tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Genevieve melihat sekelilingnya. Tidak ada rak buku kayu besi. Yang ada hanyalah meja-meja perjamuan panjang yang dipenuhi oleh puluhan pria dan wanita yang mengenakan jubah hitam dengan sulaman perak berbentuk naga. Mereka tertawa, bersulang dengan cawan-cawan emas, dan berdebat tentang konstelasi bintang dan aliran sihir bumi. Suasana itu begitu hidup, begitu penuh dengan persaudaraan dan keagungan. Ini adalah memori. Sebuah rekaman masa lalu dari malam pengkhianatan itu.
Genevieve mencoba melangkah, namun ia menyadari bahwa ia tidak memiliki tubuh fisik di tempat ini. Ia hanyalah pengamat tak kasat mata, hantu dari masa depan yang terjebak dalam gema masa lalu.
Tiba-tiba, suara pintu perunggu ganda terbuka dengan suara dentuman yang sangat keras.
Tawa di ruangan itu terhenti seketika. Puluhan mata menoleh ke arah pintu.
Berdiri di ambang pintu adalah seorang pria bertubuh tinggi besar, mengenakan zirah hitam berkilau yang persis seperti yang dikenakan oleh ksatria beku di luar sana. Namun pria ini tidak memakai helm. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan sepasang mata kelabu yang setajam elang. Rambut gagaknya disisir rapi ke belakang. Di tangannya, ia tidak memegang senjata, melainkan sebuah kendi besar berisi anggur.
Ini pasti Kaelen Blackwood. Sang Jenderal Sayap Kiri. Leluhur suaminya.
"Saudara-saudaraku!" seru Kaelen, suaranya berat dan menggema penuh karisma. Ia mengangkat kendi anggur itu tinggi-tinggi, melangkah masuk ke tengah ruangan. "Malam ini, biarkan kita melupakan perdebatan tentang dewa-dewi. Malam ini, aku membawa anggur terbaik dari kebun anggur selatan. Anggur yang telah diberkati oleh cahaya bulan, khusus untuk merayakan penyatuan sihir baru kita!"
Para anggota Ordo bersorak gembira. Mereka menyodorkan cawan-cawan kosong mereka ke arah Kaelen. Pria itu berkeliling dengan senyum hangat yang menenangkan, menuangkan anggur pekat berwarna merah gelap ke setiap cawan yang ada. Ia menyapa mereka dengan nama, menepuk bahu mereka, dan tertawa bersama mereka.
Genevieve yang menonton dari sudut ruangan merasakan hawa dingin merayap di ketiadaannya. Ia tahu apa yang ada di dalam anggur itu. Ia bisa melihat—dengan kejernihan seorang pengamat—bagaimana tangan Kaelen sedikit bergetar setiap kali kendi itu dimiringkan. Ia bisa melihat kilatan penyesalan yang sangat tipis, nyaris tak kasat mata, bersembunyi di balik senyum karismatik pria itu.
"Untuk Ordo Naga!" seru salah seorang pria tua berjanggut putih panjang, yang tampaknya adalah seorang Tetua. Ia mengangkat cawannya.
"Untuk Ordo Naga!" balas yang lain serempak.
Mereka meminum anggur itu. Semuanya. Dalam satu tegukan panjang yang mematikan.
Hanya butuh waktu sepuluh detik sebelum senyum di wajah Kaelen memudar, digantikan oleh ekspresi horor dan kekosongan yang absolut.
Pria tua berjanggut putih itu adalah yang pertama kali menjatuhkan cawannya. Cawan emas itu berdenting nyaring di lantai marmer. Pria tua itu mencengkeram dadanya, matanya membelalak lebar, lalu ia ambruk ke belakang, menabrak meja perjamuan dan jatuh ke lantai dengan tubuh mengejang hebat.
Kepanikan meledak seketika. Satu per satu, anggota Ordo Naga Berkepala Tiga itu berjatuhan. Mereka tidak berteriak kesakitan, karena racun itu secara instan melumpuhkan pita suara dan sistem saraf motorik mereka. Mereka hanya bisa menggelepar di lantai, menatap Kaelen dengan mata yang dipenuhi oleh pengkhianatan, kebingungan, dan keputusasaan murni. Mulut mereka mengeluarkan busa putih yang bercampur darah.
