Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Seperti Pengantin Baru
Saat ini Kara berada di Mall, dia ingin belanja kebutuhan dapur. Malam nanti Sisil dan yang lainnya akan datang untuk makan malam bersama, karena di hotel sebelumnya mereka tidak sempat bertemu.
Kara sedang sibuk memilih beberapa sayuran, tapi dia malah melihat seseorang yang dikenalnya. Kara langsung membalikkan badan dan merogoh ponselnya.
Setelah mengambil beberapa foto dan video, Kara segera menjauh dari tempat itu dan lanjut memilih bahan-bahan yang dibutuhkan.
Kara tidak ingin bersantai lagi, dia menyelesaikan belanjanya dengan cepat, dia tidak sabar memperlihatkan apa yang dia lihat tadi.
***
Karena sudah tidak sabar, Kara sampai mampir di perusahaan Tama. Kebutulan waktu pulang kerja masih lama.
Sisil beranjak menyambut Sisil, dia ikut bahagia melihat Kara dan Tama sudah seperti pasangan suami-istri yang sesungguhnya.
"Kar, bagaimana kejutan kami malam itu?" tanya Sisil dengan tatapan menggoda.
Kara yang tahu ke mana arah pembicaraan Sisil langsung kabur, dia masih malu untuk membahas hal seperti itu.
Sisil hanya tertawa melihat wajah Kara yang merah, "Heheh lucu sekali. Kayak pengantin baru.!" celetuknya tanpa sadar. "Ehh tunggu! Jangan-jangan mereka berdua..?"
Mata Sisil terbelalak, dia terkejut sendiri dengan apa yang dia ucapkan. Tapi dipikir-pikir, apa yang dia katakan tidak salah, karena selama ini mereka tidak akur.
"Astagaaa,, Sayang sekali.!" gumamnya.
"Apanya?" Tanya seseorang secara tiba-tiba.
Yang membuat Sisil sangat terkejut, karena dia sedang melamun.
"Dikaaaa... Kau, ah dasar jomblo akut!" Sisil meninggalkan Dika dan kembali ke ruangannya dengan wajah cemberut.
Dika hanya melongo dengan sikap Sisil. "Lah, aku salah apa? Jomblo kok teriak jomblo!" Dika juga kembali dengan wajah bingung.
...----------------...
Tama begitu terkejut melihat kedatangan Kara, dia beranjak dan langsung merentangkan tangan agar Kara segera memeluknya.
"Bukannya tadi masih di supermarket?" tanya Tama setelah melepas pelukannya, lalu mengajak Kara untuk duduk di sofa, dan mengambilkan minuman dingin.
"Ya. Ada sesuatu yang lebih penting!" ucap Kara dengan serius.
Tama menatap Kara untuk menjelaskan lebih lanjut, baru kali ini dia melihat Kara memasang ekspresi wajah seperti itu.
Kara mengambil ponselnya di dalam tas, "Raf, kamu kenal kan dengan istrinya Dion? Maksudku, jika bertemu dengannya di luar sana, apa kamu langsung mengenalinya?"
Alis Tama mengerut, kenapa Kara malah membahas istri Dion? Dia tentu masih mengenalnya, karena sebelum buta, Tama sudah beberapa kali bertemu dengannya
"Ya. Aku bisa mengenalinya? Kenapa? Apa dia melakukan sesuatu kepadamu?" tanya Tama dengan serius. Apalagi dia teringat dengan Sisil yang pernah dianggap sebagai pengemis.
Jika istri Dion mengganggu Kara, maka dia akan membalasnya tanpa pandang bulu.
Kara menggeleng, dan memperlihatkan foto dan video yang dia ambil di Mall tadi. Kara juga mengatakan, jika keduanya sangat mesra dengan panggilan sayang.
"Aku tidak salah orang kan?" tanya Kara. Jangan sampai dia salah mengira orang, apalagi dia sudah merekamnya secara diam-diam.
Tama sangat terkejut, "Ya. Itu istri Dion!" Balas Tama dengan wajah prihatin.
Dia pernah ada di posisi Dion! Bedanya, Kara menyukai dan mengejar seseorang secara terang-terangan.
"Bagaimana dengan pria itu? Apa kamu mengenalnya?" Di masa lalu, dia belum sempat mengetahui siapa selingkuhan istri Dion.
"Pria itu sepupunya Arka!" balas Tama dengan serius. Dia ingin lihat bagaimana reaksi Kara setelah mengetahuinya.
"APA..?" Kara terkejut, pantas saja wajah pria itu tidak asing.
