Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 29
"Apa kabar menantu Mami?" tanya Mami Tanisa memeluk Ayana dengan erat. Dia merasa bahagia karena yang menjadi menantunya adalah Ayana bukan Vania. entah kenapa dia sangat senang saat Gavin memilih Ayana untuk menjadi istri penggantinya menggantikan Vania yang kabur bersama dengan kedua orang tuanya.
"Kabar baik Mami, mami apa kabar?" sapa Ayana sopan.
Senyum di bibir Mami Tanisa membuat hati Gavin menceos, ibunya terlihat sangat bahagia. Bagaimana kalau dia tahu, jika Ayana memutuskan untuk pergi setelah dia berhasil menemukan Vania? Apa mendung akan kembali terlihat di wajah wanita yang melahirkannya itu seperti kemarin-kemarin saat dia memutuskan untuk menikahi Vania?
"Apa kalian tak berniat untuk bulan madu? Kalian pengantin baru tapi malah sibuk bekerja!" tanya Mami Tanisa membuka percakapan.
"Mi, jangan mulai deh! Jangan lupa alasan kami menikah!" jawab Gavin.
"Iya mami tahu! Tapi walau bagaimanapun sekarang kalian adalah suami istri. Memiliki hak dan kewajiban sebagai pasangan suami istri sesungguhnya. Pernikahan kalian sah di mata hukum dan agama!" ujar mami Tanisa tak hentinya mengingatkan keduanya.
"Iya mi, kami hanya butuh waktu saja untuk menyesuaikan dan terbiasa dengan status yang sudah berubah ini. Karena semua terasa mendadak sehingga membuat kami masih canggung. Apalagi kamu terbiasa berdua hanya sebagai partner kerja bukan pasangan kekasih. Semoga saja dengan berjalannya waktu, semua bisa berubah. Walau mungkin saya juga belum tahu, karena sejujurnya saya tak ingin menjatuhkan pilihan hati kepada pasangan yang belum selesai dengan masa lalunya! Karena hati dan raganya pasti akan kembali pemenang biasanya akan tetap orang lama," jawab Ayana membuat Gavin terdiam sedangkan Mami Tanisa menatap sendu ke arah Ayana.
"Kami keluarga kamu sekarang, Nak! Kalau memang suatu hari nanti Gavin tetap memilih wanita sundal bolong itu, kamu tetap menjadi anak mami. Anggap mami dan papi adalah kedua orang tuamu juga!" mami Tanisa menggenggam erat tangan Ayana. Gadis itu hanya tersenyum dan membalas dengan usapan lembut di punggung tangan Mami Tanisa.
"Jadi? Kamu masih mengharapkan wanita penipu itu? Apa kamu sudah mencari tahu siapa dia sebenarnya?" tanya Papi Evan kepada Gavin yang duduk di depannya.
"Sudah Pi, ada beberapa informasi yang sudah Gavin dapatkan," jawab Gavin.
Dia menundukkan kepalanya merasa malu untuk mengatakan kesalanan besarnya selama ini. Bahkan dia sampai rela menentang kedua orang tuanya demi menikah dengan Vania.
"Lalu?" tanya Papi Evan menyandarkan punggungnya di kursi sambil melipat kedua tangannya dari dada.
"Maafkan Gavin, papi, mami ... Gavin sudah salah dan bahkan sampai menentang ucapan kalian berdua saat melarang Gavin menikah dengan Vania. Entah apa yang terjadi jika Gavin menikah dengannya," jawab Gavin jujur.
"Syukurlah kau sadar! Jangan jadi bulol makanya! Cinta juga kudu pake logika bukan malah jadi tiba-tiba bo-doh!" celetuk Mami Tanisa membuat Gavin hanya menghela napas mendengar Omelan ibunya. Tak masalah telinganya panas, tapi dia bahagia melihat senyum dan wajah cerah ibunya kembali.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan pada mereka kalau suatu hari kamu bertemu dengan mereka atau misalnya mereka kembali?", tanya Papi Evan ingin mendengar jawaban anaknya.
"Gavin belum tahu papi, Gavin masih syok saat mengetahui siapa mereka. Bahkan rupanya mereka adalah penjahat kambuhan. Memiliki banyak identitas, mereka penipu profesional!" jelas Gavin.
