NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Nadia berdiri di depan pintu apartemen itu dengan napas terengah, dadanya naik turun tidak teratur. Tangannya terangkat lagi, menekan bel untuk kesekian kali. Suaranya menggema singkat di lorong yang sunyi, lalu menghilang tanpa jawaban. Ia melirik jam di ponselnya masih terlalu pagi untuk disebut mengganggu, terlalu siang untuk dijadikan alasan tidak di rumah.

“Galang…” gumamnya pelan.

Hatinya dipenuhi perasaan campur aduk. Sejak subuh ia sudah gelisah, keputusan untuk datang ke sini bukan keputusan impulsif. Sepanjang malam sebelumnya ia bergulat dengan pikirannya sendiri, menimbang kejujuran dan ketakutan, cinta dan rasa bersalah. Ia tidak ingin mengakhiri sesuatu tanpa penjelasan. Galang berhak tahu apa yang terjadi padanya tentang pernikahan yang tidak ia pilih, tentang hidup yang tiba-tiba berubah arah.

Bel kembali ditekan. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Tidak ada jawaban.

Nadia menempelkan telinganya ke pintu, berharap mendengar langkah kaki atau suara di dalam. Nihil. Lorong itu sunyi, hanya terdengar suara pendingin udara dari unit lain. Ia menurunkan tangan, menggigit bibirnya ragu. Mungkin Galang sedang mandi. Mungkin sedang keluar sebentar. Ia mencoba menenangkan diri dengan kemungkinan-kemungkinan itu, meski ada sesuatu yang mengganjal di dadanya firat yang sulit ia jelaskan.

Ia mengirim pesan singkat. Tidak dibaca.

Di balik pintu itu, dunia yang sama sekali berbeda sedang berlangsung.

Di dalam apartemen, Galang tidak menghiraukan bunyi bel. Ia terlalu sibuk, terlalu tenggelam dalam kehangatan yang ia ciptakan sendiri. Clara ada di sana, dekat, akrab, seolah ruang itu milik mereka berdua. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar memantul di lantai, membentuk garis-garis terang yang kontras dengan tirai setengah tertutup.

Bunyi bel kembali terdengar.

Clara menegang. “Galang… ada yang datang.”

Galang menghela napas, wajahnya menunjukkan ketidaksabaran. “Abaikan.”

“Belnya sudah beberapa kali,” ujar Clara lagi, nada suaranya was-was. “Bagaimana kalau—”

“Kubilang abaikan,” potong Galang dingin. “Tidak penting.”

Clara terdiam. Ada rasa bersalah yang menggerogoti hatinya sejak bel pertama berbunyi. Ada bayangan wajah Nadia yang muncul tanpa diundang teman yang memperkenalkannya pada Galang, teman yang dulu ia kagumi karena keteguhan dan ketulusannya. Clara tahu, apa yang mereka lakukan selama setahun terakhir tidak akan pernah bisa dibenarkan. Namun, rasa bersalah itu selalu kalah oleh perasaan lain yang lebih gelap dan egois.

Bel kembali berbunyi.

Kali ini Clara tidak tahan. Ia bangkit, meraih pakaiannya dengan tangan gemetar. “Aku akan lihat,” katanya tegas.

Galang mengerutkan kening. “Clara—”

Namun Clara sudah melangkah. Ia mengintip dari lubang pintu. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat siapa yang berdiri di luar.

“Nadia…” bisiknya.

Wajahnya pucat seketika. Panik menyergap, napasnya tersengal. Ia menoleh ke arah Galang. “Itu Nadia.”

Galang terdiam beberapa detik. Lalu, alih-alih panik, ia justru tersenyum tipis senyum yang membuat Clara merinding.

“Biarkan,” kata Galang santai. “Sudah terlambat untuk merasa bersalah.”

Clara menatapnya tidak percaya. “Galang, ini salah. Kita harus berhenti. Kita lanjutkan saja besok.”

“Untuk apa di tunda? Kita bisa lanjutkan sekarang.” Galang bangkit perlahan. “Penyesalanmu tidak akan menghapus apa pun. Tidak akan menghapus malam-malam yang sudah kita habiskan selama setahun belakangan.”

Kata-kata itu menghantam Clara lebih keras dari tamparan. Ia tahu Galang benar dalam satu hal tidak ada jalan kembali. Namun mendengar kenyataan itu diucapkan dengan begitu dingin membuat dadanya sesak.

Di luar, Nadia menunggu. Tangannya mulai gemetar, bukan karena marah, melainkan karena firasat yang semakin kuat. Ia mengetuk pintu kali ini, bukan menekan bel. Pelan, penuh harap.

