NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Studio Baru

Pagi pertama dibulan itu, matahari menyinari ruko kecil di kawasan Demak dengan hangat. Papan nama "Bima Wijaya Digital Creative" yang baru seminggu terpasang itu berkilau terkena sinar pagi, seolah ikut merayakan hari pertama operasional penuh studio tersebut.

Bima sudah tiba sejak pukul tujuh. Ia sengaja datang lebih awal untuk mengecek semua peralatan—tiga unit komputer yang baru, printer laser, scanner, dan meja gambar digital yang baru seminggu lalu ia beli dengan penuh perhitungan. Tangan jemarinya membetulkan posisi keyboard satu per satu, memastikan semuanya rapi dan siap digunakan.

Hari ini ia mengenakan kemeja lengan panjang warna biru muda—hadiah dari Kay—dipadukan dengan celana bahan hitam dan sepatu pantofel baru yang ia beli dari keuntungan pertama studio.

Rambut ikalnya yang biasanya dibiarkan bebas kini sedikit dirapikan. Penampilan yang berbeda dari Bima yang dulu, tapi matanya tetap sama—dalam, teduh, dan fokus.

Pukul setengah sembilan, dua karyawannya datang. Andri dan Sari—mahasiswa semester akhir Ilmu Komputer yang ia rekrut sebagai freelancer sejak enam bulan lalu.

Andri bertubuh gempal dengan kacamata tebal dan rambut acak-acakan, sementara Sari perempuan pendiam dengan kemampuan coding yang luar biasa.

"Selamat pagi, Mas Bima!" sapa Andri ceria.

"Pagi, Mas," Sari menambahkan dengan senyum tipis.

Bima mengangguk. "Pagi. Hari ini kita mulai operasional. Order pertama dari klien baru sudah masuk—website toko online untuk UMKM binaan Pemkot. Deadline dua minggu."

Mereka langsung berdiskusi. Bima membagi tugas dengan jelas—Andri menangani front-end, Sari back-end, dan ia sendiri yang akan mengawasi serta menangani desain. Suasana studio kecil itu tiba-tiba berubah menjadi ruang kerja yang serius tapi hangat.

---

Sementara itu, di rumah Kay, suasana tidak kalah sibuk. Kay duduk di meja belajar menghadap tumpukan buku skripsi yang belum juga kelar. Rambut panjangnya diikat kacangan, mengenakan kaos oblong putih polos dan celana pendek yang nyaman. Di sekelilingnya, kertas-kertas bertebaran.

"Mik, gue beneran bingung nih bab tiga," keluhnya pada ponsel yang sedang dalam mode speaker.

Mika yang dari tadi menemani via telepon menjawab santai, "Lo tuh kebanyakan mikirin Bima, bukan mikirin metodologi penelitian."

"Bukan! Bima sekarang sibuk banget, jarang chat. Jadi gue malah fokus skripsi."

"Jadi lo untung dong?"

Kay terdiam. Untung? Tidak juga. Jujur, ia kangen. Bima yang dulu—yang bahkan saat sibuk pun masih sempat menggambarnya—kini tenggelam dalam kesibukan studio barunya. Chat mereka yang dulu bisa puluhan dalam sehari, kini hanya sisa-sisa pesan singkat di pagi dan malam.

"Kay? Lo masih di sana?"

"Iya. Mik, lo tahu gak, Bima sekarang dari pagi sampai sore di studio. Malemnya kuliah. Gue kadang ngerasa kayak... gak ada waktu buat kita."

Mika menghela napas. "Kay, lo harus ngomong sama dia. Jangan dipendam."

"Gue nggak mau nambahin beban. Dia lagi fokus bangun usaha."

"Nggak perlu marah-marah, Kay. Cuma bilang aja, 'Bim, gue kangen. Sempatin waktu buat kita dong.' Simpel."

Kay menggigit bibir bawahnya. "Gue coba."

---

Siang harinya, Kay memutuskan datang ke studio Bima. Ia sengaja membawa bekal makan siang—nasi bungkus dari langganan mereka dulu, yang Bima sukai.