Kaelen berdiri mematung di tengah-tengah lautan kematian yang ia ciptakan sendiri. Kendi anggurnya terlepas dari genggamannya, pecah berkeping-keping dan menumpahkan sisa racun ke lantai.
"Maafkan aku..." bisik Kaelen, suaranya bergetar hebat, air mata membasahi pipinya yang kaku. "Gereja Cahaya... mereka menyandera keluargaku di permukaan. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak membunuh kalian malam ini... mereka akan memusnahkan kita semua, beserta garis keturunanku."
Alasan seorang pengecut. Genevieve menatap wajah pria itu dengan muak. Bahkan di masa lalu, House Blackwood selalu berlindung di balik alasan 'tidak ada pilihan' untuk menutupi kebusukan moral mereka. Silas menggunakan alasan yang sama untuk membenarkan upayanya meracuni Genevieve.
Namun, mimpi itu tidak berhenti di situ.
Ketika tubuh anggota Ordo terakhir berhenti mengejang dan keheningan kematian kembali merajai Suaka Gerhana, cahaya ungu dari kristal-kristal di dinding tiba-tiba berkedip liar. Cahaya itu berubah warna menjadi merah darah.
Tubuh Kaelen tersentak mundur saat altar obsidian di ujung ruangan tiba-tiba bergetar hebat.
Dari balik dinding altar itu, terdengar sebuah suara. Bukan suara manusia. Suara itu adalah gabungan dari ribuan bisikan, geraman rendah, dan gemeretak tulang. Suara yang memancarkan aura kuno yang begitu pekat dan kelam hingga membuat jiwa Genevieve yang tak kasat mata di dalam mimpi itu ikut bergetar hebat.
"Pengkhianat..." Suara itu menggema langsung di dalam kepala Kaelen, dan juga kepala Genevieve. Suara itu merayap dari balik batu obsidian, membentuk semacam tentakel bayangan yang menjalar di lantai, menyentuh genangan darah dan anggur beracun dari para anggota Ordo yang tewas.
Kaelen jatuh berlutut, menutup kedua telinganya sambil berteriak histeris, namun suara itu menembus akal sehatnya tanpa ampun.
"Kau menumpahkan darah saudaramu untuk membeli cahaya palsu," bisik entitas di balik altar tersebut, suaranya tidak memiliki emosi, hanya keadilan yang absolut dan kejam. "Maka dengarlah kutukanku, Kaelen dari House Blackwood. Aku, Inti Kegelapan, yang telah kalian jaga selama ribuan tahun, tidak akan memberikan kekuatanku pada siapa pun yang berjalan di bawah matahari. Segel altar ini akan tertutup untuk garis keturunanmu. Darahmu akan selalu mendidih dalam penyesalan, dan setiap anak yang lahir dari namamu akan mewarisi kebusukan moral yang akan membawa rumahmu pada kejatuhannya sendiri."
Tentakel bayangan itu tiba-tiba melesat maju, menghantam dada Kaelen hingga menembus zirahnya, namun tidak membunuhnya. Ia meninggalkan sebuah tanda gaib, sebuah kutukan, tepat di jantung pria itu.
"Kecuali..." suara entitas itu tiba-tiba merendah, nadanya berubah menjadi bisikan yang sangat licik dan menggoda. "Kecuali ada satu jiwa yang tidak memiliki setetes pun darahmu, namun dikhianati oleh darahmu, datang ke tempat ini membawa pengakuan dosamu. Hanya jiwa yang terbakar oleh dendam murni yang bisa membangkitkanku kembali dan melahap cahaya yang kalian sembah."
Mata Kaelen membelalak lebar. Pria itu menyadari bahwa tindakannya malam ini tidak hanya menghancurkan Ordonya, tetapi juga meninggalkan senjata pemusnah massal yang terkunci, menunggu seorang pembalas dendam di masa depan.