“Galang, ini aku,” ucapnya dengan suara yang nyaris berbisik.

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik berlalu. Nadia menunduk, bahunya merosot. Ia merasa konyol datang sejauh ini, membawa keberanian yang ia kumpulkan dengan susah payah, hanya untuk berdiri sendirian di lorong apartemen.

“Aku tunggu sebentar lagi,” katanya pada dirinya sendiri, seolah meyakinkan.

Namun menit demi menit berlalu tanpa perubahan. Akhirnya, dengan hati berat, Nadia melangkah mundur. Ia menatap pintu itu sekali lagi, berharap keajaiban kecil terjadi. Tidak ada. Ia berbalik, berjalan menuju lift dengan langkah pelan.

Pintu lift menutup, membawa Nadia turun dan bersamaan dengan itu, membawa turun harapan yang selama ini ia jaga.

Di dalam apartemen, suasana berubah.

Clara duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. “Dia pergi,” katanya pelan.

Galang menatapnya tanpa ekspresi. “Bagus.”

“Bagus?” Clara mendongak, matanya berkaca-kaca. “Kau tidak merasa apa-apa?”

Galang mendekat, duduk di sampingnya. “Apa yang kau harapkan, Clara?” tanyanya dingin. “Kalau hubungan ini diketahui Nadia, dia akan meninggalkanku. Itu saja.”

Clara terdiam.

“Lalu aku akan hidup sendiri,” lanjut Galang. “Atau mencari wanita lain untuk menuntaskan hasratku. Tidak lebih.”

Kata-kata itu seperti pisau. Clara menelan ludah. “Kau… mencintainya?”

Galang tidak langsung menjawab. Ia menatap langit-langit, seolah mencari sesuatu di sana. “Aku tidak akan menikah selain dengan Nadia,” katanya akhirnya.

Hati Clara mencelos. “Lalu aku ini apa?”

Galang menoleh. “Apa yang kau pikirkan selama ini?”

Keheningan menggantung di antara mereka. Clara menggenggam seprai, jari-jarinya memutih. “Apakah setelah ini… hubungan kita tetap berlanjut?” tanyanya ragu. “Kalau kau mencari wanita lain… aku masih bisa melayanimu. Atau kalau kau mau, aku bersedia menikah denganmu.”

Galang tertawa kecil, tanpa humor. “Menikah?”

Ia menggeleng. “Gadis sebaik Nadia saja tidak mendapatkan restu ibuku. Apalagi aku membawa wanita sepertimu.”

Kata-kata itu menusuk.

“Nadia itu seperti intan,” lanjut Galang tanpa belas kasihan. “Harus dijaga. Aku bahkan tidak pernah mengizinkan diriku menyentuhnya. Jadi menurutmu, kau pantas dibandingkan dengannya?”

Air mata mengalir di pipi Clara. “Aku mencintaimu.”

“Cinta?” Galang mendengus. “Sadar diri, Clara. Kau yang pertama kali menggodaku. Kau yang memilih jalan ini.”

Clara terisak.

“Dan satu hal lagi,” kata Galang, nadanya semakin dingin. “Tanpa Nadia, kau hanyalah gadis jalanan yang menjajakan diri. Sejak awal, aku tidak pernah menganggap kita memiliki hubungan.”

Kalimat itu menghancurkan sisa-sisa pertahanan Clara. Ia menutup wajahnya, bahunya bergetar.

Sementara itu, Nadia keluar dari lift dengan langkah gontai. Hujan rintik mulai turun di luar gedung apartemen. Ia berhenti sejenak di bawah kanopi, menatap jalanan yang basah. Dadanya terasa kosong, seolah ada bagian dari dirinya yang tercabut paksa.

Ia tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu itu. Tidak tahu pengkhianatan yang berlangsung begitu dekat dengannya. Namun tubuhnya seolah sudah lebih dulu merasakan bahwa sesuatu telah retak, mungkin bahkan hancur, sebelum sempat ia perbaiki.

Nadia mengusap cincin di jarinya, merasakan dinginnya logam itu. Hidupnya kini seperti simpul kusut pernikahan yang memenjarakan, cinta yang terluka, masa depan yang kabur.

Ia melangkah keluar ke hujan, membiarkan tetesan air membasahi rambut dan wajahnya. Kali ini, ia tidak peduli pada flu atau demam. Ia hanya ingin berjalan, menjauh dari tempat itu, dari kenangan yang kini terasa asing.

Di suatu tempat, jauh dari sana, benang-benang takdir terus bergerak mengikat, memisahkan, dan menyiapkan luka-luka baru yang belum ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!