Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Ruangan itu tertutup rapat—sunyi, dingin, dan menekan.
Dinding beton berwarna abu-abu gelap memantulkan cahaya lampu putih yang menggantung rendah di langit-langit. Tidak ada jendela. Tidak ada suara dari luar. Hanya gema napas dan detak waktu yang terasa lambat… menegangkan.
Di tengah ruangan, seorang pria paruh baya terduduk lemah di kursi besi. Wajahnya pucat, napasnya tidak beraturan, dan matanya dipenuhi ketakutan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
Pria itu merupakan orang kepercayaan Kenshiro—ayah Ryuga di perusahaan.
Di hadapannya—
Ryuga berdiri tegak.
Tatapannya dingin. Beku. Tak berperasaan.
Seolah pria di depannya bukan manusia… melainkan kesalahan yang harus dihapus.
Ryuga melangkah perlahan mendekat.
Sepatu kulitnya beradu dengan lantai, menciptakan suara “tok… tok… tok…” yang menggema seperti hitungan mundur.
Pria itu gemetar.
“Tuan Muda… tolong… saya bisa jelaskan—”
Ryuga mengangkat tangan sedikit.
Pria itu langsung diam.
“Penjelasan itu… harusnya lo kasih sebelum lo berkhianat.” potong Ryuga dengan nada rendah dan dingin.
Pria itu menelan ludah.
“Saya… saya cuma butuh uang—”
Ryuga tersenyum tipis.
Namun senyum itu… tidak hangat.
“Semua orang butuh uang.”
Ia sedikit menunduk, sejajar dengan wajah pria itu.
Matanya menatap lurus, tajam menusuk.
“Tapi nggak semua orang jual harga dirinya kayak lo.”
Sunyi.
Beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
Lalu—
Ryuga berdiri kembali.
Tatapannya berubah semakin dingin.
Tanpa emosi.
Tanpa ragu.
Perlahan ia mengangkat pistol di tangannya, hingga membuat pria itu gemetar ketakutan.
"Tuan Muda... tolong maaf—"
DOR!
Semuanya telah berakhir.
Ryuga paling benci pengkhianat.
Kini, tubuh pria itu telah tergeletak tak bergerak di lantai yang dingin, dengan cairan merah kental yang perlahan mengalir membasahi lantai tersebut.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya suara napas Ryuga yang tersisa.
Ia berdiri memandang tubuh itu sekilas.
Tidak ada kepuasan.
Tidak ada penyesalan.
Hanya… kosong.
Seorang bodyguard mendekat, menyerahkan sapu tangan putih.
Ryuga menerimanya.
Dengan tenang, ia mengelap tangannya perlahan—seolah ingin memastikan tidak ada sisa dari urusan itu yang tertinggal.
“Bereskan dia. Lakukan dengan bersih.” ucap Ryuga datar.
Bodyguard menunduk dalam.
“Baik, Tuan Muda.”
Ryuga berbalik.
Langkahnya mantap meninggalkan ruangan itu, meninggalkan dinginnya dunia yang memang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
—
Di lorong panjang yang remang, Ryuga mengeluarkan ponselnya.
Ia menekan satu nama.
Quinn❤.
Panggilan tersambung.
Beberapa detik kemudian—
Suara yang hangat, ceria, dan hidup itu terdengar.
“Halo, pacaaarrrr! Kenapa? Kangen aku, ya?” sapa Quinn dengan nada centil yang selalu mampu membuat jantung Ryuga berdetak lebih cepat.
Langkah Ryuga sempat melambat.
Suara itu…
seperti sesuatu yang menariknya keluar dari gelap.
“Kamu di mana?”
“Aku di Lumière Café. Sama Vexa, sama Finka juga.”
Di latar belakang terdengar suara heboh.
“Woyyy! Itu Ryuga ya?!” seru Vexa.
“Salam dong dari kita!” timpal Finka.
“DIEM KALIAN!” sentak Quinn kesal.
Ryuga menahan senyum tipis.
Sangat tipis.
“Tunggu di sana.”
Quinn terdiam sejenak.
“Kenapa?”
Ryuga membuka pintu keluar, cahaya luar menyambutnya.
“Jangan ke mana-mana.”
Nada suaranya tidak tinggi.
Tapi tegas.
Protektif.
Seolah itu bukan sekadar permintaan… melainkan perintah yang lahir dari rasa khawatir.
Quinn menggigit bibirnya pelan.
Ada sesuatu di suara Ryuga.
Berat.
Tidak seperti biasanya.
“Kamu… lagi nggak apa-apa, kan?” tanya Quinn lembut.
Langkah Ryuga terhenti sejenak.
Pertanyaan itu…
menyentuh sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak ingin akui.
Ia menatap kosong ke depan.
“Aku cuma mau lihat kamu.”