Kara begitu syok, kenapa semua kejadian itu bersangkutan dengannya? Apa tujuan Sepupu Arka? Apa orang itu mengincar harta Dion juga?
Mungkin di masa lalu, setelah kematian Dion, semua hartanya langsung jatuh ke tangan Istrinya. Dan diambil alih oleh sepupu Arka, seperti yang terjadi kepadanya.
Atau, istrinya tidak mendapatkan apa-apa, karena Dion mengetahui perselingkuhan mereka dan membuat wasiat, agar semua hartanya diberikan kepada anaknya!
Kara hanya bisa menebak-nebak, karena saat itu dia juga hanya fokus dengan kehidupannya. Dia mati-matian untuk bertahan hidup.
"Kenapa?"
"Ah tidak! Aku hanya tidak menyangka, orang itu bukan cuman mengincar harta orang tuaku!" balas Kara.
Semua harta peninggalan orang tuanya atas nama Tama, jadi saat itu Tama menerima dua warisan.
Tapi warisan itu dia satukan dan membangun perusahaannya sendiri, dengan nama Taka Grup, dan semua itu adalah saham miliknya.
Karena orang tua Kara pernah berpesan, Kara bisa mendapatkan warisan setelah memiliki seorang anak.
Tapi Kara sering mengancam Tama, jika dia tidak memberinya 50% saat itu juga, maka Kara akan menceraikan Tama.
Bisa diketahui, pengalihan aset sebelumnya yang dirobek Kara adalah miliknya sendiri, sedangkan yang 20% untuk Arka adalah, saham milik Tama.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Tama dengan heran.
"Aku tidak sengaja mendengar obrolan mereka!" balas Kara.
Istri Dion memberitahu selingkuhannya, jika Dion sedang membuat usaha baru, sebuah kontrakan dan kos-kosan. Dan dia sebagai istri, yang akan bertanggung jawab penuh dengan usaha tersebut.
Istri Dion berjanji, setelah proyeknya selesai. akan memberi Selingkuhannya beberapa rumah untuk dikelolah.
Tama terdiam, dia bertanya-tanya, apa mungkin Dion sudah mengetahuinya? Ini bukan masalah sepele, karena usaha itu, bukan cuman milik Dion, dia dan Bintang juga menanam saham di proyek tersebut.
"Nanti malam kita tanyakan! Jangan sampai dia memendam dan menghadapinya seorang diri!" ujar Tama.
Kara mengangguk setuju, karena di masa lalu Dion memang menghadapi masalahnya seorang diri, karena yang lainnya sudah pergi meninggalkannya.
"Baik!"
Tama melanjutkan pekerjaannya, dan Kara masuk ke dalam kamar tempat istirahat Tama. Dia memilih untuk pulang bersama.
...----------------...
Sedangkan Dion baru saja selesai melakukan operasi, dia sedang beristirahat di ruang kerjanya.
Setelah mengetahui istrinya menganggap Sisil pengemis, Dion langsung menegurnya saat pulang ke rumah.
Istri Dion yang bernama Mita tentu tidak terima, dia langsung membantah, jika dirinya tidak mengingat wajah Sisil.
Dan saat itu, hubungan yang awalnya tidak harmonis makin berubah jadi dingin. Pernikahan Dion dan Tama bernasib sama.
Bedanya, Dion tidak mencintai Istrinya. Dia menuruti semua permintaannya atas dasar tanggung jawab sebagai suami, tapi jika permintaannya sudah berlebihan, Dion langsung menolaknya tanpa ragu.
Dion menghela nafas panjang, dia mengambil ponselnya yang sejak tadi berdering, ada banyak panggilan dan pesan masuk dari istrinya.
📩
Mita : "Kamu pulang malam ini?"
Mita : "Kasi kabar secepatnya! Agar aku bisa persiapkan makan malam untukmu!"
Mita : "Aku sedang di Mall untuk belanja keperluan dapur. Jangan lupa TF yaa! Uang aku habis.
Dion mematikan ponselnya, selalu saja seperti itu. Setiap gajian, Dion langsung memberinya uang bulanan dan uang dapur. Tapi Mita, masih sering meminta setiap minggu dengan alasan uangnya habis untuk jajan dan keperluan anak mereka.
"Dia kira aku bodoh! Anak dua tahun emang bisa jajan apa?" Semua keperluan anak, sudah ditanggung olehnya, dan itu diluar dari uang bulanan Mita.
.
.
.
selamat idul Fitri thor, maafkan kami yang selalu minta crazy up yaa 😄