Hari ini ia memilih mengenakan dress panjang warna krem dengan cardigan tipis, rambutnya dibiarkan tergerai. Wajahnya tanpa riasan berarti, hanya pelembab dan lip balm.

Sepanjang perjalanan, pikirannya campur aduk. Apa Bima akan senang? Atau malah terganggu?

Sesampainya di depan studio, Kay menarik napas dalam. Melalui kaca depan, ia bisa melihat Bima duduk di depan komputer, wajahnya serius, jari-jarinya menari di atas keyboard. Andri dan Sari juga sibuk dengan layar masing-masing.

Kay mengetuk pintu pelan.

Bima menoleh. Matanya berbinar sekilas, lalu kembali fokus. "Kay?"

Kay tersenyum, mengangkat plastik berisi nasi bungkus. "Bawa makan siang."

Bima menatap jam di layar komputernya. Matanya melebar. "Jam segini? Ya ampun, gue lupa waktu."

"Makanya gue bawain makan." Kay masuk, meletakkan plastik di meja kecil dekat sofa. "Andri, Sari, makan bareng yuk."

Andri dan Sari mengangguk antusias. Mereka makan bersama di sofa kecil studio. Bima makan dengan lahap, sesekali matanya masih melirik ke layar komputer.

"Mas Bim, lo udah gak makan siang kan dalam tiga hari terakhir?" tiba-tiba Sari bertanya.

Bima tersendak. "Makan kok."

"Tapi cuma roti, kan?" Sari menatap Bima dengan tatapan tahu.

Kay menoleh cepat. "Bim, beneran? Lo cuma makan roti?"

Bima menggeleng. "Gak kok. Kadang indomie."

Kay menghela napas. "Bima Wijaya!"

Andri terkekeh. "Mas Bima tuh kalau udah ngoding, dunia lupa. Makan, minum, tidur, semuanya nomor dua."

Kay menatap Bima dengan pandangan campur aduk—khawatir, kesal, tapi juga iba. "Bim, lo janji mulai sekarang makan teratur."

Bima mengangguk patuh. "Iya."

---

Sore harinya, setelah Andri dan Sari pulang, Kay membantu Bima membereskan studio. Ia membersihkan meja, menyusun kabel yang berantakan, dan diam-diam menempelkan catatan kecil di monitor Bima: "Jangan lupa makan! -Kay"

Bima yang melihat itu tersenyum tipis. "Kay, makasih."

"Bim, gue boleh ngomong sesuatu?" Kay duduk di sofa, menatap Bima serius.

Bima duduk di sampingnya. "Apa?"

"Gue senang liat lo sukses, punya studio, kerja keras. Tapi..." Kay menggigit bibir bawahnya.

"Gue kangen. Kita jadi jarang ketemu, jarang chat. Bahkan tadi lo lupa janji kita minggu lalu."

Wajah Bima berubah. Ia mengerjapkan mata, mencoba mengingat. "Janji?"

"Kita janji mau nonton film bareng hari Minggu. Lo lupa."

Bima menunduk. "Kay, gue minta maaf. Gue benar-benar lupa. Deadline klien minggu ini, semuanya numpuk—"

"Gue tahu, Bim." Kay memotong. "Gue nggak marah. Gue cuma... mau lo tahu, bahwa gue di sini. Gue nunggu. Tapi gue juga butuh waktu sama lo."

Bima menghela napas panjang. Ia meraih tangan Kay, menggenggamnya erat. "Gue salah. Gue terlalu fokus sama studio sampe lupa sama yang lain. Maaf, Kay. Gue janji bakal atur waktu lebih baik."

Kay menatap Bima. Di matanya, ia melihat ketulusan. "Gue percaya, Bim. Tapi jangan sampai gue jadi yang terakhir ya."

"Nggak akan. Janji."

Mereka berpelukan di sofa kecil studio itu. Di luar, matahari mulai tenggelam, menciptakan warna jingga di langit Demak.

---

Malam harinya, Kay bercerita pada Mika via telepon. Mika mendengarkan dengan saksama.

"Jadi lo nggak marah-marah?" tanya Mika.