Deg.
Jantung Quinn berdetak cepat.
Kalimat itu sederhana.
Tapi terasa… dalam.
Quinn menunduk sedikit, menahan senyum kecil yang muncul.
“…ya udah. Aku tunggu.”
Ryuga tidak menjawab lagi.
Panggilan terputus.
—
Ryuga masuk ke dalam mobil sport hitamnya.
Mesin dinyalakan.
Suara halus namun bertenaga memenuhi kabin.
Tangannya menggenggam setir erat.
Namun kali ini…
bukan karena amarah.
Melainkan karena ada sesuatu yang berusaha ia tahan.
Perasaan rindu.
Yang hanya muncul saat menyebut satu nama.
Quinn.
Mobil itu melaju cepat, membelah jalanan kota.
—
Sementara itu, di dalam kafe yang hangat dan ramai—
Quinn masih menatap layar ponselnya yang kini gelap.
Hatinya berdebar.
Entah kenapa…
ia merasa Ryuga sedang tidak baik-baik saja.
“Kenapa sih kamu…” gumam Quinn dalam hati.
Vexa langsung menyikutnya.
“Kenapa tuh muka? Abis ditelepon langsung kayak meleleh.”
Finka nyengir lebar.
“Pacar lo mau ke sini ya?”
Quinn mendengus, pura-pura kesal.
“Biasa aja kali.”
Namun pipinya memerah.
Dan di dalam hatinya…
ia tahu satu hal.
Di balik sikap dingin Ryuga…
di balik dunia keras yang ia jalani…
ada satu sisi yang hanya muncul untuknya.
Dan tanpa sadar—
Quinn mulai merasa…
ia ingin selalu jadi tempat Ryuga kembali.
Tempat di mana dinginnya dunia itu… berhenti.
...----------------...
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan Lumière Café.
Kafe itu dipenuhi cahaya hangat dari lampu gantung bergaya klasik. Aroma kopi dan pastry memenuhi udara, bercampur dengan suara obrolan ringan para pengunjung. Namun, suasana itu perlahan berubah saat pintu mobil terbuka.
Ryuga turun.
Posturnya tinggi, tegap, dengan aura dingin yang seolah membungkam seisi ruangan. Kemeja hitamnya yang sedikit terbuka di bagian leher memperlihatkan garis rahang tegasnya. Rambutnya yang tertata rapi namun tetap terlihat effortless membuatnya semakin memikat.
Beberapa pengunjung langsung menoleh.
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Gila… siapa itu?”
“Cakep banget…”
“Model apa gimana sih…?”
“Dingin banget auranya…”
Namun Ryuga tidak peduli.
Tatapannya lurus.
Hanya menuju satu arah—
Quinn.
—
Di meja sudut kafe, Quinn yang sedang tertawa bersama Vexa dan Finka langsung terdiam saat melihat Ryuga berjalan mendekat.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Quinn berdiri tanpa sadar.
Dan dalam satu gerakan halus—
Ryuga langsung menarik pinggangnya, mendekatkan tubuh Quinn ke arahnya.
“Udah lama nunggu?” tanyanya lembut sambil menyelipkan anak rambut Quinn ke belakang telinga.
Quinn menelan ludah gugup, pipinya memanas.
“Belum.” jawabnya. "Kamu kok cepet banget?
Di samping mereka, Finka melongo lebar.
“Anjir… berasa jadi obat nyamuk gue.”
Vexa menahan tawa.
Quinn berdehem sejenak. Lalu menatap Finka.
“Fin… kenalin. Ini Ryuga… pacar gue.”
Ia lalu menoleh ke Ryuga.
“Sayang.. Ini Finka. Sahabat aku waktu di Bandung.”
Finka langsung berdiri dengan semangat, lalu mengulurkan tangannya.
“Halo! Gue Finka—”
Namun—
Ryuga hanya melirik sekilas.
Tanpa menyambut tangan itu.
Sunyi.
Finka masih mengulurkan tangan.
Beberapa detik.
Lalu—
Finka menarik tangannya perlahan dengan wajah dramatis.
“Apes bener tangan gue dikacangin.”
Quinn langsung tertawa.
Vexa bahkan sampai menepuk meja.
“HAHAHA... Rasain!”
Finka menunjuk Quinn.
“Pantesan lo betah di Jakarta! Ternyata cowok lo sekeren ini!”
Quinn mendengus malu, tapi pipinya memerah.
Sementara Ryuga tetap tenang, tangannya masih melingkar di pinggang Quinn.
“Kita pulang.” ucap Ryuga.
Quinn menoleh ke Vexa dan Finka.
“Gue duluan ya.”
“Ciee… pulang bareng pacar.” ledek Finka.
“Hati-hati di jalan, buk!” seru Vexa heboh.
“Berisik!” ketus Quinn pura-pura kesal.
