat. "Duniaku adalah duniamu sekarang, Rebecca. Dan aku tahu, dengan kau di sampingku, jaring laba-laba ini tidak akan pernah putus."
Malam itu, Rebecca kembali ke kamarnya bukan untuk tidur nyenyak, melainkan untuk mempelajari kembali data yang diberikan Maximilian. Ia menyadari bahwa Bianca benar tentang satu hal: dunia mafia memang bukan tempat bermain rumah-rumahan. Tapi Bianca salah besar jika mengira Rebecca tidak sanggup menjadi ratu di tengah kekacauan ini.
Rebecca Moretti telah memahami kompleksitas itu, dan sekarang, ia siap untuk mulai menggerakkan bidak-bidak caturnya di papan permainan yang berlumuran darah.
𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨
𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪
𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