Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa, dan keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 28.
Malam sudah semakin larut ketika Arunika dan Angkasa keluar dari apartemen.
Udara malam terasa sejuk di area parkiran bawah gedung. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di lantai beton yang hampir kosong.
Angkasa berjalan di samping Arunika dengan santai, Ia melirik wanita itu sebentar. “Aku tidak menyangka makan malamnya akan seenak itu.”
Arunika menatap pria itu. “Kamu tidak terlihat seperti orang yang sering makan makanan rumahan.”
“Benar.” Angkasa terkekeh, dia berjalan beberapa langkah menuju mobilnya. “Biasanya hanya makan apa saja yang tersedia.”
Arunika melipat tangan di dada. “Seorang direktur rumah sakit ternyata hidup cukup sederhana.”
“Banyak hal yang tidak kau ketahui tentangku.” Angkasa menoleh padanya dengan senyum kecil.
Arunika mengangkat bahunya. “Tentu saja, karena aku memang belum mengenalmu terlalu banyak...”
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Beberapa pria muncul dari balik bayangan parkiran.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lima orang.
Tatapan Angkasa langsung berubah.
Tenang.
Namun tajam seperti pisau.
Ia melangkah sedikit ke depan, tanpa sadar menempatkan dirinya setengah di depan Arunika.
“Kau kenal mereka?” tanya Arunika pelan.
“Tidak.” Jawab Angkasa singkat.
Namun dari cara pria-pria itu berjalan mendekat, Angkasa sudah tahu. Mereka bukan orang biasa.
Salah satu dari mereka mengeluarkan pistol. “Serahkan wanita itu.”
Suasana parkiran langsung terasa mencekam.
“Maaf.” Angkasa tersenyum tipis, Ia melonggarkan sedikit kerah kemejanya. “Permintaan itu tidak bisa ku penuhi.”
Pria itu mengangkat pistolnya, namun sebelum ia sempat menembak, Angkasa sudah bergerak.
Gerakan Angkasa begitu cepat. Dalam satu langkah, ia sudah berada di depan pria itu. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan lawannya dan memutar keras.
KRACK.
Pistol jatuh ke lantai.
Dugh!
Tendangan Angkasa langsung mengenai perut pria itu hingga terhempas ke belakang.
Empat pria lainnya langsung menyerang bersamaan, gerakan Angkasa berubah lebih tajam.
Tepat.
Efisien.
Setiap pukulan langsung mengenai titik vital.
Satu pria jatuh setelah dihantam siku di rahang, dan yang lainnya tersungkur setelah tendangan keras mengenai lutut.
Arunika berdiri beberapa langkah di belakang, ia sama sekali tidak terlihat panik. Sebaliknya, tatapannya justru tenang.
Ketika salah satu pria mencoba menyelinap dari sisi lain untuk menyerangnya, baru lah Arunika bergerak. Dengan satu gerakan cepat, ia menangkap pergelangan tangan pria itu dan memutar tubuhnya.
Pria itu bahkan tidak sempat bereaksi.
BUK!
Sikut Arunika menghantam dada lawannya, disusul tendangan keras yang menjatuhkan pria itu ke lantai.
Angkasa yang sedang menghadapi dua orang sekaligus sempat melirik ke arah Arunika.
Matanya sedikit melebar.
Dia bisa bertarung?
Pria terakhir mencoba menyerang dari belakang Arunika. Namun wanita itu lebih cepat, Arunika menunduk menghindari pukulan. Tangannya langsung menarik kerah lawan dan membantingnya ke lantai dengan teknik yang sangat bersih.
BRAK!
Pria itu tidak bangun lagi, terkapar tak berdaya.
Beberapa detik kemudian parkiran kembali sunyi, lima orang penyerang sudah tergeletak di lantai.
Angkasa menatap Arunika dengan ekspresi baru. Kagum... dan sedikit terkejut.
“Arunika… kau selalu penuh kejutan.”
Arunika merapikan sedikit rambutnya yang jatuh. “Hanya belajar sedikit beladiri... saat tinggal di luar negeri.”
“Sedikit?” Angkasa tersenyum kecil.
Namun sebelum percakapan itu berlanjut, suara tembakan tiba-tiba terdengar dari arah atas parkiran.