Dalam keputusasaannya yang gila, Kaelen menarik belatinya sendiri dan menusukkannya ke jantungnya, mengumpulkan darahnya ke dalam sebuah botol kristal kecil—botol yang sama yang kini berada di saku Genevieve—berharap bahwa ia bisa menyediakan kunci bagi sang pembalas dendam yang dijanjikan oleh entitas tersebut.
Cahaya merah di dalam mimpi itu meledak menyilaukan mata, menelan Kaelen, menelan mayat-mayat itu, dan akhirnya menelan kesadaran Genevieve.
Genevieve tersentak bangun.
Matanya terbuka lebar, menatap kegelapan di balik rak buku kayu besi. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun dengan kasar. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, menempelkan gaun linennya pada kulitnya yang menggigil.
Di sekelilingnya, Suaka Gerhana kembali menjadi ruangan sunyi, berdebu, dan diterangi oleh cahaya ungu yang tenang. Tidak ada mayat, tidak ada kendi anggur pecah, dan tidak ada tentakel bayangan.
Namun, sensasi dari mimpi itu—visi yang dikirimkan oleh sisa-sisa sihir di ruangan ini—terasa begitu nyata hingga ia masih bisa mencium aroma anggur beracun itu di udara.
Ia meraba dadanya, memastikan jantungnya masih berdetak normal. Rasa sakit dari tulang rusuknya yang retak telah jauh berkurang, berubah menjadi nyeri tumpul yang bisa ditoleransi. Otot-ototnya tidak lagi bergetar karena kelelahan ekstrem. Mode Istirahat Darurat dari Sistem telah melakukan tugasnya dengan efisiensi klinis.
[Status Fisik Diperbarui.]
[Mode Istirahat Darurat Selesai. Durasi: 14 Jam.]
[Energi Vital Pulih: 45 Poin. Regenerasi jaringan otot mencapai 40%. Kondisi rusuk distabilkan oleh koagulasi darah internal. Mobilitas pergelangan kaki meningkat.]
[Peringatan: Asupan nutrisi makro harus segera dipenuhi dalam 6 jam ke depan untuk melanjutkan proses pemulihan.]
Genevieve telah tidur lebih dari setengah hari penuh.
Ia perlahan bangkit ke posisi duduk, membiarkan mantel bulu Serigala Salju merosot dari bahunya. Rasa pening yang sempat menyiksanya kemarin telah menguap. Pikirannya kini sejernih es di Jurang Hitam.
Tangannya perlahan merogoh sakunya, mengeluarkan botol kaca kristal berisi darah Kaelen Blackwood. Ia menatap cairan merah kehitaman itu dengan perspektif yang sama sekali baru.
Catatan di buku itu mengatakan bahwa darah Kaelen dibutuhkan untuk membuka segel. Namun, visi dari mimpi itu mengungkapkan kebenaran yang jauh lebih gelap. Kekuatan yang tersembunyi di balik altar obsidian itu bukanlah sekumpulan gulungan sihir kuno atau pedang sakti. Itu adalah sebuah entitas. Inti Kegelapan. Sesuatu yang memiliki kesadaran, yang membenci House Blackwood sama besarnya—atau bahkan lebih—dibandingkan dirinya sendiri.
Entitas itu sedang menunggunya. Ia telah meramalkan kedatangan jiwa yang dikhianati oleh darah Blackwood.
Genevieve tersenyum tipis. Senyumnya sangat pelan, sangat dingin, dan sama sekali tidak memiliki jejak ketakutan. Jika dewa-dewa cahaya di atas sana memalingkan wajah mereka darinya dan membiarkannya membusuk, maka ia tidak memiliki masalah sama sekali untuk bersekutu dengan iblis di dasar bumi untuk merobohkan singgasana mereka.
Ia menyingkirkan mantelnya, lalu berdiri tegak. Ia meraih Nightfang dan melangkah keluar dari ceruk persembunyiannya. Tatapan matanya lurus, terkunci pada altar obsidian di ujung panggung melingkar.
Hari ini, kutukan yang tertidur selama ratusan tahun itu akan dibangunkan, dan Aethelgard akan segera belajar apa artinya membuang seorang wanita yang menolak untuk mati.