Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Novita berjalan menyusuri lorong kantor menuju ruang direktur dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Di tangannya ada satu kantong kertas berisi kopi mahal dan sekotak roti yang aromanya masih hangat. Aroma mentega dan krimnya bahkan masih terasa kuat.
Sesekali ia melirik ke belakang.
Di ruang administrasi, teman-temannya sedang menikmati roti yang sama—tertawa, bercanda, dan sesekali melambaikan tangan ke arahnya seperti mengirimnya ke medan perang.
“Semangat, Novita!” seru Yanti dari jauh sambil mengangkat roti di tangannya.
“Anggap saja tumbal!” tambah Risa yang membuat beberapa orang langsung tertawa.
Novita hanya menghela napas panjang.
“Kenapa harus aku sih yang nganter…” gumamnya pelan.
Pagi itu memang terasa aneh. Tiba-tiba saja datang paket besar dari sebuah brand kopi terkenal dan satu kotak besar roti premium. Semua orang di divisi administrasi sempat mengira paket itu salah kirim.
Namun ternyata tidak.
Nama pemesannya jelas tertulis.
Pak Andra.
Direktur mereka.
Pria yang terkenal dingin, jarang tersenyum, dan hampir tidak pernah memperlakukan karyawan dengan ramah. Bahkan banyak orang di kantor yang berusaha menghindarinya sebisa mungkin.
Namun pagi ini, entah kenapa, dia mentraktir semua orang.
Hal itu saja sudah cukup membuat satu ruangan penuh pegawai kebingungan.
Dan sekarang Novita harus mengantarkan sisa pesanannya.
Akhirnya ia sampai di depan pintu kantor direktur. Ia berhenti sejenak, menarik napas pelan, lalu mengetuk pintu.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Suara dingin itu langsung membuat bahu Novita sedikit menegang.
Ia membuka pintu dengan hati-hati.
Pak Andra duduk di kursinya seperti biasa. Kemejanya rapi, ekspresinya datar, dan tatapannya langsung jatuh pada kantong yang dibawa Novita.
“Itu pesanan saya?” tanyanya singkat.
“Iya, Pak,” jawab Novita cepat.
Ia berjalan mendekat lalu meletakkan kantong itu di atas meja.
“Ini kopi dan rotinya.”
Novita sudah bersiap untuk keluar ketika suara Andra menghentikannya.
“Novita.”
“Iya, Pak?”
“Pilihkan satu roti untuk saya.”
Novita berkedip.
“…Saya, Pak?”
“Iya.”
Ia menatap kotak roti itu sebentar.
Dalam kepalanya langsung muncul satu pertanyaan besar.
Memangnya beliau tidak bisa memilih sendiri?
Namun tentu saja ia tidak berani mengatakannya.
“Baik, Pak.”
Novita membuka kotak roti itu. Di dalamnya ada enam roti dengan berbagai topping krim yang terlihat sangat menggoda.
Ia memperhatikan satu per satu.
“Hmm…”
“Ada coklat… lemon… cinnamon… matcha… keju… dan cappuccino.”
Ia mengambil satu dengan hati-hati.
“Kalau yang coklat kelihatannya enak—”
“Saya tidak suka coklat.”
Novita langsung berhenti.
“Oh… baik, Pak.”
Ia meletakkan kembali roti itu dan melihat yang lain.
“Kalau lemon?”
Andra hanya menggeleng pelan.
Novita mulai merasa ini akan menjadi proses yang panjang.
“Cinnamon?”
“Saya tidak suka.”
“Matcha?”
“Saya juga tidak suka.”
Novita menahan napas.
Dalam hatinya ia sudah mulai mengomel.
Kalau semuanya tidak suka kenapa tidak bilang dari awal saja?!
Sekarang yang tersisa hanya dua.
Ia menunjuk roti yang masih ada di kotak.
“Kalau begitu tinggal keju dan cappuccino, Pak.”
Andra memandang kotak itu sebentar sebelum menjawab.
“Cappuccino saja.”
Novita mengangguk.
“Baik, Pak.”
Ia mengambil roti itu dengan hati-hati.
“Ini, Pak.”
Ia hendak meletakkannya di meja ketika Andra berkata lagi dengan nada tenang.
“Suapi saya.”
Novita membeku.
“…Apa, Pak?”
“Suapi saya.”
Sekarang Novita benar-benar yakin ia tidak salah dengar.
“Pak…?”
“Kenapa?” tanya Andra datar.
Novita menatap roti di tangannya lalu menatap tangan Andra.
“Bapak… tidak bisa makan sendiri?”
Andra menjawab santai.
“Krimnya banyak. Kalau saya pegang nanti tangan saya kotor.”
Novita menatap tangannya.
Lalu menatap tangan Andra lagi.
Dalam pikirannya hanya ada satu kalimat.
Tangan beliau memangnya cuma hiasan?
Namun ia tidak punya pilihan.