"Nggak. Gue cuma bilang kenyataan."

"Wah, Kay yang dulu pasti udh ngamuk-ngamuk. Lo dewasa banget sekarang."

Kay tersenyum. "Mungkin karena gue udh tahu, Bima bukan orang yang sengaja nyakitin. Dia cuma... kebablasan fokus."

"Tapi tetep harus diingetin ya. Jangan sampe kebiasaan."

"Iya. Gue bakal ingetin terus."

Mika tertawa. "Nanti lo jadi mamanya Bima."

"Bukan mama! Pacar!"

Mereka tertawa bersama.

---

Dua hari kemudian, Kay datang lagi ke studio. Kali ini ia tidak memberi tahu Bima, ingin memberi kejutan. Namun sesampainya di sana, ia melihat sesuatu yang membuatnya tertegun.

Di dinding studio, di samping papan nama, terpajang sebuah lukisan digital berukuran besar. Lukisan itu adalah dirinya—Kay—sedang tertawa, dengan latar belakang studio. Ada detail kecil di lukisan itu: di tangannya, ia memegang secangkir kopi dan seplastik nasi bungkus. Di sudut bawah, tulisan kecil: "Thanks for always being there. -B"

Kay menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca.

"Lo suka?"

Kay menoleh. Bima berdiri di belakangnya, wajahnya sedikit gugup.

"Bim... ini?"

"Gue buat semalem. Buat ngomong maaf. Dan buat ingetin gue setiap hari, ada yang selalu support gue. Jadi gue gak boleh lupa."

Bima menunjuk lukisan itu. "Itu lo, Kay. Yang selalu bawain makan, yang selalu ingetin gue makan, yang selalu ada. Gue gak mau lupa lagi."

Kay tidak tahan. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bima erat-erat di depan studio, di tengah jalan Demak yang mulai ramai.

"Bima Wijaya, lo bikin gue nangis!"

Bima membalas pelukan. "Maaf. Tapi gue serius."

Kay melepaskan pelukan, menatap Bima dengan mata basah. "Lo tahu gak, gue kira lo lupa sama gue."

"Gue gak akan pernah lupa sama lo, Kay." Bima mengusap air mata Kay dengan ibu jarinya.

"Lo inspirasi gue. Lo alasan gue bangun semua ini. Kalo bukan karena lo, mungkin gue masih jadi ojek online yang lari dari kenyataan."

Kay tersenyum. "Jadi lo nggak akan lupa janji kita lagi?"

Bima menggeleng tegas. "Gue bikin alarm khusus di ponsel. Semua janji sama lo gue catet."

Kay tertawa. "Cuek tapi detail."

"Lo yang ngajarin."

Mereka masuk ke studio bergandengan tangan. Andri dan Sari yang melihat dari dalam hanya tersenyum, pura-pura sibuk dengan layar masing-masing.

Kay berdiri di depan lukisan itu lama, menikmati setiap detail. "Bim, ini bagus banget. Lo gambar pake apa?"

"Tablet gambar baru. Hasil investasi dari ibumu."

Kay menatap Bima. "Ibu lo pasti seneng liat ini."

Bima mengangguk. "Gue juga bakal kirim foto lukisan ini ke beliau."

"Sekalian bilang, 'Bu, ini calon menantu Ibu lagi ketawa bahagia'."

Bima tersenyum. "Belum tentu gue jadi menantu."

Kay menoleh cepat. "Apa maksud lo?"

Bima tertawa kecil—jarang-jarang ia tertawa lepas seperti ini. "Bercanda."

"Bima Wijaya! Jangan bercanda soal gitu!"

Mereka bertengkar kecil dengan nada bercanda. Andri dan Sari hanya menggeleng-geleng, pura-pura tidak melihat bos mereka yang sedang bergombak ria.

---

Minggu berikutnya, Bima menepati janjinya. Mereka nonton film bersama, berdua saja, tanpa teman-teman yang lain. Bima memilih film drama romantis—sesuatu yang tidak biasa ia tonton, tapi ia tahu Kay suka.