DOR!
Seseorang masih ada di sana, seorang penembak yang bersembunyi. Peluru itu meluncur lurus ke arah Arunika. Semuanya terjadi dalam sepersekian detik, insting Angkasa langsung bereaksi. “Arunika!”
Pria itu menarik Arunika dengan keras ke samping, tubuhnya sendiri berputar menghalangi arah peluru. Peluru pertama meleset, karena Angkasa lebih dulu bergerak.
DOR!
Suara tembakan kedua menggema, kali ini peluru itu mengenai perut Angkasa. Wajah pria itu langsung menegang, tubuhnya terhuyung satu langkah.
“Angkasa!”
Arunika langsung menahannya sebelum ia jatuh, Angkasa mencoba tetap berdiri. Namun darah mulai merembes melalui kemeja putihnya, napasnya menjadi berat.
Arunika melihat noda merah itu dengan mata tajam.
“Peluru menembus perutmu.” Suara Arunika terdengar bergetar.
Angkasa tersenyum lemah. “Aku baik-baik saja.”
Namun detik berikutnya lututnya tidak lagi mampu menahan tubuhnya sendiri, lalu Angkasa tumbang.
Arunika langsung menangkap tubuh pria itu sebelum benar-benar jatuh ke lantai. “Angkasa!”
Namun Angkasa sudah kehilangan kesadaran.
Di kejauhan, suara sirene mulai terdengar. Seseorang pasti telah melaporkan keributan di parkiran. Saat ini bagi Arunika, dunia terasa mengecil hanya pada satu hal. Bahwa pria yang kini bersandar di pelukannya, darahnya terus mengalir.
Untuk pertama kalinya malam itu, tatapan Arunika benar-benar berubah. Di dalam sorot matanya kini tampak jelas—sebuah kekhawatiran yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Lampu merah darurat menyala di sepanjang lorong Rumah Sakit Cakrawala malam itu.
Suasana yang biasanya tenang berubah menjadi tegang. Para dokter dan perawat berlari cepat ketika tandu didorong masuk ke ruang gawat darurat.
Di atas tandu itu, tubuh Angkasa terbaring pucat dengan darah yang terus merembes dari perutnya.
Arunika berjalan di samping tandu dengan langkah cepat.
Tangannya masih menekan luka pria itu dengan kain yang sudah penuh darah.
“Tekanan darah turun,” lapor seorang perawat.
“Siapkan ruang operasi sekarang,” perintah Arunika tanpa ragu.
Perawat itu sempat terdiam. “Dokter Arunika, Anda—”
“Saya yang akan mengoperasinya.”
Nada suara Arunika begitu tenang, namun tidak memberi ruang untuk perdebatan. Semua orang di ruang gawat darurat langsung bergerak. Mereka tahu satu hal, jika Arunika sendiri yang turun tangan, berarti situasinya sangat serius.
Tandu itu langsung dibawa menuju ruang operasi. Beberapa dokter yang baru saja menyelesaikan shift malam langsung berkumpul setelah mendengar kabar itu.
Salah satu dari mereka berbisik pelan.
“Direktur Angkasa tertembak?”
“Siapa yang berani melakukan itu?”
“Dan Dokter Arunika sendiri yang akan mengoperasi?”
Di antara mereka, seorang dokter senior tersenyum tipis, tatapannya penuh keyakinan. “Kalau Dokter Arunika yang memegang pisau bedah… Direktur Angkasa dipastikan akan selamat.”
Di ruang operasi.
Lampu putih menyilaukan menerangi ruangan, Arunika berdiri di depan meja operasi dengan pakaian steril.
Tatapannya fokus.
Tidak ada emosi, tak ada kepanikan. Hanya ketenangan seorang dokter yang terbiasa menghadapi hidup dan mati.
“Peluru masuk dari sisi kanan perut,” kata Arunika.
“Tidak keluar.”
Asisten dokter mengangguk.
“Tekanan darah masih tidak stabil.”
Arunika menatap monitor sebentar. “Mulai.”
Pisau bedah diserahkan ke tangannya, tangannya bergerak dengan presisi yang luar biasa. Setiap sayatan bersih, setiap keputusan cepat.