—
Di luar kafe, Ryuga membukakan pintu mobil untuk Quinn.
Gerakannya tenang… tapi penuh perhatian.
Quinn tersenyum kecil.
“Makasih...”
Ryuga mengangguk sambil tersenyum tipis.
Kemudian Quinn pun masuk ke dalam mobil.
—
Begitu Ryuga duduk di kursi kemudi—
Tanpa peringatan—
Ia menarik wajah Quinn dan langsung mencium bibirnya.
Dalam.
Intens.
Mendalam.
Quinn terkejut.
Matanya membesar sesaat.
Namun detik berikutnya—
ia membalas ciuman tersebut.
Tangannya mencengkeram pelan kemeja Ryuga.
Detak jantung mereka berpacu.
Seolah dunia di luar berhenti.
Beberapa detik kemudian, Ryuga perlahan melepaskan tautan bibir mereka.
Napas mereka masih memburu.
Ryuga menatap Quinn dalam.
“Aku kangen.” bisiknya serak.
Quinn menunduk, wajahnya merah.
“Baru juga tadi pagi ketemu…”
“Kurang.” sahut Ryuga jujur.
Quinn tak bisa menahan senyum gemas mendengar hal tersebut.
—
Mobil melaju membelah jalanan malam.
Lampu kota berpendar indah di luar jendela.
Di dalam mobil—
hangat.
Tenang.
Quinn terus bercerita.
“Tadi Finka tuh ya… ribut banget. Terus Vexa juga—”
Ryuga hanya mendengarkan.
Sesekali menoleh.
Namun tangannya tidak pernah lepas dari tangan Quinn.
Menggenggam.
Mengelus perlahan.
Seolah memastikan—
Quinn benar-benar ada di sampingnya.
—
Tak lama, mereka sampai di rumah Quinn.
Rumah itu tampak hangat dengan lampu teras yang menyala lembut.
“Akhirnya sampe juga.” kata Quinn sambil membuka seatbelt.
Namun saat ia hendak membuka pintu—
Ryuga menahan tangannya.
Quinn menoleh.
Belum sempat bicara—
Ryuga kembali mencium bibirnya.
Kali ini lebih lembut.
Lebih dalam.
Seolah penuh rasa… yang tidak bisa ia ucapkan.
Lalu ia mencium kening Quinn dengan hangat.
Ryuga
“Masuk.”
Quinn menatapnya.
Hatinya penuh.
“Iya…”
Ia pun turun.
Melangkah masuk ke rumah.
Dan saat pintu tertutup—
Ryuga masih diam di tempatnya beberapa detik.
Baru setelah memastikan Quinn aman…
ia pergi.
—
Di dalam rumah—
Quinn berjalan pelan, masih memegang dadanya.
Jantungnya belum stabil.
“Ryuga…” bisik Quinn dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.
Saat melewati ruang keluarga, lampu masih menyala.
Selena—ibunya duduk di sofa.
“Mama belum tidur?” tanya Quinn.
Selena menoleh.
Tersenyum lembut.
“Sini, sayang.”
Quinn mendekat.
Lalu matanya tertuju pada sebuah album foto lama di tangan ibunya.
“Itu foto siapa, Ma?”
Selena terdiam sejenak.
Tatapannya berubah.
Lembut… tapi sendu.
Ia membuka halaman album itu.
Memperlihatkan foto dua bayi berusia sekitar tiga tahun yang tidak identik. Yang satu lelaki, dan yang satu lagi perempuan.
“Ini… foto kamu.” katanya pelan.
Quinn tersenyum kecil.
Namun detik berikutnya—
kata-kata Selena membuatnya membeku.
“…sama kakak kembarmu.”
Quinn tersentak.
“…apa?”
Matanya membesar.
Jantungnya berdegup kencang.
Quinn
“Aku… punya kakak kembar?”
Selena menatapnya dalam.
Ada sesuatu di matanya—
rasa bersalah.
Dan luka lama.
“Iya, Ra…”
Quinn mundur selangkah.
Pikirannya kacau.
Seluruh dunianya seperti… berubah dalam satu kalimat.
“Kenapa… aku nggak pernah tahu?” tanyanya lirih.
Selena menghela napas pelan.
Tangannya menggenggam album itu erat.
“Karena… ada hal yang belum siap untuk Mama ceritakan…”
Quinn terdiam.
Matanya masih tertuju pada foto itu.
Tapi selama ini…
ia hanya hidup sebagai satu.
Dan malam itu—
untuk pertama kalinya—
Quinn menyadari…
hidupnya mungkin tidak sesederhana yang ia kira.
...****************...
sikap ryuga ini boleh dingin, tapi haruslah menghormati orngtua jugaa karna dia hidup maih dengan uang orngtuanya😌
hmmm 🤔