Di tengah film, Kay menyandarkan kepala di bahu Bima. "Bim, lo tahu gak? Dulu gue mikir, lo itu dingin banget, cuek, susah ditebak."

Bima menoleh. "Terus sekarang?"

Kay tersenyum. "Sekarang gue tahu, lo bukan dingin. Lo cuma punya cara sendiri buat nunjukkin sayang. Lewat gambar, lewat kerja keras, lewat usaha lo buat ingetin janji."

Bima menggenggam tangan Kay. "Lo juga punya cara sendiri."

"Apa?"

"Lo datang. Lo selalu datang. Walau gue cuek, walau gue pergi, walau gue lupa janji. Lo selalu datang. Dan itu... itu yang buat gue jatuh cinta sama lo."

Kay menatap Bima dengan mata berbinar. "Jatuh cinta? Sekarang masih?"

Bima tersenyum. "Makin hari makin."

Kay memeluk Bima erat, film di layar terus berputar tanpa mereka perhatikan. Di luar bioskop, hujan turun lagi—tapi kali ini, mereka berdua tidak kehujanan. Mereka punya payung, dan mereka punya satu sama lain.

---

Satu bulan kemudian, studio Bima berkembang pesat. Order datang tidak hanya dari UMKM, tapi juga dari perusahaan menengah yang membutuhkan sistem manajemen berbasis web. Bima merekrut dua karyawan baru. Kay tetap setia datang setiap siang membawa makan siang.

Suatu hari, Lydia datang ke studio. Ia berdiri di depan pintu, mengamati lukisan digital Kay di dinding dengan senyum tipis.

"Bu?" Bima berdiri dari kursinya, sedikit gugup.

Lydia masuk, matanya menjelajahi setiap sudut studio. "Bagus, Bima. Lebih bagus dari yang saya bayangkan."

"Terima kasih, Bu."

Lydia berhenti di depan lukisan Kay. "Ini karya kamu?"

"Iya, Bu."

Lydia menatap lukisan itu lama. "Kamu bisa melihat kebahagiaan di mata Kay. Saya sebagai ibunya... jarang bisa melihat itu. Tapi kamu bisa."

Bima tidak tahu harus menjawab apa.

Lydia menoleh, menatap Bima dengan pandangan lembut. "Terima kasih, Bima. Karena sudah membuat anak saya bahagia."

Bima mengangguk. "Saya hanya melakukan yang terbaik, Bu."

Lydia tersenyum. "Itu lebih dari cukup."

---

Malam harinya, Kay dan Bima duduk di teras kos Bima. Langit cerah, bintang-bintang terlihat jelas.

"Bim, ibu tadi ke studio?" tanya Kay.

"Iya. Dia bilang makasih udah bikin lo bahagia."

Kay tersenyum. "Ibu berubah banget, ya."

"Iya. Dan itu juga karena lo. Lo yang buat dia sadar."

Kay menyandarkan kepala di bahu Bima. "Bim, gue seneng. Semua berubah jadi lebih baik."

Bima mengelus rambut Kay pelan. "Ini baru awal, Kay. Masih panjang."

"Iya. Dan gue bakal selalu ada."

Bima mencium puncak kepala Kay. "Makasih."

Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelip. Dua insan itu duduk berdampingan, menatap masa depan yang kini tidak lagi menakutkan. Karena mereka punya satu sama lain, dan itu sudah cukup untuk menghadapi apa pun.

1
falea sezi
kpan nikah Bertele tele bgt sih jadinya
falea sezi
jangan khianati kay ya bim biasa nya g ada persahabatan murni antara. laki. laki. dan perempuan
falea sezi
lanjut anpe nikah
Bp. Juenk: siaap
total 1 replies
falea sezi
laki. plin plan amat kayaknya dia uda. mulai. suka. laras cowok. g tau diri
Bp. Juenk: 🤭 iya nih emang parah
total 1 replies
Nani Rahayu
semoga bisa diluruskan semuanya..paham sama sikap bima tp Kay juga gak salah...
Bp. Juenk: aamiin 🙏
total 1 replies
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
OMG!!!!!/Applaud/
/Blush/
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!