Seorang dokter muda yang membantu operasi bahkan sampai menahan nafasnya. Ia pernah mendengar reputasi Arunika sebagai Dokter hebat dan jenius.
Namun melihat secara langsung bagaimana wanita itu bekerja adalah pengalaman yang berbeda. Seolah-olah pisau bedah di tangan Arunika bukan hanya alat medis, melainkan senjata yang bisa menaklukkan kematian.
Waktu berlalu.
Satu jam.
Dua jam.
Di luar ruang operasi, lorong rumah sakit mulai dipenuhi orang.
Para dokter.
Direksi.
Bahkan beberapa wartawan yang entah bagaimana sudah mencium berita itu.
___
Di dalam ruang operasi.
“Kami menemukan pelurunya,” kata asisten dokter.
Arunika mengulurkan tangan. “Pinset.”
Peluru kecil itu akhirnya berhasil diambil dari tubuh Angkasa, beberapa detik ruangan menjadi sangat sunyi.
“Peluru sudah keluar,” kata Arunika.
Namun ia belum berhenti.
Arunika masih memastikan tidak ada kerusakan fatal pada organ dalam. Setiap gerakannya tetap stabil, seakan ia tidak merasakan tekanan sedikit pun.
Akhirnya setelah hampir tiga jam, Arunika melepas sarung tangannya. “Operasi selesai.”
Semua orang di ruangan itu menghela napas lega.
“Pasien stabil,” lapor perawat.
Baru saat itu Arunika sedikit memejamkan matanya, hanya satu detik. Lalu ia kembali membuka mata dengan ekspresi tenang seperti biasa.
Lampu ruang operasi akhirnya padam.
Pintu terbuka.
Semua orang yang menunggu langsung berdiri.
Veronica yang menunggu setelah kabar datang padanya melangkah maju.
“Bagaimana Bang Angkasa?”
Arunika melepas masker medisnya, wajahnya terlihat lelah tapi tetap tenang. “Peluru berhasil dikeluarkan.”
Beberapa orang langsung menghela napas lega.
Veronica menatapnya dalam. “Dia selamat?”
“Untuk sekarang, ya.” Arunika menjawab singkat.
Beberapa wartawan langsung mulai berbisik-bisik.
“Dokter Arunika benar-benar luar biasa.”
“Dia menyelamatkan Direktur Angkasa.”
Namun Arunika sama sekali tidak memperhatikan mereka, ia hanya berkata pada tim medis. “Pindahkan ke ruang ICU.”
Saat tandu Angkasa didorong keluar, Arunika berjalan di sampingnya. Tatapannya jatuh pada wajah pria itu yang sangat pucat, namun masih bernapas. Beberapa detik Arunika hanya menatapnya. Di dalam hatinya, sebuah pikiran muncul.
Kenapa kau melakukan itu…?
Kenapa melindungiku tanpa ragu seperti itu?
Jika Angkasa hanya memanfaatkannya, seharusnya pria itu tidak perlu melakukan hal sebodoh itu. Peluru itu seharusnya mengenai dirinya, namun Angkasa memilih melindunginya. Dan memblokir peluru itu, tanpa berpikir panjang.
Tandu itu berhenti di depan ruang ICU.
Perawat mulai memindahkan tubuh Angkasa ke tempat tidur. Saat semua orang sibuk, tangan Angkasa tiba-tiba bergerak sedikit.
Jarinya menggenggam lemah ujung jas dokter milik Arunika, gerakan kecil itu membuat Arunika terdiam. Ia menunduk, dan mendengar suara pria itu yang sangat pelan.
Hampir seperti bisikan dari seseorang yang sedang bermimpi.
“…Arunika…”
Tangan itu perlahan terlepas kembali, tubuh Angkasa kembali terkulai tak sadarkan diri.
Arunika masih berdiri terpaku di tempatnya, tatapannya tak lepas dari pria itu. Dan entah sejak kapan… sebuah perasaan asing mulai muncul di dalam hatinya. Sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan pada pria mana pun—bahkan selama tiga tahun pernikahannya dengan Simon.
jangan marahan lagi..,..
ga enak tau memendam perasaan....berasa ada batu di dada....sesak kali buat nafas....🤭