"Halah, awass saja kalau sampai kamu tertipu dan malah kembali lagi kepada wanita titisan Wewe gombel itu! Mami akan hapus nama kamu di kartu keluarga dan dengan begitu gugur semua hak kamu sebagai ahli waris! Mami akan mengganti nama kamu dengan nama Ayana, anak perempuan amma sekarang!" jawab Mami Tanisa membuat Gavin melongo.
Sedangkan Ayana hanya bisa menghela napas panjang. Hal ini lah yang membuatnya ingin segera pergi dari keluarga Davindra. Kebaikan mami Tanisa dan Papi Evan membuatnya tak bisa berlama-lama berada di tengah-tengah mereka. Ayana tak mau membuat mereka kecewa, apalagi mereka sudah menyayangi dia seperti itu. Dia tak sebaik yang mereka pikirkan. Ada banyak hal tantang dirinya yang tak mereka ketahui.
"Mi ..." protes Gavin tapi Mami Tanisa tak peduli, apalagi makanan sudah tiba, akhinya mereka fokus dengan hidangan yang sudah tersaji bdi atas meja. Setelahnya mereka berpisah, Gavin dan Ayana harus kembali ke kantor.
"iya? Nanti aku hubungi lagi! Aku sedang di jalan!" jawab Ayana saat ada seseorang yang menghubunginya.
Entah siapa itu, namun Gavin malah penasaran dengan pekerjaan lain Ayana. apakah ibunya tahu kalau Ayana memiliki perkejaan lain selain menjadi asistennya?
"Masalah bulan madu yang di tawarkan mami ..." ujar Gavin memulai pembicaraan.
"Kenapa memangnya? Toh kita tak benar-benar menikah seperti yang kedua orang tuamu bayangkan. Bukankah aku tadi sudah menjelaskan kalau aku tak mau dengan pria yang masih belum seleksi dengan masa lalunya. Karena pada akhirnya dia akan kembali ke orang lama! Aku tak pernah mau menjadi tempat singgah, tapi ingin menjadi tempat untuk menetap. Lebih baik fokus saja dengan tujuan kita masing-masing. Toh aku juga sudah jelaskan semuanya kepada kedua orang tua kamu tadi kan?" jawab Ayana.
"Idih kegeeran! Aku memang bukan ingin bulan madu dengan kamu! Siapa juga yang mau bulan madu denganmu, wanita yang sukanya tebar pesona! Aku hanya sempat berfikir bagaimana kalau kita menggunakan kesempatan itu untuk nanti saat menemukan mereka!" jawab Gavin mencari alasan dan memutar otak dengan cepat saat mendengar jawaban Ayana nanti, kepalang malu kan?
"Kalau masalah itu tak usah menggunakan alasan bulan madu. Kasihan mereka kamu bohongi terus. Toh mereka sudah tahu siapa Vania istri idaman kamu itu!" jawab Ayana membuat Gavin memalingkan wajahnya.
Dia tak suka saat Ayana mengatakan jika Vania adalah istri idamannya. Dia benar-benar meledek Gavin habis-habisan karena ulahnya sendiri.
"Apa dia sering menghubungi kamu?perasaan dia terus-menerus menghubungi kamu? Belum lagi tadi di kantor malah mencari perhatian banyak orang! Apa kalian pacaran?" kesal Gavin saat melihat Reiner kembali menghubungi Ayana.
"Untuk sekarang belum, aku belum kepikiran untuk pacaran karena ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dulu! Hanya saja Reiner itu adalah salah satu teman yang bisa di andalkan di saat aku benar-benar butuh pertolongan! Walau memang dari dulu sifatnya seperti itu! Namun dia sangat baik!", jawab Ayana memuji Reiner.
Tapi entah kenapa hati Gavin malah merasa panas mendengarnya. Tak suka sekali rasanya, apalagi saat mengatakan Jiak Reiner lebih bisa di andalkan? Memang di andalkan dalam hal apa? Apa dari dulu mereka sedekat itu? Mungkinkah dari dulu Reiner memang mengejar istrinya?