Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA BESAR YANG TERKUAK
Nania menggebrak meja kerja Tio, membuat cangkir kopi di sana sedikit bergetar. "Mana hasil kerja mu Tio?! Katamu Mikha akan hancur dalam sebulan, tapi yang ku lihat dia malah makin bersinar," desis Nania dengan tatapan tajam pada adiknya Tio yang dengan santainya menyesap kopi susu hangat di hadapannya.
Tio menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tidak terusik. Ia mengembuskan napas panjang sebelum menjawab Nania.
"Rencanaku tidak meleset, mbak. Yang meleset itu keberuntungan wanita itu. Dia selalu di kelilingi dewi fortuna. Kau tahu siapa yang ada di sampingnya sekarang?".
Dahi Nania mengernyit.
"Ini!". Tio memutar layar tablet-nya ke arah Nania. Di sana terpampang foto Mikha yang sedang menuruni mobil mewah, dikawal ketat oleh orang-orang suruhan Dante.
"Laki-laki di sampingnya 'Dante Alexander' CEO Emerald groups. Yang menjadikan Mikhaela prioritas utamanya saat ini. Dia memasang barikade di sekeliling Mikha. Menyentuh Mikha sekarang sama saja dengan menabrakkan diri ke tembok berdinding baja. Aku butuh waktu untuk mencari celah di antara mereka, karena Dante bukan lawan yang bisa kita gertak dengan cara murahan dengan mengirim orang suruhan kita untuk menghabisinya. Yang ada dia sudah mengetahui rencana kita, karena mata laki-laki itu ada di mana-mana".
Mendengar penjelasan Tio seketika membuat wajah Nania pucat pasi. "Bagaimana bisa! Bagaimana bisa Mikha bertemu dengan laki-laki sekelas CEO Emerald groups?".
Nania menatap Tio yang duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja perusahaan Sadewa. Tio mengangkat bahunya sebagai jawaban tidak tahu bagaimana Mikha bisa mengenal Dante Alexander.
"Atau dugaan ku benar. Wanita itu menjual dirinya pada CEO itu?". Terdengar tepuk tangan Nania. "Bukankah itu pertanda keberuntungan kita, Tio. Dengan Mikhaela bukan wanita baik-baik, akan memudahkan dewan direksi mencoret namanya sebagai pemegang saham utama–"
"Kau pikir semudah itu kerjanya? Mbak pikir Dante itu bodoh yang tidak paham dunia usaha?". Tio berseru.
"Bagaimana kalau kita jual saja. Perusahaan ini. Sekarang kondisi perusahaan baik-baik saja tentu harga jual masih tinggi–".
Nania menatapnya tajam. "Apa maksud mu Tio?".
"Seperti yang kamu dengar. Kita jual saja perusahaan dan pabrik. Aku butuh uang cepat mbak. Nggak bisa menunggu lama-lama atau penagih hutang itu akan menghabisi ku!".
Nania mengepalkan tangan, amarahnya belum reda namun ia kini sadar posisi mereka sulit. "Aku tidak mau tahu. Urusan kita dengan Mikhaela, bukan CEO itu! Temukan titik lemah Mikha, atau aku sendiri yang akan menyeret Mikha turun dari perusahaan ini, Tio. Aku sudah muak melihat kemenangan di wajahnya itu!!"
Nania, menyambar tas dan kunci mobilnya di atas meja. Kemudian pergi membanting keras pintu ruang kerja adiknya.
*
Mikha terpaku di depan meja kerjanya. Tangannya gemetar memegang iPad.
Pengakuan Ira barusan seperti petir di siang bolong.
Beberapa saat yang lalu Mikha di kejutkan dengan kedatangan Ira yang ingin bertemu dengannya. Awalnya Mikha ragu untuk menerima. Tapi pada akhirnya ia mau menemui Ira yang datang dengan tangisan di wajah wanita tersebut.
"Maksud kamu... Salfa bukan darah daging Dion?" suara Mikha tercekat, hampir pingsan mendengar pengakuan Ira barusan.
Ira menunduk dalam, air matanya jatuh membasahi lantai keramik ruang kerja Mikhaela di tempat usaha laundry miliknya.
"Bukan, Mik. Aku pastikan, suami mu tidak ada hubungan apapun dengan ku. Yang terjadi,.. Itu semua rencana Tio. Tio butuh senjata untuk menarik harta Dion lewat hak waris anak. A-ku...Aku cuma pion. Tio mengancam akan menjauhkan aku dari Salfa kalau aku tidak mau ngaku anak yang aku lahir adalah anak Dion."
Ira melangkah maju, mencoba meraih tangan Mikha dengan gestur memohon maaf.
Namun Mikhaela menjauhkan tangannya. Otaknya benar-benar blank. Bahkan wanita itu tidak menyadari bulir-bulir bening telah menyentuh wajahnya yang memutih.
"A-rtinya mas Dion tidak mengkhianati ku? Mas D-ion setia pada ku hingga kematian merengut nyawanya? M-as Dion..."
Tubuh Mikhaela mendadak limbung. Beruntung ia masih sempat berpegangan pada sandaran kursi.
"Mbak Mikha–"
"Jangan menyentuh ku!!!".
...***...
To be continue
Tinggalkan komentar kalian ya. Kalau mau langsung author up lagi. Happy reading 🥰