Ia mendekat sedikit dengan wajah kaku.
“Baik, Pak…”
Dengan hati-hati ia mengangkat roti itu ke arah Andra.
“Silakan, Pak.”
Andra sedikit mencondongkan tubuhnya lalu menggigit roti itu.
Krim cappuccino langsung sedikit menempel di sudut bibirnya.
Novita menghela napas lega ketika gigitan pertama selesai.
Namun Andra belum selesai.
“Mulut saya kena krim.”
Novita menatapnya.
“Pak…?”
“Anda lihat kan.”
Ia menunjuk sudut bibirnya.
“Bersihkan.”
Novita memandang meja.
Di sana ada kotak tisu.
Ia langsung mengambil satu lembar, lalu dengan ragu mengulurkan tangan.
“Maaf, Pak…”
Ia mengusap pelan sudut bibir Andra.
Dalam hatinya ia sudah mengomel panjang.
Kalau ada tisu kenapa dari tadi tidak makan sendiri saja?!
Andra seolah tidak peduli dengan ekspresi wajahnya.
“Suapi lagi.”
Novita hampir memejamkan mata karena kesal.
Namun ia tetap melakukannya.
Gigitan kedua.
Gigitan ketiga.
Gigitan keempat.
Sampai akhirnya roti cappuccino itu habis.
Novita menurunkan tangannya dengan lega.
“Selesai, Pak.”
Andra mengangguk kecil.
“Yang lain ambil saja.”
Novita menatap kotak itu.
“Maksudnya…?”
“Roti yang tersisa.”
“Untuk saya?”
“Iya.”
Novita benar-benar bingung sekarang.
Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Andra hanya berkata singkat.
“Terima kasih.”
Novita mengangguk cepat.
“Iya… Pak.”
Ia langsung mengambil kotak roti itu lalu berjalan keluar secepat mungkin.
Begitu pintu tertutup, ia menarik napas panjang.
“Apa sih itu barusan…”
Ketika Novita kembali ke ruang administrasi, langkahnya terlihat lesu.
Yanti langsung mendekatinya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Eh, gimana?”
Risa juga ikut berdiri dari kursinya.
“Kenapa mukamu begitu?”
Novita meletakkan kotak roti di meja dengan ekspresi kesal.
“Jangan tanya.”
Yanti malah tertawa.
“Wah, pasti ada cerita.”
Novita akhirnya duduk di kursinya.
“Pak Andra itu aneh banget hari ini!”
“Kenapa?” tanya Risa penasaran.
Novita langsung mulai mengomel.
“Tadi dia suruh aku pilih roti buat dia!”
“Terus?” Yanti menyenggol bahunya.
“Terus semua pilihanku dia tolak!”
Yanti sudah mulai tertawa.
“Serius?”
“Iya! Coklat tidak suka, lemon tidak suka, cinnamon tidak suka, matcha juga tidak suka!”
“Lalu?”
“Yang dipilih cappuccino!”
Risa mengangguk santai.
“Itu kan biasa saja.”
Novita langsung berkata kesal.
“Masalahnya dia suruh aku menyuapinya!”
Yanti langsung tertawa keras.
“Hah?!”
“Dia bilang tangannya bisa kotor kalau pegang krim!”
Risa menahan senyum.
“Terus?”
“Terus mulutnya kena krim dan dia suruh aku bersihin pakai tisu!”
Sekarang Yanti sudah hampir jatuh dari kursinya karena tertawa.
“Ya ampun, Novita!”
Novita menyilangkan tangan.
“Lucu sekali ya menurutmu.”
Risa berpikir sejenak.
“Habis itu?”
“Dia suruh aku menyuapi lagi sampai rotinya habis.”
“Dan?”
“Terus semua roti sisanya dia kasih ke aku.”
Yanti masih tersenyum lebar.
“Wah enak dong.”
Novita menggeleng keras.
“Menurutku Pak Andra pasti lagi sakit.”
Risa mengangkat alis.
“Sakit?”
“Iya! Tidak mungkin dia tiba-tiba baik begitu.”
Yanti masih terkekeh.
“Atau…”
“Apa?”
Yanti melirik Risa lalu berkata pelan dengan senyum nakal.
“Mungkin dia suka kamu.”
Novita langsung menatapnya tajam.
“Jangan ngaco!”
Namun Risa justru terlihat berpikir serius.
“Kalau dipikir-pikir… dia memang memperlakukan kamu berbeda.”
Novita memijat keningnya.
“Tidak mungkin.”
Ia menghela napas panjang.
“Menurutku dia cuma mempermainkan aku lagi.”
“Kenapa?” tanya Yanti.
Novita menurunkan suaranya sedikit.
“Mungkin karena dia takut dilaporkan Bu Rika ke ibunya.”
Risa dan Novita saling berpandangan.
Sementara di sudut ruangan, Yanti masih tertawa kecil.
Dan Novita hanya bisa menghela napas panjang, masih tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan direktur dingin itu.